
Alice masih terkesima menatap lelaki di hadapannya. Saat makhluk tampan itu tersenyum, gadis itu meraih kesadaran dan secara spontan menatap tiga orang lainnya di sana. Ji bukan orang bukan?
"Lihat! dia bahkan sudah berbohong!" sentak Alice dengan mata tajam. Ketiga orang bodoh itu masih mematung. Saling menatap dengan bingung.
"Aku berbohong?" tanya Lee dengan senyuman manis. Ia menaikkan alisnya menatap gadis yang sekarang wajahnya tengah memerah menahan amarah. "Kapan?" imbuhnya lagi dengan nada menggoda.
"Saat itu aku bertanya padamu, apakah kau penjaga hutan kematian! kau ...." Alice terdiam menatap Lee. Ia mendengus kesal.
"Kau mengangguk dan tersenyum!" lanjutnya kesal. Lee masih mempertahankan senyumannya lalu mendekatkan kudanya pada kuda Alice. Kuda Alice berjengit mundur karena itulah yang tengah gadis itu pikirkan. Saat Lee terus memangkas jarak di antara mereka. Dengan jarak lebih dekat dari sebelumnya, ia menatap dalam sepasang mata zamrud itu yang tengah menyalak tajam. "Ah benarkah?" sahutnya dengan wajah dibuat-buat seolah berpikir keras. Dahinya berkerut dalam.
Alice menatapnya dengan wajah merah padam. "Lee!" sentaknya tajam. Di balas Lee justru dengan tertawa. Membuat ke empat manusia itu terkesima untuk ke sekian kalinya. Tawanya seperti desiran angin yang kencang dan menerpa pepohonan. Terdengar lembut namun mengancam.
"Ji, bawa mereka ke dalam!" titah Lee sembari menatap Grace, Boby dan Aland.
"Ayo, raja menunggu kalian!" ucap Ji yang di balas anggukan. Mereka berjalan dan Alice melotot tak percaya. Ia berusaha mengikuti tapi kuda putih dengan sang pangeran yang menunggangi malah menghalangi. Ia mendengus kesal. "Kemana Kau membawa teman dan adikku?" tanyanya dengan kesal. Lee menatap seekor kucing yang ada di depan Alice. Duduk namun bulu-bulu putih kucing itu berdiri tegak. Jelas sekali, menggambarkan diri Alice yang tengah kesal dan marah.
"Bertemu dengan Raja dan Ratu." Lee mengulas senyum. Entah mengapa terlihat seperti ejekan di mata Alice.
"Apa mau kalian! lepaskan kami!" ucap Alice yang mulai tak bisa menahan diri lagi. Sementara itu ia melihat ketiga manusia lainnya yang berjalan dengan kuda masing-masing di belakang Ji, nampak tak peduli sama sekali dengan dirinya. Mereka melangkah begitu saja dan melewati gerbang istana.
"Kau berpikir berlebihan Alice." gadis itu menatap Lee. Garis-garis tampan itu menunjukkan raut wajah serius. Sesaat, Alice terdiam. "Kami memperlakukan Kalian seperti ini, karena kalian memang istimewa."
"Istimewa?" Lee mengangguk. Alice tersadar,darimana Lee tau mereka tengah membicarakan hal itu tadi. Maksudnya, Lee memang tahu, Alice nampak tak setuju masuk istana. Tapi mereka belum memberikan alasannya. Ia menatap horor pada para tumbuhan yang mungkin saja melaporkan padanya. Tak menutut kemungkinan bukan jika pepohonan dan rerumputan di sini melapor pada sang pangeran. Oh baiklah, sekarang Alice mulai berpikir gila.
"Apa yang kau pikirkan Alice?" Alice mengalihkan tatapan pada Lee. Saat itu juga ia melihat tangan kanan Lee terangkat. Alice dan kudanya berjengit mundur. Namun hal gila lainnya yang tak terduga, rerumputan dan akar di sana bergerak mengikuti tangan Lee. Akar namun memiliki daun serta bunga itu melilit di pinggang ramping Alice. Membawa dirinya terangkat. Gadis itu hanya tercengang. Setiap kalimat yang ia lontarkan seolah tertelan kembali. Tenggorokannya tercekat.
__ADS_1
Daddy! Mommy!
Tubuh Alice terangkat mendekat pada Lee. Semakin dekat hingga kedua wajah itu hanya berjarak beberapa centi. Alice terpaku dan membisu sedangkan Lee menatap dalam kedua mata zamrud itu.
"Kau sangat berani Alice." ucapnya pelan. Seorang gadis biasa mungkin akan berteriak ketakutan saat mengalami apa yang telah di alami oleh Alice tapi ia tidak. Membuat Lee semakin penasaran pada sosok gadis yang masih menatapnya tajam.
"Turunkan aku!" titahnya tegas. Wajah itu sangat tenang. Bahkan teramat tenang. Hingga Lee tak menyadari, bahwa tangan Alice sudah bergerak menyentuh kepala kuda putih itu. Saat kuda itu tiba-tiba saja lari dan membuat Lee tersentak kaget. Alice justru terjatuh dengan keras. Sakit dan nyeri di punggungnya membuat Alice meringis, hingga kegelapan mengambil alih penglihatan.
***
Matanya mengerjap pelan. Alice melenguh panjang. Hanya beberapa detik matanya terbuka ia kembali memejamkan matanya. Senyumannya terukir jelas di bibir merah muda itu. Syukurlah, ternyata hanya mimpi!
"Apa Kau baik-baik saja?" suara itu memaksa Alice membuka mata. Seorang pemuda menatapnya dengan kilat kekhawatiran di sorot matanya.
Alice mengerjap heran. Kemudian tersadar lalu mengerang panjang. Sialan! bukan mimpi!
pekiknya dalam hati.
"Aku tak sengaja. Kau mengendalikan kudaku. Membuat dirimu sendiri terjatuh," ucap Lee dengan penuh penyesalan. Padahal kalimatnya seolah membela diri dan menyudutkan gadis yang tengah berbaring itu. Alice masih terdiam lalu seseorang masuk dan nampak berbicara pada Lee. Samar-samar terdengar, seseorang itu mengatakan Raja Ney memanggil dirinya.
***
Alice berjalan dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Ia tengah di giring oleh dua pengawal kerajaan berzirah hitam dan wajah sangar. Mereka mengatakan raja ingin bertemu. Tapi tentu, Alice tak langsung percaya begitu saja.
Saat sampai di sebuah ruangan yang megah dengan warna hijau yang selalu mendominasi. Tubuhnya menegang kala menatap tubuh kekar yang membelakanginya. Tubuh itu berbalik dan sepasang mata zamrud bersorot tajam terkunci pada mata zamrud miliknya. Alice menelan saliva.
__ADS_1
Lelaki dengan wajah yang sangat mirip dengan Lee namun terlihat sudah menua tengah berdiri di hadapannya. Memakai pakaian serba hijau dengan zirah yang besar warna senada. Mahkota yang di kelilingi batu mengkilat yang Alice tebak adalah permata. Permata berwarna zamrud itu terlihat mencolok di atas kepala yang rambutnya tengah memutih. Rambutnya panjang sepinggang disertai jenggot yang juga cukup panjang.
Raja Ney mengibaskan tangannya. Meminta dua pengawal pergi dari sana. Ia menatap Alice dengan lembut lalu tersenyum ramah. Jujur, Alice bingung harus apa. Kemudian senyumannya entah mengapa terbit begitu saja.
"Maafkan pangeran Lee, nona." suara berat itu nampak ramah. Tatapan yang hangat. Beliau berjalan menuju sebuah ujung ruangan itu. Alice mengikuti dan ikut menatap bagian bawah istana yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri.
"Dia memang masih kekanakkan." ingin sekali Alice tertawa namun ia menahannya. Lelaki berumur 50 tahun seperti Lee, kekanakkan katanya.
"Dia selalu suka menggoda. Bahkan sang ratu juga sering kena ulahnya." tawa renyah lolos dari bibir sang raja.
"Yang mulia," ucap Alice dengan penuh hormat. Lelaki itu menoleh dan menatapnya hangat.
"Bagaimana cara kami kembali?" tanyanya langsung. Raja Ney memusatkan perhatian pada gadis di sebelahnya.
"Sebelumnya, Kita harus tau mengapa Kalian bisa tersesat di sini?" Alice mengerjap heran. Seolah tau apa yang ada di pikiran gadis itu, Raja berdehem pelan dan mengatakan. "Pangeran yang memberitahuku."
"Untuk hal itu, aku juga tak tau." Alice menunduk putus asa.
"Kalau begitu ceritakan padaku," ucap Raja Ney dengan tegas. Alice kemudian menceritakan tentang kejadian yang ia alami sebelum tersesat di sini dengan singkat. Lelaki yang entah berapa ratus umurnya itu mengangguk pelan.
"Aku akan membantu kalian. Tapi perlu waktu untuk membicarakan hal ini pada para menteri kerajaan." Alice mengerjap pelan. Ia menatap Raja Ney dengan tatapan tak terbaca.
"Kau memang berhak curiga. Tapi tolonglah berpikir dengan logika." ucapan yang menohok itu membuat Alice menelan Saliva. Apa memang kekhawatirannya menumpulkan logika? Alice menatap dalam wajah Raja Ney dari samping. Lelaki ini memiliki aura ketenangan yang membuatnya tak lagi ketakutan.
Bersambung
__ADS_1