
Evelyn meletakkan pakaian Vander di kasur. Dia masih sangat kesal tentunya. Tak lama kemudian, Vander keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Dia berjalan menuju ke kasur untuk mengambil pakaian.
"Terima kasih, Baby. Ternyata kamu sangat perhatian sekali," ucap Vander mencari perhatian.
Evelyn tidak menghiraukan hal itu. Dia memalingkan wajah lalu pergi secepatnya. Vander langsung menarik pinggang Evelyn kemudian dia jatuh di kedalam pelukan Vander.
"Pria brengsek apa yang kamu lakukan?" sentak Evelyn.
"Why, aku hanya ingin memandang wajahmu yang manis ini. Kenapa sangat menggemaskan ketika cemberut," seru Vander, matanya fokus memperhatikan wajah dan bibir Evelyn.
"Lepaskan aku, bodoh! Jangan memelukku sembarangan," teriak Evelyn kesal.
"No, No, No, tidak akan aku lepaskan meski kamu memberontak sekalipun," ucap Vander dengan santai. "Aku ingin melakukan sesuatu yang mengasikkan dulu, bagaimana menurutmu?"
Evelyn semakin hilang kesabaran. Dia terpaksa mengeluarkan jurus andalannya. Evelyn tersenyum menyeringai, lalu dia pura-pura bersikap manis. "Jadi apa yang kamu inginkan, Vander? Hem, kamu menginginkan apa? Ayo katakan!"
Evelyn membelai wajah Vander dengan tangannya, kemudian belaian itu turun ke dada bidang yang tanpa baju itu. Evelyn mengembangkan senyum manisnya dan berbisik, "Apa kamu ingin melakukan hal yang mengasikkan denganku, Vander. Kalau iya, mari kita lakukan sekarang."
Vander menelan salivanya, dia merinding ketika Evelyn berbisik di dekat telinganya. Setelah itu, Vander mengendurkan pelukannya. Tangannya berpindah tempat untuk meraih dagu gadis yang ada di depannya saat ini.
Evelyn terus tersenyum, lalu senyuman itu berubah cepat menjadi sebuah pukulan keras di wajah Vander.
Buggh!
"Awww," teriak Vander menjauh.
"Rasakan itu pria brengsek. Jangan pernah berbuat macam-macam denganku. Mulai sekarang kamu harus menjaga jarak dariku," sentak Evelyn pada Vander. Dia keluar dari kamarnya dan terlihat sangat kesal sekali.
Tidak marah justru Vander dibuat tersenyum oleh sikap Evelyn yang sangat mendominasi itu. Dia benar-benar takjub dengan pertahanan Evelyn.
__ADS_1
"Sikapmu yang galak seperti itu membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkanmu, Baby. Tunggu saja, akan aku buat kamu lari dalam pelukanku," gumam Vander pelan. Dia sangat suka dengan gaya Evelyn.
Evelyn menuruni anak tangga dengan penuh emosi. Di samping itu, jantungnya juga berdegup sangat kencang.
"Sialan, benar-benar membuat jantungku serasa ingin lepas dari tempatnya. Kenapa dia berubah sangat mesum sekali?" gumam Evelyn dalam hati.
Tak lama kemudian, Vander terlihat menuruni anak tangga. Dia tersenyum lebar ketika melihat Evelyn yang sedang duduk kesal.
"Evelyn, jangan memancingku dengan wajahmu yang menggemaskan itu. Kamu tahu kalau sangat sulit untuk menahan sesuatu dalam tubuhku ini," seru Vander tanpa filter.
Evelyn dibuat heran lagi dengan sikap tengil Vander. Dia tetap diam dan mencoba untuk mengabaikan.
"Honey, aku ingin keluar dulu. Nanti malam bersiaplah karena aku ingin mengajakmu dinner. Oke! Tunggu aku pulang Baby. I Love You!" seru Vander dengan sangat percaya diri.
Evelyn menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. "Aku rasa dia sudah sakit jiwa. Betapa gilanya si brengsek itu! Astaga, aku bisa mati sesak napas kalau begini keadaannya," gerutu Evelyn dengan memijat pangkal hidungnya.
Vander keluar dari apartemen untuk bertemu dengan Excel di restoran. Mereka membuat janji untuk membahas tentang ramuan obat yang dibawanya. Dia pergi dengan menaiki taksi karena mobil kiriman dari sang Kakak belum datang.
"Halo selamat datang di New York," sapa Excel dengan ramah.
Vander hanya tersenyum menanggapi sapaan Excel. "Langsung saja katakan apa rencanamu memanggilku ke sini?" tanya Vander.
"Baiklah akan aku katakan. Aku ingin kamu membantuku untuk meretas semua CCTV yang ada di rumah sakit pada saat aku mengeksekusi seseorang. Dendamku ini harus terbalaskan karena kalau tidak, seumur hidupku tidak akan pernah tenang," jelas Excel.
"Itu pekerjaan yang mudah untukku. Kamu tinggal katakan saja kapan jadwalnya, maka aku akan bersiap-siap," ucap Vander sepakat.
"Pada malam minggu nanti aku akan memulai semuanya. Aku mohon kamu rahasiakan semuanya ini dari Evelyn, karena aku tidak mau dia mengetahui rencanaku yang sebenarnya," ujar Excel.
Vander terdiam sesaat ketika mendengar Excel menyebut nama Evelyn. Dia penasaran, tetapi dia mencoba untuk tidak banyak bertanya karena sebuah privasi.
__ADS_1
"Baiklah aku akan rahasiakan semuanya sesuai dengan permintaanmu. Aku ingin imbalan yang lebih jika rencanamu berhasil dengan sempurna," sahut Vander.
Excel mengrenyitkan alisnya, dia penasaran dengan imbalan yang dimaksud Vander. "Imbalan apa yang kamu inginkan. Katakanlah sekarang," ucap Excel.
Vander tersenyum lebar. "Aku ingin adikmu, Evelyn. Tentu saja restui hubunganku dengannya. Bagaimana?" tanya Vander menunggu jawaban.
Excel sedikit terkejut dengan imbalan yang telah diucapkan oleh Vander. "Kamu serius ingin imbalan itu?"
"Tentu saja, sangatlah serius."
Excel berpikir sejenak, dia melihat Vander dengan seksama. "Apa kamu sudah tahu sifat Evelyn itu seperti apa? Dia tidak seperti gadis yang lainnya," ucap Excel. Masalahnya teralihkan sejenak.
"Aku tahu dia beda dari yang lain, karena hal itu lah yang membuatku sangat tertarik. Aku hanya minta persetujuan darimu karena aku ingin mendekatinya," jawab Vander dengan santainya.
Setelah berpikir akhirnya Excel mengambil keputusan. "Baiklah, kamu boleh mendekatinya. Tapi ingat jangan sampai kamu mempermainkan perasaan Evelyn. Jika kamu berani menyakitinya, maka aku sendiri yang menghajarmu. Dia adalah satu-satunya hartaku di dunia ini," ujar Excel dengan sorot mata tajam.
"Aku bukanlah tipe pria brengsek yang suka bermain hati. Dari semua wanita yang mendekat, hanya Evelyn lah yang mampu menarik hati ini untuk mengejar. Kamu tahu kalau adikmu itu sangat menyebalkan. Membuatku semakin gemas saja." Vander tergelak ketika mengingat wajah kesal Evelyn.
"Ya, itulah Evelyn. Tapi jika dia sudah membulatkan tekad, maka apapun itu akan dia terjang meski membahayakan nyawanya sekali pun. Itu yang membuatku sangat menyayanginya."
Vander mengangguk, dia melihat Excel yang terlihat sangat menyayangi adiknya. "Baiklah, ramuan ini aku serahkan padamu. Oh ya, kakakku menyuruhku untuk tidur di hotel. Tetapi aku mempunyai rencana lain yaitu ingin menginap di apartemenmu. Aku lihat masih ada satu kamar kosong. Boleh 'kan?" tanya Vander.
"Oh kamar itu sudah ada yang menempatinya. Itu kamar temanku, maaf tidak bisa menampungmu."
"Ck, sayang sekali padahal aku sangat ingin. Tapi tidak apa-apa, aku bisa menginap di hotel. Kalau begitu aku pergi dulu, nanti malam aku ingin mengajak Evelyn dinner. Kamu mengizinkan tidak?" tanya Vander. Dia semakin proaktif dalam mendekati calon kakak iparnya itu.
Excel mengangguk mengiyakan. Dia sudah percaya kepada Vander. "Kamu ajaklah kalau Evelyn mau. Sulit sekali membujuknya kala itu tidak keinginannya sendiri."
"Good! Aku pergi dulu mencari penginapan. Kalau ada informasi segera telepon aku," sahut Vander dia langsung pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Excel pun terheran dengan sikap Vander yang tampak bersungguh-sungguh. "Sepertinya Evelyn akan aman jika bersamanya. Latar belakang keluarga yang kuat sangat cocok dengan sifat keras kepala Evelyn."
Excel bergumam dalam hati. Dia sangat berharap dendamnya segera terbalaskan, karena Excel juga ingin hidup normal seperti yang lainnya.