
π Happy reading π
***
Seorang gadis di sebuah rumah besar dan mewah di tengah hutan nampak begitu seksama memperhatikan dirinya sendiri di cermin. Tangannya menyentuh lembut rambut hitamnya. Kedua alisnya bertaut. Masih tak menyangka bahwa yang ia alami adalah mimpi karena segalanya terasa sangat nyata.
Mata dengan iris kecokelatan itu berkaca-kaca. Lalu menerawang jauh.
Seminggu yang lalu
London
Matanya mengerjap-ngerjap. Pandangannya yang buram beransur bersih. Yang pertama kali di lihatnya seorang wanita paruh baya dengan raut wajah lega dan kedua sudut bibir terangkat sempurna.
"Syukurlah Ya Tuhan. Kau kembali," ucapnya dengan antusias. Wanita yang tak di kenalnya itu berdiri dan menekan sebuah tombol dekat kepala ranjang. Memanggil dokter.
Saat dokter datang dan memeriksanya. Gadis itu mengedarkan pandangan. Tak perlu bertanya, ia tau ruangan serba putih ini adalah rumah sakit. Tapi ia hanya sedikit bingung tentang apa yang terjadi. Apa ia selamat?
"Siapa namamu?" tanya dokter itu.
"Keysa," sahut Key pelan tapi masih di dengar oleh mereka di sana. Dokter itu tersenyum. Lalu beralih menatap wanita yang duduk di sebelah ranjang Key.
"Organ vitalnya stabil. Ia baik-baik saja. Hanya perlu beberapa hari lagi untuk kesembuhannya." dokter itu menggunakan aksen bahasa inggris dengan baik. Lalu perawat di sampingnya menyingkirkan alat yang membantu pernapasan gadis itu. Kedua orang yang memakai outfit putih itu keluar. gadis cantik dengan raut wajah bingung itu tersentak ketika merasakan sebuah sentuhan. Wanita yang tak di kenalnya itu mengusap lembut punggung tangannya.
"Tenanglah ...." ucapnya lembut. Lalu ia berdiri dan terlihat sibuk dengan ponselnya. Seperti mencoba menghubungi seseorang.
"Putrimu sudah sadarkan diri."
Ucapan itu menyadarkan Key tentang ayahnya.
"Apa itu ayah? Apa ayah baik-baik saja? Ayah di mana?" lontaran pertanyaan bertubi-tubi dari Key membuat wanita itu tersenyum.
"Sebentar lagi dia kesini."
"Kau siapa?"
"Namaku Catherine dan aku-"
"Key!" suara itu membuat Key dan Catherine menatap asal suara. Aaron mendekat dengan langkah panjang ke arah ranjang Keysa dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah ...." Key menangis di pelukan ayahnya. Ia sangat merindukan pelukan ini. Aaron juga sangat bahagia.
"Ya Tuhan Key, ayah kira kau tak akan selamat. Mengapa kau lari ke hutan itu?" ada sorot mata marah di mata Aaron tapi ia menahannya. Key hanya diam masih dengan tangis yang tak reda.
"Ya sudah tak apa sayang. Yang penting kau baik-baik saja. Apa kau lapar setelah tidur tujuh hari?" Mata Key membesar. Ia tidur 7 hari?
__ADS_1
"Catherine bisakah aku minta tolong?"
"Yaya, aku mengerti." wanita seumuran Aaron itu tersenyum lalu beranjak pergi dari sana.
"Apa yang terjadi ayah?" Key mengusap air mata di pipinya dengan kasar.
"Kau jatuh ke jurang dan untung saja, kepalamu tak membentur batu. Ayah tak bisa membayangkan jika itu terjadi. Kau tau bukan bahwa kau baru bangun koma selama 5 tahun? Dan kau tidur lagi selama 7 hari."
Key kebingungan. Jadi segalanya hanya mimpi? Satu bulir bening jatuh kembali.
"Lalu bagaimana dengan David?"
Aaron menghembuskan napas kasar.
"Kau ingat pohon besar yang menghalangi rombongan David dan kita juga ada di sana?" Key mengangguk. Berkat pohon itulah ia bisa kabur ke hutan.
"Itu adalah ulah Catherine dan keponakannya." Key menautkan kedua alisnya. Wanita tadi bukankah di panggil Catherine? pikirnya.
"Lalu?" Key mendesak ingin tau selanjutnya tapi tak bisa, karena Catherine kembali dengan nampan makanan. Aaron lalu memintanya untuk makan. Dengan cepat Key memakan makanan itu karena ingin mendengar kisah selanjutnya.
Aaron menceritakan bahwa sudah tau ada yang mengincar putrinya karena pekerjaannya di masa lalu. Beberapa kali saat ia akan pulang ke rumah di hutan tempat Key berada. Beberapa orang mengikutinya. Tapi Aaron pada akhirnya tak bisa menangkap mereka karena mereka kabur lebih dulu. Bahkan saat ada satu orang yang tertangkap, lelaki itu mengunci mulutnya tentang siapa yang menyuruh mereka.
Hingga ia kecolongan ketika Hana membuka ponselnya. Saat ia sedang ke kamar mandi, entah bagaimana Hana tau kode ponselnya. Dan berhasil membuatnya tau segalanya karena Ponsel Aaron terhubung pada seluruh cctv yang ada di rumah besarnya. Untuk mengawasi Keysa putrinya.
Catherine dan keponakannya membantu Aaron agar menemukan bukti kesalahan David. Mereka menemukannya tentu saja dengan bekerja sama pada salah satu hacker terbaik di dunia yang merupakan teman dari keponakan Catherine.
Kenyataan yang sebenarnya juga terungkap, bahwa putri David bukan di jual Aaron. Tapi saat itu ia tak sengaja membantu putri David yang pingsan di klub malam dan membawanya ke temannya agar setelah sadar di tanyai dan di antar karena Aaron tak bisa sebab ada urusan. Temannya itulah yang di temukan David sedang bercinta dengan putrinya. Padahal mereka di dasari sama suka. Sebelumnya putri David tinggal beberapa hari di rumah teman Aaron itu. Dan entah bagaimana mereka menjadi dekat.
"Nona ...."
Key tersentak dan lamunannya buyar. Ia menatap Aliya dengan sorot mata bertanya.
"Tuan Aaron memintamu untuk turun. Tamu dari London sudah datang." Key mengangguk lalu meminta Aliya turun lebih dulu.
Ia melihat dirinya lagi di cermin. Terutama rambut hitamnya. Setiap kali bangun tidur, ia seringkali berharap rambut itu berubah menjadi pirang. Tapi semuanya hanya angan.
Key kemudian melangkah keluar kamar dan turun menuju ruang tamu. Ia menuruni anak tangga satu persatu sembari matanya tertuju pada tiga orang di sana. Ada ayahnya, Catherine dan sosok lelaki yang berdiri Memunggunginya tak jauh dari kedua orang tua itu.
Key menautkan alisnya ketika pandangan matanya jatuh pada sosok itu. Sosok dengan tubuh tegap dan perawakan gagah yang terlihat familiar. Terlihat Ayahnya dan Catherine tertawa, bercanda ria. Lalu ketika sosok itu membalikkan tubuhnya dan wajahnya terlihat seluruhnya, mata Key menyipit.
"Itu dia putriku!" Aaron menatap Key yang terpaku di tengah anak tangga. Di ikuti oleh Catherine dan sosok itu menatapnya. Mata Key membulat sempurna. Spontan kakinya melangkah lebih cepat untuk turun melewati anak tangga.
"Key, hati-hati!" Aaron berteriak ketika kaki Key terpeleset karena hak tingginya. Key kemudian merasa akan jatuh dan spontan memejamkan mata.
Tak ada rasa sakit. Key membuka mata. Tubuhnya di tahan oleh seseorang sehingga posisi mereka berpelukan. Key menatap Ayahnya yang beberapa langkah darinya terlihat tersenyum lega dan Catherine juga ada di belakang ayahnya.
__ADS_1
Dada Key berdegup kencang. Perlahan ia melepaskan pelukan dan menatap sosok dengan garis tampan di wajahnya. Key terkesima dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya lemas. Key mundur perlahan, tapi karena pikirannya kacau ia hampir jatuh lagi.
Aaron menautkan alisnya, melihat Key yang nampak shock.
"Key, kau baik-baik saja?" Key diam, masih dengan mata tertuju pada sosok di hadapannya.
"Namanya Mike Key, dia keponakan Catherine dan dia juga yang banyak membantu kita."
Mata Key beralih menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya. Ponsel Aaron tiba-tiba berdering lalu lelaki dengan kerutan yang sudah terlihat di wajahnya itu mengangkat telpon.
"Mike, bisakah kau antar Key ke kamarnya? Catherine, tolong ikut aku," titah Aaron dan langsung melangkah menuju pintu keluar utama.
Mike lalu mengangkat tubuh Key. Menapaki satu persatu anak tangga menuju kamar gadis itu. Key menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Matanya biru seperti samudra. Rambutnya hitam. Hidung mancung dengan rahang tegas. Wajah tampan yang sangat ia rindukan.
"Turunkan aku, aku baik-baik saja!" Key meronta ketika sudah sampai di kamarnya. Tapi lelaki itu tak melepaskannya.
"Hey apa kau tuli!"
Mata biru itu menatapnya dengan raut wajah penuh arti. Kakinya terus melangkah lalu berhenti tepat di balkon kamar Key. Ia menurunkan Key secara perlahan lalu matanya tertuju pada pemandangan hutan.
"Indah sekali yaa ...." gumamnya sembari tersenyum. Key menatapnya lagi. Bahkan suara itu sama. Hanya matanya yang berbeda.
Mike lalu menatapnya dengan sorot mata penuh arti. Mendekat dan mengunci tubuh Key menggunakan dua tangannya yang mengenggam pagar besi balkon di sana.
Key membalas tatapan itu. Tapi ternyata hal tersebut membuatnya terpaku. Ketika Key Menatap warna cerah itu detik jam seolah berhenti. Key merasa terisap ke dalam dasar samudra. Terseret dan tenggelam ke dalam sebuah perasaan yang menyenangkan.
"Kau merindukanku?" Mike tersenyum manis.
"Purok ...."
Mike meraup bibir tipis Key. Melumattnya dengan lembut. Kerinduan yang tiada tara dari perasaan abadi tak tersapu oleh waktu.
Angin berdesir ke arah mereka. Memainkan ujung rambut hitam Key. Pepohonan bergerak pula karena angin itu, seolah menyambut kembali kisah cinta ribuan tahun lalu yang kembali menyatu.
End
Visual pemain
Keysa
Mike
__ADS_1
Β