
Vander langsung pergi ke laboratoriumnya. Dia ingin membuat resep obat yang dipesan oleh Excel. Dia melakukan hal itu dengan sangat serius sekali. Demi bisa bertemu dengan Evelyn.
"Resep ini bisa membuat orang berhalusinasi. Untuk apakah dia memesan obat berbahaya ini?" gumam Vander pelan. Tangannya bekerja menciptakan cairan obat kimia yang berbahaya.
Sudah 3 jam Vander berada di ruang lab. Dia sudah memutuskan untuk pergi jam 20.00 malam nanti. Kini proses pembuatan obat itu tinggal tahap pengujian, jika sudah pas maka siap untuk digunakan.
Satu jam kemudian.
"Akhirnya selesai juga ramuan ini. Sekarang aku akan berkemas untuk segera berangkat menemui gadis bodoh itu," gumam Vander dia bersiap untuk pergi.
Vander keluar dari ruang Lab untuk menuju ke kamarnya. Dia mengambil ransel dan segera pergi menuju ke bandara. Vander terlihat sangat bersemangat sekali.
"Kakak, aku pergi dulu!" seru Vander pada sang kakak.
"Hem," sahut Valen. Dia tidak menoleh kepergian Vander.
Setelah itu Vander menuju ke bandara dengan diantar oleh anak buahnya. Dia hanya bermodalkan alamat apartemen Excel.
Perjalanan menuju New York butuh waktu belasan jam. Vander mengambil penerbangan awal agar sampai besok siang. Dia benar-benar sudah tertarik dengan Evelyn.
"Aku tidak akan melepaskanmu kali ini gadis bodoh. Aku akan memberimu pelajaran karena berani mempermainkanku," ucap Vander dengan melihat foto Evelyn.
Kini Vander sudah sampai di bandara. Dia langsung melakukan check in kemudian masuk ke dalam gate pesawat. Tak lama kemudian, pesawat yang dinaiki Vander pun terbang.
16 jam kemudian.
__ADS_1
Vander sudah sampai di bandara New York. Jam menunjukkan pukul 12.00 siang. Vander keluar dan turun dari pesawat. Dia langsung mencari taksi setelah mencatatkan diri di imigrasi.
Dia langsung menuju ke alamat apartemen Excel. Senyumnya mengembang karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Evelyn. Jarak bandara dan apartemen hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam.
Setibanya di sana Excel langsung turun dan pergi menuju ke apartemen Excel. Sebelum itu Vander sudah minta izin kepada Excel, karena akses masuk apartemen itu harus mendapatkan izin oleh pemilik rumah.
Vander sudah sampai di depan pintu. Dia langsung memencet bel dan tak lama kemudian pintu pun terbuka. Evelyn lah yang buka pintu tersebut.
"Ada apa Kakak, kenapa kembali?" seru Evelyn tanpa tahu siapa orang yang datang.
"Halo Baby, kita bertemu lagi," jawab Vander hingga membuat Evelyn membulatkan matanya.
"Va-Vander, apa yang kamu laku ...." Vander langsung menggendong Evelyn masuk ke dalam rumah tanpa menunggunya selesai berbicara.
Evelyn berteriak memberontak. "Hei, turunkan aku! Apa yang kamu lakukan?"seru Evelyn.
"Lepaskan aku pria bodoh!"
"Aku akan melepaskanmu setelah aku mendapatkan ini ...." Vander melempar tubuh Evelyn ke sofa lalu menindihnya dengan kuat.
Dia langsung mencium paksa Evelyn yang masih mencoba untuk melepaskan diri. Evelyn tidak bisa berkutik ketika kedua tangannya dikunci oleh Vander. Akhirnya bibir Vander mendarat juga dan mereka berciuman dengan penuh kemesraan.
Beberapa detik berlalu, Vander melepas tautan bibirnya. Dia segera duduk dan tersenyum penuh kemenangan. "Sangat manis sekali," ucapnya.
Evelyn menggeram kesal. "Beraninya kamu menciumku, pria brengsek! Sini kamu!" Evelyn marah dan mencoba untuk memukul Vander.
__ADS_1
Akan tetapi, Evelyn justru jatuh ke dalam pelukan Vander. Tentu saja hal itu membuat Vander semakin senang. "Evelyn jangan memancingku dengan posisi ini. Apa kamu ingin kita melakukan hal yang lebih dari ciuman tadi? Kalau iya aku sudah siap," ucap Vander dengan sengaja.
"Maka, Bermimpilah!" Evelyn bangkit lalu menjauh dari Vander. Wajahnya cemberut menahan kekesalan.
Vander semakin bersemangat untuk menggoda Evelyn. Dia baru tahu kalau wajah cemberut Evelyn itu sangat menggemaskan. "Come on Baby, kamu seharusnya menyambutku dengan penuh cinta. Tidakkah kamu merindukan aku yang tampan ini?" seru Vander dengan sangat percaya diri.
Evelyn semakin heran dengan kenarsisan Vander. "Apa otakmu sedang bermasalah? Kenapa berbicara yang tidak-tidak? Aku minta sekarang kamu keluar dari rumah ini. Kalau tidak aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar," balas Evelyn dengan nada tegas.
"Kalau aku tidak mau, karena kedatanganku ke sini bukan tanpa alasan. Kamu coba saja telepon kakakmu. Aku yakin dia akan menjawab kalau kedatanganku ini adalah sebagai tamu spesial," sahut Vander bersemangat.
Evelyn tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lalu dia mencoba untuk menghubungi kakaknya. Setelah handphonenya tersambung Evelyn bertanya, "Kakak, di rumah sedang ada alien yang nyasar. Apakah kakak yang memintanya untuk datang ke rumah?"
[Iya, kamu persilakan dia masuk. Minta dia menunggu kakak pulang. Jadi untuk sementara biarkan dia di dalam rumah.] jawab Excel dari kampus.
Evelyn menarik napas dalam, dia melirik ke arah vander yang sedang senyum-senyum sendiri. Setelah itu dia langsung mematikan teleponnya.
"Bagaimana aku tidak berbohong 'kan. Aku ke sini untuk bertemu dengan kakakmu. Ya, walaupun sebenarnya tujuan utamaku adalah untuk bertemu denganmu, Baby," ucap Vander semakin berani.
"Baiklah kalau begitu tunggulah kakakku sampai sore, karena dia sedang mengajar di kampus," balas Evelyn dengan nada ketus.
"Dimana kamarmu? Aku ingin mandi badanku sangat lengket sekali. Sekalian pinjami aku baju kakakmu, karena aku ke sini tanpa membawa baju ganti." Vander berdiri dan langsung menuju ke lantai atas untuk mencari kamar Evelyn.
Melihat Vander yang lancang membuat Evelyn semakin kesal. "Hei, berhenti kamu jangan masuk kamarku sembarangan. Vander aku bilang berhenti!" teriak Evelyn keras. Akan tetapi tidak dihiraukan oleh Vander.
Evelyn menghentakkan kakinya di lantai. "Ahh, aku bisa gila menghadapinya kalau seperti ini terus. Kenapa dia bisa berubah menjadi sangat menyebalkan," gerutu Evelyn. Setelah itu dia menyusul Vander ke lantai atas.
__ADS_1
Sesampainya di atas Evelyn langsung menuju ke kamarnya. Dia masuk dan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. "Sial, secepat itu dia mandi? Memang dia pikir ini rumah neneknya, sehingga bisa seenaknya sendiri."
Evelyn terus menggerutu dalam hati. Dia benar-benar sudah dibuat kesal oleh Vander.