
π Happy reading π
***
"Jadi, Daddy yang meminta mereka untuk datang?" Mike mengangguk. Sekarang mereka tengah makan malam bersama.
"Why Dad?" Mike menatap Alice yang bertanya dengan nada seolah keberatan. Lelaki itu menaikkan satu alisnya.
"Daddy pikir kau perlu Bob, dan Grace perlu Aland." sahut Mike tenang. Ia mengambil gelas lalu meminumnya dengan elegan.
"Lagipula, Ayah tak bisa mengurus ketiga wanita sekaligus," imbuhnya sembari tersenyum. Sebenarnya, ia tak keberatan. tapi Mike ingin kedua putrinya tak terlalu larut dalam kesedihan. Jalan salah satunya, yakni mengalihkan perhatian mereka ke dua lelaki itu. lagi pula Mike sangat percaya pada Bob dan Aland. Bob maupun Aland adalah putra dari kedua temannya. Ayah Bob, Tuan Harrison adalah sahabat dekat dan tetangga pula sedangkan ayah Aland. Tuan Hamillton adalah seseorang yang baru-baru ini menjadi teman dekat karena pekerjaan.
"Ya, Daddy memang yang terbaik!" pekik Grace girang. Ia menatap Alice dengan tajam.
"Ya sudah, Daddy kembali ke kamar dulu," pamit Mike sembari membawa nampan berisi makanan untuk sang istri. Keysa masih sangat bersedih hingga tak ingin makan. Tapi Mike tentu tak akan diam.
"Apa Mommy baik-baik saja?" tanya Alice pelan. ada kilat kekhawatiran di manik mata zamrud itu.
"Tentu saja, jaga diri kalian untuk Daddy dan Mommy." pandangan Mike beralih pada dua remaja yang menuruni anak tangga. Bob dan Aland tersenyum sopan.
"Ada apa denganmu Alice?" protes Grace sembari memberengut kesal.
"Apa? Daddy adalah ayah paling aneh. Dia begitu mudah percaya pada pacar putrinya!" sahut Alice sembari menatap Aland yang baru saja duduk di kursi tepat di seberangnya. Mereka terhalang meja.
"Tak perlu cemburu begitu!" sahut Grace datar.
"Aku tak cemburu Grace!" Grace memutar bola mata jengah. Ia menatap Aland dan tersenyum manis.
"Makanlah yang banyak Baby!" ucapnya sembari memberikan lauk ke piring kekasihnya itu.
"Alice, apa kau baik-baik saja?" tanya Boby yang ada di sebelahnya.
"I'm fine," sahut Alice dengan tersenyum paksa. Makan malam itu lalu mereka lewati dengan celotehan dari Grace. Ia begitu heboh mengenalkan berbagai macam makanan khas Indonesia pada kekasihnya. Menganggap seolah tak ada Alice ataupun Boby. Yang padahal ditanggapi seadanya oleh Aland.
Saat mereka selesai makan, Boby menatap Alice dengan keraguan. Ia memperhatikan dengan seksama.
__ADS_1
"Di mana letak rumah ibumu itu Alice?" Alice memusatkan perhatiannya pada Bob. "Kalimantan."
"Di tengah hutan bukan?" Alice mengangguk. Saat ini memang mereka tengah berada di rumah Sari. Kakak dari ibunya.
"Apa kita bisa ke sana?" tanya Bob dengan hati-hati. Oke, mungkin ia adalah teman yang sangat kurang ajar. Kakek temannya baru saja meninggal dan dia bertanya apakah bisa ke tempat itu. Tapi keingintahuan yang besar selalu membuat Bob Harrison akhirnya bersikap seperti sekarang. Alice pernah bercerita tentang kejadian yang dialami Keysa.
"Kau ini-"
"Tentu saja!" Grace menatap asal suara yang membuat ucapannya terpotong. Begitu pula ketiga remaja yang ada di sana.
"Mommy."
Keysa menuruni tangga dengan elegan. Mike juga berjalan di sebelahnya. Keysa tersenyum manis. Menatap bergantian Bob dan Aland.
"Mereka dua remaja yang tampan," bisiknya pelan ke arah Mike. Suaminya hanya diam dan memasang wajah datar. Tatapannya tak terbaca.
"Kau ingin mendengar ceritaku?" tanya Keysa sembari menatap Boby. Remaja itu tersenyum dan mengangguk yakin.
***
"Kau percaya Boby?" tanya Keysa sembari tersenyum elegan. Setelah melihat anggukan dari Boby, ia melipat tangan di dada.
"Putri bungsuku dan suamiku tak percaya," ucap Keysa sembari melirik Mike yang tengah berbincang dengan suami Sari. Lalu menatap Grace yang sejak ia bercerita justru tak berpaling dari menatap kekasihnya Aland. Ia menggelengkan kepala pelan.
"Aku percaya Mom," ucap Alice sembari tersenyum. Keysa menatap Alice dengan tatapan hangat.
"Aku tak sabar ingin ke sana." Alice menatap Boby dengan menggelengkan kepala.
"Kau ini Bob!" Boby menatap Alice dengan menaikkan satu alisnya.
"Apa? Aku tak mendesak," kilahnya cepat. Alice masih menatap Boby dengan intens.
"Oh ayolah Alice. Kau tau aku sangat penasaran tentang hal ini. Dan apa kau tau? Seorang ilmuwan bernama Dr. Ranga-Ram Chary, baru-baru ini dilaporkan telah berhasil menemukan satu bukti yang menguatkan tentang keberadaan dimensi lain."
"Menurut Upriser, bukti tersebut ditemukan ketika ia sedang mengamati sinyal kosmik yang diakibatkan oleh efek pembentukan galaksi. Menurut data sinyal kosmik yang ditemukan oleh Dr. Chary, sebuah dunia paralel diperkirakan pernah "bersinggungan" dengan dunia kita beberapa miliar tahun yang lalu."
__ADS_1
Alice dan lainnya hanya diam mendengarkan Boby. Entah karena tertarik atau hanya tak ingin berdebat. Yang jelas, Grace bahkan hanya diam mendengarkan. Tak seperti biasanya.
"Bukti tersebut memperkuat sebuah teori bahwa dunia terdiri dari banyak dimensi yang berbeda. Posisi dimensi dunia mirip seperti gelembung udara di dalam air yang terus membesar. Gelembung dimensi ini jumlahnya sangat banyak, dan dapat bersinggungan antara satu dengan yang lainnya.Dr. Chary mengatakan bahwa sinyal yang ia temukan membuktikan bahwa dunia paralel yang bersinggungan dengan dunia kita memiliki kondisi yang sangat berbeda. Dunia tersebut diperkirakan memiliki partikel 10 kali lebih padat dari yang ada di dunia kita." Boby mengakhiri penjelasannya dengan kilatan kekaguman.
"Kau tau, aku akan sangat bahagia jika mengalami hal seperti itu."
"Impossible!" ucap Grace sembari menjulurkan lidahnya sedikit. Boby memberengut kesal tapi kemudian tersenyum kembali dan menatap Keysa.
"Sudah cukup dongengnya!" ucap Mike yang baru saja datang. Boby yang baru saja ingin melontarkan pertanyaan mendesah kecewa. Ada beberapa hal yang menurutnya tak masuk akal. Tentang perubahan rambut Keysa dan bangunnya Keysa saat sudah di London. Ia tertidur tujuh hari dan kemungkinan besar apa yang baru saja diceritakan Keysa hanyalah sebuah mimpi.
"Lain kali yaa Boby, Besok kalian berjalan-jalan saja di kota ini. Jika tak ada masalah atau halangan apapun. Lusa kita berangkat ke Kalimantan." mata Boby berbinar menatap Keysa. Kemudian menatap Alice dengan menaikkan satu alisnya.
"Kau ini Boby, memang benar-benar!" ucap Alice sembari mencubit pinggang Boby. Remaja itu meringis.
***
"Persiapkanlah segalanya!" Keysa mematikan sambungan telpon. Berjalan ke meja rias dan menatap dirinya. Tersenyum penuh arti saat menatap pantulan dirinya dan suaminya yang tengah berdiri tepat di belakangnya.
"Kau mengingat Purok lagi?" tanya Mike dengn ketus. Keysa tersenyum dan mengangguk. Mike memberengut kesal dan berjalan ke ranjang berukuran Queen size di sana. Keysa mengikuti suaminya.
"Mike, Kau suamiku." ucap Keysa pelan sembari mengusap lembut pipi suaminya.
"Aku tau," sahut Mike sembari menatap dalam mata Keysa. Ia tau, cerit mengenai Purok segalanya. Ia menganggap itu hanya mimpi Keysa dan mungkin saja Purok hanya sebuah Tulpa. Tapi tetap saja. Ia kesal jika Keysa terus memikirkan lelaki khayalan itu. Dan meski Tulpa itu sangat mirip dengannya.
"Kalian sama Mike, bukan mirip. Dan Purok bukan Tulpa. Dia dirimu yang sebelumnya," ucap Keysa seolah tau pikiran suaminya.
Bersambung
**Tulpa : Bentuk pikiran independen yang berasal dari otak Anda layaknya teman khayalan, tetapi memiliki pikiran, perasaan, dan ide sendiri yang tidak bergantung terhadap Anda.
Kasih likenya yaa, komen juga kalau mau cepat di up. cukup komen next atau up aja udah seneng banget lho Zaraa ^^
tapi gak maksa yaa β€
mau like atau komentar itu hak pembaca tapi tentu, akan lebih baik biasakan menghargai sebuah karya π**
__ADS_1