
Dengan wajah kecewa, Arga sedikit gondok pagi ini, sedang Lista yang mengerti pun masih mencoba membujuknya.
"Maafkan aku dong kang mas, aku juga tak bisa mengaturnya, habis gimana lagi, kan aku tak bisa berbuat apapun," kata Lista.
"Iya maaf, aku hanya sedikit senang melihat mu keramas tadi ku kira sudah selesai, tapi pagi ini kamu mau ke tempat produksi lagi?" tanya Arga yang duduk dan menarik istrinya itu hingga jatuh ke pangkuannya.
"Tidak juga sih, aku sebenarnya ingin melihat progres pembangunan puja Sera yang ada di dekat gapura desa," kata Lista yang terlihat manja pada suaminya itu.
"Sayang kamu melakukan apa, jangan membuat ku jadi merinding, kita sedang menunggu sarapan," bisik Arga yang mendekat erat istrinya itu.
"Maaf...." lirih Lista memeluk Arga.
mbok Yulia dan mbok Ina mengambilkan sarapan untuk kedua orang itu yang sedang bermesraan, "cukup mbok, kami akan segera keluar jadi satu piring saja," jawab Arga.
"Loh, tapi bukannya kang mas sibuk ada pekerjaan ya," tanya Lista yang melepaskan pelukannya dan mulai mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
"Sebenarnya iya juga sih, tapi kang mas hari ini ingin jadi pengawal mu," jawab Arga yang membuat Lista tersenyum.
Keduanya makan bersama, setelah itu Satrio ingin ikut tapi di halangi oleh Arga dan malah menugaskan pria itu menyelesaikan apa yang di minta oleh Romo Jalal.
Satrio tak bisa menolaknya dan dia pun mulai berangkat bekerja dengan motor.
Sedang Arga memilih membawa mobil tapi kali ini Lista menolak, karena dia ingin di bonceng motor.
"Mau ya kang mas," mohon wanita itu.
"Baiklah ayo naik, beruntung sekarang ada motor model begini, jadi kaki ku tak terlalu sakit," katanya yang memang lebih nyaman memakai motor jenis PCX.
Sesampainya di tempat pembangunan, terlihat para pekerja menyapa dengan hormat.
Tak lama setelah berbincang beberapa saat dengan para pekerja, mereka bersiap untuk pulang.
"Ada apa dek, apa kamu melihat kejanggalan?" tanya Arga
"Tidak kok, aku melihat wajah suamiku yang sekarang berangsur membaik dan bekas lukanya mulai menghilang," kata Lista menyentuh wajah suaminya.
__ADS_1
"Kamu juga, sudah sekarang ayo kita ke minimarket, kamu belum pernah menggunakan kartu debit mu yang aku berikan bukan," kata Arga.
"Iya juga sih mas, habis uang cash yang Jang mas berikan dua hari sekali itu sangat banyak, bahkan aku sendiri bingung saat ingin memakannya," kata Lista jujur.
Mereka benar-benar mampir ke minimarket dan semua karyawan menyapa Arga dengan sopan.
Pasalnya pria itu adalah pemilik supermarket, Lista menuju ke area penjualan buah yang impor, atau lebih tepatnya buah yang jarang orang tau.
Dia mengambil leci, kiwi, dan jeruk Bali, tapi Arga mengambil jeruk Bali itu dan meletakkan kembali ke rak, "ih mau beli..."
"Di belakang rumah banyak, ada yang matang kayaknya, jadi gak usah beli," kata Arga
"Baiklah kang mas,"
Akhirnya mereka pun antri di kasir, tapi tiba-tiba Lista mengambil coklat batangan, "mau semua coklat yang ada di minimarket ya mbak," kata Lista.
"Sayang kamu mau buat apa beli coklat sebanyak itu?"
"Mau di bagikan sama anak-anak, sudah kang mas tenang saja ini tak akan membuat mu bangkrut ya," kata Lista yang sekarang mengunakan kartu yang di berikan oleh suaminya.
Ternyata Lista membagikan semua coklat yang di belinya pada semua kakek dan nenek yang ada di sana.
Arga pun membantu untuk mengangkat beberapa bahan baku yang berat, bahkan tenaga seperti Arga ini sangat membantu dan sayang jika di sia-siakan.
Setelah selesai, tak terasa sudah jam makan siang, Acung datang membawa nasi bungkus, "sayang kamu memberikan jatah makan siang?"
"Iya kang mas, tidak semua orang yang bekerja di sini orang mampu, dan bahkan ada yang merasa di sia-siakan oleh anak-anaknya, jadi apa salahnya, dan kang mas tau doa yang di berikan mereka saat aku mengatakan jika sembako yang aku bagikan kemarin lalu dari kang mas, mereka semua berdoa agar kita tetap bersama, memiliki anak yang sehat dan banyak, dan kesehatan selalu bersama kita, terutama untuk kang mas,"
"Benarkah, bukankah mereka takut dengan wajah ku yang buruk rupa ini?" tanya Arga.
"Wajah kang mas boleh buruk rupa, tapi hati tak bisa di tutupi, karena tak berguna punya paras tampan tapi hati yang busuk," jawab Lista.
"Kamu bilang begitu karna kamu istriku," kata Arga.
"Tentu saja tidak, karena aku tak pernah melihat seseorang dari wajahnya, tapi dari sikapnya, aku mulai merasa nyaman saat aku bertemu kang mas pertama kali, maaf orang yang menolong ku,sempat ku anggap genderuwo karena penampilan kang mas yang berpakaian serba hitam," kata Lista malu.
__ADS_1
"Sekarang..."
"Aku tak bisa mengalihkan pandangan dan berjauhan dengan kang mas," jawab Lista.
"Dasar istriku yang terbaik," kata Arga yang mengendong Lista begitu mudah
Para karyawan di sana terlihat sangat senang karena melihat Arga dan Lista begitu bahagia.
Pukul dua siang keduanya pulang karena hari ini cuaca cukup panas, dan Lista merasa jika tubuhnya sangat lengket.
Dia memilih mandi karena hal itu, sedang arga memilih duduk mengawasi beberapa orang yang ternyata sedang panen kolam yang ada di samping rumahnya.
"Kang mas,tolong minta lele yang besar ya, aku mau buat lele bumbu merah pedes dong," kata Lista yang merangkul suaminya dari belakang.
"Kamu tak bosan ya makan lele terus dari kecil?"
"Tidak kang mas, itu sangat enak kok,kalau bisa masak,mungkin karena yang masak kurang bisa jadi rasanya begitu-begitu saja," kata Lista tertawa.
"Aduh nyonya meragukan kemampuan kami?" kata mbok Ina yang kebetulan lewat dan mendengar ucapan dari Lista.
"Ya gak kok, memang kalau lele pasti di masak di goreng di lihat dari kesukaan kang mas, dan mengunakan sambel yang bermacam-macam bukan?" tanya Lista.
"Ya memang begitu, memang bisa bagaimana lagi," kata Arga.
"Kang mas gak seru nih, cepat ambilkan yang gede dong," kata Lista yang sudah ingin makan lele jumbo.
Arga pun langsung bangkit dan mengambil lele yang di minta istrinya.
Dan sekarang Lista memasak di dapur, dan apapun yang nanti di buat semua harus makan dan karena tadi mengambil lele cukup besar.
Nanti bisa di makan bersama saat makan malam bersama keluarga besar.
Dia akan membuat mangut lele dan lele goreng tepung, dan melihat Lista yang terbiasa di dapur.
Semakin membuat seluruh mbok yang bekerja, tau jika gadis itu memang sudah terbiasa dengan kondisi dapur.
__ADS_1