PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs GB 15


__ADS_3

Kini mobil sport itu telah sampai di pusat perbelanjaan yang ada di kota tersebut. Evelyn keluar dengan perasaan kesal. Dia melesat sendirian masuk ke dalam Mall. Vander menarik nafas dalam melihat Evelyn yang sangat susah diatur.


"Hei, bisakah kamu menungguku dulu!" seru Vander keras. Namun, panggilan itu diabaikan oleh Evelyn. Gadis itu tetap masuk ke dalam sendirian.


"Ck, menyebalkan sekali gadis itu," ucap Vander, dia mencoba berlari mengejar Evelyn yang sedang marah.


Akhirnya Vander bisa juga mengejar Evelyn. Dia langsung menarik tangan gadis itu untuk dibawanya menuju ke salah satu butik yang ada di Mall tersebut.


Evelyn tidak terima dirinya ditarik paksa oleh Vander. "Hei, jangan menarikku sembarangan! Aku bisa jalan sendiri," seru Evelyn. Setelah itu dia masuk ke dalam butik tersebut.


Sesampainya di dalam, Evelyn langsung menuju ke deretan gaun yang telah tertata rapi di sebuah ruangan. Dia memilah gaun demi gaun indah itu. Vander mendekat, lalu Evelyn menjauh lagi. Hal itu membuatnya sangat gemas. Vander menarik tangan Evelyn ke dalam pelukannya. Tentu saja hal itu membuat Evelyn terkejut.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganmu, kalau tidak ...."


"Kalau tidak apa? Hem? Kalau tidak akun akan mencium mu di sini, bagaimana? Sepertinya sangat seru dan mengasyikkan," ucap Vander menggoda Evelyn.


Evelyn menarik nafas dalam, lalu menginjak kaki Vander dengan sekuat tenaga. "Lepaskan aku, bodoh!"


"Awww." Vander berjingkat kaget. Dia mendapatkan serangan tak terduga dari Evelyn.


"Hei, tunggu jangan kabur kamu!" Vander mengejar Evelyn yang kabur.


Langkahnya terhenti ketika Evelyn mengobrol dengan seorang pria dan terlihat sangat asyik sekali. Vander pun langsung menghampirinya dan memeluk Evelyn dari belakang.


"Honey, bukankah kamu ingin mencari baju di sini. Kenapa tidak cepat memilih?" ucap Vander dengan begitu mesra.


Evelyn merasa risi dan ingin sekali mengajar Vander saat itu juga. Evelyn tersenyum tipis dan membalas ucapan Vander, "Baiklah, kalau begitu kamu carikan satu gaun untukku."

__ADS_1


"Oh ya, saya permisi dulu Tuan." Evelyn pergi dari tempat itu dengan Vander yang masih terus menempel padanya.


Setelah menjauh dari pria tersebut, Evelyn langsung menarik tangan Vander yang berada di pinggangnya. "Singkirkan tanganmu," ucap Evelyn kasar.


Vander pun sangat santai menanggapi kekesalan gadis yang bersamanya sekarang. "Menurutlah, apa kamu ingin aku membatalkan rencana ke Padang Savana?"


Mendengar kata Padang Savana membuat Evelyn langsung menoleh. Di mengepal kedua tangannya dan segera berjalan menuju ke ruang fitting. Vander tersenyum senang bisa mengatur sikap brutal Evelyn.


Kini mereka berdua sedang berada dalam ruang fitting. Vander sudah memilih beberapa gaun untuk Evelyn. Tak lama kemudian, keluarlah Evelyn dengan memakai dress panjang berwarna hitam. Pundaknya yang mulus terekspos sempurna dengan paduan tubuh yang langsing memberikan kesan elegan.


Vander yang awalnya memainkan handphone pun tercengang melihat pemandangan yang indah di depannya. Mata itu bahkan tidak berkedip sedikitpun. Melihat itu membuat Evelyn kesal. Dia berjalan mendekati Vander dan memukul kepalanya dengan keras. "Hei, berkedip lah," seru Evelyn dengan berkacak pinggang.


Vander tersadar dia langsung menarik tubuh Evelyn untuk duduk di pangkuannya. Vander mengunci kedua tangan Evelyn hingga gadis itu tidak bisa bergerak. "Bukankah sudah sewajarnya mataku ini tidak berkedip ketika melihat pemandangan yang indah di depanku. Kamu sangat mempesona Evelyn, hingga mata ini terpukau. Sangat cocok sekali dengan kriteria wanita yang aku cari," bisik Vander di telinga Evelyn.


Evelyn terdiam mendengar ucapan Vander. Tiba-tiba saja dadanya bergemuruh mendengar suara Vander berbisik di dekat telinganya. Melihat Vander tersenyum, membuat Evelyn langsung memalingkan wajah ke arah lain.


Vander membayar gaun itu di kasir. Setelah itu dia mengajak Evelyn menuju ke salah satu salon kecantikan untuk merias wajahnya agar lebih maksimal. Pria itu berjalan dengan menggandeng Evelyn.


Evelyn hanya bisa menurut dengan menunjukkan raut wajah yang cemberut. Namun hal itu justru membuat Vander semakin bersemangat. Lima menit berjalan Vander dan Evelyn sampai juga di salon tersebut.


Vander memerintahkan pada karyawan salon itu untuk melayani Evelyn. "Kalian layani kekasihku ini, buat dia secantik mungkin," perintah Vander pada karyawan salon itu.


Evelyn terkejut mendengar ucapan Vander. Dia melotot ke arah pria itu dengan penuh kekesalan. Vander hanya tersenyum dan membuang muka.


"Aku tinggal dulu, nanti akan ku jemput jika sudah selesai. Kamu nikmati saja pelayanannya, Honey!" seru Vander, dia pergi dari tempat itu.


"Honey? Stop memanggilku 'Honey'." Evelyn berteriak tidak terima.

__ADS_1


Vander terus berjalan dan tak menghiraukan perkataan Evelyn. Sesampainya di luar, Vander langsung menuju ke butik untuk mencari setelan jas baru. Dia ingin tampil memukau di acara malam nanti.


"Pasanganku nanti akan tampil maksimal, jadi aku harus mengimbanginya," gumam Vander pelan. Setelah itu dia masuk ke dalam butik dan memilih kemeja yang senada dengan dress mewah Evelyn.


Dua jam berlalu, Vander telah mendapatkan bajunya. Dia segera pergi menuju ke salon untuk menjemput Evelyn. Setibanya di salon, Vander langsung masuk dan mencari keberadaan Evelyn.


Dia melihat Evelyn tengah tertidur ketika para hairstylist sedang mengerjakan rambutnya. Vander mendekat dan menatap dalam wajah yng tertidur itu. Dia mengambil ponsel dan mengambil foto Evelyn.


Selesai memotret, Vander duduk di ruang tunggu sembari menunggu Evelyn. Vander sudah menyiapkan anak buahnya di lokasi pesta itu untuk berjaga-jaga. "Aku harus berhasil menggagalkan transaksi itu. Kalau tidak, aku bisa tertimpa masalah besar," ucap Vander dalam hati.


Sepuluh menit kemudian, Evelyn selesai perawatan. Dia bangun dari tidurnya dan mendapati penampilannya berubah. "Astaga, ternyata aku tertidur pulas sekali. Apakah semua sudah selesai?" tanya Evelyn pada hairstylist itu.


"Sudah Nona, kekasih anda sudah menunggu di depan."


Evelyn langsung berdiri dari tempatnya untuk mencari Vander. Kebetulan Vander juga sudah bersiap dengan setelan jasnya.


"Honey, ternyata kamu sudah siap. Kalau begitu kita berangkat sekarang," seru Vander penuh semangat.


Evelyn memicingkan matanya, dia menyorot tajam pria yang ada di depannya itu. "Berhenti lah memanggil ku, Honey."


Vander terkekeh. "Oke, aku tidak memanggilmu Honey. Aku tidak menyangka kamu bisa secantik ini, Baby!"


"Vander, jangan membuatku kesal. Bukankah kamu ingin penampilan yang sempurna dariku. Maka berhentilah, jangan menggodaku. Aku tidak suka," seru Evelyn, dia terlihat marah sekali.


"Oke Fine, ayo segera menuju ke mobil. Pesta di mulai lima belas menit lagi."


Setelah itu, Vander dan Evelyn keluar dan segera berangkat untuk menghadiri sebuah pesta besar. Di pesta itu lah, Vander dan Evelyn akan melakukan aksinya.

__ADS_1


__ADS_2