
Terlihat Lista begitu tenang saat makan, bahkan melihat Satrio dan Arga.
"Nyonya, makan lauknya juga jangan cuma makan sayur dan sambal saja," kata mbok Suna.
"Iya mbok," jawabnya dengan tenang.
Tanpa di duga, Arga langsung menuang daging dendeng ke piring milik istrinya itu.
"Sudah ku bilang gemuk kan badan mu, karena jamu terlalu kurus," kesalnya.
"Baik mas," jawab Lista yang dengan santai memakan semuanya.
Sebenarnya pada mbok mbak ini sedikit kaget, pasalnya meski terlihat kecil tapi makan Lista cukup banyak, tapi sayuran
Sedang di tempat Romo Jalal, Gita merasa tercekik sekarang karena harus menjaga tata Krama.
Dia tak menyangka jika suaminya ini yang tinggal bersama kedua orang tuanya.
"Kami akan segera kembali ke kota, karena aku sudah terlalu santai belakangan ini," kata Dirga membuka pembicaraan.
"Baiklah terserah dirimu," kata Romo Jalal.
"Apa Lista akan pergi juga?" tanya Gita tanpa sadar.
Karena dia ingat dengan ucapan ayahnya agar tak berjauhan dengan adiknya itu.
"Tentu saja tidak, karena pekerjaan Arga di kampung, kenapa dia bisa ke kota, dia bisa jadi bahan olok-olokan di sana, apa ada nasalah," jawab Dirga.
"Tidak ada kang mas," jawab Gita.
Setelah makan siang, Dewi dan Lista duduk bersama nyonya Naina yang sedang merawat bunga
Sedang Dirga dan istri barunya itu sedang menikmati siang hari mereka dengan berolahraga.
Tak hanya itu, itu juga harus sangat berisik, hingga sayup terdengar suara hingga di teras.
"Mereka itu mengunakan toa, kenapa suaranya begitu jelas dan Sangat menganggu," kesal Dewi .
"Yang sabar saja mbak," kata Lista tersenyum
"Bukan maksudku begitu, aku rasa mereka itu begitu keterlaluan ya kali melakukan adegan itu dengan sangat sengaja," kesal Dewi.
Nyonya Naina dan Lista hanya tersenyum, dan mereka memutuskan untuk ikut nyonya Naina.
__ADS_1
"Sudahlah, sekarang ayo kita pergi ke suatu tempat," ajak nyonya Naina.
Itu adalah sebuah tempat yang jarang sekali di kunjungi kecuali hanya ada perayaan tertentu.
Sesampainya di tempat yang di maksud, ternyata mereka harus berjalan kaki cukup jauh dan terlihat sayu jauh banyak orang yang memakai kain jarik.
"Itu bukankah air pancuran tujuh bidadari bunda," tanya Lista yang berjalan di belakang ibu mertuanya itu.
"Iya kamu benar, itu air mancurnya yang sering di jadikan tempat semedi banyak orang untuk mendapatkan pesugihan atau untuk jabatan, tapi ibu ingin kalian saat di sana berdoa untuk memiliki keturunan untuk keluarga ini," kata nyonya Naina
"Baik Bunda,"
Mereka bertiga berjalan bersama menuju ke area air yang mengalir dari tujuh arca yang berbentuk seperti wanita jaman dulu.
Lista turun ke kolam dan mulai mandi di bawah pancuran itu, jika Dewi terlihat kedinginan.
Tapi gadis itu tampak biasa saja, bahkan dalam setiap doanya dia memohon apa yang di inginkan mertuanya itu bisa terpenuhi.
Akhirnya di air yang ke tujuh, tiba-tiba tubuhnya menjadi begitu ringan.
Tapi saat dia ingin keluar dari sungai sayangnya, dia terpleset dan wajah dari kalista hampir membentur batu pinggiran kolam.
Tapi sebuah tangan tepat menahan wajah itu agar tak terluka, "hati-hati nyonya," suara itu membuatnya terkejut.
"Mas di sini?" lirih Kalista.
"Kang mas," bisik Arga melirik bundanya
"Kang mas ... matur sembah nuwun," kata Kalista yang di bantu naik ke atas.
Dan ternyata semua orang sudah pulang, karena sudah hampir malam.
"Kamu terlalu menikmati berendam di sana, sekarang kita pulang," kata pria itu mengendong istrinya itu.
"Turunkan kang mas,malu..." bisik Kalista yang tak ingin di lihat oleh mertuanya.
"Bunda tak peduli juga, karena bagi bunda memiliki cucu segera itu yang utama," jawab Arga.
Kalista diam, kalau di pikir-pikir memang benar, kedua anak dari pasangan itu sudah menikah cukup lama, tapi belum ada satu pun yang memiliki anak.
Bahkan dirga harus menikah lagi karena istrinya itu terus saja keguguran, sedang untuk Dewi tak ada yang tau pasti.
Mereka sampai di tempat parkir mobil, dan Satrio mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.
__ADS_1
Sesampai di rumah, ternyata para mbok sudah selesai masak, dan setelah berganti baju.
Kalista kaget melihat semua masakan penuh dengan lauk yang tinggi protein.
Dia tak menyangka suaminya itu akan benar-benar siap membuatnya berisi.
Sedang di rumah utama, tanpa di duga Dewi ikut makan di sana karena ingin melihat pasangan yang baru menikah itu
"Bagaimana rasanya, apa menyenangkan, ah sepertinya begitu ya," katanya dengan nada santai.
"Diam dek, nanti Romo marah," bisik Nanang yang tau sifat istrinya itu.
Sekali mengusik Dewi, maka dia bisa membuat siapapun akan kesal seumur hidup.
"Tentu saja, jadi bagaimana jika biarkan istrimu ini menikah lagi Nanang, setidaknya dia bisa memiliki anak dari pria lain, karena kamu bukan pria yang tepat bukan," kata Dirga yang membuat Dewi marah.
Tapi suaminya itu menghentikan istrinya yang siap mengamuk, karena Dewi benar-benar tak boleh di beri celah untuk marah.
"Lakukan sendiri, yang tak sehat itu istrimu, bukan aku," marah Dewi.
"Hentikan jangan sampai Romo menghukum kalian, dan Dirga bersikap dewasa sesuai dengan usia mu," tegur nyonya Naina.
Romo Jalal datang dan duduk dengan yang lain, pria itu tampak tenang meskipun tadi dari pabrik yang di bilang Dirga hampir bangkrut.
"Dirga kamu tak perlu mengelola pabrik itu lagi,sekarang biarkan agik mu Arga yang mengelolanya, karena itu meminimalisir kerugian mu bukan," mata Romo Jalal.
"Dengan senang hati Romo," jawab Dirga.
Sedang Romo Jalal juga melihat menantunya itu, "Nanang ambil alih toko obat yang selama ini di kelola oleh Arga, dan kamu tak boleh menolaknya lagi, dan tak ada bantahan," kata Romo Jalal yang membuat semua orang diam.
Dia pun menikmati makanan yang sudah di persiapkan istrinya, ya meski usia pria itu sudah sepuh, tapi tetap terlihat awet muda.
Malam hari di kamar masing-masing, mereka sedang beristirahat, kecuali Arga dan Kalista.
Keduanya bsedang saling bekerjasama, karena Arga ingin istrinya membantu dirinya, jadi dia mengajari Kalista untuk mengelola pabrik kopi yang sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Karena dia yang berhasil membeli semua saham dan menjadi pemilik tunggal.
Arga tak menyangka istrinya itu begitu pintar, dalam hitungan jam, Arga bisa melihat kemajuan Kalista.
"Minum susu mu dan kemudian tidurlah,"
"Baik kang mas," jawab Kalista.
__ADS_1