Pria Jelek Itu, Suamiku

Pria Jelek Itu, Suamiku
melepas rindu


__ADS_3

Semua hanya diam saat melihat kepergian Dirga dengan amarah seperti itu


Nyonya Naina hanya bisa tersungkur tak bisa bicara, karena putra pertamanya itu memang sudah terlalu banyak menghabiskan uang untuk sesuatu yang tak berguna.


Terlebih Dirga tak pernah mau mendengarkan ayahnya, sekarang dia harus kuat melihat ini semua, karena dia tak bisa berduaan terus menerus menyaksikan putranya itu menghancurkan segalanya.


"Bunda tak apa-apa, bagaimana pun dia itu kesayangan bunda?" tanya Dewi.


"Tidak masalah, bunda baik dan sekarang bunda harus kuat dan ikhlas dan membiarkan dia berusaha sendiri," jawab nyonya Naina.


"Kita akan pergi liburan sekaligus menemani ayah kerja, karena ada rapat dengan seluruh kepala desa setingkat provinsi," kata Romo Jalal.


"Iya kang mas," jawab nyonya Naina.


Karena dia tau jika itu di lakukan suaminya, agar dia tak sedih lagi, terlebih setelah apa yang di lalui.


Tak butuh waktu lama, semua barang yang di perlukan susah siap di bawa.


Romo Jalal sengaja berangkat terlebih dahulu karena ingin benar-benar menikmati waktu berdua saja dengan istrinya.


Sedang Dewi dan Nanang juga harus ke Jakarta untuk mengikuti pameran alat medis terbaru karena mereka masih butuh satu alat lagi.


Jadilah malam itu rumah sangat sepi karena semua orang berangkat malam itu.


Lista merasa tak nyaman, terlebih setelah apa yang terjadi tadi sore, "apa kamu khawatir pada saudara mu itu?"


"Tidak, aku khawatir pad bunda kang mas, bagaimana pun mas Dirga itu putra kesayangannya," kata Lista yang sedang bersandar di dada bidang suaminya itu.


"Tenang saja, Dirga tak goblok kok, bagaimana pun dia itu lulusan pasca sarjana manajemen bisnis, tapi ya begitu dia terlalu suka jelalatan," kata Arga.


"Kalau kang mas?"


"Aku lulusan sarjana ekonomi dan belum sempat melanjutkan kuliah, karena harus membantu Romo di beberapa usaha," jawab Arga.

__ADS_1


"Bukan itu, sejak kapan kalau kang mas itu bisa membuat ku seperti ini, aku bahkan merasa seperti tak bisa dan berdaya dengan mu," kata Lista yang mulai menatap Arga dengan tatapan nakal.


"Apa kamu sudah tak tahan datang," tanya Arga menarik istrinya itu hingga jatuh ke pangkuannya.


"Menurut kang mas," kata Lista tersenyum dan kemudian mencium bibir suaminya itu.


Arga pun langsung mengendong istrinya itu ke kamar dan mengunci tempat pribadi itu.


Arga terkejut melihat istrinya itu mengenakan baju yang cukup sensasional di depan matanya.


Bagaimana tidak dia mengenakan lingerie sangat seksi dan itu membuat Arga terkejut.


"Sejak kapan kamu begitu nakal seperti ini?" tanyanya dengan suara yang berat.


"Sejak aku di beri ajaran oleh mbak Dewi dan karena kesepian menunggu suamiku ini pulang, jadi aku mencari referensi baju yang di sukai para suami,"


"Kalau begitu mari kita buat anak sayang," kata Arga yang langsung memakan istrinya itu.


Dan malam itu, di rumah milik Arga hanya ada keduanya saja karena yang lain sudah ngungsi malam itu.


Semalaman keduanya tak berhenti sampai semuanya habis di keluarkan.


Sedang Dewi merasa tak nyaman selama perjalanan menuju ke Jakarta karena mereka menempuh perjalanan darat


"Mau ke rumah sakit, kamu pucat sayang,"


"Tidak usah mas, aku hanya merasa jika sedikit mual," kata Dewi.


"Pak Sudi, tolong cari rumah sakit terdekat tolong," kata Nanang yang tak bisa toleransi dengan kesehatan istrinya.


Beruntung di dekat dari tempat mereka ada sebuah rumah sakit ibu dan anak.


Mobil pun berbelok dan Dewi di gendong oleh Nanang agar segera mendapatkan perawatan dan pemeriksaan.

__ADS_1


Dia menunggu dengan cemas, tapi ternyata ada kabar baik untuk mereka.


"Nyonya tidak nyaman karena sedang hamil trimester pertama, dan dari ukuran dari hasil USG, sepertinya sudah berusia sepuluh Minggu," kata dokter.


"Apa itu benar dokter, anda tidak salah?" tanya Dewi yang takut kecewa.


"Iya nyonya, saya tak bohong lihat di layar," kata dokter itu.


Nanang dan Dewi sangat bahagia, karena ini adalah anak sangat di nantikan selama ini.


"Dokter tolong berikan vitamin atau apapun untuk penguat kandungan, karena istriku pernah kehilangan janinnya," kata Nanang.


"Baik tuan, sebaiknya kalau memang tujuan jauh itu tak bisa di tunda, lebih baik buat posisinya nyaman selama perjalanan," kata dokter.


"Baiklah, apa ada pantangan untuk istriku, dia tak punya diabetes atau yang lainnya karena dia tak menyukai manis," kata Nanang yang memang selalu menjaga makanan dan juga apapun yang di konsumsi oleh istrinya itu.


Dokter tersenyum saja mendengar itu, karena baru kali ini dia mendengar dan melihat pria seperti Nanang.


Padahal pria tampan itu berperawakan gagah dengan tato di lengan tangannya, tapi nyatanya begitu mencintai istrinya.


"Tidak ada tuan, selama nyonya tak ada alergi, semua jenis makanan aman untuknya," terang dokter.


Nanang mengerti dan akan selalu menjaga apapun yang akan di konsumsi oleh istrinya itu.


Sedang untuk di rumah Arga di sana masih terdengar suara yang sangat tak asing, karena pria itu benar-benar menikmatinya.


Bagaimana tidak, jika biasanya dia selalu bisa menikmati istrinya, sedang selama tiga hari kemarin dia tak bisa melakukan apapun.


Dia bertekad untuk membuat istrinya itu segera hamil untuk membahagiakan orang tuanya yang ingin segera punya anak.


Disisi lain Dirga merasa kesal karena dia istrinya itu tak berguna, karena kalau salah satu dari mereka hamil maka dia tak akan di usir seperti ini oleh keluarganya.


Tapi nyatanya dia istrinya itu tak berguna, jadi dia memutuskan menjual semua koleksi tas dan sepatu milik istrinya itu sebagai hukuman dan modal usaha.

__ADS_1


Dia tak mau di sebut cuma menumpang saja, jadi dia harus membuktikan jika dia juga bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


__ADS_2