
TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
❤ Happy reading ❤
***
"Menurutmu, apa maksud Lee tadi, Aland?" tanya Grace sembari melirik Aland yang berjalan di sebelahnya. Kemudian tatapannya kembali ke depan. Memperhatikan jalanan yang besar namun di kelilingi pepohonan.
"Aland!" sentak Grace sembari memberengut kesal. "Jawab aku!" imbuhnya dengan nada benar-benar kesal.
"Mana aku tau! Kau pikir aku berasal dari sini!" sahut Aland ketus. Lalu melangkah lebih cepat.
"Aland, tunggu aku!" Grace berusaha mensejajarkan langkahnya dengan kekasihnya. Sementara itu, Boby dan Alice yang berjalan di belakang mereka nampak memperhatikan jalanan sepi ini dengan seksama.
"Apa masih jauh seperti sebelumnya untuk menuju Negeri Jungle?" gumam Boby pelan. Matanya tak lepas dari memperhatikan sekitarnya. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan hijau.
"Sepertinya," sahut Alice singkat. Matanya mengerjap. Seperti baru saja mengingat sesuatu.
"Ah ya! maksud Kau apa Boby?" Boby menatap Alice dengan seksama. Menunggu kelanjutan ucapan gadis itu. "Tentang ular ophio yang membunuh sang betina."
"Yang ku tau, King cobra akan membunuh sang betina saat betina sudah bertelur dan tak bisa dikawini lagi."
"Itu jahat sekali." Grace yang mendengar percakapan mereka berkomentar. Meski jaraknya lumayan tapi suasana sunyi membuat suara Boby jelas terdengar.
"Apa Kau akan memperlakukan ku seperti itu Aland?" tanya Grace dengan mata berkaca-kaca. Aland menautkan alisnya.
"Jawab aku, apa kau akan membunuhku saat aku tak bisa melahirkan dan tak bisa dikawini? maksudku jika tak bisa make love lagi?" mata Grace kemudian mengerjap. "Tapi itu tak mungkin, aku selalu siap kau kawini." Grace tersenyum manis. Aland menggelengkan kepala dan memijit pelipisnya.
Sementar itu, Boby dan Alice masih terlibat percakapan tadi. "Tapi, itu ular king cobra biasa. Sedangkan ini makhluk di dunia berbeda," ucap Boby lagi. Kemudian menjelaskan secara lengkap pada sahabatnya.
Pada umumnya, king cobra memroduksi cukup neurotoxin untuk membunuh seorang manusia dalam 15 menit atau seekor gajah dalam satu gigitan dalam kurun waktu 1 jam.
Ular ini juga dikatakan menggeram daripada mendesis. Kebanyakan ular mendesis pada frekuensi tinggi mulai dari 3.000 hingga 13.000 Hz dengan frekuensi dominan mendekati 7.500 Hz. Namun, king cobra adalah pengecualian karena mereka menggeram pada frekuensi lebih rendah dari 2.500 Hz. Mereka memiliki frekuensi dominan mendekati 600 Hz.
__ADS_1
Sedangkan ular yang bernama ophio itu justru berbanding terbalik. Setidaknya yang Boby tau, adalah dalam dua hal. Bisa yang ternyata adalah obat langka dan ophio juga mendesis bukan menggeram.
"Dan menurutmu, apa arti tulisan ini?" tanya Alice sembari menatap ID-nya di ujung lengan. Menatap lekat tulisan yang tak ia mengerti, berada tepat di bawah inisial namanya.
"Entahlah, aku lebih penasaran apa gunanya ini?" Alice menautkan alis tak mengerti.
"Apa maksudmu Boby?"
"Maksudku, apa mungkin ID ini hanya berguna sebagai pengenal? ini dunia yang berbeda Alice."
"Atau mungkin hanya dunia mimpi," ucap Alice dengan nada mengejek. Boby membulatkan matanya.
"Apa Kau berpikir seperti itu?" Alice mengangguk kemudian memutar lehernya untuk melihat ke belakang.
"Seperti ada sesuatu," gumamnya pelan. Boby ikut berhenti dan membalikkan tubuhnya. Menatap seksama pepohonan dan semak yang ditatap oleh Alice. Sesuatu di sana berhasil membuat mata mereka membulat sempurna.
"Grace! Aland!" sepasang kekasih itu menghentikan langkahnya dan berjalan ke arah Boby dan Alice.
"Itu makhluk yang tadi? Bagaimana bisa di sini? Bukankah ada pembatas berupa dinding kaca antara Hutan Kematian dan–"
"Diamlah!" sentak Grace tak suka. Ia lalu mendekat pada dua kucing tadi. Ia mengambil kucing bermata biru dan menyentuh kepalanya. Grace merasakan sebuah perasaan tak biasa.
"Apa Kau baik-baik saja Grace?" Grace tersentak dan menatap ketiga orang di hadapannya. Ia menggeleng pelan lalu menatap dalam sepasang mata biru kucing itu.
"Aku akan memberinya nama ... Lue!" ucap Grace sembari tersenyum. Grace mengerjakan matanya saat melihat wajah kucing yang dinamainya Lue itu seperti tersenyum. Apa kucing bisa tersenyum? pikirnya ulang.
Sementara itu Alice juga menggendong kucing yang bermata hijau. Lalu mengusap pelan puncuk kepala makhluk mungil itu. Matanya mengerjap-ngerjap. Alice merasakan desiran aneh di sekujur tubuhnya. Sesaat dua kakak beradik itu terdiam dan terus menatap mata kucing yang ada di pangkuan mereka masing-masing.
"Apa yang mereka lakukan Aland?" tanya Boby canggung. Pasalnya, ia dan Aland tak dekat sama sekali. Bahkan di sekolah mereka adalah dua orang asing yang tak pernah menyapa. Di tambah kepribadian Aland yang sangat acuh dan cuek.
"Mereka menyatukan pikiran!"
Aland dan Boby tersentak. Kemudian membalikkan tubuh dan mendapati seorang wanita cantik tengah tersenyum ramah. Wanita itu memiliki rambut sepinggang berwarna perak, sangat serasi dengan matanya yang berwarna abu-abu. Telinga yang runcing dan kulit putih pucat. Memakai gaun hijau panjang hingga mata kaki dan mengekpos dada hingga setengahnya. Boby masih menganga dan itu membuat Aland menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Menyatukan pikiran?" tanya Alice dengan menautkan alis. Suara wanita itu juga membuat Alice dan Grace tersentak tadi. Wanita itu mengangguk anggun. Aland menyikut pinggang Boby untuk menyadarkannya.
"Ehem. Kau siapa?" tanya Boby lalu mengerjap heran. Ia menoleh pada Aland yang ada di sebelahnya. "Apa Kau memahami bahasa yang baru saja aku gunakan?" Boby bertanya dengan wajah bodohnya.
Wanita yang ada di hadapan mereka tertawa. Alice menatap wanita itu dengan lekat. "Bisa Kau jelaskan maksudmu tadi dan mengapa Kami bisa bahasamu dengan tiba-tiba?"
"Itu karena ID di tangan kalian. Menyatukan pikiran terjadi saat kau menyentuh kepala seekor hewan menggunakan telapak tanganmu. Tapi tentu dengan persetujuan hewan itu sendiri." Alice terkesiap. Begitu juga dengan ketiga lainnya.
"Kalian bisa bahasa Kami juga karena ID itu. Program yang ada di ID itu menyatu dengan darah kalian. Selain bahasa kami yang sudah menjadi bahasa mayoritas di Negeri ini, juga ada bahasa yang memang sedari awal kalian bisa."
"Lalu apa lagi kegunaan ID ini?" tanya Boby antusias. Ia berdecak kagum. Bahkan peradaban di bumi tak ada apa-apanya dengan peradaban yang ada di sini. Bagaimana bisa membuat sebuah teknologi dan menyatukannya dengan diri?
"Banyak hal lainnya, tergantung siapa dirimu," sahut wanita itu dengan ramah.
"Hal lainnya?" tanya Grace dengan dahi berkerut dalam. Wanita itu melirik Grace sekilas lalu memperhatikan Alice dengan lekat. Membuat wanita itu mengerjap dan bertanya, "Ada apa?"
"Matamu sangat hijau," ucapnya dengan sorot mata kekaguman. Grace berdecak kesal. Ia menatap tajam wanita cantik itu. Tingginya hampir sama seperti mereka. Hanya lebih sedikit saja.
"Kau siapa?" tanya Grace dengan ketus.
"Ah yaa, aku lupa mengenalkan diri." wanita itu tersenyum hangat sembari menatap ke empat orang di hadapannya satu persatu.
"Lee yang menugaskanku untuk membawa Kalian ke Istana," imbuhnya. Suaranya yang lembut bahkan hanya seperti desiran angin yang menerpa pepohonan.
"Kau punya nama?" tanya Boby dengan nada menggoda. Grace mencebikkan bibirnya.
"Namaku Ji, Dari Bangsa Ord."
Bersambung
Like nya yaa tolong ^^
Komentar spam jugaa 😙
__ADS_1