Princess Of Jungle

Princess Of Jungle
Bird Nee


__ADS_3

Alice mengerang panjang di atas kasur besar berukuran king size itu. Warna hijau yang mendominasi di ruangan ini membuatnya merasa sedang di kamarnya sendiri. Hingga sebuah ingatan tentang cerita dari sang ratu mengingatkan. Bahwa ia masih tersesat di dunia yang entah apa dan sepertinya akan terlibat sesuatu yang besar ke depannya.


Alice berdecak kesal masih dengan mata terpejam. Perlahan, ia membuka mata. Mengerjap beberapa kali lalu menghela napas berat. Matanya menatap kosong ke sembarang arah. Berbagai macam kejadian berputar di otaknya. Seperti sebuah film yang dipertontonkan di depan matanya.


"Kau sudah bangun?"


Alice tersentak kaget dan langsung duduk sembari menatap arah suara. Matanya melotot sempurna. Melihat Lee tengah duduk di kursi rias. Menatapnya dengan lekat.


"Sejak kapan kau di situ?!"


Lee sedikit kaget atas respon Alice lalu terkekeh pelan. Menatap gadis itu dengan seringai mengerikan.


"Sejak tadi malam ku rasa," sahut Lee dengan nada menggoda. Alice memutar bola mata.


"Apa kau tak di ajarkan sopan santun yang mulia pangeran? Bagaimana pun aku tamu mu dan seorang wanita!" Alice menatap Lee dengan tajam. Wajahnya bahkan terlihat sangat kesal. Ia sudah di pusingkan dengan ucapan sang ratu tadi malam, dan sekarang sang pangeran yang menambahkan beban pikiran. Alice menghela napas berat, ia hanya ingin pulang.


"Sopan santun yaa?" gumam Lee dengan menautkan alisnya. Seolah tengah berpikir.


"Tentu saja di ajarkan, tapi aku tak mau. Lagi pula kamar kita bersebelahan. Aku tak bisa menahan diri untuk tak bertemu denganmu," imbuhnya lagi sembari berdiri. Alice mendengus kesal lalu memalingkan muka. Duduk di tepi ranjang dan mengikat rambutnya yang panjang. Tak menyadari, perubahan raut wajah sang pangeran ketika disuguhi leher mulus dan jenjang.


"Jangan di ikat," ucap Lee lalu menarik tangan Alice. Gadis itu menatapnya tajam.


"Jangan berpikir karena kau pangeran, kau bisa mengaturku seenakmu!" bentak Alice kemudian berjalan ke meja rias dengan kaca besar di atasnya. Ia menatap dirinya lalu mengikat rambutnya.


"Biar ku bantu," ucap Lee dengan suara serak. Apa yang terjadi denganku? gumamnya dalam hati.


Alice menatapnya dengan alis tertaut. Membantu? Bagaimana seorang pangeran bisa mengikat rambut wanita? Gadis itu menggedikkan bahu acuh dan menganggap tadi hanya angin belaka. Hingga sesuatu di rambutnya membuat ia terperangah.


Sebuah akar kecil dengan dedaunan kecil di pinggirnya masuk melalui jendela di kamar itu. Mengikat rambutnya dengan baik lalu kembali menjauh. Alice segera melihat ke jendela. Sangat tinggi dan akar itu sudah turun perlahan.


"Hebat bukan?"

__ADS_1


Alice tersentak ketika Lee berucap sangat dekat di lehernya. Membuat tubuhnya meremang sesaat.


"Hmm iya," sahut Alice pelan sembari mengerjap gugup. Ia menekan dadanya sendiri ketika merasakan degup jantungnya. Ada apa denganku?!


"Mau berjalan-jalan denganku?" tanya Lee dengan nada memelas. Ia menatap Alice dari samping. Berdecak kagum sebentar ketika meneliti wajah sempurna yang ada di depan matanya.


Merasa bahwa Lee menatapnya dari samping, Alice membalas tatapan sang pangeran. Ia terkejut sesaat ketika menyadari bahwa wajah mereka sangat dekat. Posisi Lee yang berada di belakangnya tak ia rasakan tubuh Lee. Dalam artian sang pangeran tak dekat sekali sehingga kedua tubuh tak menempel.Namun wajah ini, Alice yakin sekarang Lee sangat memajukan wajahnya hingga sedekat ini. Hidung mereka bahkan hampir bersentuhan. Dua pasang mata zamrud itu terkunci satu sama lain.


"Jalan-jalan?" tanya Alice dengan nada tak suka. Jika yang dimaksud Lee berjalan seperti sebelumnya maka ia akan menolak. Kakinya sakit. Alice menebak bahwa para bangsa Hou dan Ord sudah terbiasa berjalan seperti itu. Menyebabkan tubuh mereka sangat sehat karena banyak bergerak.


Sedangkan manusia bumi sepertinya yang bahkan ingin ke tempat beberapa meter saja dari rumahnya, ia tetap menggunakan kendaraan karena saking malasnya berjalan.


"Maksudku mengelilingi kota Our dengan Nee," sahut Lee dengan terkekeh pelan. Matanya menatap mata Alice dengan lembut.


"Nee?" Alice mengerjap bingung. Lee lalu menunjuk ke langit. Alice mengikuti arah telunjuk sang pangeran. Matanya membulat sempurna. Ia menelan saliva.


Di sana, Seekor burung yang sangat besar tengah terbang ke arah mereka. Semakin dekat ke jendela kamarnya, semakin terlihat jelas burung apa di sana. Alice berdecak kagum.


Argentavis magnificens.


Itu adalah versi Argentavis di bumi, sedangkan yang ada di hadapannya sekarang. Alice yakin berkali-kali lipat lebih mengagumkan. Seperti tersihir, Alice menurut patuh pada Pangeran Lee yang menuntunnya naik ke punggung Argentavis yang dinamai Lee dengan nama imut Nee. Ck, sangat tidak cocok!


Alice mengelus punggung burung itu saat pantatnya sudah mendarat lebih dulu. Ia menatapnya dengan penuh kekaguman. Demi apapun, Alice tak menyangka bisa melihat burung sebesar ini dengan mata kepala sendiri. Bahkan bulu-bulu Nee begitu lembut di tangannya.


"Berpegangan Alice!" gadis itu tersentak. Menyadari bahwa posisi Lee di belakangnya, bukan di depannya. Alice memberengut kesal


"Di mana aku harus berpegangan?" tanyanya ketus.


"Di punggung Nee. Cengkram saja bulunya, tak apa."


Alice melakukan hal itu tanpa canggung. Lee tersenyum samar lalu berbisik pelan.

__ADS_1


"Kita berangkat."


Detik itu juga Alice merasa tubuhnya begitu ringan. Sama seperti angin-angin yang berhembus pelan. Sementara itu, Lee tanpa sadar menyusupkan wajahnya ke leher Alice yang terpampang nyata di depan matanya.


Sesaat hanya hening. Alice memejamkan mata merasakan desiran angin di telinga. Lalu napas hangat yang ada di lehernya


Eh?


"Apa yang kau lakukan!" bentak Alice sembari meringsut agak ke depan. Lee terkekeh pelan. Lalu berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kau sudah dengar tentang Cyane bukan?"


Alice terdiam.


"Aku masih tak percaya bahwa itu kami," sahutnya pelan. Desiran angin tak terlalu mengganggu pendengaran hingga Lee dapat mendengar segalanya dengan jelas.


"Kemungkinan hanya 50% kesamaan. Antara kemunculan kami dan ramalan," ucap Alice dengan nada meyakinkan.


Hanya ada dua lembar sejarah mengenai ramalan Cyane. Satu lembar tentang kemunculan empat orang lalu satu lembar yang sulit di artikan. Karena setiap kalimat seolah mengandung banyak makna. Alice sudah mendengar keduanya.


"Tak ada 'mesin' mengagumkan saat kami muncul bukan?" gumamnya lagi pelan saat mengingat lembar pertama ramalan. Lee masih diam lalu menghela napas panjang.


"Ada Alice." Lee bisa merasakan tubuh Alice menegang. Ia memeluk dari belakang. Berusaha mengalirkan ketenangan.


"Ular yang lebih kecil dari ophio adalah mesin. Robot buatan milik Negara Ern."


Bahu Alice merosot turun. Ia masih membeku. Tenggorokannya tercekat.


"Ayo kita bertemu Paman Ord. Temanmu Boby juga ada di sana," ucap Lee pelan sembari mengeratkan pelukan. Ia tau, Alice pasti tak ingin terlibat dengan segala perang yang bukan dari dunianya.


Alice mengangguk lemah dan membiarkan Nee membawa mereka menuju bangunan bagian belakang istana.

__ADS_1


"Aku hanya ingin pulang!" pekik Alice dalam hati.


Bersambung


__ADS_2