PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs GB


__ADS_3

Evelyn sangat bosan di dalam kamarnya. Bukan Evelyn namanya jika harus berdiam diri tanpa melakukan apapun. Akhirnya, dia nekat turun Dari ranjang dan keluar untuk mencari udara segar.


"Huh, membosankan sekali di sini. Sebaiknya aku berjalan-jalan keluar, atau melihat kondisi Vander. Aku penasaran dengan keadaannya saat ini. Masih hidup ataukah sudah ...." ucap Evelyn dalam hati.


Gadis itu keluar dari ruangan dengan santainya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari jalan keluar. Kemudian, Evelyn memilih jalan ke kanan untuk menuju sebuah taman. Setiap langkahnya dia melihat orang-orang yang sedang sakit dan para dokter yang berlalu-lalang di sepanjang koridor.


Akhirnya Evelyn sampai juga di taman. Dia duduk di kursi dekat kolam ikan. Kakinya berayun-ayun melihat ikan hias yang berenang di dalam air. Lalu, ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan di sini gadis manis?" tanya orang itu.


Evelyn menoleh ke arah orang tersebut. Ternyata dia adalah kakak Vander. Evelyn pun menjawabnya dengan gugup, "Oh, saya hanya berjalan-jalan saja, Tuan. Sangat membosankan berada di dalam."


"Tuan? Sepertinya agak sedikit aneh kalau kamu memanggilku dengan sebutan 'Tuan'. Khusus untukmu boleh memanggilku dengan sebutan Kakak dan kita berbicara jangan terlalu formal. Sepertinya kamu dengan Vander sebaya umurnya."


Evelyn tersenyum karena Kakak Vander itu sangat ramah. "Baiklah Kak, kalau begitu aku akan bersikap biasa saja. Kalau boleh tahu, dengan Kakak siapa?" ucap Evelyn.


"Namaku, Valentino. Kamu adalah orang pertama yang aku beritahu, jadi jangan bilang ke semua orang."


"Iya-iya, aku mengerti! Oh ya bagaimana kondisi Vander, Kak?Apakah sudah bisa dijenguk?" tanya Evelyn penasaran.


"Vander baru saja siuman, dan kebetulan dia menanyakan mu. Ayo ikuti aku menemuinya, kakakmu ada di sana juga," ucap Kakak Valen.


"Kak Excel?" seru Evelyn.


"Excel? Siapa Excel?" tanya Valen penasaran.


Evelyn diam sejenak memikirkan sesuatu. "Iya, Excel adalah panggilan sayangku ke Kakak, " jawab Evelyn mengalihkan pembicaraan.


Valen mengangguk, kemudian Evelyn mengikutinya dari belakang untuk menuju ke ruang rawat Vander. Sepuluh menit berjalan, Evelyn sudah sampai di depan pintu kamar VIP. Dia masuk mengikuti Valen.


Sesampainya di dalam, sudah ada Excel dan juga Vander yang sedang mengobrol santai. Evelyn muncul dari balik punggung Valen.

__ADS_1


"Hai, Bodoh! Aku tidak menyangka kamu masih hidup," celetuk Evelyn tanpa melihat sekitarnya.


Excel langsung menegur adiknya yang tidak sopan. "Evelyn jaga sikapmu di sini," seru Excel dengan mata melotot.


Bukan Evelyn namanya kalau tidak keras kepala. "Kakak, apa sih? Itu panggilan akrab ku ke Vander. Bukan begitu, Vander yang bodoh."


Vander hanya diam memperhatikan, dia sangat salut pada sikap Evelyn yang tidak perlu menjaga imagenya di depan sang Kakak. Sedangkan, Valen dia juga senang dengan sifat Evelyn yang apa adanya. Sangat cocok sekali jika di sandingkan dengan Vander.


"Baiklah kalian mengobrol lah, aku ada keperluan sebentar. Prof. Eldric mari kita ke luar untuk membicarakan proyek kita," ucap Valen kepada Excel.


"Baik, Tuan," jawab Excel.


Excel beranjak dari tempatnya. Sebelum keluar dia berpesan kepada adiknya. "Evelyn jaga sikapmu, jangan banyak tingkah.


Bibir Evelyn mengerucut. "Oke, aku ini gadis yang manis pasti akan bersikap manis juga," jawab Evelyn dengan mengedipkan matanya kepada Excel.


Excel memutar bola matanya dia merasa tidak enak dengan kakak Vander yang secara khusus sebagai klien bisnisnya. Kemudian, Excel keluar dari ruangan itu.


"Hahaha, coba ulangi sekali lagi aku belum dengar. Sepertinya akan ada orang yang mengingkari janjinya," cibir Evelyn.


"Aku akan tetap mengingat janji itu, ya meski sekarang belum terealisasi. Tetapi kamu bisa memegang omonganku. Aku tidak akan pernah mengingkari janji itu," sahut Vander dengan raut wajah serius.


Evelyn memalingkan wajahnya ketika mendapat tatapan serius dari Vander. "Oke akan aku tagih suatu hari nanti," balas Evelyn.


Vander masih memandang Evelyn dari wajah dan seluruh seluruh tubuhnya. Tentu saja hal itu membuat Evelyn kesal. "Singkirkan pandanganmu itu, Vander," seru Evelyn kasar.


"Apa luka di tangamu itu sakit? Seluruh tubuhmu penuh luka, maafkan aku sudah membuatmu menderita," ucap Vander dengan nada sedih.


Evelyn menempelkan tangannya di dahi Vander. "Suhu tubuhmu normal dan tidak panas. Atau jangan-jangan, ada pergeseran di otakmu. Sehingga membuatmu berubah sikap," seru Evelyn merasa aneh.


Vander menangkap tangan Evelyn lalu dia meletakkan di dadanya. Evelyn terkejut dengan sikap Vander yang semakin aneh. Dia ingin menarik tangannya, akan tetapi Vander mencegahnya.

__ADS_1


Kedua mata mereka saling bertatapan. "Kamu dengar detak jantung ini. Saat mobil kita terjun bebas ke jurang. Aku sangat takut, jika aku mati. Aku takut tidak bisa menepati janjiku. Asal kamu tahu, ini adalah janji pertama yang aku buat kepada seorang gadis. Jadi, kamu sangat spesial untukku."


Vander berbicara sangat serius kepada Evelyn. Jantungnya berdegup kencang ketika menatap wajah cantik di depannya itu. Evelyn tertegun sejenak mendengar ungkapan hati Vander. Dia tersadar ketika, kakaknya masuk ke dalam ruangan.


Evelyn langsung menarik paksa tangannya. Lalu dia berdiri dengan canggung di hadapan Excel dan juga Valen. "Hai Kak. Aku ingin kembali ke ruanganku," ucapnya malu. Setelah itu Evelyn kabur dari ruangan Vander.


Valen tersenyum melihat sikap adiknya itu. Tetapi berbeda Excel, dia menatap tajam ke arah Vander yang diam tanpa kata.


"Saya pamit ke ruangan adik saya, Tuan. Ingin membahas pembicaraan tadi," ucap Excel kepada Valen.


"Silakan, Prof. Eldric. Semoga adik anda setuju dengan penawaran tadi," balas Valen.


Setelah itu, Excel pergi dari ruangan Vander. Lalu, kembali ke ruangan Evelyn.


Valen penasaran dengan sikap diam adikknya. Setelah Excel pergi, dia masuk ke dalam menghampiri sang adik.


"Apa yang terjadi denganmu? Apakah seperti ini ekspresi di tolak oleh seorang gadis?" ejek Valen.


"Ck, dugaan yang sangat kejam. Tidak ada gadis yang berani menolakku. Hanya saja gadis itu sulit didapatkan," jawab Vander dengan nada ketus.


Valen tersenyum senang, berhasil membuat Vander kesal. "Ingat, perkenalkan dia dengan Mommy. Jangan sampai Mommy tidak merestui pilihanmu."


"Aku yakin, Mom akan langsung setuju jika melihatnya," sahut Vander.


"Tapi sayangnya, besok dia akan kembali ke New York bersama sang Kakak."


"Apa? Kenapa secepat itu? Bukankah kakaknya ingin membahas sesuatu denganku?" tanya Vander penasaran.


Valen mengangkat bahunya. "Entah dia tidak bilang apapun dengan kakak. Mungkin dia ingin menyelamatkan adiknya dari cassanova seperti mu."


"Apa kamu tidak lihat tatapan matanya kepadamu, saat kamu memegang tangan adikknya. Tatapan penuh waspada," sambung Valen.

__ADS_1


Vander terus diam mendengar ucapan kakaknya. "Apa mungkin jalanku mendapatkannya tidak akan mudah?" batin Vander.


__ADS_2