
"Jadi, kau berpikir bahwa sebagian lembaran ini ada di tangan Presiden Negara Ern?" Alice menatap lekat Paman Fee.
"Tepat sekali," sahut Paman Fee yakin. Raut wajah Paman Fee berubah. Ia memejamkan mata. Sedangkan Bob dan Alice saling tatap dengan kebingungan yang mendera. Hingga lelaki paruh baya itu menatap pintu ruangan. Alice maupun Boby mengikuti arah pandangannya.
Di sana muncul Ratu Jae, Pangeran Lee dan Ji. Ratu tersenyum pada mereka yang di balas sama. Sang ratu menatap Paman Fee dengan lekat lalu menyeringai.
"Nampaknya aku mengganggu," ucap ratu Jae lembut. Ia beralih menatap Alice kemudian Boby.
"Tidak yang mulia," sahut Paman Fee sembari tersenyum. Alice menautkan alis. Tatapan sang ratu yang awalnya hangat berubah jadi menusuk. Terlihat sangat mengintimidasi.
"Kami hanya membicarakan beberapa hal," imbuh Paman Fee. Lalu berpindah posisi dari di sebelah Alice ke depan gadis itu.
"Oh yaa? Kalian membahas hal yang penting sepertinya," ucap sang ratu lagi. Ia menatap meja tempat gulungan di letakkan namun tak ada apapun di sana. Alice maupun Boby terkesima. Sekarang mereka mengerti bahwa Paman Fee tak bisa memberitahu tentang lembaran ramalan kedua yang ada di tangannya namun pertanyaannya mengapa? Bukankah yang ada di hadapan mereka sekarang adalah sang ratu istana?
"Hanya berdiskusi beberapa hal, mengenai rancangan mesin waktuku," sahut Paman Fee dengan nada bangga. Mata sang ratu berbinar lalu ia meminta menunjukkan.
"Lee," rengek Alice dengan berbisik. Lee yang ada di sebelahnya menatap Alice dengan seksama.
"Aku ingin berkeliling. Apa boleh?" tanya Alice dengan mengerjap gugup karena wajah Lee sangat dekat dengannya.
"Tentu saja." suara itu membuat Alice tersentak. Ia menatap sang ratu yang menyahutinya.
"Aku yakin Pangeran Lee akan sangat senang menemani Alice," ucap sang ratu dengan memgerlingkan matanya pada Lee. Lelaki itu merona malu. Alice yang melihatnya hanya mengerjap heran. Astaga, apakah Lee itu memang benar seorang pangeran?
Pangeran Lee dan Alice kemudian berjalan keluar ruangan. Sedangkan yang masih di dalam. Ada Paman Fee, sang ratu, Ji dan Boby. Mereka menuju ruangan rahasia milik Paman Fee. Mata Boby mengerjap takjub.
***
Sementara itu Lee dan Alice sudah berjalan keluar istana. Alice menatap sekeliling dengan wajah datarnya. Ia berdehem pelan lalu mengucapkan.
"Apa Nee tak bisa ditunggangi?" tanyanya. Lee tertawa.
"Maaf, Tapi Nee itu pemalas. Hanya bisa terbang dalam jarak dekat saja," sahut Lee sembari mengusap tengkuk kepalanya.
"Pemalas?" Alice menatap Pangeran Lee lekat-lekat. Sang pangeran mengangguk penuh wibawa. Sontak Alice mengerjap takjub padahal baru tadi Lee bersikap seperti remaja yang kasmaran namun sekarang gerakan menganggukkan kepala saja ia terlihat berkharisma.
"Karena bobot tubuhnya yang sangat berat ia sangat mudah kelelahan."
Mereka terus berjalan hingga mulai memasuki daerah pusat kota Our. Para bangsa Hou di sana nampak begitu gembira. Mereka tertawa ria. Seolah sangat bahagia. Sesekali menyapa mereka.
"Apa yang kalian bicarakan tadi? Paman Ord sengaja menyembunyikannya dari ratu." Lee berucap sembari terus berjalan dan sesekali menatap raut wajah Alice.
"Lembaran kedua ramalan. Dan bagaimana kau tau?" tanya Alice dengan menautkan alis.
"Itu karena sikap paman Ord seperti perintah raja." mata Lee menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Alice menghentikan langkahnya. Mengubah posisi jadi berhadapan pada sang pangeran. Menatap lekat sepasang mata zamrud itu.
"Akan kuceritakan," sahut Lee pelan lalu kembali melangkah. Alice mengiringi di sebelahnya.
"Sebelum menjadi Ratu di Negeri Jungle. Yang Mulia Ibunda Ratu adalah salah satu menteri tertinggi di pemerintahan Negara Ern." Lee menatap mata Alice yang membesar. Lalu ia kembali melanjutkan.
"Seiring majunya teknologi dan peradaban di Negara Ern. Mereka semakin serakah dan tak peduli alam. Ibunda ratu berusaha mengingatkan namun suaranya yang hanya satu di bandingkan suara banyak dari menteri yang lain membuat ia tersisihkan. Lebih tepatnya, pendapat Ratu Jae tak di dengarkan. Mereka tetap mengolah berbagai teknologi dan gaya hidup yang secara tak langsung justru merusak tempat ini. Bahkan Paman Ord mengatakan, jika Negeri Jungle sudah sama seperti Negera Ern. Planet ini akan musnah."
Alice menatap lurus ke depan. Ia mulai memahami. Sebagaimana para manusia di bumi, sadar atau tidak. Banyak perbuatan yang merusak alam. Gempa bumi, tanah longsor hingga tsunami sebenarnya hanyalah cara bumi untuk memperbaiki diri. Begitu pula dengan kasus penduduk Negera Ern di sini.
"Ratu Jae akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan itu dan mulai membangun hidup sederhana di sini. Hingga bertemu raja dan mereka memutuskan bersama." Lee menatap lurus juga ke depan dan terus melangkah.
"Namun hingga sekarang, Raja masih tak mempercayai ratu."
"Kenapa?" tanya Alice tak sabar.
"Karena Raja takut bahwa Ratu adalah mata-mata. Sejak dulu, bangsa Hou maupun Ord yang tinggal di sini mengira bahwa dua wilayah damai dan baik-baik saja. Tapi Raja tau, bahwa sebenarnya Negara Ern selalu mencari cara agar menguasai segalanya. Termasuk Negeri ini."
Lee menatap sekitarnya. Menghirup dalam-dalam. Berpikir bagaimana para Hou di Negeri Ern bernapas karena oksigen dari pohon buatan membuatnya ngeri. Sedangkan saat ini, ia begitu bahagia dengan apa yang ada di sekitarnya. Tapi masalah akan selalu ada. Begitu pula dengannya. Masalah yang menyangkut Negerinya tercinta.
"Apa mereka tak saling mencintai?" Alice menatap lekat Lee. Raut wajah lelaki itu nampak tak suka atas pertanyaannya.
"Ma-maaf," lirih Alice pelan. Namun lagi-lagi, tatapan Lee berubah lagi menjadi hangat seperti tadi.
Alice mengerjap heran lalu mengatakan, "Saling mencintai? tapi tak mempercayai?" tanyanya memastikan. Lee mengangguk spontan
"Cinta dan kepercayaan adalah dua hal yang berbeda."
Lee kemudian menarik tangan Alice menuju rombongan Ayam yang besar. Ia menyatukan pikiran lalu menunggangi ayam itu bersama Alice. Seperti menunggangi Nee. Alice sekarang juga di posisi depan.
"Lee," tegur Alice pelan. Ia memejamkan mata, merasakan hembusan angin di muka. Ayam ini hanya berjalan namun langkahnya yang lebar, cukup membuat angin deras di sekitarnya.
"Yaa?" sahut Lee sembari menatap tengkuk Alice yang terbuka karena angin. Ia menelan Saliva. Lalu membenarkan rambut gadis itu agar menutupi leher jenjangnya.
"Kau benar. Cinta dan kepercayaan adalah dua hal yang berbeda." Alice membuka mata dan menatap lurus ke depan. Lee tersenyum lebar.
"Tapi, saat memutuskan menjalin hubungan bukankah harus ada kepercayaan?"
"Apa maksudmu?" tanya Lee yang tak mengerti sama sekali.
"Tidak, bukan bermaksud mengkritik hubungan raja dan ratu. Aku hanya heran dan tak menyangka bahwa hubungan mereka seperti itu," tutur Alice lembut.
Lee diam.
"Pernahkah berpikir bahwa ratu sangat tak nyaman ketika semua orang merahasiakan masalah kerajaan? seperti tentang lembaran kedua dan berbagai hal lainnya."
__ADS_1
"Ratu tau masalah umum kerajaan," bela Lee dengan nada santai.
"Bagiku, hubungan harus dilandasi kepercayaan. Itu adalah tonggak utama dalam membangun sebuah hubungan."
Lee berdehem pelan. Alice yang merasa bahwa Lee kurang nyaman tentang pembahasan yang baru saja mereka bicarakan mulai mengalihkan pembicaraan.
"Lee, berapa umur Ratu Jae?"
"Berapa ratus tahun yaa? Aku lupa," sahut Lee terkekeh. Alice menatap ke bawah. Memperhatikan ayam yang mereka tunggangi melewati suatu jalan yang di kelilingi tumbuhann.
"Bagaimana bisa kalian berumur panjang dan awet muda seperti itu?" nada Alice terdengar menggerutu.
"Umur panjang? awet muda?" tanya Lee mengulang pertanyaan. Ia bingung apa yang Alice bicarakan.
"Yaa seperti sang ratu. Ratu seperti gadis berumur 20 tahun di tempatku."
Lee tertawa. Entah mengapa Alice tak tau. Lucunya di mana. Sekarang ia tengah kesal. Ia iri pada kulit ratu yang putih alami dan bersinar. Apa sang ratu juga memakai skin care?
"Bagaimana ratu merawat kulit dan wajah cantiknya?"
Lee tertawa. Kemudian menyeringai licik.
"Akan ku beritahu," ucapnya tepat di telinga Alice.
"Tapi ada syaratnya."
"Syarat?"
"Ya."
"Syarat apa?"
"Akan ku bawa kau ke tempat tumbuhnya sebuah tumbuhan yang biasa di jadikan ramuan oleh para wanita di sini. Terutama oleh ratu."
Mata Alice berbinar. Menolehkan sedikit kepalanya agar bisa menatap sepasang mata zamrud Lee. Apakah ada kesungguhan di sana atau ia hanya mengada-ngada.
"Kau meragukan ku?Ck," cibir Lee dengan wajah menggoda.
"Apa syaratnya?"
"Biarkan aku memelukmu sepanjang perjalanan ke tempat tumbuhan itu."
Alice mengerjap kaget.
Bersambung
__ADS_1