
TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
❤ Happy reading ❤
***
Alice nampak menatap ujung puncak Istana yang memamerkan simbol J dan sebenarnya merupakan dua ophio yang menyatu.Wajahnya terlihat gusar. Boby yang meliriknya kemudian meminta kuda yang ia tunggangi agar mendekat pada sahabatnya itu.
Ternyata memang semudah itu menyatukan pikiran. Mereka hanya berpikir ingin mendekat atau menjauh. Maka, hewan yang sudah menyatu pikirannya dengan mereka akan mengerti dan melaksanakan perintahnya. Mereka memang sedang di perjalanan menuju istana.
Alice mengelus pelan puncak kepala Gre. Sebuah ketenangan menyergap hatinya. Alice tersenyum samar. Gre nampaknya tau kegusaran hatinya lalu mencoba menenangkan. Memang tak berbicara tapi dengan sentuhan dan ikatan yang telah terjalin di antara mereka.
"Alice!" gadis itu tersentak dan menoleh pada Boby yang menunggang kudanya. Berjalan tepat di sebelahnya.
"Kenapa?" Alice menghela napas panjang lalu menatap Ji yang beberapa kali membalas senyuman dan sapaan ramah dari bangsa Hou maupun Ord.
"Aku takut," ungkapnya jujur. Boby menatap dalam wajah cantik Alice dari samping. "Kau bisa takut?" guraunya sembari tertawa pelan. Alice memutar bola mata dan mendengus kesal.
"Aku serius," ucapnya sembari menatap Grace. "Aku takut terjadi sesuatu pada kita." Boby menatap arah pandangan Alice.
"Bukankah Kau katakan ini hanya mimpi? mengapa takut?" Alice menatap Boby. Wajah Boby dari samping nampak sangat dewasa dengan kacamata yang masih bertengger di hidungnya.
"Apa Kau percaya ini hanya mimpi Boby?" tanya Alice dengan nada sindiran. Boby menatapnya lalu menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Apa yang Kau takutkan Alice? Mereka sangat baik. Lihatlah!" Boby menatap seorang gadis yang tengah menatapnya dengan malu-malu. Ia mengulas senyum menggoda dan di balas lambaian hangat dari gadis itu.
"Justru itu." Boby menatap Alice lagi. "Justru karena mereka sangat baik. Kau merasa tak aneh saat Ji menceritakan tentang negeri mereka seolah kita bukan orang asing?" tanya Alice tajam. "Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu pada Kita?" mata Alice berkaca-kaca. Demi apapun, sekarang ia sangat takut. Bukan bermaksud berpikiran buruk. Tapi salahkah ia berpikir jauh seperti itu?
"Aku mengerti," sahut Boby pelan. Raut wajahnya terlihat serius. "Aku rasa karena mereka memang memiliki sifat alami yang ramah dan baik hati. Lihatlah Ji, ia terus mengulas senyuman yang cantik sekali."
Alice melotot pada Boby. Yang benar saja. Gadis itu cukup tau, bahwa sahabatnya sekarang tengah terpesona. "Dia dari bangsa Ord, Boby." Alice tersenyum mengejek. Boby meliriknya sekilas, lalu berucap yakin. "Aku tak peduli."
Lalu Boby mensejajarkan langkah kudanya dengan kuda Ji. Berjalan bersampingan dan Ji menatapnya lembut. "Boleh aku bertanya?" wanita itu tersenyum.
"Mengapa Kau mengatakan bahwa Bangsa Hou seperti Lee. Tapi penduduk di sini, kurasa fisiknya agak berbeda." Boby berucap tak enak hati, sedangkan Ji menanggapi dengan tertawa. "Itu perbedaan ras mereka. Berkulit putih dengan warna mata cerah biasanya keturunan bangsawan sedangkan yang kau lihat sepanjang jalan adalah rakyat biasa." Boby menatap lekat Ji.
"Berarti Lee kaum bangsawan?" Ji mengerjap heran kemudian tertawa pelan. "Lee tak memberitahu kalian siapa dirinya?" Boby menautkan alis tak mengerti lalu berucap. "Dia penjaga Hutan Kematian." tawa Ji semakin keras. Hingga membuat Ketiga teman lainnya menatap Boby dan Ji bergantian. Lelaki itu ingin bertanya lagi, namun saat mereka memasuki jalan yang lebar dan di setiap pinggir jalan terdapat bunga-bunga berwarna hijau. Ia terdiam. Kehilangan kalimatnya.
"Wait!" suara Alice menghentikan langkah mereka. Ia menatap Ji. "Beri aku waktu untuk berbicara pada temanku." Ji tersenyum lalu menjauh dari mereka.
Di sana. Tepat di tengah jalan menuju Istana. Ke empat remaja nampak menatap Alice. Menunggu ucapan gadis itu. Alice menghela napas panjang. Kemudian melirik Ji sekilas lalu mulai memikirkan berbicara menggunakan bahasa inggris.
"Aku takut." adalah kata pertama Alice. Ketiga orang di hadapannya nampak mengerti. Lalu mengaktifkan bahasa inggris pula. "Apa maksudmu Alice? bicaralah yang jelas," sahut Grace dengan ketus.
"Alice takut jika mereka adalah orang-orang yang jahat." Grace melongo menatap Boby lalu berpindah ke Alice.
"Kau gila?" bentak Grace dengan keras. "Mereka baik dan ramah Alice! apa yang ada di pikiranmu! mengapa kau bodoh dan bersikap pengecut!" cerca Grace dengan napas tersengal-sengal. Alice hanya terdiam. Grace memiliki watak seperti itu tapi sebenarnya memang sangat mudah di pengaruhi dan di tipu.
__ADS_1
"Justru itu Grace, mereka bersikap baik pada kita dan menceritakan negeri mereka seolah kita adalah pariwisata." Aland berucap datar. Diam-diam, Alice menghembuskan napas lega. Ada yang sependapat dan mengerti maksudnya.
"Itu aneh bukan?" gumam Aland lagi sembari menatap Ji yang sudah berada di gerbang istana. Para penjaga atau makhluk yang berdiri di sana nampak bertanya-tanya pada Ji. Mungkin mengenai mereka.
"Mereka terlihat antusias karena aku cantik." jawaban asal dari Grace berhasil membuat ketiga makhluk bumi lainnya melotot padanya. Grace memasang wajah acuh dan tak peduli.
"Kita sedang berdiskusi. Tolong nona Wilson. Hilangkan sifat narsismu sebentar saja!" bentak Boby dengan kesal. Grace menatapnya dengan memutar bola mata tak peduli. "Ayolah Alice, setidaknya kita harus masuk ke dalam dan lihat apa yang ada di sana!" terutama pangeran mereka. Sambung Grace dalam hati.
"Bagaimana justru kita masuk dalam perangkap yang ada di dalam sana dan tak bisa berbuat apa-apa?!" Alice berucap dengan menahan kesal. Kekhawatirannya membuncah saat para penjaga mulai menatap mereka dengan sorot mata tak terbaca. Alice meningkatkan sikap waspada.
"Kita hadapi saat sudah di sana nanti!" sahut Grace yakin. Ia menatap Alice dengan kesal. Sejujurnya selain pangeran. Ia ingin beristirahat. Cukup lelah hari ini baginya.
"Ku rasa kita harus masuk sekarang juga." Boby berucap memecah keheningan saat tadi larut dalam pikiran masing-masing. Ia menatap Alice. "Jika terjadi sesuatu nanti, setidaknya kita tau mereka maunya apa. Lalu berpikir melepaskan diri kita dari mereka dan kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja."
Alice menatap Aland menunggu persetujuan. Lelaki itu mengangguk setuju atas ucapan Boby. Grace jangan di tanya lagi. Tapi hati Alice masih terasa ragu. Ia menatap gerbang istana dan detik itu juga lidahnya terasa kelu. Yang lainnya mengikuti arah tatapan Alice dan juga terpaku.
Di sana, Ji menunggangi kuda dengan seorang lelaki yang mereka kenal di sampingnya. Lelaki itu memakai baju hijau dan zirah besar warna senada. Mahkota di kepalanya membuat penampilannya membuat orang terpesona. Ia menunggangi kuda putih dengan gagah. Lalu mengulas senyum pada Alice saat sampai di hadapan mereka. Kedua mata hijau itu beradu dengan manik mata yang sama.
"Perkenalkan." Ji berucap dengan girang. Semua menatap Ji terkecuali Alice. Tatapannya masih terkunci pada makhluk tampan di hadapannya.
"Pangeran Lee dari Negeri Jungle."
Bersambung
__ADS_1