Pria Jelek Itu, Suamiku

Pria Jelek Itu, Suamiku
sudah sibuk


__ADS_3

Setelah melakukan perawatan itu, Lista dan Arga tak lantas istirahat karena pekerjaan mereka sangat banyak.


Bahkan hari ini, ada pesanan lilin aroma terapi yang di buat oleh para pegawai Lista yang sekarang makin banyak.


Dan dia tetap memberdayakan para lansia, yang masih bisa bekerja dan butuh uang untuk hidup mereka.


Lista kadang merasa sedih jika harus melihat para lansia ini bekerja di usia senjanya.


Bagaimana tidak dari semua orang yang bekerja, ada seorang wanita yang harus berjuang untuk menghidupi dirinya yang tak memiliki siapapun.


"Mbah mini ... apa sudah sarapan," tanya Lista yang memang sangat memperhatikan wanita tua itu.


"Sudah nyonya," kata wanita itu terlihat ceria.


Tapi tiba-tiba Lista memeluknya erat, entahlah kenapa, tapi dia ingin sekali memeluk wanita itu.


Bahkan dia juga terisak lirih, Mbah mini menepuk punggung Lista pelan, "ada apa nyonya, kenapa nyonya seperti ini?" tanya wanita sepuh itu.


Lista hanya tersenyum mengeleng saja, "saya hanya kangen nenek saja," jawab wanita itu.


Akhirnya dia bergabung untuk mengemas lilin-lilin itu, dan Lista meminta acung memastikan tidak ada yang bekerja terlalu keras.


Karena dia tak ingin jika para pekerja yang memang sudah lansia ini kelelahan.


Bahkan hari ini makan siang sangat istimewa karena Lista yang meminta orang rumah memasak dan menyiapkan susu khusus untuk semua orang.


Apa Arga marah dengan ulah istrinya, tentu saja tidak, pria itu mendukung penuh apa yang di lakukan oleh Lista.


a bagi Arga, senyum istrinya yang utama, dan dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan senyum istrinya.


Arga sedang ada di area persawahan karena di seluruh sawah yang dia pegang sedang panen raya.


Dan itu adalah panen pertama, meski bukan sawah yang ada di desanya.


Dia tetap harus memastikan jika semua hasil panen bagus, setelah panen, tentu saja dia tak lupa untuk menyuruh anak buahnya menaburkannya pupuk kompos.


Karena dia tak ingin sawahnya nterlalu mengandalkan pupuk kimia, jadi dia ingin tetap menjaga unsur hara di dalam tanah.


Dia ingat jika istrinya minta di ambilkan tanah untuk membuat sesuatu di rumah singgah lansia yang di kelolanya.

__ADS_1


"Pak Eko, tolong ambilkan lima karung tanah yang sudah di campurkan dengan pupuk kompos dan setelah itu tolong antarkan ke tempat istriku," perintah Arga.


"Baik tuan," jawab pria itu yang mengajak dua orang.


Ternyata Lista membuat pot sayuran dari botol bekas yang di gantung di tembok tempat itu.


Bahkan dia sudah menyiapkan banyak bobot sayuran. karena dia ingin jika panen nanti para warga bisa memakannya atau di jual untuk uang tambahan untuk para lansia


Dengan bantuan dua pengawal yang selalu bersamanya, semua pot yang sudah terisi tanah dan bibit akhirnya bisa di gantung.


Pukul tiga sore, Lista memulangkan semua para lansia dan tak lupa memberikan uang.


Karena itu adalah uang pembayaran lilin yang sudah di ambil, semua pun pamit pulang.


Sedang Lista tak langsung pulang, tapi dia mampir dulu ke sebuah warung rujak cingur yang pernah jadi langganannya dulu.


"Cak Acung dan cak Londo mau juga, nanti sekalian bungkus sama yang lain, tapi ini rujak cingur loh," kata Lista tertawa.


"Mau dong nyonya, tapi bumbu di pisah," kata Londo.


"Siap deh, bentar aku tak pesan dulu," kata Lista yang turun dari mobil dan langsung pesan


"Iya mbak silahkan duduk," kata pemilik warung itu


"Ya Tuhan baru tak berjumpa beberapa bulan saja sudah lupa dengan ku, sedihnya..." kata Lista dengan suara yang di buat sedih.


"Siapanya karena ibu tak punya kenalan cantik seperti anda ini," kata Bu Neneng yang fokus membuat sambel.


"Lista yang punya bekas luka Bu, ibu ingat yang sering di panggil wajah jelek dari Gita," kata Lista.


"Ya Gusti... ini beneran mbak Lidya, sekarang makin putih ya dan wajahnya juga cantik, tapi itu kenapa kok di tutupi gitu?" bingung Bu Neneng.


"Sedikit melakukan perawatan Bu, maklum sekarang saya di sayang suami jadi di rawat begini deh," kata Lista tersenyum malu.


"Oh ya, ibu dengar sampean menikah dengan mas Arga, yang serem itu ya?"


"Iya Bu, tapi tidak seseram itu kok Bu, apa ibu pernah melihat suami saya melakukan kekerasan pad warga, kecuali ada warga yang memang tak taat aturan, atau berani menantang Romo, tapi mungkin semua mengira jika dia jahat karena penampilannya yang sedikit menyeramkan, padahal dia itu sangat lembut loh," jawab Lista dengan gembira.


Wanita itu pun menyadari sesuatu, karena Lista ini tak pernah berbohong pada orang.

__ADS_1


"Eh bener juga ya,waah... jadi selama ini kami hanya menilai orang dari penampilannya ya, wah jahat banget ya kami," kata Bu Neneng merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, nanti kalau mau biar saya ajak main ke sini, saya akan bilang jika ibu butuh modal usaha, biar warungnya bisa makin rame dan nyaman," kata Lista.


"Itu tak usah mbak, orang saya juga tak mungkin bisa mengembalikan uangnya, kan mbak tau sendiri kondisi saya," kata Bu Neneng.


Akhirnya setelah rujak di bungkus, Lista memanggil dia pengawalnya, setelah itu mereka memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah, ternyata Arga sudah menunggunya, dengan wajah yang tampak marah.


Tanpa terduga Lista turun dan pangeran lagi dan memeluk suaminya itu.


"Jangan marah ya, itu mukanya usah merah loh," kata Lista yang tersenyum lebar.


"Bagaimana bisa marah kalau kamu seperti ini," jawab Arga menghembuskan nafasnya berat


"Maaf ya sayang ku, tadi aku keasikan ngobrol, oh iya... cak tolong di bagikan, dan berikan satu untuk kami ya,"


"Siap nyonya," jawab Acung dan Londo yang sudah di kejar oleh Satrio yang tau jika itu makanan.


Mbok Yulia keluar membawa satu piring dan tak lupa minuman juga, setelah itu Lista membuka bungkusan itu.


"Apa ini sayang?"


"Ini itu rujak cingur langganan ku, dan pemilik warungnya ini dulu sangat baik loh mas padaku, dan satu-satunya yang memperlakukan seperti orang biasa," kata Lista menyuapi suaminya itu.


"Terus..."


"Iya begitu, warungnya sudah sangat tak layak karena sudah cukup reot, tapi dia tak bisa merenovasi karena uangnya di gunakan untuk pengobatan suaminya," jawab Lista.


"Besok berangkat dengan pak Jul ya, dan tunjukkan warungnya di mana," kata Arga.


"Apa mas tak bisa pergi dengan ku?"


"Bukan tidak mau sayang, tapi besok aku harus ke kota untuk mengurus dia perusahaan yang aku ambil dari tangan Dirga," kata Arga.


"Aku pasti akan merindukan mu mas," lirih Lista yang sedih.


"Aku hanya empat hari, yang sabar ya istriku tersayang," kata Arga yang membuat Lista tenang.

__ADS_1



__ADS_2