Princess Of Jungle

Princess Of Jungle
S2 ~ ID dan Pakaian Negeri Jungle


__ADS_3

TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


❤ Happy reading ❤


***


"Memeriksa ID-ku agar kita bisa masuk ke dalam sana."


"Apa maksudmu mengkonfirmasi?" Lee nampak menautkan alis, lalu mengangguk.


"Kurasa itu maksud sebenarnya. Bahasa Kalian unik."


Ke empat orang itu saling pandang, unik? saat Alice ingin melontarkan pertanyaan. Apa yang ada di depannya jauh lebih mengagumkan. Kaca yang ada di hadapan mereka membentuk sebuah lubang persis seukuran tubuh Lee saja. Mulai dari kepala hingga jari-jari berbentuk seperti tubuh lelaki itu. Untungnya, di antara mereka tubuh Lee lebih besar dari yang lainnya. Membuat mereka bisa masuk dengan mudah.


"Masuklah," ucap Lee menyadarkan mereka yang tercengang.


"Apa Kau ikut Lee?"


"Tentu saja, Aku harus mengantar Kalian ke istana." Lee memberi kode pada Boby agar lebih dulu. Perlahan lelaki itu mulai memasuki pusat wilayah Negeri Jungle. Dilanjutkan dengan Aland, Grace, Alice dan terakhir Lee sendiri.


Pemandangan yang mengejutkan sekaligus menegangkan adalah yang pertama kali mereka rasakan. Tiga lelaki berbadan besar menatap mereka dengan tajam. Seolah siap menerkam mereka hidup-hidup. Mereka memakai baju hitam dengan zirah berwarna senada. Namun, wajah ketiga lelaki itu berubah ketika melihat Lee yang masuk terakhir.


"Mereka hanya penjaga." Lee berucap untuk menenangkan mereka. Lee kemudian terlibat sebuah percakapan dengan ketiga lelaki itu. Menggunakan bahasa yang tak di mengerti Alice sama sekali. Mungkin bahasa mereka sendiri.


"Apa Kau percaya Lee?" tanya Boby pelan menggunakan bahasa Jerman. Ia harap. Lee tak memahami.


"Tak ada yang bisa kita percaya. Termasuk Dia. Hanya saja, Dia satu-satunya harapan Kita."


Lee terlihat tersenyum pada ketiga penjaga itu. Kemudian berbalik dan menatap mereka.


"Ayo ikut aku." Lee menuju sebuah bangunan sederhana. Semacam ruangan sangat kecil bercat hijau tak jauh dari tempat mereka berpijak.

__ADS_1


"Itu apa?" tanya Grace takut-takut. Lee menatapnya dengan senyuman manis. Tapi tak menjawab sama sekali. Saat sampai di ruangan kecil itu. Lee menatap mereka satu persatu.


"Siapa yang ingin lebih dulu?" tanya Lee. Aland kemudian memutuskan lebih dulu. Kedua lelaki itu memasuki ruangan yang memang hanya cukup untuk dua orang. Aland menautkan alisnya saat melihat tak ada apa-apa di sana. Ia mulai memperhatikan Lee, siapa tau lelaki ini hendak menyerangnya. Begitu pikirnya.


Namun, Lee menempelkan lagi telapak tangannya. Dan sebuah plasenta tiba-tiba saja muncul di hadapan Aland. Ia terlonjak kaget hingga mundur menabrak dinding belakang.


"Jangan takut, ini alat untuk membuat tanda pengenal," jelas Lee. Aland menelan Saliva kemudian mendekat pada plasenta yang seperti belalai itu. Lee memintanya untuk mengulurkan telapak tangan.


"Sttt!" Aland meringis saat benda itu menyentuh telapak tangannya. Ia menatap Lee dengan melotot kesal.


"Memang sedikit sakit, dia sedang membentuk sebuah tanda pengenal di telapak tanganmu. Seperti ini!" Lee menunjukkan telapak tangannya. Sebuah cap berbentuk bulat dengan sebuah simbol di dalam lingkaran itu.


"Ini simbol Negeri Jungle." Ia mendekatkan telapaknya pada Aland. Lelaki itu memperhatikan. Simbol di dalam lingkaran berbentuk huruf J. Tapi saat dilihat lebih dekat. Huruf J itu adalah dua ular yang menyatu.


"Itu ophio?" tanya Aland sembari melirik tangannya yang entah di apakan oleh benda di hadapannya. Tadi memang terasa sakit seperti ada aliran listrik namun sekarang sudah tak terasa sakit lagi.


"Kau benar, Ophio adalah makhluk yang paling kami hormati, Dia adalah makhluk tertinggi di antara hewan lainnya. Memiliki makna kuat dan langka." Aland hanya diam saja. Kemudian plasenta itu melepaskan diri dari Aland.


"Apa ini inisial namaku?" tanya Aland. Lee mengangguk. Sebuah tulisan lain dengan bahasa yang tak ia mengerti terdapat di bawah inisial namanya. Ia menatap Lee meminta penjelasan.


"Kau akan tahu itu nanti," ucap Lee sembari tersenyum penuh arti. Aland mengangkat bahu acuh kemudian mereka keluar dari sana.


"Apa Kau baik-baik saja?" tanya Grace yang dibalas anggukan singkat oleh Aland. Kemudian satu persatu mereka memasuki ruangan itu bersama dengan Lee.


Saat Alice masuk bersama Lee karena ia yang terakhir. "Mengapa Kau harus ikut masuk?" tanya Alice sembari menatap plasenta itu.


"Ulurkan tangan kananmu!" titah Lee dengan suara tegas. "Karena memang untuk memiliki ID. seseorang seperti kalian harus didampingi orang sepertiku." Lee menjawab pertanyaan itu dengan memandang lekat wajah Alice.


"Kenapa?" tanya Alice sembari mengerjap heran.


"Matamu sangat hijau." Lee tak berkedip menatap Alice. Membuat gadis itu kikuk dan canggung. Saat plasenta itu memisahkan diri. Lee menarik tangan Alice dan melihat apa yang ada di ujung lengannya. Lelaki itu tersenyum merekah.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alice sembari ikut menatap simbol di sana. Hanya sebuah simbol segi empat dengan nama inisilnya. AW. Lalu tulisan aneh di bawah inisial itu.


Mereka berdua keluar. Lalu Lee melihat ke sekitar. Dua lelaki berbadan besar tiba-tiba datang dan membawa sebuah kantung kain besar. Kedua orang itu mengangguk hormat pada Lee lalu menatap ke empat remaja dari bumi itu dengan tatapan menyelidik. Saat menatap Grace wajah mereka langsung menunduk dan berbalik.


"Mereka siapa?" tanya Grace kikuk. Lee menatap mereka kemudian memberikan kantung besar itu.


"Ini pakaian untuk Kalian. Masuk saja di ruangan ini untuk berganti. Penduduk Negeri Jungle adalah penduduk yang menjunjung tinggi tata krama dan sopan santun. Mungkin kalian paham maksudku." Lee tersenyum saat melihat Grace memberengut kesal. Ia lebih dulu masuk dan berganti.


Beberapa menit kemudian Grace keluar dengan pakaian berwarna hijau. Seperti gaun berbentuk V di bagian dada namun lengkap dengan Zirah warna senada. Boby menggelengkan kepala dan menhan tawa.


"Sepertinya yang di maksud pakaian yang sopan di sini justru pakaian yang mengekspos dada tapi harus menutup bagian bawah secara sempurna," bisik Boby pada Alice. Gadis itu hanya diam memperhatikan pakaian yang dipakai Grace. Kain yang seperti sutra pikirnya. Alice lalu masuk lagi untuk berganti pakaian.


"Bukankah kau benci warna hijau?" tanya Aland sembari menatap Grace. Kekasihnya itu mengangguk spontan.


"Semua pakaian di kantung itu berwarna hijau Aland." Aland membulatkan matanya.


"Apa?!" pekiknya lalu menelan Saliva. Ia sangat tak suka pakaian berwarna cerah. Lelaki itu lebih suka warna yang gelap.


Tak lama Alice keluar dengan pakaian berbentuk kurang lebih sama seperti gaun peach. Lengkap pula dengan Zirah berwarna senada. Rambutnya terurai cantik. Warna matanya begitu serasi dengan warna gaun yang ia pakai.


Saat Aland dan Boby masuk secara bergantian. Mereka memakai pakaian seperti Lee. Hanya saja berwarna hijau sedangkan Lee berwarna hitam. Celana panjang hingga mata kaki dengan semacam kaos serta zirah warna senada. Aland memasang wajah tak suka.


"Setelah ini, Kalian harus ke istana tanpa aku. Maaf, tapi mendadak ada urusan yang tak bisa ku tinggal." Lee menatap mereka dengan tak enak hati.


"Tak apa Lee." Alice berucap sembari tersenyum.


"Baiklah, sampai jumpa!" Lee berbalik dan sepertinya menuju hutan kematian lagi. Tapi saat Alice dan tiga temannya itu berbalik untuk segera pergi, terdengar lagi suara Lee.


"Ah yaa, satu lagi. Kalian mungkin akan terlihat mencolok dari penduduk kami yang lainnya. Jadi bersikaplah biasa saja. Ingat! penduduk kami menjunjung tinggi tata Krama."


Bersambung

__ADS_1


Tap jempolnya yaa❤


__ADS_2