
Malam ini Arga masih tak bisa melakukan apapun pada istrinya yang sedang tidur di sampingnya itu.
Pasalnya bsedang ada palang merah yang membuatnya tak bisa menembusnya, jadi dia harus bertahan dengan kondisi seperti ini seminggu kedepan.
Keesokan harinya, Lista sudah bangun dari pagi, dia datang ke dapur meskintang boleh memasak.
Karena dia ingin meminta air hangat untuk melakukan perawatan yang di minta oleh Nanang.
Karena luka di wajahnya itu masih bisa di sembuhkan, jadi apa salahnya mencoba untuk melakukannya.
Tapi tanpa di duga, Arga juga datang dan kemudian mengendong Lista yang masih memakai masker dan memangku wanita itu.
"Aku juga mau, karena aku ingin bisa berdampingan dengan mu saat istriku ini sukses," kata Arga.
Tanpa di duga Lista juga melakukan apa yang di katakan Nanang, ternyata hanya tinggal warna kulit pria itu yang tidak merata karena luka bakar yang terjadi waktu kecil.
Jadi kemungkinan itu akan mudah samar jika memakai semua perawatan wajah yang di berikan.
Setelah itu Keduanya menunggu, Arga memilih memejamkan matanya.
Sambil memeluk Lista tanpa mengenakan baju, dan Lista juga menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.
Bahkan detak jantung dari keduanya seakan berirama dalam berdetak, entahlah mulai kapan.
Tapi sekarang dia sangat nyaman bersama dengan Arga, meski banyak yang menyebut suaminya itu Monster.
Pukul tujuh pagi, keduanya keluar dari kamar dan mulai duduk di kursi untuk sarapan.
Satrio mrligat wajah pria yang selama ini dia ikuti itu tampak begitu bersih dan berseri.
"Wah ada apa ini, sepertinya mas Arga habis dapat Jack pot ya, kasih tau dong," kata Satrio penasaran.
"Kamu kenapa begitu kepo, sudah cepat makan karena kita harus keluar kota, pak Jul titip istriku ya," kata Arga.
"Tentu tuan," jawab pak Jul.
Setelah sarapan, Arga memeluk istrinya erat karena meski baru menikah.
Tapi keduanya sudah tak bisa berjauhan, "berikan aku ciuman dek," bisik Arga.
Lista langsung mengecup bibir suaminya itu, tapi Arga malah menahan tengkuk istrinya itu.
Hingga sebuah batu melayang ke kepala pria itu dan cukup keras hingga membuat keduanya kaget.
__ADS_1
"Woi sakit lah!" kata Arga dengan suara keras.
Sedang Satrio yang berdiri di samping mobil dan di belakang sosok Romo Jalal.
Pria muda itu menunjuk Romo Jalal, melihat itu Arga pun memeluk Lista dan kemudian pergi.
Romo Jalal tak bicara sedikit, dan langsung masuk kedalam mobil begitu saja.
"Uhuy... sebentar lagi ada yang kena gaplok nih," kata Satrio yang malah di pukul oleh Arga.
Mereka pun pergi, dan Lista tak menyangka jika suaminya akan pergi bersama ayah mertuanya.
Dan Arga terlihat diam di dalam mobil, "ada apa, kenapa seorang Arga di Monster keluarga Rahmat begitu pendiam saat ini, apa kamu sudah menjadi beruang kecil sekarang," kata Romo jalal itu.
"Tidak ada Romo," jawab Arga hingga salah sebut.
"Sejak kapan kamu ikut memanggil Romo, apa jamu sedang takut," kata Romo Jalal yang mengenal kebiasaan putranya itu.
"Tidak ayah, oh ya maaf jika aku lebai, tapi aku sedikit merasa seperti manusia saat di dekat Lista ayah, entah percaya atau tidak, dia adalah satu-satunya orang yang bisa ku sentuh dan ku peluk sesuka ku, selama ini aku selalu membatasi apapun yang aku lakukan karena takut menyakiti kalian semua, tapi sekarang aku dan Lista..." kata Arga dengan senyum yang mengembang.
"Karena sepertinya kalian mulai jatuh cinta, karena kalian memiliki situasi yang sama, kalau begitu mulai sekarang selain ibu mu, kakak mu Dewi, ada istrimu yang sekarang harus kamu lindungi, kamu mengerti kan Arga?"
"Iya ayah," jawab Arga.
Dan terlihat cak Londo sudah mengawasi semuanya, bahkan mereka langsung berhenti dan menyapa Lista.
"Pagi nyonya..." sapa semua orang.
"Sudah tak usah formal pada ku, anggap saja aku ini juga putri kalian,apa kalian sudah makan?"
"Terlihat semua diam," Lista meminta acung untuk membeli sarapan untuk semua orang.
Mereka semua terkejut,karena tak ada yang selama ini memperhatikan para orang tua yang tidak produktif seperti mereka.
Acung datang dan mulai membagikan makanan itu dan meminta semua orang untuk berhenti untuk sarapan.
"Semua orang makan dengan kenyangnya, dan tolong jangan di simpan karena nanti siang juga akan ada makan siang lagi dari kami, mengerti ya Mbah," kata Lista tersenyum.
"Iya nyonya," jawab semua orang yang memang tak bisa mengingkari siapa gadis itu.
Setelah sarapan dengan baik, mereka pun langsung bekerja dengan sangat penuh semangat.
Sekarang mereka mencetak paving blok, karena lembaran yang di ambil dari pohon pisang itu belum kering jadi mereka mengerjakan apa yang bisa di lakukan terlebih dahulu.
__ADS_1
Semua yang datang membawa sampah akan dapat uang dari sampah yang mereka bawa.
Meski pun tak banyak tapi itu membuat semuanya bersemangat, karena semua yang susah di buat sudah ada yang memesan yaitu Romo jalal yang ingin membuat pujasera di pinggiran desa
Jadi paving blok itu akan di jadikan jalan menuju ke pujasera agar lebih bagus karena warna warni.
Dan nanti untuk semua yang ingin berjualan di sana, tak di izinkan mengunakan barang plastik.
Itu peraturan yang tak boleh di bantah siapapun, jadi semua harus natural.
Terlebih konsep pujasera yang memang di buat seasri mungkin terlebih di dekat tempat itu ada sungai yang cukup besar.
Dan Romo Jalal juga membuat air terjun buatan yang tak akan ada orang yang mengiranya.
Tak terasa sampah di seluruh desa hampir perlahan habis, hingga tanpa terasa desa juga mulai bersih.
Dan Lista menghitung semua uang yang akan dia berikan pada semua karyawan.
Sore hari pukul empat sore semua pekerjaan selesai, "ibu-ibu, dan bapak-bapak semua, tolong semuanya berbaris karena nyonya ingin memberikan gaji kalian,"kata Acung.
"Tapi kami baru dua hari ini,"
"Kata siapa kerja dua hari tak boleh dapat uang, jadi tolong berbaris ya," kata Lista.
Semua berbaris, dan setiap orang mendapatkan gaji seratus ribu untuk dua hari,karena semua yang di lakukan.
Tapi tak sekedar uang, tapi juga mendapatkan sembako yang sudah di persiapkan oleh Arga.
"Oh iya, ini ada titipan dari suami saya, beliau bilang terima kasih sudah mau membantu istrinya saat ini, saya ucapkan terima kasih," kata Lista bangkit dan menunduk di depan semua orang.
"Semoga Tuhan melindungi kalian, dan terus memberikan kebahagian, dan memberikan banyak anak di keluarga kalian ya nduk, karena kalian orang baik," kata seorang ibu.
"Terima kasih atas doanya, dan terima kasih karena tidak takut padaku yang seperti ini," kata Lista.
Semua orang diam, karena banyak yang menolak kerja bersama dengan Lista karena hal itu.
Itulah kenapa dia mengatakan itu, bahkan dia menghapus air matanya yang jatuh, di depan semua orang.
Kini semua sadar, jika tak boleh menilai orang dari penampilan seseorang, tapi dari sikap mereka yang di tunjukkan.
Bahkan mereka tak mengira orang yang selalu di panggil monster malah kini sangat baik seperti ayahnya.
Bukan seperti Dirga yang meski terlihat sempurna, tapi pria itu tak bisa bergaul dengan semua orang, tapi hanya beberapa orang tertentu yang bisa dekat dengannya.
__ADS_1