
Sama seperti manusia yang memiliki sisi serakah, begitu pula Bangsa Hou. Hou yang bertempat tinggal di Negera Ern cenderung serakah. Para dewan kerajaan sudah tau itu saat konflik beberapa ratus tahun yang lalu.
Negara Ern menawarkan sebuah kesepakatan. Wilayah itu memang tempat para bangsa Hou modern. Jika di Negeri Jungle tak ada apapun teknologi canggih selain teknologi yang biasa saja. Seperti pembersih debu yang sangat canggih atau meja makan yang otomatis membuang sisa makanan.
Negara Ern memiliki peradaban yang jauh lebih canggih. Kesepakatannya saat itu, mereka masih menggunakan kertas. Sedangkan pepohonan di garis wilayahnya sudah habis tak tersisa. Yang ada hanya pohon buatan. Mereka menawarkan beberapa teknologi canggih untuk Negeri Jungle sebagai imbalan untuk meminta beberapa pohon. Untuk membuat kertas.
Tentu saja, Raya Ney tak setuju. Para ilmuwan yang ada di Negeri Jungle sebenarnya bisa memajukan peradaban dengan membuat teknologi yang canggih meski tak secanggih milik Negara Ern. Tapi Raja tak suka hal itu. Raja dan para rakyat lebih suka hidup menyatu dengan alam. Dari pada teknologi yang bagi mereka hanyalah sebuah barang rongsokan.
Presiden Negara Ern tentu saja tak bisa berbuat apa-apa saat Raja Ney menolak kesepakatan itu. Namun sesuatu yang tak bisa di hindari lagi terjadi saat ini. Negara Ern yang selalu di penuhi oleh para menteri serakah sudah melakukan berbagai macam hal kurang ajar. Segala tindakan yang membuat para dewan kerajaan geram. Yang menunjukan bahwa mereka sedang menyulut api perang!
Hal yang semakin membuat para dewan geram, Raja Ney bersikap tenang dan selalu berusaha bersikap seolah dua wilayah baik-baik saja. Tak ada konflik apapun. Padahal sudah beberapa tahun, Negara Ern terus berulah. Kali ini sudah melakukan sesuatu hal yang sangat besar dan tak bisa lagi di maafkan.
See, dewan kerajaan tertinggi yang merupakan bangsa Ord sejak tadi begitu emosi. Ia memang lebih sering berbeda pendapat dengan sang raja. Jika dulu tentang teknologi, sekarang tentang tindakan Raja yang baginya sangat tak masuk akal.
"Aku hanya tak ingin kedua wilayah berperang," ucap raja Ney dengan wajah tenang.
"Aku khawatir, Anda bersikap seperti ini karena Presiden Ern adalah -"
"Cukup See!" sentak salah satu dewan kerajaan dari bangsa Hou. Sikap See yang sudah kurang ajar pada raja membuatnya geram.
"Mohon maaf yang mulia, tolong pikirkanlah lagi. Mereka bahkan sudah berani memangkas pepohonan di Hutan Kematian."
salah satu dewan bermata biru ikut menimpali. Hutan kematian merupakan ujung wilayah Negeri Jungle. Di mana setelah keluar dari Hutan Kematian ada perbatasan antar dua wilayah.
"Salam yang mulia raja."
Suara itu membuat mereka mengalihkan perhatian. Pengawal tengah menundukkan kepala.
"Pangeran ingin menyampaikan sesuatu yang penting."
Setelah selesai berucap, sang pangeran masuk dengan dua pengawal di belakang. Ia menunduk hormat lalu menatap sang raja.
"Apa sangat penting?" tanya Raja dengan menautkan alisnya. Lee mengangguk.
__ADS_1
"Ini berhubungan dengan sesuatu yang sedang kalian perbincangkan."
Raja Ney mengibaskan tangan pelan. Para pengawal pergi kembali ke tempat sebelumnya. Siap siaga berdiri di sudut ruangan. Bukan seperti pengawal pada umumnya, yang berdiri di depan ruangan.
"Katakanlah!" titah raja dengan mata tajam. Lee mengangguk.
"Saat di hutan kematian, aku melihat ophio bertarung dengan sejenisnya. Ular yang sama."
Semua orang terkesiap.
"Ku pikir itu adalah ophio betina yang hilang. Tapi bagaimana mungkin ophio jantan membunuhnya? hingga aku menemukan sesuatu yang entah kalian percaya apa tidak." Lee berhenti sejenak. Menatap satu persatu dewan kerajaan.
"Ophio itu kalah bertarung dan mati. Oh bukan mati tapi rusak. Saat aku memeriksa tubuh ular itu, ternyata dia adalah robot." Semua orang di sana nampak terkesiap lagi.
"Lihat! bahkan mereka sudah mengusik ophio dengan mengirim benda seperti itu!" ucap See dengan dada yang turun naik.
"Apa memang sangat mirip dengan ular ophio?" tanya salah satu dewan kerajaan. Lee mengangguk yakin. Ular itu memang sangat mirip dengan ophio. Jika bukan karena ia memeriksa tubuh ular tersebut, ia tak akan pernah tau. Bahwa benda itu hanyalah sebuah robot. Mesin.
"Sekarang apa keputusanmu yang mulia?"
"Sebelum menyampaikan keputusanku, aku ingin memberitahu sesuatu."
Semua orang memusatkan perhatian pada lelaki gagah yang berdiri itu. Nampak raja Ney menghela napas panjang. Lalu menatap pangeran.
"Kalian ingat ramalan Cyane?" Raja Ney berucap dengan nada kelegaan.
"Bukankah itu hanya mitos?" See berucap dengan menautkan kedua alisnya.
"Itu legenda," jawab salah satu dewan kerajaan.
"Jadi apa itu Cyane?" tanya Lee dengan menatap raja Ney dengan intens. Lee bingung, ada yang menyebutkan ramalan, legenda dan mitos. Sebenarnya apa itu Cyane?
"Itu ramalan yang menjadi kenyataan. Hingga pantas di sebut legenda."
__ADS_1
Lee nampak terdiam. Kata Cyane cukup familiar di telinganya. Tapi masih tak mengerti apa artinya.
"Ramalan itu terjadi setiap lima miliar tahun sekali," ucap sang raja dengan nada pelan. Sedangkan Lee menatap takjub. Yang benar saja, 5 miliar tahun?
"Itu sebabnya. Karena waktu yang sangat lama. Orang-orang cenderung lupa dan membuat Cyane dikira hanya sebuah mitos. Aku hanya menemukan beberapa lembar sejarah mengenai ramalan itu," ucap raja Ney lagi.
"Pangeran Lee, tak maukah kau cerita di bagian bertemu Alice dan teman-temannya," imbuhnya dengan nada bertanya. Raja menatapnya dengan wajah tenang seperti biasanya.
Lee kemudian mengangguk dan menceritakan segalanya. Di akhir cerita ia baru menyadari perubahan raut wajah para dewan kerajaan di sana.
"Kenapa?" tanya Lee penasaran. Demi apapun, mengapa sebagai pangeran ia tak diberi tahu apa itu Cyane.
"Itu ramalannya." gumam pelan salah satu dewan. Lee mengerjap heran.
"Apa?"
***
"Bagaimana itu mungkin?" Alice menatap sang ratu dengan mata membulat sempurna.
"Itu bukan kami, kami hanya ke empat orang yang tersesat," imbuhnya dengan mengerjapkan mata.
"Tapi kemunculan kalian sangat mirip dengan isi ramalan," sahut sang ratu sembari menatap gadis di sebelahnya. Ia lalu sedikit memutar tubuhnya. Hingga kedua wanita yang beda usia itu saling menghadap.
"Alice, bukan hanya kau yang tak percaya mengenai ramalan Cyane. Bahkan para rakyat baik dari bangsa Ord maupun Hou. Mereka menganggap ramalan itu hanya sebuah mitos."
"Tapi jika memang ramalan itu benar. Dan Kalian adalah orang yang ada dalam isi ramalan. Seberapa kerasnya kau berusaha menghindar. Takdir akan menyemputmu kembali ke tempatmu yang seharusnya," imbuh ratu Jae dengan nada lembut.
Alice bingung ingin berkata apa. Ucapan dari sang ratu yang merupakan sepenggal isi ramalan masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Ketika sebuah peperangan tak dapat lagi dihindarkan. Ke empat orang asing datang dan menciptakan kedamaian.
Di antaranya dua bersaudara Cyane.
__ADS_1
Biru kehijauan
Bersambung