
Keesokan Pagi.
Alexa bangun lebih awal. Dia membuat sarapan pagi berupa sandwich dengan potongan daging dan selembar selada. Alexa juga sudah bersiap dengan baju yang rapi karena hari ini dia ada kelas. Setelah kelas selesai, Alexa harus bekerja partime di restoran.
Setengah jam berlalu, Excel pun bangun. Dia sudah rapi dengan kemeja yang dikenakannya. Dia berjalan menuruni anak tangga menuju ke meja makan.
"Morning, Kak!" sapa Alexa.
"Ya, morning Alexa. Kamu sudah menyiapkan semua ini?" tanya Excel heran.
Alexa tersenyum. "Ya aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Kak El. Ayo kita sarapan bersama. Bukankah kelas hari ini di awal jam," ucap Alexa. Dia menyiapkan dua piring yang terisi sepotong sandwich.
"Terima kasih," ucap Excel.
Setelah itu mereka sarapan bersama. Alexa sarapan dengan sorot mata tajam ke arah pria yang ada didepannya itu. Wajah Excel yang terlihat sedih membuat Alexa ingin tahu tentang apa yang terjadi.
"Kenapa aku seperti ini? Ingin tahu masalah hidup seseorang," gumam Alexa dalam hati.
"Ayo kita berangkat." Excel menyudahi sarapannya dan beranjak dari meja makan.
"Emm, oke wait. Aku habiskan dulu," sahut Alexa.
Setelah membereskan semuanya, Excel dan Alexa pergi ke kampus bersama. Di dalam mobil mereka tak terlibat percakapan apapun. Excel diam larut dalam kegundahannya. Sesampainya di lingkungan kampus, Excel memberhentikan mobilnya.
"Kamu turun di sini, tinggal jalan sedikit sudah sampai di kampus. Apakah hari ini kamu masih bekerja?" tanya Excel pada Alexa.
"Ya hari ini aku masih bekerja, dan akan pulang malam lagi," jawab Alexa.
"Kalau terjadi apa-apa kamu boleh menelponku. Nanti akan aku usahakan untuk datang."
"Terima kasih Kak, kalau begitu aku turun dulu." Alexa keluar dan turun dari mobil Excel. Dia berjalan dengan menenteng tasnya menuju ke kampus.
Excel pun mendahului Alexa karena harus memarkirkan mobilnya. Setelah itu mereka masuk ke dalam kelas dan memulai materi pembelajarannya.
Di Tempat Lain.
Vander sedang menggedor-gedor pintu kamar Evelyn. Dia berteriak membangunkan Evelyn yang belum keluar dari kamarnya. "Hei kamu bangun! Kalau kamu tidak bangun, aku akan berangkat sekarang dan akan meninggalkanmu sendiri di sini!"
Di dalam kamar Evelyn terperanjat kaget. Dia bangun dan masih berusaha untuk sadar. "Iya sebentar aku akan bangun sekarang," seru Evelyn dengan suara khas bangun tidur.
"Cepat! aku tunggu 10 menit kalau tidak cepat turun, maka aku akan meninggalkanmu," sahut Vander kesal.
Evelyn segera bangun dan melesat ke kamar mandi. Dia mencuci muka dan menggosok giginya setelah itu keluar dari kamar. Dia berlari menuruni anak tangga menuju ke meja makan. Dia melihat semua orang sudah bersiap dengan pakaian dan juga perlengkapan yang lengkap.
"Wait, apakah tidak ada sarapan untukku? Aku sangat lapar," ucap Evelyn dengan memegang perutnya.
Vander menarik nafas panjang, dia berjalan dan langsung menarik tangan Evelyn dan mengajaknya keluar. "Tidak ada waktu sarapan. Sekarang cepat pergi karena kita sudah telat!"
__ADS_1
Evelyn hanya menurut dia berjalan dengan digandeng oleh Vander. "Apa kita akan pergi ke Padang Savana? Apa kita akan pergi ke sana?" tanya Evelyn penasaran.
"Aku akan mengajakmu ke sana jika kita menyelesaikan misi ini dengan baik. Jadi pergi atau tidak Itu tergantung pada dirimu sendiri. Kalau kamu tidak berhasil dalam misi ini, dengan sangat terpaksa aku tidak akan mengantarkanmu ke Padang Savana," ujar Vander dengan tersenyum tipis.
Evelyn memutar bola matanya, dia sangat sebal dengan ucapan Vander. "Baiklah aku akan profesional. Tapi awas saja jika misimu berhasil, dan kamu mengingkari janjimu. Aku yang akan menghajarmu dengan tanganku sendiri."
Evelyn menarik tangannya dan langsung berlari ke mobil. Vander hanya tersenyum melihat wajah kesal Evelyn yang terlihat sangat menggemaskan. Dia memang sengaja mengganggu gadis itu.
Vander masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Evelyn. Hari ini dia keluar dari hutan untuk menjalankan misi penting. Posisi Vander yang sebagai kepercayaan sang kakak membuatnya sulit untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Meski banyak wanita yang tergila-gila padanya, tak membuat Vander menjadi seorang Casanova. Dia tetap menjaga tubuhnya untuk calon istrinya nanti. Untuk saat ini hanya Evelyn lah yang mampu menarik perhatian seorang Vander.
Evelyn masih diam, dia memperhatikan keadaan sekitar yang terdapat banyak binatang buas melintas. Dia cukup takjub dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
"Wahh, amazing! Baru kali ini aku melihat binatang buas secara dekat," seru Evelyn dengan penuh ketakjuban.
Vander melirik Evelyn secara sekilas, dia sibuk memikirkan misi yang akan dijalankannya. Misi kali ini bertempat di sebuah pesta, dia akan menyamar sebagai tamu undangan di pesta tersebut.
Evelyn melirik Vander yang sedang berkonsentrasi. Dia bersikap manis karena ada sesuatu yang diinginkannya. "Hei, perjalanan kali ini berapa lama sampai di bawah?" tanya Evelyn.
Vander tetap diam bahkan dia tidak menoleh sedikitpun. Merasa diabaikan membuat Evelyn bertambah kesal. Dia mengulangi pertanyaannya sekali lagi. "Hei, apa kamu tidak mendengar pertanyaanku? Menyebalkan sekali."
Evelyn cemberut dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Vander masih diam tak bergeming. Ujung bibirnya terangkat ke atas menunjukkan bahwa dia sedang menahan senyum.
"Siapa yang kamu panggil hei? Di dalam mobil ini tidak ada yang bernama hei," ucap Vander dengan santainya.
Akhirnya, setelah beberapa jam perjalanan Vander dengan rombongannya tiba juga di jalan raya. Evelyn sedang tidur dan bersandar di pundak Vander. Tentu saja hal itu membuat hati seorang Vander senang.
Vander meminta anak buahnya untuk menuju ke sebuah restoran karena hari sudah siang. Mereka menuju ke sebuah restoran yang sudah di booking sebelumnya. Sesampainya di restoran Vander membangunkan Evelyn.
"Hei bangun kita sudah sampai!" ucap Vander pada gadis yang ada di sampingnya itu.
Seperti biasa Evelyn susah sekali untuk dibangunkan. Vander mempunyai ide untuk menjahili Evelyn. Dia menekan hidung gadis itu hingga kesulitan bernafas dan akhirnya terbangun juga.
Evelyn bangun dengan nafas tersengal. "Apakah kamu sudah gila? Kamu ingin membunuhku?" seru Evelyn.
Vander menjitak kepala Evelyn karena saking gemasnya. "Apakah kamu seorang gadis? Kenapa seorang gadis susah sekali dibangunkan ketika tidur?"
Evelyn diam lalu duduk dengan elegan. "Apa kita sudah sampai? Yeay, ayo kita turun aku sudah sangat lapar sekali," ucap Evelyn mengalihkan pembicaraan.
Evelyn turun dan diikuti oleh Vander bersama anak buahnya. Mereka masuk ke dalam restoran menuju ke ruangan VIP. Sesampainya di dalam, Vander langsung memanggil pelayan untuk segera menyediakan makanan. Evelyn duduk dan menunggu dengan tidak sabar. Dia selalu mengajukan pertanyaan hingga membuat Vander kesal.
"Bisakah kamu diam sebentar, kepalaku sangat pusing mendengar ocehanmu. Ternyata kamu cerewet juga ya!" seru Vander dengan raut wajah serius.
"Ck, Aku sangat lapar sekali. Semakin aku diam maka akan semakin lapar kamu tahu tidak?" sahut Evelyn dengan nada lesu.
Tak lama kemudian pelayan membawa makanan dan minuman. Semua makanan itu diletakkan di meja. Mulut Evelyn menganga melihat semua sajian itu. Dia segera menyambar jus alpukat yang ada di depannya. Dia meminum jus itu tanpa mempedulikan vander yang sedang memandangnya.
__ADS_1
Tiba-tiba handphone Vander berdering. Setelah itu dia mengangkat video call tersebut dan ternyata dari sang kakak. "Halo Kak, Ada apa? Aku baru saja sampai dan ini sedang makan siang," ucap Vander.
[Oke lakukan sesuai rencana kita sejak awal. Aku mau kamu berhasil melakukannya tanpa kegagalan. Apakah kamu sudah menemukan pasangan yang tepat untuk dibawa ke pesta itu?]
Vander langsung mengalihkan kamera belakang ke arah Evelyn yang sedang meminum jus. Sang kakak langsung berkomentar tentang Evelyn.
[Siapa gadis itu? tidak kusangka kamu bisa akrab dengan seorang gadis.]
"Dia adalah penyelamatku Kak. Dia juga yang akan mendampingiku ke pesta itu," ucap Vander. Evelyn yang mendengar percakapan itu pun tidak ikut campur, dia lebih menikmati makanan yang ada di depannya.
"Kakak sedang di mana? Apakah Kakak sedang bertemu klien?" tanya Vander.
[Ya Kakak sedang bertemu dengan klien dan klien kakak ini ingin sekali bertemu denganmu. Dia ingin membahas sesuatu tentang dunia obat-obatan.]
"Apakah kakak menyetujuinya?"
[Ya Kakak menyetujuinya dan kakak sudah menjadwalkannya untuk bertemu denganmu.]
Di Tempat Lain.
Excel sedang berjalan menuju ke cafe. Setelah mengajar dia mengadakan pertemuan dengan CEO Lucas grup. Excel kembali dari toilet dan tak sengaja melihat percakapan antara sang CEO dalam sebuah video call.
Excel melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang itu adalah sang adik yaitu Evelyn. Excel langsung memanggil Evelyn yang sedang makan dengan lahapnya.
"Evelyn, apakah itu kamu?" seru Excel dari belakang sang CEO.
Tentu saja hal itu membuat sang CEO kaget dan Vander yang sedang ada di seberang sana pun terkejut. Begitu juga Evelyn dia langsung menyemburkan makanannya ketika mendengar suara sang kakak.
Excel langsung ikut dalam panggilan video call itu. "Evelyn, apa yang kamu lakukan di sana?"
"Maaf Tuan, yang ada dalam panggilan video call itu adalah adik saya," ucap Excel pada CEO Lucas grup.
"Wow kenapa sangat kebetulan sekali ya. Vander apa kamu dengar bahwa gadis yang ada di depanmu itu adalah adik dari klien kakak."
Vander yang ada di seberang sana pun langsung menanyai Evelyn yang terlihat sangat gugup sekali. Dia bermain mata dengan Evelyn yang terlihat begitu panik. Lalu Vander pun memberikan handphonenya kepada Evelyn.
Kini Excel dan Evelyn sedang dalam panggilan video call. Evelyn tersenyum canggung kepada sang kakak.
[Hai Kak Excel, bagaimana kabarmu?]
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Lebih baik sekarang kamu telepon balik kakak. Kalau tidak, maka selamanya kakak tidak akan pernah menemui Daddy," ucap Excel mengancam sang adik.
Di seberang sana Evelyn menelan kasar makanan yang dikunyahnya. Dia sama sekali tidak menduga kalau akan bertemu dengan sang kakak dengan cara yang mengejutkan.
[Oke aku akan telepon balik Kakak sekarang.]
Excel langsung mengakhiri pembicaraannya dan dia menunggu panggilan dari Evelyn. Sang CEO pun langsung mengakhiri panggilan video call itu kemudian ia melanjutkan kembali percakapannya dengan Excel.
__ADS_1