
Pukul dua belas siang, tiba-tiba saja Acung datang menghampiri Lista,"maaf nyonya, kita harus pulang karena tuan Arga terbiasa makan siang di rumah," kata pria itu.
"Baiklah, mari kita pulang," jawab wanita itu yang langsung pergi.
Acung dan Londo pun mengemudikan mobil menuju ke rumah keluarga Rahmat.
Tapi saat melewati perkebunan pisang yang baru panen, Lista melihat banyak gedebok pohon pisang yang di geletak kan begitu saja.
Dia pun ingat pernah ikut pelatihan untuk membuat kerajinan dari gedebok pisang saat SMK dulu.
"Cak Acung, itu kebun pisang milik siapa, kenapa limbah pohon pisang itu di biarkan begitu saja, bukankah itu akan merusak lingkungan," tanya Lista penasaran.
"Oh itu ya nyonya, bukan di biarkan begitu saja, karena nanti juga ada orang yang datang untuk mengambilnya dan nanti di proses jadi pupuk," kata Acung.
"Oh begitu rupanya, baiklah kalau begitu," jawab Lista.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah, dan terlihat mobil r
dari suaminya sudah ada di sana, jadi kusta turun dan kemudian berjalan cukup cepat.
Sesampainya di dalam rumah Arga kaget saat dari belakang Lista memeluk tubuhnya.
"Kang mas kenapa tak bilang jika makan siang selalu di rumah, kalau tau begitu aku akan tetap duduk di rumah, karena aku sudah punya bayangan mau melakukan apa," kata Lista.
"Benarkah kamu mau melakukan apa, dan jika di rumah saja apa itu tak akan membuat mu bosan?" tanya Arga yang berbalik dan melihat istrinya itu.
"Tidak, karena aku bisa mengajari warga lansia di sini untuk tetap produktif di usia mereka, boleh ya tapi itu akan butuh modal, jadi apa mau kang mas memberikan modal?" tanya Lista.
Mendengar permintaan istrinya itu, membuat Arga ingin sekali tertawa, tapi dia menahannya.
"Baiklah aku akan memberikan modal berapa pun yang kamu inginkan,"
Mendengar itu Lista pun memeluk Arga, dan tentu saja dia membalas pelukan itu dengan erat.
"Maaf,apa jadi makan siang atau tidak?" tanpa pak Jul.
"Maaf ya pak, ayo dek," ajak Arga mengajak istrinya itu duduk
Akhirnya siang itu, untuk pertama kalinya Arga meminta semua orang yang bekerja untuknya untuk duduk bersama untuk makan siang.
Setelah makan siang, Arga mendengar apa yang ingin di lakukan oleh istrinya itu.
Awalnya ide itu sedikit kurang di percaya oleh Romo Jalal yang kebetulan juga sedang pulang makan siang.
__ADS_1
Dan di mintai pendapat, "tapi apa yakin produk kalian ini bisa bersaing dengan semua pasar yang di dominasi oleh plastik saat ini?" tanya Romo Jalal.
"Inggeh saget Romo, karena produk kami memanfaatkan limbah jadi bisa terurai terlebih sekarang sudah banyak yang mulai menggunakan barang alami," kata Lista.
"Baiklah Romo dukung, dan ide memperdayakan masyarakat yang sudah berusia tidak produktif itu bagus, nanti biar pak Jul tolong temani menantu ku ini untuk merekrut orang ya," pesan Romo Jalal yang membuat Lista senang.
Arga juga tak percaya jika istrinya itu bisa mendapatkan kepercayaan dari Romo-nya seperti ini.
Begitu juga semua orang yang tak percaya dengan apa yang di lihat, siang itu pak Jul bersama Lista dan dua pengawal berjalan menemui beberapa warga.
Mereka semua mau ikut dalam program kerja yang di gagas oleh Lista.
"Jadi nyonya, sekarang kami harus apa?" tanya sekitar sepuluh orang berusia di atas lima puluh tahun itu.
Bahkan ada beberapa ibu rumah tangga juga yang ingin ikut bergabung untuk tambah-tambah pendapatan keluarga.
Karena jika di pabrik mereka sudah tak bisa bersaing dengan para pekerja muda yang masih memiliki tenaga yang baik.
"Sekarang tolong cari batang pisang yang sudah di tebang,ingat harus batang pisang yang sudah tak terpakai, serta semua sampah plastik juga boleh jika ada," kata Lista.
"Baik nyonya," kata mereka semua.
Dengan telaten Lista memberi contoh bagaimana harus memperlakukan semua jenis batang pisang itu.
Dan dia meminta orang-orang membakarnya kemudian mencampurnya mencampurnya dengan beberapa bahan dan membuat paving blok.
Mereka semua tak percaya dengan apa yang bisa mereka lihat, "ini bisa di gunakan untuk membuat jalan karena ini sama dengan paving blok lain, hanya berbeda dalam bahan pembuatannya saja,"
"Iya iya kamu mengerti," kata para pria itu.
Akhirnya mereka pun mengikuti semua yang sudah di ajarkan untuk membuat paving blok.
Dan para ibu menjemur semua barang pisang yang sudah di kelupas perlembar nya.
Sore hari, saat nyonya Naina dan Dewi pulang dari sekolah, mereka kaget melihat begitu banyak jemuran gedebok pisang.
Dan ternyata saat tak sengaja lewat, Dewi melihat adik iparnya itu yang tengah sangat fokus.
Dia pun tersenyum karena wanita itu benar-benar mengamalkan semua ilmu yang dia dapat dari sekolah.
"Bunda sepertinya menantu mu mulai memperdaya para warga untuk membuat kerajinan yang sedang naik daun saat ini," kata Dewi.
"Benarkah, bagus dong itu juga membantu mengembangkan semua program ayah mu," mata nyonya Naina.
__ADS_1
Dia sekarang mengerti kenapa Dewi memilih Kalista di banding Sagita untuk menjadi istri Arga.
Karena gadis itu tenyata sana dengan Arga yang memilih fokus membangun desa.
Akhirnya pak Jul mengajak Lista pulang, dan besok mereka akan mulai bekerja lagi dan kebetulan kemarin lalu Arga baru membeli rumah kosong.
Dan sekarang rumah itu di jadikan sebagai tempat mereka produksi, dan pelataran rumah itu juga sangat luas hingga sangat pas.
Baru juga masuk kedalam gerbang, dia melihat sosok ibu mertuanya yang sedang panen melati.
"Selamat sore ibu, apa boleh saya bantu?" tawar Lista.
"Tentu saja nduk, kemarilah tapi apa jamu tak capek," tanya nyonya Naina.
"Tidak Bu, saya senang melakukannya karena bagi saya lebih baik banyak bergerak," kata Lista yang terlihat sangat cekatan .
Setelah mengumpulkan bunga-bunga cukup banyak
Mereka berdua pun pulang, dan Lista memilih mandi karena tubuhnya sudah sangat lengket.
Saat ini Lista sedang duduk di teras dan mulai memosting apa yang tadi dia kerjakan.
Tak lupa jika dia juga menghubungi nomor telpon orang yang dulu memberikan pelatihan.
Dan wanita itu mengiyakan untuk penasaran produk di luar desa Lista, bisa dia yang akan membantu
Arga kaget saat pulang dari tempatnya bekerja, pasalnya dia melihat istrinya itu menunggunya dengan senyum lebar
"Ada apa sayang, sepertinya kamu begitu senang ya,". tanya Arga.
"Iya mas, aku mulai membuat paving blok dan tali yang terbuat limbah pohon pisang, dan semoga itu bisa menaikan perekonomian warga ya,"
"Pasti dek, dan aku tak sangka jika istriku ini begitu hebat seperti ini," puji Arga dengan bangga.
Tentu saja, nanti nyonya Naina juga akan membantu dalam penasaran produk UMKM di Desa-nya itu.
Terlebih semua yang di kerjakan itu sesuai dengan apa yang di inginkan oleh suaminya.
Arga terlihat sedikit pusing, tiba-tiba sebuah tangan mulai memijat kepalanya dengan pelan.
"Enak sekali dek..."
"Mas sepertinya sangat tegang, jika ada yang bisa aku bantu,aku mau melakukannya mas," kata Lista.
__ADS_1
"Sudah dek, semuanya selesai dan tolong manjakan saja suamimu ini dengan pijatan kepala yang mantap ini," gumamnya.