Princess Of Jungle

Princess Of Jungle
S2 ~ Hutan Kematian


__ADS_3

TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


❤ Happy reading ❤


***


Kejadian yang begitu cepat. Lubang itu mengisap mereka dengan satu tarikan dan hempasan yang kuat. Saat membuka mata, Alice sudah berada di tempat yang tak ia kenal. Matanya mengerjap dengan tangan yang menekan pelipis. Pusing dan rasa mual juga begitu mendominasi. Alice menutup matanya lagi.


Sesaat hanya hening dan desiran angin yang terdengar di sekitarnya. Hingga sebuah desisan yang nyaring memaksanya membuka mata. Alice menelusuri sekitarnya. Ia menatap ke atas. Melihat seberapa tinggi pepohonan di sekitarnya. Dan ternyata sangat menakjubkan. Pohon-pohon yang ada di sebelahnya sangat tinggi dan rimbun. Seolah berusia ratusan tahun.


Alice membulatkan matanya. Baru menyadari tentang adiknya dan juga temannya. Alice mengedarkan pandangan. Rerumputan yang begitu panjang menghalangi pandangan. Alice bangkit dan mencari ketiga manusia sepertinya. Mata zamrudnya menangkap sosok Boby yang tengah memperhatikan dunia asingnya ini juga. Berada sekitar satu meter dari tempatnya berpijak sekarang. Lalu Aland yang tengah mencoba bangkit dari tanah. Berada sekitar dua meter darinya.


Suara desisan yang nyaring mengalihkan perhatian ketiga orang itu. Mata mereka melotot tak percaya. Sekitar lima meter dari tempat Alice, dua ular jenis king cobra nampak terlibat perkelahian. Sejenak mereka tercengang. Hingga munculnya Grace yang berdiri secara perlahan dan nampak bingung mengalihkan perhatian.


Alice menelan saliva. Ular itu hanya berada sekitar tiga meter dari tempat adiknya berdiri sekarang. Ia berharap Grace segera berlari ke dia atau kekasihnya. Tapi suara pertarungan dua hewan raksasa membuat Grace berbalik dan menatap dua makhluk di depannya dengan tubuh bergetar.


"Jangan teriak please!" gumam Alice dengan penuh harap.


"KYAAAAA!!!"


Sialan!


Alice berlari menerjang rerumputan menuju Adiknya. Sementara Aland maupun Boby masih tercengang di tempatnya. Terlambat. Makhluk raksasa itu sudah menyadari keberadaan mereka. Sebelum Alice sampai di tempat Grace berdiri ketakutan. Ular itu sudah sampai dan berdiri tepat di hadapan Grace. Lutut gadis itu lemas. Tubuhnya bergetar. Ia tak pernah melihat ular dan sekarang justru melihat ular yang memiliki ukuran sangat besar. Jika king cobra biasanya berukuran 5.8 Meter. Ular di hadapan Grace berukuran tiga kali lipat dari itu. Mungkin empat atau lima kali lipat entahlah. Grace terduduk sembari berusaha bergerak mundur. Desisannya yang begitu nyaring begitu menggema di telinga siapapun yang mendengarnya.


Alice membeku saat melihat ular itu menyemburkan bisanya. Kemudian meninggalkan Grace dan menuju ular yang tadi bertarung dengannya. Ular yang lebih kecil itu nampak sekarat. Menyadarkan Alice bahwa waktunya hanya sedikit. Alice bersimpuh di hadapan Grace yang sudah pingsan. Bisa ular itu hanya mengenai bagian lutut hingga telapak kaki kanan adiknya. Tapi hal itu justru membuat Alice semakin takut. Pasalnya, lutut Grace yang terluka juga terkena bisa dan kemungkinan besar akan sangat cepat menyebar ke seluruh tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Ayo!" Alice tersentak. Boby dan Aland ternyata sudah di sebelahnya.


"Dia sedang membunuh sang betina! kita harus cepat!" Boby menyadarkan kembali yang lainnya. Aland sudah berusaha untuk mengangkat Grace yang tak sadarkan diri. Hingga mereka melangkah ke tiga kali, ular itu kembali.


"Aku akan mengalihkan perhatiannya." Boby maupun Aland melotot tak percaya.


"Tidak Alice!" seru Boby dengan menahan tangan gadis itu. Alice menyentakkan cengkraman Boby.


"Tolong selamatkan adikku!" Alice berlari dengan cepat. Mengambil ranting kecil dan melompat-lompat. Berhasil membuat ular itu memperhatikannya. Alice menelan saliva dan berlari menerjang rerumputan dengan sekuat tenaga.


"Ayo Boby!" Aland menghalangi Boby untuk mengejar Alice. Kedua lelaki itu kemudian berjalan cepat. Mencari lokasi yang cukup jauh dan bersembunyi di balik pohon yang rindang.


"Jangan Aland!" Boby menghentikan Aland yang akan mengikat kaki Grace yang terkena bisa menggunakan sapu tangan yang berwarna jingga.


"Biar aku saja!" Boby mencari ranting dan menyangga lutut Grace agar meminimalkan gerakan yang membuat bisa itu semakin cepat menyebar. Penanganan seperti patah tulang.


Perlu digaris bawahi, pertolongan pertama yang salah menyebabkan kondisi korban masuk ke fase yang menjadikan organ tubuh rusak dan membutuhkan antivenom. Kalau diikat hanya membuat kondisi seolah-olah bisa ular berhenti. Padahal yang diikat adalah pembuluh darah. Akibatnya pembekuan darah hingga amputasi.


Sementara itu, Alice masih berlari dengan sesekali melihat ke belakang. Ular kesulitan mengejarnya karena pepohonan di sana. Sadar bahwa ular itu nampak kesakitan saat tubuhnya terbentur pada batang pohon. Alice menuju tempat yang lebih rindang. Pohon-pohon yang tinggi menjulang dan ternyata sangat kuat. Alice mengelengkan kepala pelan. Tak menyangka bahwa pohon di sekitarnya begitu kuat. Membuat ular yang tengah mengejarnya mendesis kesakitan.


Bruk!


Alice terjatuh dan berbalik. Ular itu sangat dekat dengannya. Dengan sisa keberanian yang ada. Alice berdiri dan bertepatan dengan ular itu yang sampai di hadapannya. Mata nyalang semerah darah itu beradu dengan mata Alice. Lalu kemudian terdiam dan menunduk. Alice terkesima dengan mulut menganga.


Ular itu melewatinya dan pergi begitu saja. Alice menghela napas lega. Lalu berjalan menuju tempat adik dan temannya. Hingga sebuah tarikan di tangan membuatnya terhenti. Alice berbalik dan menatap takut makhluk di hadapannya.

__ADS_1


Manusia dengan zirah hitam berdiri gagah di hadapannya. Perlahan, cengkraman manusia itu terlepas di tangan Alice. Ia melepas penutup kepala dan Alice menatap sosok itu dengan mata mengerjap heran.


Lelaki tampan dengan rambut kriting hitam. Hidung mancung dan mata hijau sepertinya. Dua pasang mata hijau itu beradu sesaat. Desiran angin di sela-sela pepohonan yang menjulang menjadi suasana yang terlihat mengagumkan. Angin memainkan ujung rambut Alice dengan pelan.


***


"Apa Grace baik-baik saja?" tanya Alice sembari menatap Boby dan Aland. Boby terdiam menatap lelaki yang ada di sebelah Alice.


Lelaki berzirah hitam itu mendekat pada Grace. Lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dan menyentuh kaki Grace.


"Apa yang Kau lakukan!?" pekik Aland dengan lantang serta tatapan tajam. Lelaki itu mengembuskan napas pelan. Kemudian memejamkan mata. Lalu mata hijaunya terbuka dan menatap mereka satu persatu.


"Jangan khawatir. Aku memerlukan bisa ini," ucapnya pelan. Lalu mengais sedikit bisa berwarna putih seperti lendir di kaki Grace. Memasukkan dalam botol kecil. Lalu sedikit menjauh.


"Untuk apa itu?" tanya Alice yang melirik sekilas lelaki asing tadi. Lalu beralih menatap adiknya dengan sorot mata khawatir dan bingung.


"Jangan khawatir. Bisa Ophio tak seperti bisa ular lainnya. Ini justru sebuah obat yang langka." suara serak dan basah terdengar keluar dari mulut lelaki itu.


"Lalu, mengapa adikku belum bangun juga?"


"Mungkin hanya shock!" sahutnya serius. Sejak tadi, ia terus menatap Alice tak berkedip dan berhasil membuat Aland dan Boby menatap curiga.


"Ini di mana sebenarnya?" gumam Alice pelan. Bersamaan dengan jawaban dari lelaki asing itu, mata Grace terbuka.


"Ini hutan kematian," sahut lelaki itu dengan tersenyum tipis. Mata Alice mengerjap heran. Hutan kematian?

__ADS_1


Bersambung


Kasih like dan komentarnya yaa ❤❤


__ADS_2