Pria Jelek Itu, Suamiku

Pria Jelek Itu, Suamiku
makan bersama


__ADS_3

Ternyata benar saja, tiga mbok yang bekerja di rumah Arga kaget melihat hasil masakan dari Lista.


Dengan satu bahan yaitu ikan lele, nyonya rumah itu bisa membaur makanan sebanyak itu.


Pantas saja tadi mereka di minta mengambil lele lagi dan lagi, "apa segini cukup untuk makan semu orang?" tanya Lista.


"Cukup sekali nyonya, ah apa tidak Lelah?"


"Tentu saja tidak mbok,aku terbiasa, bahkan saat sawah orang tua ku itu panen,maka aku harus masak untuk makan sekitar tujuh puluh orang, jadi sudah terbiasa, bisa tolong atur agar semua nanti bisa makan bareng," kata Lista.


"Siap nyonya, kita ke pendopo saja," kata mbok Ina.


"Ide bagus,mati kita rapikan pendopo agar bisa di gunakan, dan mbak Yulia tolong panggil mbok yang lain ya," kata mbok Suna.


"Siap," jawab mereka semua.


Mendengar itu Lista pun bergegas membuat es cincau karena gila juga sudah selesai di buat.


Kini dia meremas daun yang sudah di cuci, dan tak lupa menyaringnya dengan kain bersih.


Setelah itu mendiamkannya di wadah dan nanti tinggal mencampurnya dengan gila merah dan santan.


Romo Jalal dan nyonya Naina sedang duduk membahas beberapa proyek yang akan di serahkan pada anak-anaknya.


Mbok Jum menghampiri keduanya, "mohon maaf Romo dan nyonya, saya dapat undangan khusus dari mbok Yulia, katanya nyonya Lista nanti mengajak semua orang yang ada di kediaman Rahmat untuk makan bareng di pendopo," kata wanita sepuh itu.


"Apa dia yang memasak sendiri, karena jika iya kami pasti akan senang," kata nyonya Naina.


"Inggeh nyonya, tadi karena ada panen lele di dekat kediaman tuan muda Arga, jadi nyonya muda memasak dengan bahan baku itu," kata mbok Jum.


"Aku jadi penasaran, karena aku ingin lihat apa kepintaran dan tangannya bisa membuat ku makan lele selain dari masakan istriku," kata Romo Jalal penasaran.


Dewi yang mendapatkan kabar itu jug tak percaya karena seluruh keluarga inti, tak ada yang makan lele kecuali nyonya Naina yang memasaknya sendiri.


Mereka semua keluar dan terlihat sudah ada meja yang berjajar rapi di pendopo, bahkan di setiap meja ada tulisan nama masakannya.


Dan ada dua jenis es juga, "sekarang aku tau kenapa tadi dia mau beli buah impor," kata Arga yang tiba-tiba muncul di samping nyonya Naina.


Bahkan pria itu langsung memeluk ibunya dengan manja, "dasar anak beruang," kesal Romo Jalal melihat tingkah putra ketiganya itu.


"Kalau begitu Romo juga beruang dong," kata nyonya Naina tak terima.


"Akhirnya semua mengakui jika kita ini memang keluarga beruang, karena tinggi badan yang sedikit lebih di banding warga desa," kata Dewi.

__ADS_1


Terlihat Lista begitu sibuk bersama pra pelayan yang sudah mengabdi bertahun-tahun di rumah keluarga besar Rahmat.


"Monggo ayah, bunda, mbak Dewi dan mas Nanang," kata Lista mempersilahkan.


Arga pun memeluk istrinya yang sedikit bau asap,"kamu belum mandi,"


"Nanti saja mandi bareng ya, sekarang makan dulu," bisik Lista pada suaminya itu.


"Ayok...." tarik Arga mau pulang.


"Makan dulu kang mas," protes Lista.


"Arga," panggil Romo Jalal yang membuat pria itu berhenti dan berbalik.


"Oh ya perhatian semuanya, nanti kalau makan botok lele jangan langsung dari daunnya, lebih baik di taruh piring lain atau di tarung piring tempat nasi kita, karena kata Mbah dok dulu, kalau makan langsung dari daun nanti bisa kepotokan hal buruk, itu tetap berlaku meskipun mencicipi," kata Lista.


"Baik nyonya muda," jawab semua orang.


"Kamu masih percaya hal seperti itu?" tanya Arga


"Tentu, jika kita tak percaya orang jaman dulu, tak kan ada orang jaman sekarang, mengerti kang mas," kata Lista.


"Iya deh iya," jawab Arga pasrah.


"Neng, boleh nambah kan? habis masakannya enak banget Nyang mangut lele," kata pria itu


"Tentu," jawab Lista.


"Kami juga boleh nyonya," tanya para pengawal.


"Silahkan..." jawab Lista yang membuat semua orang senang.


"Wah gini nih, kalau nyonya muda seperti ini terus bisa gemuk mendadak kita," kata Londo.


"Iya, pas hati raya kurban kamu tak sembelih mau," ketus Arga.


"Kang mas ih... biarin jarang-jarang kan mereka seperti ini," kata Lista memukul paha suaminya pelan.


"Nanti kebiasaan sayang,"


"Kita buat giliran saja bagaimana, Minggu ini dari kista yang memasak, Minggu depan giliran istriku dan Munggu selanjutnya bunda," usul Nanang.


"Bagus nih bisa mengeratkan tali persaudaraan," kata Romo Jalal.

__ADS_1


"Sayang kan kamu tau aku cuma bisa masak daging saja," protes Dewi.


"Nanti para mbok kan bantu dek, jadi anggap saja kita belajar, siapa tau ya amit-amit ada bencana, jadi kita sigap punya tiga koki untuk memasakkan para warga nantinya," kata Nanang.


"Iya deh iya," jawab Dewi pasrah.


Tapi itu memang benar, karena pas ada banjir kiriman semua kebingungan untuk membuat dapur umum, meski bahannya banyak Dewi tak bisa membantu karena tak terbiasa, dan bertepatan dengan para pelayan di tarik ke desa sebelah juga.


Tapi sekarang Agra sudah membuat sebisa mungkin sungai tak mengalami pendangkalan jadi jika sewaktu-waktu ada banjir kiriman lagi.


Desa mereka tak terlalu berdampak, tapi nyatanya sama saja selang tiga hari dari acara makan-makan waktu itu.


Desa mereka sudah di guyur hujan selama itu, jadi Arga dan Nanang tak ada di rumah karena sibuk memastikan sungai tetap aman


Hingga akhirnya mereka menyadari sesuatu jika air sudah mencapai batas normal, akhirnya Arga menyuruh anak buahnya untuk bersiap-siap banjir.


Di rumah keluarga Rahmat sudah siap untuk menyiapkan dapur darurat.


Karena rumah mereka ini yang bisa di bilang paling jarang terdampak karena model bangunan yang sedikit bergaya rumah panggung.


Bahkan dari malam itu Arga yang dapat pesan mendadak pun jarang pulang, dan itu membuat malam pengantin mereka kembali harus mundur


Tapi Lista tak memikirkan hal itu karena sekarang yang utama adalah membantu para warga.


"Semuanya tolong anginkan nasinya yang sudah matang, jadi nanti tak basi jika di bungkus.


"Mbak Dewi apa sayurnya sudah siap?" tanya Lista yang sedang membuat begedel kentang daging.


"Sudah dek tinggal tunggu mendidih siap di bungkus bersama," kata wanita itu.


Akhirnya semuanya selesai, dan Lista menunjukkan bagaimana cara membungkus nasi dengan baik seperti nasi Padang.


Tak lupa sayur di pisah karena takutnya ada anak kecil yang juga tak bisa makan pedas.


Mereka malam itu membuat setidaknya seribu nadi bungkus untuk di bagikan.


Semua sibuk, bahkan Dewi dan Lista benar-benar tak berhenti, sedang nyonya Naina berada di balai desa untuk memberikan selimut dan kebutuhan yang lain.


"Makan malam datang," kata Acung yang datang bersama Londo.


Meskipun bukan desa mereka yang terlalu terdampak, melainkan dua dusun di desa itu, karena masih tanggung jawab Romo Jalal jadi mereka yang bergerak.


Bahkan Arga sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan aliran air kiriman itu, tapi ya mau bagaimana lagi ini terjadi setiap hujan turun beberapa hari.

__ADS_1


__ADS_2