Princess Of Jungle

Princess Of Jungle
CHAPTER 15


__ADS_3

πŸƒ Happy reading πŸƒ


***


Matahari mulai tenggelam. Pancaran sinar jingga dari sang matahari terlihat indah menghiasi seluruh pohon di hutan. Pemandangan yang menakjubkan dan keindahan yang sungguh memabukkan.


Key menatap kosong ke sembarang arah. Ekot sudah mengatakan bahwa Ia ingin Key menjadi istrinya. Yang benar saja? Key sama sekali tak tertarik tentang hal itu. Ia menolak dengan tegas di hadapan semua orang. Wajah Ekot terlihat pias. Key tak peduli.


Lagi pula, Ekot pikir ia bisa menikahi Key hanya karena alasan agar Key tetap bersama mereka? Menggelikan baginya. Setelah menolak dengan tegas, ia mengatakan bahwa akan tetap bersama mereka.


Kedua kakinya yang jenjang menggantung di atas dahan besar. Seperti inilah kebiasaan Key. Menatap matahari tenggelam baginya sangat menenangkan.


"Ki!"


Key mencari sumber suara. Pemuda itu lagi, Purok di bawah sembari tersenyum manis. Pipinya tiba-tiba saja memanas. Ia lalu langsung mengalihkan tatapannya.


"Ki ...."


Suara lembut yang memanggil namanya dengan ejaan yang salah, sangat salah! Andai saja ia bisa mengajarkan huruf pada mereka. Namanya Key bukan ki!


"Aku senang kau mengambil keputusan yang benar, tapi ...." Key menatap Purok yang sudah duduk di sebelahnya. Kalau di pikir-pikir Key, mereka sudah sering duduk berdua di salah satu dahan besar seperti ini.


"Tapi aku takut Ekot akan berbuat hal yang tidak benar." mata hitamnya menatap Key.


"Aku yakin mulank akan melindungiku," sahut Key dengan nada santai. Ia juga mempercayai mulank karena pada dasarnya orang-orang primitif seperti Ekot dan yang lainnya tak akan mungkin asal percaya.


Jadi kemungkinan besar Mulank itu benar adanya. Lagi pula, menurut Edward Burnett Tylor mengatakan dalam bukunya primitive culture bahwa kepercayaan Animisme adalah kepercayaan utama dari seluruh agama di dunia. Karena masyarakat berevolusi dalam tahap yang bermula dari savagery (Animisme) ke barbarism (Politeisme) menuju civilization (monoisme). Pada mulanya masyarakat merenungkan dua hal utama. Kematian dan mimpi.


"Mulank mungkin melindungimu. Tapi Ekot bisa meminjam kekuatan roh jahat." suara Purok nampak seperti menahan amarah.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Karena aku tau dia. Dia kakakku."


"Ku pikir kalian hanya sebatas panglima suku dan kepala suku."


"Apa itu?" mata hitam Purok mengerjap polos. Sama sekali tak mengerti maksud ucapan Key.


"Tidak, lupakan saja." Key memutar bola matanya. Ungkapan itu mungkin sangat sulit bagi orang primitif seperti mereka.

__ADS_1


Sesaat hening.


"Purok, maukah kau menemaniku berjalan-jalan ke hutan Utara?" Key berucap tanpa menatap Purok. Matanya menatap Tutul sembari tangannya mengelus kepala makhluk mungil itu.


"Baiklah."


***


keesokan harinya Purok menepati janji, tapi setelah menjalankan kewajibannya berburu untuk makan orang-orang mereka. Ia lalu mendatangi Key.


Sekarang Purok dan Key serta Tutul berjalan ke arah Utara. Purok juga penasaran mengenai wilayah itu karena tak pernah kesana. Mereka tidak perbolehkan melewati perbatasan antara Selatan dan Utara.


Bue yang mengatakan bahwa Selatan menjadi tempat mereka para manusia sedangkan Utara para hewan buas dan berbisa tempatnya di sana. itu sebabnya ia sangat takjub pada gadis di sebelahnya. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan hidup di sana?


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" Key yang sedari tadi risih karena Purok selalu menatapnya melayangkan pertanyaan dengan nada keluhan.


"Tidak, kau sangat cantik. Ayo!" Purok berlari sembari menarik tangan Key. Tak menghiraukan kedua pipi Key yang memanas karena ucapannya. Ekor mata Key melirik Tutul yang juga berlari di belakangnya.


"Ini tempat tinggalku dulu." mereka sudah sampai di pohon tempat Key biasanya tidur. Tutul nampak meringkuk di dekat pohon itu.


"Apa kau benar-benar hidup di sini?"Key mengangguk sembari tersenyum.


"Apa kau tau, bue mengatakan bahwa wilayah ini tempat binatang buas dan berbisa tinggal. Itu sebabnya kami hanya berburu di daerah Selatan dan ke Timur untuk buah-buahan."


Tawa Key meledak.


"Aku memang sangat cantik tapi aku manusia bukan dewi." Key mengibaskan rambut pirangnya yang bergelombang ke belakang.


"Jadi, karena hal itu kau sedari tadi terus melihat ke sekitar." Key menatap Purok yang matanya terus memperhatikan ke sekitar.


"Aku merasa kita di awasi."


"Apa maksudmu?" Key sedikit takut dan ikut memperhatikan sekitar mereka. Tanpa menyadari tubuhnya dan Purok sangat dekat.


"Aku tak melihat apapun," ucap Key yang masih menatap pepohonan dan semak-semak di sekitar mereka. Bahkan hewan atau ular kecil ia tak melihat juga. Merasa tak ada jawaban Key mengalihkan tatapannya dari sekitar ke Purok.


Kedua matanya terkunci pada mata hitam Purok. Sepertinya sudah sedari tadi Purok menatapnya. Wajah mereka sangat dekat, dengan tinggi Key yang hanya sebatas dada Purok, ia sedikit mendongakkan wajahnya menatap mata itu. Jantungnya berdetak dengan cepat.


"Purok ...." Key memanggil nama pemuda itu dengan nada sangat pelan. Sedangkan Purok terus menatap wajah cantik Key tak berkedip. Tatapannya sulit di artikan.

__ADS_1


Wajah Purok semakin dekat, hidung mereka sudah bersentuhan. Key bahkan dapat mendengar suara napas pemuda ini. Spontan Key memejamkan matanya.


Sreet!


Purok meraih pinggang Key dan mendekapnya. Membawa ke pelukan sembari mata hitamnya yang tajam menatap ke belakang Key. Tempat tombaknya meluncur dan sekarang tertancap di sana.


Key terdiam beberapa saat di dada telanjang Purok. Berusaha menetralkan degup jantungnya sendiri.


"Ada apa?" Key mendongakkan wajahnya. Tanpa menjawab Purok mengenggam tangan Key dan membawanya ke tempat tombaknya tertancap.


Key terkesiap ketika melihat darah di ujung tombak itu. Darah apa itu? Tutul nampak mengendus darah tersebut.


"Sepertinya Ekot mengirim seseorang untuk mengikuti dan mengawasi kita," ucap Purok tenang, matanya menatap mata Key yang membesar. Jadi itu darah manusia!


"Lalu mengapa ia melakukan itu? Aku 'kan bersamamu. Aku tetap akan kembali dan tinggal bersama kalian. Aku sudah mengatakannya kemarin." Key menautkan kedua alisnya.


"Justru karena kau bersamaku. Orang itu pasti sudah dekat dengan hutan Selatan. Aku sempat melihat punggungnya. Dia adalah lelaki yang cepat berlari. Tombakku hanya menggores sedikit kulitnya." Key diam, berusaha mencerna setiap kalimat dari bibir Purok.


"Sekarang kau hanya punya dua pilihan, kembali pada mereka, menikahi Ekot dan membiarkanku di bunuhnya atau ...."


"Apa? Membunuhmu? Kau 'kan adiknya!"


"Ya, tapi Ekot adalah lelaki yang kejam. Ia tak peduli siapa lawannya. Kau sudah melakukan kesalahan dengan menolaknya di hadapan semua orang. Dia gila hormat dan wanita." Purok mengucapkan semua itu dengan mata yang berkilat amarah.


"Lalu apa pilihan kedua?"


"Kita hidup bersama di hutan sebelah Barat. Hutan di daerah itu di percaya memiliki kekuatan gaib. Para roh yang baik di seluruh hutan di percaya memilih daerah itu sebagai tempat mereka. Kami menyebutnya tempat suci."


Key diam, otaknya sudah tak bisa mencerna apa yang di katakan Purok setelah pemuda itu mengucapkan 'kita hidup bersama'.


Bersambung


Jangan lupa like dan komentarnya yaa πŸ˜—


Kalau ada lebihan poin/koin bisa disumbangin kesini ^_^


Terimakasih atas apresiasi


kalian semua ❀

__ADS_1


__ADS_2