Princess Of Jungle

Princess Of Jungle
Maw


__ADS_3

"Semua akan baik-baik saja Alice," ucap Lee pelan sembari menggenggam tangan gadis yang di depannya. Alice hanya diam sejak tadi. Meski begitu, Lee tau kegusaran dirinya akan sang adik Grace. Sekarang mereka menunggangi Hic ke arah Barat dengan kecepatan tinggi.


Sang pangeran bermata Zamrud itu tersentak ketika genggamannya di lepas Alice dengan kasar. Tapi ia hanya diam. Hingga mereka sampai ke tempat itu. Tempat yang berada di pinggiran Kota Our dan memang tak terlalu banyak penduduk yang tinggal di sana. Ada tapi hanya beberapa. Terlihat beberapa orang penting di dewan kerajaan bahkan sang raja juga hadir di sana. Menandakan bahwa kehilangan Grace dan Aland mungkin berhubungan erat dengan masalah kerajaan.


Alice turun dari Hic dengan mata sendu. Semua orang di sana sedikit menundukkan kepalanya tanda hormat ketika melihat Lee dan Alice datang. Gadis itu berjalan pelan ke arah Hic yang sebelumnya menunggangi sang adik. Hic itu tergelatak mati di atas tanah hijau. Tak ada darah namun kedua matanya tertutup rapat. Bagaimana mungkin dia mati? lalu bagaimana dengan adikku? pikirnya gusar.


"Orang yang menculik mereka berasal dari Negara Ern."


Alice mendengar hal itu dengan jelas. Tubuhnya merosot jatuh ke tanah persis di hadapan wajah Hic yang mati. Semua orang menatapnya dengan sorot mata yang berbeda-beda.


"Apa kau yakin?"


"Ya, mereka membuat dua manusia bumi itu pingsan dengan lebah pengintai lalu membunuh Hic itu agar kita tau. Pelakunya adalah mereka."


Alice tak menoleh dan tak penasaran sedikitpun pada siapa yang berbicara dengan Lee. Tatapannya masih terkunci pada Hic yang membawa adiknya dan sekarang telah mati


"Jelas sekali mereka memancing kita." suara sang raja membuat beberapa penduduk yang sebenarnya berdiri cukup jauh terdiam juga. Sejak tadi mereka mengoceh sesuatu entah apa.


"Alice ...." suara sang raja begitu dekat di telinganya. Alice masih tak mengubah tatapannya. Ia enggan.


"Sekarang kau harus bertindak, maafkan ak-"


Suara sang raja terhenti ketika Alice mengalihkan tatapannya. Menatap Raja Ney dengan mata merah dan tajam. Semua orang memperhatikan. Gadis itu berdiri. Menatap semua orang di sana dengan mata sendunya. Ada kilat kemarahan juga di sana.


"Aku, adik dan teman-temanku. Kami hanya tersesat," ucapnya pelan dengan mata berkaca-kaca.


"Kami bukan Cyane! Bukan penegak kedamaian seperti apa yang kalian percayai. Kami hanya empat remaja yang tak sengaja tersesat ke sini." Alice menatap semua orang.


"Aku tak bisa menyampaikan pesan lewat angin seperti kalian. Atau mengendalikan alam seperti yang Pangeran Lee lakukan." Alice menjeda ucapannya sesaat sambil menghela napas pelan. Lalu kembali berucap dengan lantang, "Tapi, jika mereka atau siapapun berani menyentuh adikku, maka akan ku pastikan kepalanya tergeletak berdarah di bawah kakiku!"


Semua orang terkesiap. Alice tak menyadari bahwa selain ucapan itu, ada hal lain yang membuat semua orang membeku. Seluruh tubuh Alice bersinar kehijauan. Angin berhembus dengan kencang dan memainkan ujung rambutnya yang panjang. Sepasang mata zamrud itu bersorot sangat tajam. Menatap ke arah langit dengan tangan terkepal erat. Menandakan tekadnya yang kuat.

__ADS_1


***


Ketika seseorang merasa sangat lemah dan tak berdaya serta berada dalam titik terendah biasanya hanya ada satu kekuatan yang menjadi sumbernya. Cinta dan kasih sayang. Kasih sayang orang tua pada anaknya yang sering di katakan tiada batas dan sepanjang masa. Lalu kasih sayang kakak kepada adiknya dengan cara berbeda. Cara menunjukkan cinta dan kasih sayang mereka kadang aneh dan tak masuk di logika. Bertengkar untuk hal-hal yang kecil dan menjadi bermusuhan. Lucu memang tapi itu kenyataan.


Dan di sini lah Alice yang berdiri di hadapan pembatas kaca antara hutan kematian dan kota. Bersiap menjemput sang adik bagaimana pun caranya. Tak ada yang boleh menyentuh Grace meskipun gadis itu sering bersikap tak baik padanya.


"Kau yakin ingin ikut Boby?" tanya Alice pelan tanpa menatap lelaki di sebelahnya. Terdengar decakan kesal.


"Aku bukan pengecut!" sahut Boby lantang. Alice menoleh padanya dengan menautkan alis. Seolah mengatakan 'memangnya siapa yang mengatakan kau pengecut?'


"Grace juga sahabatku asal kau tau. Kita ke sini bersama. Maka harus kembali bersama juga. Tak peduli apa yang ada di hadapan kita sekarang. Aku akan berusaha semampuku."


Alice mengalihkan tatapannya lagi lalu tersenyum. Hingga ia membalikkan tubuh dan menatap seorang wanita bangsa Hou bermata hitam tajam.


"Terima kasih karena mau membantuku," ucap Alice dengan tulus. Wanita itu tak membalasnya sama sekali. Ia menggedikkan bahu acuh dan melewati Alice begitu saja.


"Hiraukan Maw, dia memang seperti itu," ucap pangeran Lee sembari tersenyum. Tangannya terangkat mengkonfirmasi kaca hingga mereka bisa keluar dari sana.


Hutan Kematian.


"Kenapa kalian sangat tegang? ini akan menyenangkan!" ucap Ji girang. Boby menatapnya sekilas dengan tersenyum samar. Sementara Maw menatapnya dengan sengit.


"Ck, biar ku tebak. Kau tak pernah masuk hutan kematian?" tanya Maw dengan menatap Ji intens. Ji mengangguk sembari tersenyum polos. Maw tergelak di tempat.


"Kau terlalu meremehkan hal ini Nona Ord! Apa yang ada di depan sana bisa membuat makhluk mungil sepertimu mati dengan darah yang habis tak tersisa." Maw berucap dengan penekanan sarkasme. Lalu melenggang berjalan lebih dulu.


"Apa maksudnya?" gumam Ji pelan sembari menatap Lee.


"Jangan terlalu takut dan jangan pula terlalu menganggap perjalanan ini akan menyenangkan." Lee berucap dengan nada agar mereka berlima mendengar semuanya.


"Kata yang lebih tepat adalah menegangkan."

__ADS_1


Di depan mereka Maw tersenyum miring. Sementara Alice menatap dengan waspada. Saat di istana tadi, raja dan dewan kerajaan juga meminta pangeran Lee ikut karena ini juga membawa masalah kerajaan. Sementara Ji di bawa karena memang diperlukan. Ji adalah putri dari ilmuwan tercerdas di Negeri Jungle. Yakni paman Fee. Otaknya di nilai akan sangat berguna.


Mereka berlima terus menyusuri perjalanan dengan dada yang berdegup kencang. Hingga sesuatu yang menghadang jalan mereka membuat Ji ketakutan.


"I-itu a-apa?" tanya Ji terbata-bata. Sementara Boby dan Alice menelan saliva.


"Ini akan menyenangkan!" bisik Maw lalu berdecak pelan seperti keluhan.


"Itu kadal, buaya atau salamander?" gumam Boby pelan sembari menatap lekat apa yang ada di hadapan mereka.


Sekumpulan besar hewan bercorak salamander api namun berukuran layaknya buaya ada di hadapan mereka.


"Salamander," sahut Alice pelan.


Salamander api adalah salah satu jenis dari spesies kadal yang banyak ditemukan di wilayah Eropa. Binatang lucu ini terkenal karena corak hitam dan kuning pada tubuhnya yang sangat cantik. Beberapa orang bahkan menjadikan salamander api sebagai binatang peliharaan karena terpikat oleh corak tubuhnya yang indah.


Sayangnya, salamander api bukanlah hewan peliharaan karena kadal kecil ini sangat beracun dan bisa menimbulkan dampak yang sangat buruk. Binatang ini disebut dapat mengeluarkan semprotan racun yang dapat langsung menyerang sistem syaraf korbannya.


"Kita harus bagaimana?" tanya Ji pelan. Semua yang di sana menatapnya karena suaranya yang bergetar. Ji menautkan jemarinya dengan gusar.


Bersambung


Hallo ^^


Mau ngasih info aja, chapter selanjutnya akan di posting setelah banyak yang komen up atau next. Karena Zaraa lagi sakit. Kena penyakit.


Penyakit Writer's block😭


Males banget sumpah. Jadi kalau suka kisah ini, ayolah suntikan semangatnya 😉


Komentarnya yaaa ^^

__ADS_1


__ADS_2