
TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
SEBELUMNYA, ZARAA INGATKAN KALAU PERCAKAPAN MEREKA INI SEBENARNYA PAKAI BAHASA INGGRIS.
❤ Happy reading ❤
***
"Hutan kematian?!" pekik Grace spontan dengan mata terbuka lebar.
"Tenanglah Grace!" ucap Alice pelan lalu memeluk adiknya. Grace melepaskan pelukan itu dengan kasar lalu memeluk Aland yang berada di sebelahnya. Boby mengelengkan kepala. Sedangkan Alice hanya tersenyum bahagia karena adiknya ternyata baik-baik saja.
"Aku takut Aland," ucap Grace manja.
"Lihatlah lututmu!" ucap lelaki asing tadi. Grace dan yang lainnya lalu melihat lututnya dan benar-benar tak terduga. Justru luka tadi mengering. Tak langsung hilang tapi sudah tak terasa sakit lagi.
"Ophio itu adalah makhluk yang sangat Kami lindungi." keempat remaja itu memusatkan perhatian pada lelaki tadi.
"Ophio?" ulang Boby dengan dahi berkerut dalam.
"Ya, Ophio memiliki bisa yang justru berfungsi sebagai obat yang sangat langka. Dan hutan kematian nama tempat ini. Berbagai makhluk besar dan berjumlah ribuan berhabitat di sini. Kami menjaga mereka dengan sepenuh hati."
"Jadi, Kau penjaga Hutan Kematian?" tanya Alice pelan. Sesaat lelaki itu terkesiap lalu mengangguk sembari tersenyum penuh arti.
"Sebenarnya ini di mana?" tanya Grace dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian berasal dari dunia yang lain bukan?" ucapnya sembari tersenyum senang. Ke empat remaja itu saling pandang.
"Awalnya ku pikir kalian dari Negara Ern. Melihat pakaian dalam seperti yang ia pakai." lelaki itu menatap Grace dengan datar. Sedangkan Grace melotot. Semburat merah terlihat di pipinya.
"Di tempat kami ini pakaian biasa," bela Alice tak terima.
"Kau juga sama. Sedikit lebih sopan darinya." Alice mendengus kesal. Sekarang ia tengah memakai kaos hitam serta celana pendek hitam juga. Sedangkan Grace memakai rok mini biru dan tank top berwarna senada. Wajar bukan, awalnya mereka hanya di rumah saja!
Lelaki itu menatap Aland dan Boby. Kedua remaja itu memakai T-Shirt dan celana selutut. Khas pakaian rumah lelaki pada umumnya.
"Kau ingin mengatakan bahwa kami memakai pakaian dalam saja?" ejek Boby dengan mendengus kesal.
__ADS_1
"Tidak, Kalian seperti pemburu ilegal di sini." Aland mengacuhkan lelaki itu. Sebelum Boby melontarkan protesnya, Aland lebih dulu melontarkan pertanyaan.
"Jadi, bagaimana cara kami kembali?" tanya Aland tenang.
"Kembali?" dahi lelaki itu berkerut dalam tanda tak percaya bercampur heran.
"Kalian baru saja datang, mengapa ingin kembali secepat ini?" tanya lelaki itu lagi.
"Kami tersesat." lelaki itu menatap Alice dengan seksama.
"Tapi Aku masih ingin di sini," ucap Bob sembari melihat ke sekitar. "Ah, maksudku, tempat yang lebih aman dari hutan kematian," imbuhnya dengan terkekeh pelan.
"Hanya beberapa kilometer dari sini, Negri Jungle akan menyambut kalian dengan senang hati."
" Tapi aku ingin pulang! Alice. Aland!" rengek Grace dengan manja.
"Dasar manja!" ejek Boby sembari mulai berjalan pelan. Masih berpikir mengapa mereka bisa ada di sini.
"Tapi untuk pulang. Sepertinya Kau harus ke Negri Kami."
***
"Bagaimana Kau tau Kami dari dunia lain?" tanya Alice sembari terus melangkah.
"Dari bahasa Kalian. Aku pernah mempelajari tentang dunia paralel di sekolah. Ada makhluk dari dimensi kedua yang memakai bahasa yang di sebut English. Ku dengar itu memang bahasa mendunia di sana. Jadi aku mempelajarinya." Alice terdiam, memikirkan bahwa mungkin peradaban di sini luar bisa maju hingga seorang pemburu begitu cerdas dan bisa memakai bahasa dari dunia lain.
"Jadi, Kau juga percaya tentang dunia paralel yang memiliki sembilan dimensi?" tanya Boby antusias. Lelaki yang masih belum memperkenalkan diri ini mengangguk yakin.
"Bukan hanya Aku, tapi semua orang di Negri Kami juga mempercayai."
"Mereka bicara apa Aland? Aku tak mengerti," celetuk Grace sembari mendengus kesal. Aland mengabaikan.
"Namamu siapa?" kaki lelaki itu terhenti lalu berbalik menatap mereka.
"Lee," sahutnya sembari tersenyum. Lalu mereka satu persatu menyebutkan nama mereka juga.
"Kalian remaja sama sepertiku bukan?" Alice mengerjap heran kemudian mengiyakan saja. Tapi karena penasaran ia bertanya juga.
__ADS_1
"Berapa umurmu?" masih berjalan melewati rerumputan yang cukup panjang meski tak sepanjang tempat ular tadi.
"50 tahun." serentak keempat orang itu terhenti. Lalu Grace terbahak-bahak. Alice mengerjakan matanya. Jika remaja berusia 50 tahun, bagaimana para orang tua? pikirnya
"Aku Grace, ingat baik-baik. Remaja cantik berumur 70 tahun," ucapnya sembari tertawa. Bahkan bulir bening jatuh di sudut matanya.
"Maafkan Grace," ucap Alice pelan. Saat merasa bahwa Lee berucap serius dan bukan melontarkan lelucon.
"Tak apa-apa. Sepertinya ada banyak perbedaan di dunia kita." Lee tersenyum ramah.
"Jika kalian percaya bahwa semesta memiliki sembilan dimensi. Dan kami adalah dimensi kedua. Kalian ke berapa?" tanya Boby lagi.
"Sayangnya, aku kurang tau. Kau bisa bertanya jika bertemu Paman Ord di Istana," sahut Lee dengan nada ramah.
"Istana?" tanya Alice dengan mata membulat sempurna. Lee mengangguk lalu mulai menceritakan tentang dunia mereka.
Dunia ini terbagi menjadi dua wilayah. Negri Jungle dan Negara Ern. Mereka sekarang sedang menuju Negri Jungle. Sebuah Negri yang di pimpin oleh Raja dengan sistem pemerintahan Monarki berbeda dengan Negara Ern yang memberlakukan sistem pemerintahan presidensial.
Baru saja menceritakan sedikit. Pemberitahuan dari Lee terhenti karena keluhan dari Grace.
"Apa masih jauh? Kakiku sakit sekali!" keluhnya sembari melangkah dengan tertatih. Lee tertawa renyah.
"Menurutku tinggal sedikit lagi." Boby mengerjap heran. Mereka memang sudah berjalan berkilo-kilo meter. Tapi lelaki gagah berusia 50 tahun ini terlihat biasa saja. Tak seperti mereka yang memang merasa cukup lelah. Boby melirik Alice yang terlihat mulai lelah pula.
"Apa di sini tak ada transportasi?" Boby menelan saliva. Mereka sedang di hutan tapi ia bertanya tentang transportasi. Meski terdengar konyol tapi Boby masih bertanya karena berpikir mungkin ada hewan yang bisa mereka tunggangi.
"Apa itu transportasi?" tanya Lee heran. Ia tak ingat kata itu berarti apa.
"Seperti tunggangan atau kendaraan," sahut Aland datar. Matanya melirik Alice sebentar.
"Tidak, Kami biasa berjalan." Grace yang mendengar jawaban Lee, menghembuskan napas lelah tapi bertekad tak merengek atau menyerah. Karena melihat Alice yang seperti biasanya. Terlihat dewasa dan elegan.
Perjalanan mereka terhenti saat sebuah makhluk menggemaskan menghadang jalan mereka. Alice mengerutkan dahi.
"Itu yang aku cari tadi," celetuknya sembari menatap makhluk yang ada di hadapan mereka.
Bersambung
__ADS_1
Note: Negeri Jungle di sebutkan jangle bukan disebut seperti bahasa inggris yang berarti hutan dengan sebutan Janggel!
Tap jempolnya yaa dan kasih komentarnya sebanyak-banyaknya ❤