
"tak ada yang boleh pergi dari rumah Romo Jalal tanpa persetujuan diriku, dan untuk mu, seharusnya kamu tidak membawanya ke sini, mengingat kamu sendiri yang memilih meninggalkan keluarga ini," kata pria itu tegas.
"kenapa ayah begitu tega, dia sedang hamil pewaris dari keluarga ini," kata Dirga dengan tanpa malu.
"sayang kami juga akan memberikan pewaris tanpa harus dari mu," kata Arga dan Nanang dengan tegas.
Dirga terkejut, bagaimana bisa, baru dia tinggal beberapa bulan tapi semua sudah berbalik seperti ini.
Gita ingin mendekat ke arah Lista, tapi wanita itu berjalan mundur, Acung dan Londo langsung menghadang Gita.
tak hanya itu mbok Yulia dan mbok Suna juga menghadang wanita itu
"maaf ... anda tak di izinkan mendekat ke arah nyonya kami," kata mereka.
"oh ... apa seperti ini perlakuan yang harus ku terima, apa aku benar-benar di buang oleh keluarga ku seperti ini," kata Dirga.
"hentikan sandiwara mu Dirga, aku tak peduli lagi, kamu tega terus menerus berusaha membunuh ku dan Arga, sekarang kamu bersikap kami yang jahat," kata Dewi kecewa pada kakaknya itu.
nyonya Naina tak tega melihat putra pertamanya itu di sudutkan seperti ini.
__ADS_1
tapi saat dia ingin maju, Romo Jalal menghentikannya, "kamu membelanya, kamu akan kehilangan kami semua, cukup setelah apa yang kamu lakukan hingga membuatnya jadi pria tak tau aturan seperti ini,"
"tapi kang mas," mohon nyonya Naina.
"Jul, Seno bawa dan kawal ketat kedua nyonya muda untuk pulang ke rumah, dan pastikan siapapun tak bisa mendekat," perintah Romo Jalal
akhirnya Lista dan Dewi pun di ajak pulang, dan Gita tak bisa mendekat atau bahkan sedikit menyentuh tangan saudaranya.
Dirga tak menyangka jika Romo dan dua adiknya akan bersikap begitu keras padanya
"kamu bisa tinggal di rumah pengasingan, tapi jangan berani datang ke rumah ini tanpa panggilan satu ku," kata Romo Jalal.
tapi sekarang malah harus di gunakan oleh Dirga, sedang nyonya Naina tak bisa melakukan apapun karena dia tak bisa melawan suaminya.
malam itu penjagaan di perketat, begitu pun dengan Arga yang tak bisa tidur demi menjaga istrinya.
benar saja, Dirga benar-benar nekat masuk kedalam rumah untuk menemui nyonya Naina.
tapi beruntung Nanang mengawasi keduanya dari jauh, dan terlihat nyonya Naina memberikan tas berisi uang.
__ADS_1
apapun kesalahan anaknya l, ibu tak bisa dan tega melihat putra kesayangannya kesulitan.
tanpa terduga, sosok yang di takutkan oleh nyonya datang dengan wajah marah.
"itu uang terakhir yang akan kamu dari rumah ini, jika lain kali kamu berani datang dan mengusik keluarga ini dan menunjukkan wajah mu, aku tak akan segan mengusir dan menghukum mu,"
"baik Romo, tapi aku ada permintaan penting, aku mohon sesuatu yang mungkin mustahil, tapi ini demi Gita, tolong pertemukan dia dengan Lista," kata Dirga yang memohon sampai berlutut
tiba-tiba terdengar suara burung hantu, dan sebuah pisau terlempar tepat di tembok rumah itu.
"kamu sudah menerima uang itu, pergi dan jangan harap aku mengizinkan istri mu yang tak tau malu itu, menemui istriku!" marah Arga yang menunjukkan sosok yang tak bersahabat.
"tapi kenapa nak,"
"cukup bunda!! jika berani mengusik istriku, aku akan memastikan jika aku akan pergi dan meninggalkan rumah ini selamanya, terserah kalian mau pilih aku dan Lista, atau putra mu yang tak berguna ini bersama istri-istrinya," kata Arga menantang nyonya Naina.
"jika kamu bertanya padaku, aku selalu ingin dekat dengan Dirga-"
"kalau begitu selamat, sambut anak mu ini, dan aku akan pergi, dan ayah maaf aku harus pergi dan membuat rumah ku sendiri, karena aku sudah muak di perlakukan seperti ini oleh bunda," kata Arga yang langsung pergi.
__ADS_1
Dirga tertawa mendengar jawaban ibunya, sedang Arga lebih memilih mandiri daripada harus terus menerus berada di desa dengan bayangan dari nama besar orang tuanya.