
π Happy reading π
**
Key mengerjapkan matanya. Sejak hidup di hutan, seluruh tubuhnya selalu waspada jika merasa sebuah gerakan biasa. Sekarang pun ia terbangun karena tubuh Purok yang bergetar. Key bahkan lupa berapa hari ia dan Purok sudah bersama.
Malam ini, saat bulan masih menampakkan diri, ia justru melihat mata hitam kekasihnya nampak berkaca-kaca dan berhasil membuat hatinya sedikit tercubit.
"Ada apa?" tanya Key dengan lembut sembari tangannya mengusap dahi Purok yang berkeringat. Astaga! Apa yang di lakukan pemuda ini sehingga ia seperti ini?
"Kau terbangun karena aku?" Purok balik bertanya. Key ingin mengatakan tentu saja. Kepalanya yang berada di lengan Purok tentu saja merasa tubuhnya bergetar karena menahan tangis. Tapi karena tau itu akan semakin membuat lelaki yang di cintainya bersalah atau semakin membuat suasana hatinya buruk Key memilih mengalihkan pembicaraan.
"Jawab aku, ada apa sayang?"
"Aku bermimpi ayah dan ibu, lalu terbangun dan rasanya hanya ingin ...."
"Menangis?" Key mengecup sekilas bibir Purok. "Menangiah Purok, tak perlu menahannya."
Purok menatap mata Key dengan dalam. Ada sorot mata yang tak di mengerti Key di mata hitam Purok. Kekasihnya menatapnya dengan penuh arti.
Satu bulir bening keluar dari sudut mata pemuda itu. Key langsung mengusapnya dengan lembut. Purok memejamkan mata sembari terisak pelan.
"Aku sangat mencintaimu Ki," lirihnya dengan ucapan yang masih salah pada nama Key. Tapi Key sendiri menghiraukan hal itu.
"Aku lebih mencintaimu." Key melemparkan senyum manis meski hatinya seperti teriris. Apa yang membuat kekasihnya menangis? Merindukan orang tuanya yang sudah tiada? Atau karena Key?
Purok lalu bangun dan duduk. Key mengikuti duduk di sampingnya. Mata Purok menatap bulan yang terang di atas sana. Key mengamati kekasihnya dengan seksama.
Purok kemudian merebahkan diri lagi sembari merentangkan satu tangannya. Key mengerti, Poruk ingin ia tidur kembali di sisinya. Key ikut merebahkan diri dan menjadikan lengan kekar Purok sebagai bantalnya. Hatinya tiba-tiba mencelos. Ia mengingat ayahnya.
Bagaimana kabar ayahnya? Apakah ia baik-baik saja? Key sekarang menyadari, bahwa kesalahan apapun yang di lakukan ayahnya, itu semua untuk dirinya. Dengan bodohnya ia justru meninggalkan ayahnya dan kabur kesini. Ia lalu mendongak dan menelusuri wajah Purok. Bagaimana jika ia mengajak Purok pergi ke tempatnya? Hidup bersama di luar sana!
__ADS_1
***
Key mengerjapkan matanya. Lalu bangun dan berjalan menuju danau. Meninggalkan Tutul yang masih meringkuk malas. Kakinya ia biarkan berendam di air danau. Mata cokelatnya mengamati gerak-gerik Purok. Kekasihnya. Ia sedang duduk melamun di sana entah apa yang ada di pikirannya. Key ingin menghampirinya tapi takut menganggu.
Mata Key kemudian teralihkan oleh seekor angsa putih dan bersih berenang ke arahnya. Key tersenyum manis ketika angsa itu menatapnya dengan seksama.
"Apa yang kau lihat? Aku tau aku cantik." Key terkekeh. Tangannya terangkat mengelus kepala angsa itu. Matanya dan mata angsa itu terkunci. Saling pandang dengan arti yang justru tak Key mengerti. Hingga sebuah lengan menariknya untuk berdiri.
Key menautkan alisnya, menatap Purok yang berdiri di hadapannya dengan napas tersengal dan raut wajah khawatir. Purok lalu langsung memeluknya. Sangat erat. Ada sebuah ketakutan di dalam pelukannya. Key hanya diam sembari berpikir. Apa yang membuat kekasihnya seperti ini.
Perlahan Purok melepaskan pelukannya lalu menatap Key dalam. "Kenapa?" Purok diam lalu menyatukan bibir mereka. Mengecap dan menjilat manisnya bibir Key, kekasihnya. Key membalas ciumannya. Tangan Key melingkar erat di leher Purok. Sedangkan tangan kanan Purok di pinggangnya dan tangan kiri di tengkuknya. Berusaha memperdalam ciuman dan mengekspos seluruh rongga mulut kekasihnya.
Pagutan itu terlepas. Mereka menyatukan dahi dengan napas tersengal.
"Aku sudah berpikir ini, bagaimana jika kita keluar hutan? Di luar sana kehidupannya memang sangat berbeda. Tapi di sana kita bisa terlepas dari ketakutan akan Ekot." Purok menatap Key yang sudah menyelesaikan ucapannya.
"Jadi sebenarnya kau berasal dari luar hutan?" Key mengangguk.
"Ada Ekot di luar sana Ki." Purok melepaskan tangannya lalu bersandar di pohon dekat sana.
"Ki ...."
"Apa!" suara Key meninggi. Ia sangat ingin keluar dari hutan ini. Ia merindukan ayahnya dan juga sangat sangat mengkhawatirkannya.
"Tidak semudah itu," ucap Purok dengan penekanan. Lalu tubuhnya maju. Menatap Key dalam. Tangan kekarnya mengusap pipi Key. kemudian mengecup pelipis gadis di hadapannya. Key memejamkan mata. Satu bulir bening turun merembes melewati pipinya.
"Aku tak mengerti." ucapan Purok membuat Key membuka mata.
"Kau tertawa dan menangis. Memelukku dan menciumku. Kau ...."
"Apa maksudmu?" Key mengusap pipinya dengan kasar lalu menatap kekasihnya dalam.
__ADS_1
"Kau tau saat aku mengatakan ini tempat suci?" Key mengangguk.
"Semua roh di hutan tinggal di sini." Key menautkan alisnya. Apa sebenarnya yang ingin Purok katakan?
"Tapi mengapa kita bisa masuk kesini?"
"Kau sendiri mengatakan mungkin berkat mulank."
"Tapi bukankah segalanya seharusnya masuk akal? " Key terkesiap. Kekasihnya manusia primitif tapi berpikir dengan logika.
"Jadi apa maksudmu?" Key menatap Purok dengan intens.
"Jika hanya roh yang mampu masuk kesini, berarti antara kita adalah roh."
Key terkesiap lagi. Mata cokelatnya membesar. Lalu tawanya meledak.
"Omong kosong!" ejek Key dengan seringai.
"Tapi setelah ku amati ...." Key diam. Kekasihnya bahkan tak terpengaruh atas respon dari Key tentang pernyataannya.
"Kau sebenarnya berbeda. Kau ...."
"Purok ...." Key mencengkram lengan Purok.
"Kau ... tak nyata."
Bersambung
Jangan lupa like dan komentarnya yaa π
Kalau ada lebihan poin/koin bisa disumbangin kesini ^_^
__ADS_1
Terimakasih atas apresiasi
kalian semua β€