PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs PB 25


__ADS_3

Renata langsung melajukan mobilnya menuju ke kampus. Dia semakin penasaran dengan kejadian di apartemen. "Sialan wanita itu! Apa benar kalau dia tunangan Eldric. Kalau iya, jangan harap bisa lepas dariku. Aku tidak akan membiarkanmu siapapun mendapatkan, Eldric. Dia hanya akan menjadi milikku," ucap Renata pelan.


Sudah seminggu lebih, Renata merasa emosi karena tidak bisa menghubungi Excel. Nomor yang tidak aktif membuatnya menerka-nerka hal buruk terjadi. Akhirnya, setelah kurang lebih dua puluh menit berjalan Renata sampai juga di kampus tempat Excel mengajar.


Dia turun dari mobil dan langsung menuju ke kelas Excel. Tanpa basa-basi, Renata membuka pintu kelas tersebut hingga membuat seisi kelas menoleh ke arahnya. Excel juga sangat terkejut melihat Renata berdiri dengan tatapan penuh amarah.


"Renata ...." gumam Excel pelan.


Excel langsung memberikan tugas pada anak didiknya. Setelah itu dia keluar kelas untuk menanyakan apa yang terjadi. "Honey, apa yang terjadi?"


Renata menghempaskan tangan Excel secara kasar. "Apa maksudmu bertanya seperti itu? Jelas-jelas kamu sudah melupakanku selama seminggu ini. Lalu, siapa wanita yang ada di apartemen mu? Apa kamu sudah mulai berpaling dariku, Eldric?"


Excel terkejut mendengar ucapan Renata. "Jadi kamu tadi dari apartemen ku?"


"Iya, kenapa kamu terkejut? Siapa wanita itu, El? Ia berkata sebagai tunanganmu?" balas Renata dengan suara manja.


"Siapa yang membuka pintu? Evelyn atau Alexa? Menurut ucapan Renata, aku yakin itu Evelyn karena dia bisa membuat orang menjadi kesal," gumam Excel dalam hati. Lalu dia mulai menjelaskan pada Renata. "Kamu jangan salah paham, Sayang. Wanita yang kamu maksud adalah sepupuku. Kemarin aku menjemputnya dari Los Angeles. Jadi, kamu jangan percaya kata-katanya. Dia suka membuat orang kesal," sambung Excel.


Renata mulai melunak hatinya. Dia memeluk mesra Excel yang sejak tadi merasa tegang. "Benarkah itu? Kamu tidak bohong 'kan, Sayang? Aku sangat merindukanmu, karena Daddy sudah mulai membatasi ruang gerakku untuk bertemu denganmu," ucap Renata dengan suara lirih.


"Why? Apa sedang ada masalah? Kenapa paman membatasi ruang gerak mu?"

__ADS_1


"Ini semua karena kecurigaan asisten Daddy dengan obat racikan yang kamu buat. Mereka menemukan obat kimia ganjil yang belum bisa teruraikan secara ilmiah. Jadi, Daddy menyuruhku untuk menghindari mu sementara waktu. Aku tidak bisa melakukan itu, karena aku mencintaimu Eldric," ucap Renata dengan serius.


Excel mencoba untuk tenang, dia harus mencari cara untuk meyakinkan kembali kepercayaan Mario terhadapnya. "Sudah, kamu tidak usah khawatir. Aku akan membuktikan kalau obatku itu tidak bermasalah. Sekarang kamu kembalilah dulu. Nanti siang kita bertemu lagi, aku harus menyelesaikan tugasku dulu," ucap Excel. Dia mengelus rambut Renata dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah, aku pergi. Nanti siang bertemu di tempat biasa ya. Sekarang aku lega, bisa mendapatkan kejelasan darimu, El." Renata menarik wajah Excel lalu mencium bibirnya dengan lembut.


Excel terkejut sekali, karena biasanya dia selalu menghindar ketika Renata mengajaknya berciuman. "Iya, kita bertemu di tempat biasa. Hati-hatilah di jalan!" balas Excel dengan senyum paksa.


Setelah itu Renata pun pergi. Lalu, Excel melanjutkan lagi tugasnya. "Aku harus segera mencari cara untuk mengatasi ini. Aku tidak boleh ketahuan sebelum membunuh si bajingan itu," gumam Excel dalam hati.


Di Tempat Lain.


"Aku ingin segera keluar dari sini. Aku ingin mencari Evelyn," ucap Vander dari dalam ruangannya.


Vander sudah mencoba menghubungi nomor Evelyn tapi selalu gagal sehingga membuatnya emosi.


"Jalinlah dulu kerja sama dengan kakaknya, lewat itu kamu bisa mempunyai peluang banyak untuk mendekati adiknya. Aku merasa kakak Evelyn itu mempunyai ambisi yang sangat besar sekali. Jadi kamu bisa memanfaatkan hal itu untuk menjemput gadis pujaanmu," ucap Valen kepada sang adik.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Vander penasaran.


"Entahlah, tunggu saja dia menghubungimu. Aku yakin secepatnya dia akan mencarimu. Maka dari itu pulihkan kesehatanmu dulu. Aku juga membutuhkan jasamu lagi adik tersayang," jawab Valen santai. Setelah itu dia keluar dari ruangan adiknya.

__ADS_1


Vander sangat kesal, karena sang kakak selalu memanfaatkannya. "Sial, aku merasa sudah menjadi budaknya. Tapi ini sudah menjadi keputusanku. Aku tidak ingin menjadi anak manja yang selalu dituntut untuk menuruti keinginan Mom and Dad. Lebih sialnya lagi, aku harus frustasi pada seorang gadis. Wibawa ku sebagai Casanova hilang seketika."


Memang benar, sebagai anak terakhir. Vander dituntut oleh kedua orang tuanya untuk melanjutkan bisnis keluarga. Hidup terkekang membuatnya kabur dan memilih hidup bersama sang kakak yang telah lebih dulu keluar dari lingkaran ahli waris.


Kini, Vander harus berjuang demi melanjutkan hidupnya dengan menjadi orang kepercayaan kakaknya dalam menjalankan tugas. Vander masih terus menekan nomor telepon Evelyn. Hingga akhirnya panggilan itu tersambung dan membuatnya sangat senang.


"Hei, gadis bodoh apa kamu sudah melupakanku?" teriak Vander sangat kesal.


[Apa kamu tidak bisa berbicara dengan baik-baik? Atau kamu mau aku matikan panggilan ini! Aku tahu kamu sangat frustrasi tidak bisa menghubungiku, benar 'kan?] ucap Evelyn dari rumahnya, dia sengaja menggoda Vander.


"Awas saja kalau berani melakukannya, aku tidak akan ...."


[Tidak akan apa? Hem, apa kamu ingin mengatakan kalau tidak akan mengajakku keliling Afrika? Tenang saja, aku bisa melakukannya sendiri. Ya mungkin aku akan mencari target baru untuk membawaku pergi keliling dunia.] Evelyn terus memancing emosi Vander.


"Evelyn, jangan berani macam-macam denganku!" sahut Vander sangat marah.


[Hahaha, Vander. Aku tahu kamu sudah jatuh cinta padaku. Sangat jelas tapi tidak mau mengaku. Ingat, aku masih menyeleksi siapa yang pantas bersanding di sisiku. Jadi, pergunakan waktumu selagi ada kesempatan. Jangan sia-siakan kesempatan emas yang ada di depan matamu sekarang. Sudah dulu ya, aku sangat sibuk sekali. Bye, bye!] Evelyn mematikan teleponnya secara sepihak sehingga membuat Vander semakin kacau.


"Evelyn, halo! Evelyn! Arrkkkkhh! Sial sekali, beraninya gadis itu mempermainkan ku. Awas saja kamu Evelyn, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja! Aku akan menaklukkan hatimu, tunggu saja!" Vander merasa emosi karena telah di permainkan oleh Evelyn.


Di Tempat Lain.

__ADS_1


Evelyn tertawa senang karena berhasil membuat Vander frustasi. "Rasakan kamu pria bodoh. Aku akan membuatmu depresi hanya karena memikirkanku! Siapa suruh memberikan aku harapan palsu. Mana janji akan mengajakku keliling Afrika. Omong kosong, sekarang kamu harus menghadapi kakakku dulu jika ingin mengajakku pergi. Ahh, Padang Savana ku! Aku ingin sekali pergi ke sana."


"Tunggu bukankah aku ada misi baru? Aku masih penasaran dengan Kak Excel. Apa yang dia kerjakan beberapa tahun ini? Kenapa semuanya begitu mencurigakan? Seperti ada yang ganjil dalam tingkah lakunya." Evelyn terus bertanya-tanya dalam hati. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


__ADS_2