Princess Of Jungle

Princess Of Jungle
Grace & Aland


__ADS_3

"Paman Fee," tegur Boby sembari mendekat. Alice juga menatap lelaki itu. Sangat mirip dengan Ji. Apa dia ayahnya? gumamnya dalam hati.


"Apa Kau tau tentang ramalan Cyane?" tanya Boby dengan hati-hati. Ia dan Alice sudah berdiskusi tadi. Sebagai remaja asal London yang jelas tak percaya ramalan, mereka memutuskan harus mencari tahu lebih tentang ini. Satu hal yang mereka sadari, sebuah ramalan tak akan di percaya oleh orang-orang jika tak benar. Jadi, memang ada kemungkinan bahkan kemungkinan besar bahwa ramalan Cyane benar adanya.


"Cyane yaa?" gumamny pelan dengan mata menerawang.


"Aku dengar itu hanya mitos."


Alice dan Boby saling pandang.


"Hingga Yang Mulia Raja memberiku satu lembar dari ramalan itu," imbuhnya dengan tersenyum. Ia lalu mengeluarkan sebuah gulungan berwarna cokelat dari punggungnya. Sangat cokelat dan bau khas kertas basah begitu menguar di indera penciuman. Paman Fee berjalan ke meja yang kosong dan bersih di ruangan itu. Membentangkan kertas itu hingga terlihat jelas apa isinya.


"Bagaimana kau menyembunyikannya di punggungmu?" tanya Boby dengan nada tak percaya.


"Kenapa sebagiannya tak memiliki huruf?" tanya Alice sembari menatap kertas di hadapannya. Huruf-huruf yang tak ia mengerti tertulis di bagian atas. Sedangkan bawahnya kosong sama sekali.


"Ini lembaran kedua. Berisi huruf-huruf kuno bangsa Hou. Bahasa kuno yang di gunakan saat dunia ini belum terbelah menjadi dua wilayah." Paman Fee menelusuri permukaan kertas itu dengan jari-jarinya.


"Yang Mulia Raja Ney berpikir sama denganmu. Mengapa kertas bagian bawah kosong sama sekali? lalu ia memintaku untuk menyelidiki."


Paman Fee tersenyum puas. Bisa Boby tebak bahwa lelaki yang menyebalkan baginya ini pasti sudah berhasil menemukan sesuatu yang menjadi alasan.


"Lihatlah!" Paman Fee menelusuri bagian samping kanan lalu membentang ke kiri.


Srett!


Alice maupun Boby melotot tak percaya. Kertas itu terbelah menjadi dua namun tak terlihat seperti sobekan. Seolah sengaja di belah dan tangan paman Fee berdarah!

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja paman?" tanya Alice khawatir. Lelaki itu menatap Alice sekilas dengan tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia lalu menelusuri bagian samping kiri ke kanan di tempat seperti ' sobekan' tadi. Dua bagian kembali menyatu.


"Teknologi yang canggih bukan?" kekeh paman Fee sembari berdecak kagum.


"Yang harus kalian ketahui dan sangat penting ada beberapa hal." Paman Fee menghela napas panjang.


Paman Fee menunjuk huruf-huruf di bagian atas kertas dan berkata, "Ini adalah kalimat-kalimat yang sudah kau hapal Alice," ucapnya pelan.


"Tapi itu hanya sebagian ramalan. Sebagian lagi telah di simpan oleh orang-orang yang membuat teknologi ini. Mereka berpikir kita cukup bodoh dengan menyambungkan sobekan kertasnya seperti ini." Paman Fee menatap lekat bagian tengah kertas yang seharusnya terlihat sobek. Tapi di sana sangat mulus. Tak akan ada yang pernah berpikir bahwa kertas ini sebenarnya telah kehilangan sebagian isi ramalan.


"Apakah yang membuat ini, orang-orang Negara Ern?" tanya Boby pelan.


***


Sementara itu di Negeri yang sama. Grace terus menyeret tangan Aland untuk berjalan-jalan. Wajahnya begitu ceria membalas sapaan para penduduk Kota Our.


"Ini mengagumkan Aland!" teriak Grace girang saat melihat sebuah ayam yang sangat besar.


"Aku ingin menungganginya," rengeknya sembari menyeret tangan pacarnya. Aland berdecak kesal lalu menyentakkan tangan Grace yang terus bergelayut di lengannya.


"Aku lelah Grace, naik saja sendiri," ucap Aland lalu melangkah pergi. Grace menghalangi. Tubuhnya menghadang tubuh kekar Aland dan meletakkan telapak tangan di kepala lelaki itu. Aland mengerjap heran. Menatap Grace yang berjinjit hingga wajah mereka berhadapan dengan mata Grace yang terpejam.


"Apa yang kau lakukan!" bentak Aland sembari mendorong Grace hingga terjatuh. Gadis itu meringis pelan menatap Aland. Mata sendu itu berkaca-kaca.


Ck, menyebalkan sekali!


Aland menggerutu dalam hati namun akhirnya tetap membantu Grace berdiri. Ia tak suka melihat wajah wanita yang terlihat sedih bahkan jika menangis. Itulah penyebabnya mereka sekarang bersama. Grace meminta menjadi pacarnya dengan tangisan yang benar-benar berlebihan!

__ADS_1


"Aku pikir kita bisa menyatukan pikiran," keluh Grace sembari menatap ID di telapak tangannya. Aland melotot kesal.


"Kau pikir aku binatang!?" Grace menatapnya lalu menggelengkan kepala dengan kasar.


"Maksudku bukan begitu," sahut Grace cepat.


"Temani aku terakhir kali ini yaa? setelah itu kita kembali ke istana?" bujuk Grace sembari menatap lekat Aland. Lelaki itu membuang muka. Grace meringis pelan. Entah sampai kapan Aland akan menyukainya? atau ia harus ... melepaskannya?


"Baiklah ayo!" ucap Aland lalu mendekat pada kawanan ayam yang memiliki kaki pendek dan tubuh besar. Aland bahkan tak yakin, ayam besar ini bisa di tunggangi. Namun ia melihat Grace menyentuh kepala salah satu ayam yang nampak sedang erggh istilahnya seperti duduk. Jadi Grace dapat menjangkau kepala besar itu. Mata Aland memperhatikan wajah cantik Grace yang terpejam. Kedua sudut bibir itu terangkat sempurna. Nampaknya, ia akan berhasil menyatukan pikiran dan membujuk ayam pemalas itu.


Lalu matanya terbuka ia menatap Aland dengan wajah yang berseri indah. Tanpa sadar, hati Aland membenarkan betapa cantik Grace jika ... lebih banyak diam!


"Ayo!" ucapnya manja lalu mereka menunggangi ayam itu bersama. Grace di depan dan Aland di belakangnya.


Sesaat hening tercipta. Grace memikirkan banyak hal di lamunannya. Hingga ayam yang mereka tunggangi nampak gelisah.


"Ada apa yaa?" gumamnya pelan. Grace lalu mengelus hewan itu dengan lembut. Bisa ia rasakan ayamnya kembali tenang. Gadis itu kemudian menarik tangan Aland yang berada di samping tubuh kekar lelaki itu agar melingkar di perutnya. Ia tersenyum saat Aland tak memprotes ataupun melepaskan.


"Aland," panggilnya dengan nada aneh. Aland merasakan sesuatu yang lain dari nada bicara Grace.


"Jika kita berhasil pulang, aku akan melepaskan mu," ucap Grace dengan isakan tertahan. Matanya berkaca-kaca. Ia tak tau ini perasaan cinta atau iri belaka pada sang kakak. Yang ia tau jelas, segala sesuatu yang Alice miliki tak pernah ia dapatkan. Termasuk seorang Aland Hamillton yang hatinya hanya untuk kakaknya seorang.


"Aku tau, aku selalu jauh di belakang Alice. Dia sempurna dan aku hanya debu belaka. Terutama di hadapan keluarga."


Aland ingin menyahut tapi tenggorokannya tercekat ketika merasakan hawa lain. Ayam mereka juga berjalan dengan gelisah. Hingga kegelapan menghampiri mata mereka. Aland dan Grace tak sadarkan diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2