
Ke empat manusia bumi yang tengah duduk di meja bundar besar nampak tak nyaman. Sesekali, Alice menatap beberapa pelayan yang mengelilingi mereka. Sebelumnya, mereka di bawa kesini untuk makan malam. Tapi kehadiran pelayan yang mengelilingi mereka sungguh mengganggu kenikmatan makanan.
"Boleh aku makan?" tanya Grace sembari mengerjap polos. Ia memang sangat lapar dan aura tak nyaman dari yang lain juga menular pada dirinya.
"Kau ini!" gerutu Boby sembari menatap tajam. Sejak kecil, karena hidup bertetangga. Alice dan Grace tumbuh bersama dengannya. Seiring bertambahnya usia, Grace tak menyukai sikap Alice dan Boby yang katanya membosankan. Selalu berkutat dan membicarakan tentang pelajaran. Sejak itu, jika bertemu. Boby dan Grace selalu bertengkar untuk hal yang kecil sekalipun.
Sementara itu, Aland sudah mengambil makanan di atas meja. Ikan bakar yang besar. Ia mengunyah dengan pelan. Merasakan bagaimana daging ikan itu mengambil alih dirinya. Rasanya tak seperti ikan bakar lainnya yang penuh dengan rasa serta aroma rempah-rempah. Tapi hanya terasa daging ikan biasa. Namun sangat manis. Teramat manis.
"Makanan macam apa ini!" gerutu Grace dengan wajah kesal. Ia memakan sebuah daging yang entah daging apa. Hanya terasa daging. Tak ada rasa asin atau renyah. Mungkin memang mereka di sini tak menggunakan rempah-rempah.
"Aland kau makan apa? apa itu lezat?" Aland diam namun kepalanya mengangguk pelan. Ia makan dengan lahap. Di meja itu tak ada nasi. Hanya beberapa daging yang di bakar dan buah-buahan segar. Alice sendiri lebih penasaran dengan rasa buah yang ternyata sangat manis.
Buah berbentuk apel berwarna hijau itu memiliki rasa manis yang tinggi dan sangat segar. Satu hal yang Alice tau, buah dari alam Negeri Jungle berkali-kali lipat memiliki cita rasa yang tinggi dari buah-buahan di bumi.
Boby sendiri lebih memilih ikan bakar seperti Aland dam Grace. Mereka makan dengan cukup puas. Meski beberapa kali terdengar gerutuan dari Grace bahwa koki di keluarga Wilson akan menganggap masakan di meja ini adalah sampah. Padahal ia tengah menikmati hidangan tersebut.
Saat selesai makan, ke empat orang itu berdiri dan sekejap sisa makanan beserta piringnya hilang begitu saja. Hilang dalam artian ada sebuah lubang yang menjatuhkan makanan itu.
Grace dengan spontan berjongkok dan mencari makanan di bawah meja. Dan yang ia lihat hanya sebuah selang besar.
"Ke mana makanan tadi?" tanya Grace dengan wajah penasaran tentu saja.
"Pembuangan," sahut salah satu pelayan di sana. Beberapa pelayan itu kemudian mengantar mereka ke kamar masing-masing. Saat di tengah perjalanan, Alice yang di jaga beberapa pelayan dan mungkin sebenarnya dayang. Ia mengatakan tak ingin dikawal. Sempat terjadi perdebatan namun berhasil Alice menangkan. Dengan mengancam bahwa mereka membuat Alice tak nyaman dan ia adukan ke Raja. Para pelayan menurut karena takut.
Setelah itu, Alice berjalan sendirian ke bagian Timur Istana. Gadis itu berpikir keras mengapa kamarnya ada di sayap Timur Istana tak seperti ketiga lainnya yang ada di Barat. Hingga sebuah suara yang keras membuatnya tersentak. Alice segera mencari asal suara. Dan ia menemukan sebuah aula yang besar dengan meja panjang serta beberapa orang duduk di kursi sana. Nampaknya tengah ada pertemuan. Rasa ingin tahu seketika mengambil alih diri Alice.
Ruangan yang begitu besar namun memiliki kekurangan yang sangat menonjol. Yaitu kurangnya sebuah pintu. Iya, pintu. Aneh bukan? Alice mendempetkan tubuhnya ke dinding. Lalu mulai menguping.
__ADS_1
"Kita tak bisa membiarkan masalah ini berlama-lama." suara itu sangat berat dan terdengar sangat tegas. Alice melihat sekilas. Seorang lelaki dengan rambut putih sepinggang serta mata abu-abu tengah berdiri di sana. Wajahnya nampak gusar dan telinganya runcing seperti Ji.
"Apa yang terjadi?" gumamnya dalam hati.Alice kembali menajamkan pendengaran.
"Kita tahu betul bahwa ular itu hanya sisa satu. Kita harus bertindak cepat."
"Aku setuju, mereka kali ini sudah keterlaluan." suara lainnya membuat Alice semakin penasaran. Siapa 'mereka' yang tengah orang-orang itu bicarakan?
"Aku mengerti, tapi seharusnya kita berpikir dengan tenang." suara yang Alice kenal. Sang raja.
"Sampai kapan kita akan membiarkan mereka berbuat seenaknya!"
"Ya, jika seperti ini Negeri Jungle akan berhasil mereka taklukkan. Tak pernahkan anda berpikir yang mulia. Bahwa mereka memang tengah mengincar kita!"
"Aku tau!"
Alice kembali mencoba mendengarkan namun ia merasa di perhatikan. Matanya membulat sempurna ketika berbalik dan melihat beberapa orang menatapnya. Alice menelan saliva.
"A-aku-"
"Kau Alice?" suara lembut disertai senyuman yang hangat membuat Alice membeku. Wanita cantik di hadapannya mengibaskan tangan pelan. Lalu beberapa wanita yang mungkin pelayan atau dayang pergi dari sana. Meninggakan Alice dan wanita itu.
Wanita bermata zamrud dan rambut panjang melewati sepinggang. Sangat cantik dengan bibir tipis merekahkan senyuman. Tiara di atas kepala itu membuat Alice kembali ketakutan.
"Yang mulia ratu?" Alice berucap dengan tenang setelah mengendalikan dirinya tadi. Wanita itu tersenyum.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya sang Ratu ramah. Masih di iringi seulas senyuman. Alice mengerjap gugup.
__ADS_1
"Maafkan aku, a-aku tak sengaja," sahut Alice pelan. Ia menundukkan kepala dan sebuah sentuhan ia rasakan di puncuk kepalanya.
"Tak apa, aku mengerti. Anak-anak seperti kalian selalu ingin tahu apapun itu." ratu berucap dengan nada teramat lembut. Alice hanya diam menatap mata itu.
"Ayo ikut denganku!" suara lembut namun tegas membuat Alice spontan menerima ajakan dengan menautkan jemari mereka bersamaan.
Alice berjalan di sebelah sang ratu dengan mengerjapkan mata heran. Menatap bagaimana sang ratu menautkan tangan mereka seperti seorang ibu yang tengah menggandeng anaknya.
Kedua wanita itu berjalan dengan anggun menuju sebuah ruangan yang lumayan besar. Saat sampai di sana, hanya terlihat banyak gaun berwarna hijau. Ia menatap sang ratu yang duduk di salah satu kursi panjang atau lebih tepatnya seperti sofa panjang..
"Kemari lah Alice!" titahnya lembut sembari mengulurkan tangan lentiknya. Alice menyambut tangan itu sembari duduk di sebelahnya.
"Tak akan ada yang masuk ke sini. Ini ruangan pribadiku," ucap Ratu Jae lembut.
"Apa kau ingin menghukumku?" tanya Alice dengan mengerjapkan mata. Seperti seorang anak yang ketahuan melakukan kesalahan oleh ibunya. Wanita itu tertawa. Membuat Alice terkesima. Sang ratu tertawa seperti desiran angin senja yang lembut. Renyah dan tanpa beban. Wajahnya tak menua seperti sang raja. Ratu Jae seperti wanita cantik berusia 20 tahun yang ada di bumi.
"Mana mungkin aku menghukummu."
"Lalu?" tanya Alice dengan mengerjap heran.
"Kau ingin tau apa yang mereka bicarakan bukan?" Alice mengangguk spontan.
"Siapa yang orang-orang di dalam ruangan itu maksud? yang disebut 'mereka'? " tanya Alice tanpa canggung. Ia benar-benar sangat ingin tahu.
"Para bangsa Hou di Negara Ern."
Alice terkesiap.
__ADS_1
Bersambung