
Arga benar-benar membuat semua orang yang ada di rapat itu ketakutan, pasalnya dia yang terkenal begitu kasar menunjukkan sikapnya yang tanpa ampun itu.
"Jika dalam tiga jam tak ada perubahan, aku jamin kalian kehilangan semua aset yang kalian berani ambil dari perusahaan, dan tentu saja tak hanya itu konsekuensinya," kata Arga
"Kamu siapa berani mengancam kami," kata seorang pria.
Arga tertawa geli mendengarnya, "kamu bertanya siapa aku, aku adalah maut di keluarga Rahmat," kata Arga menendang pria itu dan mengacungkan pistolnya.
"Pasti pistol bohongan."
Dor... dor...
"Jika ini pistol mainan, bagaimana jika kita buat pelurunya masuk ke dalam kepala mu yang tak berguna ini, mau coba?"
Semua orang pun langsung mengembalikan semua apa yang sudah mereka ambil, karena mereka tau jika Romo Jalal akan hanya mengancam.
Tapi tidak dengan putranya yang satu ini, itulah kenapa pria itu di juluki maut dari keluarga Rahmat.
Setelah selesai dengan satu perusahaan, Satrio memberikan berkas satu perusahaan lagi.
"Pak Ian, pastikan para bajingan ini mengembalikan semua aset perusahaan, jika kamu tau ada yang masih berkomplot dengan Dirga, aku mengizinkan mu untuk membunuhnya, karena bagi siapapun yang ingin bekerja di tempat ku, tidak boleh berhubungan dengan Dirga,"
"Baik tuan muda," jawab pria itu yang kini jadi tangan kanan pria itu.
Arga membaca berkas yang tadi di berikan oleh Satrio, tapi saat berjalan seorang wanita muda menabraknya karena wanita itu lari sambil tak melihat jalan.
Gadis itu terjatuh di lantai, tapi Arga hanya diam melihatnya, "dasar sialan! kamu tak punya mata ya, kamu tak tau aku siapa!!" maki wanita itu yang kemudian bangun dan melihat sosok pria tampan di depannya.
"Di perusahaan ini kenapa ada wanita liar yang berani memarahi orang, dan dia bukan pegawai di sini," geram Arga
"Apa... hei meski kamu tampan, tapi kamu tak tau ya, aku adalah putri dari pak Harto, manager utama di perusahaan ini,"
"Pecat pria itu, karena berani menghina dengan membiarkan putrinya yang tak tau malu ini berkeliaran di perusahan ku," kata Arga yang melewati gadis itu begitu saja.
"Apa..."
__ADS_1
Arga langsung masuk kedalam mobil dan meninggalkan perusahaan.
Sedang apa pun yang di katakan oleh Arga semua menjadi hal benar dan harus di lakukan.
Sekarang pria itu membereskan satu perusahaan lagi sebelum di tangani anak buahnya.
Akhirnya malam hari, dia menerima laporan jika ada masalah, jadi tidak mau dia harus membuat dua istri dari kakaknya itu mengerti.
Karena mereka semua jika tak bisa berhemat, maka akan tinggal di jalanan suatu saat nanti.
Dia datang ke rumah yang sangat besar di banding rumah yang ada di desa maupun rumah yang menjadi rumah tetap di kota saat dia berkunjung.
Dia pun langsung masuk di temani setidaknya enam pengawal termasuk Satrio dan Londo.
"Mau apa kamu datang kesini sialan," marah Dirga melihat sosok pria yang duduk dengan angkuh di sofa ruang tamu.
Gita dan Siska yang ikut keluar kaget melihat seorang pria tampan duduk dengan begitu angkuh.
"Tentu saja mau mengingatkan padamu, jika sekarang kalian tak bisa menghamburkan uang lagi, karena bunda tak akan jadi penyokong mu lagi," kata Arga.
"Itu tak mungkin, aku adalah putra kesayangannya, sedang kamu hanya putra yang tak di anggap di rumah itu," kata Dirga yang tak kalah sombong.
"Sialan!! aku akan membunuh mu," marah Dirga tak terima
Bagaimana bisa orang tuanya melakukan ini padanya, Siska dan Gita yang mendengar pun tak percaya jika dia adalah Arga.
"Terserah kamu, tapi jika kamu masih tak punya malu dan tak percaya dengan apa yang aku katakan, silahkan saja tanya pada bunda sendiri," kata Arga yang bangkit dari kursinya.
Itu membuat Dirga sangat marah, hingga dia ingin menyerang adiknya itu, "apa kamu menjadi semakin bodoh sekarang hah!!"
Pasalnya sekarang Arga mencekik Dirga dengan satu tangannya, dan mendorong pria itu hingga terjatuh.
"Sekarang lebih baik, bekerjalah dengan benar, jika tidak dua perusahaan mu yang tersisa tak akan bisa menghidupi dirimu dan dua istri mu yang suka menghambur-hamburkan uang itu," kata Arga yang langsung pergi dari tempat itu.
Dia harus benar-benar menyelesaikan semua pekerjaannya, karena dia sudah sangat merindukan istrinya yang ada di rumah.
__ADS_1
Sedang di kamar, Lista sedang bersiap untuk tidur dengan memakai kaos oblong yang belum sempat di cuci milik suaminya.
Karena aroma suaminya menempel di baju itu, dan itu sedikit mengobati kerinduan yang sedang dia rasakan.
"Kenapa baju suamiku seperti daster kebesaran sekali di tubuh ku," gumamnya tersenyum melihat dirinya di depan cermin.
Dia melihat ponselnya, dan tak ada satu pun pesan atau telpon dari suaminya.
"Apa kamu sesibuk itu hingga lupa pada istri mu ini," kata Lista yang keluar dengan mengenakan baju itu.
Dia mengambil minuman hingga tanpa sadar, ada seseorang yang melihat gadis itu.
"Apa kamu sangat merindukannya, padahal baru dua hari," kata Dewi yang datang mau minta susu kambing.
"Eh mbak Dewi, iya..." kata Lista malu-malu.
"Tapi kamu seperti memakai sprei begitu karena tubuh Arga yang besar dan tinggi, tapi apa kamu kesulitan karena perbedaan tinggi dan ya maaf aku membuat mu terjebak dengannya," kata Dewi.
"Aku malah merasa senang sekarang, karena memiliki suami seperti mas Arga," kata Lista.
"Baiklah, oh ya aku minta susu kambing ya, karena aku tadi lupa tak beli," kata Dewi menunjukkan botol kaca itu.
"Iya mbak, lagi pula aku tak menyukai susu itu," kata Lista.
Dewi langsung pamit setelah itu, dan meninggalkan adik iparnya itu agar bisa beristirahat.
Ternyata Arga sedang berusaha menelpon istrinya, tapi belum ada jawaban.
Saat Lista masuk kedalam kamar dia melihat ponselnya berdering langsung mengambil dan mengangkatnya.
"Ku kira aku sudah terlupakan meski baru dua hari di tinggalkan," kata Lista dari sebrang telpon.
"Maafkan aku ya dek, aku memang sangat sibuk akhir-akhir ini, kamu kan tau benar aku di sini juga harus menghadapi saudaraku yang bodoh itu juga," kata Arga yang melihat wajah cantik istri.
"Aku sendirian di kamar yang besar ini, kapan mas pulang?" tanya Lista yang berguling di ranjang.
__ADS_1
"Mungkin dua sampai tiga hari lagi sayang, tolong bersabarlah," kata Arga.
"Baiklah aku tunggu mas kapan pun itu," jawab Lista