
🍃 Happy reading 🍃
***
"Ki! Dengarkan aku!"
Key terus berlari dengan wajah penuh air mata. Tak menghiraukan teriakan Purok di belakangnya. Semakin cepat, berusaha menekan perasaan sakit karena ucapan kekasihnya. Kakinya kemudian berhenti dengan napas tersengal. Wajahnya menunduk dalam.
"Selama ini kau bisa menyentuh mereka!"
"Ayahku juga mengatakan itu padaku lewat mimpi."
"Ki, aku mencintaimu. Aku berpikir keras tentangmu."
"Bagaimana jika perkiraanku benar?"
Key menutup telinganya. Padahal pikirannya lah yang berperan mengingat semua ucapan Purok. Purok mengatakan bahwa hanya Key yang bisa menyentuh hewan di sebelah Barat sedangkan Purok bisa melihat mereka tapi tak bisa menyentuhnya.
Key bingung. Bagaimana jika itu benar? Bagaimana jika ternyata ini rohnya? Key mengusap lengannya. Jika ia roh mengapa bisa bersentuham dengan Purok. Ia nyata! Sempat terbersit di pikiran Key, bagaimana jika ia ternyata berada di antara hidup dan mati.
Hutan ini bahkan terlihat tak terjamah. Suku pedalaman ada di sini. Bagaimana jika ia ternyata melintasi waktu? Pikirannya berkecamuk memikirkan segala hal di luar logika.
Pertanyaan yang paling menohok hatinya. ia tak nyata? Atau Purok yang tak nyata? Jika salah satu di antara pertanyaan itu benar, Bagaimana dengan cinta mereka? Bagaimana jika ia terbangun dari segala hal ini dan tak mendapati Purok di sisinya. Purok hanya kekasih hayalannya?
"Aaaaaaaa!" Key berteriak frustasi. Teriakannya menggema. Key kemudian tersadar ketika segerombol macan dahan di depannya. Menatapnya dengan sorot mata penuh arti. Ia lalu mengedarkan pandangan dan menyadari bahwa ia masih berada di daerah hutan sebelah Barat. Matanya lalu beralih pada seekor macan dahan yang mendekat ke arahnya. Ia menatap intens makhluk itu.
Macan dahan pada dasarnya memiliki ukuran sedang dengan panjang bisa mencapai 95 cm. Bulu berwarna abu-abu kecokelatan dengan pola seperti awan dan totol hitam di tubuhnya. Kakinya pendek tapi memiliki telapak yang lebar. Sedangkan ekornya panjang dengan pola garis bintik berwarna hitam. Terlihat menggemaskan sebenarnya. Seperti kucing imut hanya ukurannya lebih besar.
☝Macan dahan ☝
"Ki, jangan bergerak!" Key tersentak lalu menoleh ke belakang. Wajah Purok nampak khawatir.
"Maafkan aku, berjalanlah mundur perlahan." suara Purok melembut sembari mata hitamnya menatap Key hangat.
Key lalu mengalihkan pandangan lagi pada macan dahan itu. Sorot mata itu seolah ingin mengatakan sesuatu. Semakin dekat mereka semakin Key waspada. Hingga makhluk itu hanya diam sembari menatap Key. Gadis itu menelan saliva lalu sedikit membungkuk. Mensejajarkan wajahnya dan wajah makhluk itu.
"Sayang, kau tumbuh menjadi gadis yang luar biasa."
Mata cokelat gadis berparas cantik itu membesar. Suara lembut itu seperti angin tapi terdengar jelas.
"Bangunlah Key, ini bukan tempatmu."
Mata Key berkaca-kaca. Itu suara bundanya. Bagaimana mungkin. Perlahan tangan Key terangkat dan mengusap wajah makhluk di hadapannya.
"Sebenarnya kau siapa?"
Macan dahan itu mundur perlahan. Key mendekatinya. Hingga makhluk itu berbalik dan lari menuju gerombolannya.
"Bunda ...." gumam Key pelan. Satu bulir bening jatuh di sudut matanya. Ia kemudian terduduk dengan wajah menunduk dalam.
__ADS_1
"Ki ...." Purok menyentuh dagu wanitanya lalu mengangkat wajah cantik itu. Wajah yang sudah berlinang air mata.
"Aku salah, jika kau tak nyata. Mana mungkin aku bisa menyentuhmu. Kau ... Hanya berbeda." Key langsung memeluk Purok. Tangisnya pecah. Ada begitu banyak pertanyaan di pikirannya. Ia bingung dan lelah.
Setelah beberapa saat hening. Hanya tangisan Key dengan isakan pelan yang terdengar. Purok masih memeluknya sembari mengusap pelan punggung wanitanya.
Perlahan wajah Key terangkat. Menatap Purok dengan sorot mata penuh cinta.
"Mungkin saja, aku yang tak nyata." Key langsung menghentikan ucapan Purok dengan telunjuknya. Lalu tangan Key mengusap bibir itu. Kemudian melumattnya dengan lembut.
Purok menekan tengkuk Key. Menginginkan ciuman lebih dalam lagi. Ia tau Key nyata! Ia hanya tak mengerti, mengapa Key sangat berbeda.
Pagutan itu terlepas ketika sama-sama merasa kehabisan napas. Saling menatap dengan sorot mata penuh cinta.
"Aku sangat takut kehilanganmu ...." lirih Purok sembari mengecup pelipis Key.
"Jika kau tiada, aku akan berdoa semoga suatu saat ada reinkarnasi dari dirimu dan kita bertemu." Key tersenyum manis.
"Apa itu reinkarnasi?"
"kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain."
"Aku juga akan berdoa begitu pada mulank."
Key tersenyum, lalu kembali mendekatkan wajahnya pada Purok. Hidung mereka bersentuhan dan Key bahkan sudah merasakan napas Purok.
Penyatuan bibir itu kembali. Melumatt menjilat, dan mengecap. Purok memperdalam ciumannya. Lalu bibirnya beralih pada leher jenjang Key. Membuat wanitanya mendesah dan melenguh pelan.
"Hmmm ... Purok," lirih Key pelan di telinga kekasihnya.
Purok tersadar lalu menatap Key dengan sorot mata berkabut gairah. Tanpa berpikir lebih panjang lagi ia melumattt bibir Purok. Lidah mereka bertaut dan saling bertukar saliva. Pagutan itu terlepas ketika mendengar sebuah geraman dari Tutul.
Key menatap Tutul yang berada di sebelahnya. Karena terlalu terbuai bersama Purok ia tak melihat makhluk mungil itu. Key kemudian mengikuti arah mata Tutul. Dan mata Key membulat sempurna.
Purok lalu melihat apa yang membuat Key seperti itu. Spontan Purok melindungi Key dengan tubuhnya.
"Hahaha, kau sendiri tau bahwa aku ingin membunuhmu bukan calon istriku." seringai menghiasi wajah Ekot. Membuat Key muak dan marah.
Purok diam dengan mata memperhatikan, Ekot datang dengan lima pemuda. Ia pasti bisa mengalahkan mereka.
"Bagaimana kau bisa masuk kesini?"
Ekot diam dengan seringai yang lebih mengerikan.
"Aku tak tau, tapi aku cukup menyesal mengapa tidak mencoba masuk sejak dulu." Ekot melirik Key yang berada di belakang Purok.
"Kau adik yang jahat Purok. Membawa kabur calon Istri kakakmu sendiri!"
"Hentikan omong kosongmu! Mari bertarung! Yang menang akan menikahi Ki sesuai aturan bue."
"Baiklah."
__ADS_1
Ekot maju menggunakan tangan kosong. Purok merasakan cengkraman dari tangan lembut wanitanya.
"Berhati-hatilah." Purok mengangguk sembari tersenyum lalu mengecup pelipis Key. Membuat Ekot mendengus kesal.
"Cepatlah bodoh!"
Purok maju. Sesaat mereka menatap dengan tajam. Lalu tangan Ekot terangkat memukul dagu Purok. Purok meringis tapi dengan cepat ia membalas. Memberikan pukulan bertubi-tubi pada Ekot. Dagu, perut, wajah. Hingga Ekot jatuh tumbang. Lalu lima orang mengeroyokinya. Purok tak menyerah. Ia harus menang. Wanitanya tak boleh jatuh pada lelaki lain.
Purok melawan kelima orang itu dengan buas. Membunuhnya dengan brutal. Memberikan luka besar hingga semua jatuh. Key tersenyum, Purok adalah panglima suku. Ia jauh lebih hebat dari Ekot karena ia sering berburu. Sedangkan Ekot hanya diam di tempatnya.
"Purok! Di belakangmu!" Purok berhasil menghindar dari ujung tombak Ekot yang mengarah padanya. Dengan wajah penuh amarah, ia menombak dada Ekot dengan sekali tusukan. Mata Ekot terbelalak.
Angin berdesir dengan suara petir yang menggema di langit. Pohon-pohon bergerak terbawa angin. Ekot tumbang dengan darah di sekujur tubuh.
Purok menatap Ekot dengan mata berkaca-kaca. Kakaknya masih membuka mata tapi Ia tau, dirinya sudah membunuh kakaknya sendiri. Darah itu juga darah yang sama di tubuhnya.
"Maaf ...." lirih Purok sembari menatap Ekot yang masih membuka mata. Mata itu menatapnya dengan amarah luar biasa
Key melihat Purok dengan mata berkaca-kaca. Merasa bersalah atas pertumpahan darah antar saudara. Hingga seorang pemuda yang terbaring mengarahkan tombaknya pada Purok. Key berlari cepat sembari berteriak.
"Purok!"
Sreettt!
Purok berbalik dan mendapat wajah Key tepat di hadapannya. Wajah cantik wanitanya menahan sakit. Mata Purok lalu tertuju pada tombak yang telah tertancap di belakang tubuh Key. Wanitanya tersenyum lalu bibir itu berdarah. Mulut Key berdarah.
"Tidak Ki, tidak!" Purok berteriak dengan histeris sembari menahan tubuh Key. Matanya menyiratkan sakit yang sangat. Key menatap Purok dengan sendu. Inikah akhir kisah mereka?
Sreettt!
Satu tombak tertancap lagi di tubuh yang berbeda. Key terkesiap. Ekot menancapkan tombaknya di belakang tubuh Purok.
Purok tersenyum.
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu," ucapnya lirih sembari menyatukan dahi mereka.
"Kita akan terlahir kembali dan sa-saling mencin-*** ...." ucap Key terbata-bata.
Purok lalu mengecup pelipis Key, lalu beralih ke bibir manis itu. Hingga segalanya berubah gelap. Mereka tumbang bersama dengan kebahagiaan cinta yang akhirnya menyatu.
Hujan turun dengan deras. Seolah alam ikut menangis atas matinya dua orang yang saling mencintai. Putri hutan yang terlahir dan Purok sang panglima suku. Pertumpahan darah selalu ada sejak dulu hingga sekarang. Hari ini, pertumpahan darah antar saudara terjadi karena sang tuan putri. Gadis manis yang memiliki kecantikan dan kecerdasan melebihi gadis lainnya.
Keegoisan yang mendarah daging di dalam tubuh manusia membuat jiwa mereka ternodai. Beberapa orang tak percaya mengenai cinta yang abadi. Tapi bukan berarti itu tak benar adanya.
.
.
.
Sampai jumpa di epilog😉 jangan di keluarin dulu dari fav! >_<
__ADS_1