Princess Of Jungle

Princess Of Jungle
S2 ~ Our


__ADS_3

TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


❤ Happy reading ❤


***


"Ord?" Ji mengangguk sembari tersenyum. Dia menatap ke sekelilingnya. Seolah tengah mencari sesuatu.


"Ayo, di depan sana ada pembatas antara jalan ini dan kota Our." semua yang ada di sana mengikuti langkah kaki Ji. Meskipun sangat banyak pertanyaan di benak masing-masing.


"Ehm Ji," tegur Boby ragu-ragu. Ji melirik sekilas padanya sembari terus melangkah. "Tak perlu canggung begitu, katakan ada apa?" Ji mengulas senyum manis.


"Bisakah Kau ajarkan bagaimana menggunakan ID ini?" Boby berucap sembari tersenyum kikuk. Demi apapun, Ji seperti tokoh kerajaan Putri Rayneshia El-Arte Corwen dalam anime Log Horizon. Perbedaannya hanya gaun yang berwarna hijau dan telinga runcingnya. Yang lain, terutama rambut perak dan mata abu-abu itu. Benar-benar sama. Cantik dan mempesona. Boby rasanya ingin membawa wanita itu ke dalam kamarnya. Eh?


"Itu mudah." suara seperti desiran angin itu menyentakkan Boby dari lamunannya.


"Sudah kukatakan sebelumnya. ID sudah menyatu dengan darahmu. Lebih tepatnya menyatu dalam segala apa yang ada di dalam dirimu. Kau hanya mengendalikannya dengan pikiran." Boby mengerjapkan mata bingung. Masih mencerna apa yang dikatakan Ji.


"Dan bangsa Ord itu apa?" tanya Alice antusias. Entah mengapa ia lebih tertarik untuk mengetahui siapa wanita ini. Wanita yang seperti makhluk mitologi dalam kisah-kisah fantasi.


Ji mulai menceritakan tentang Negeri Jungle. Seperti yang sebelumnya dijelaskan oleh Lee. Negeri Jungle menggunakan sistem pemerintahan monarki. Yakni sistem yang di pimpin oleh seorang Raja. Negeri Jungle memiliki berbagai kota besar maupun kecil. Istana sendiri berdiri dengan megah di pusat kota Our. Kota paling besar di Negeri ini.

__ADS_1


Negeri Jungle sekarang di perintah oleh Raja Ney dan permaisuri cantik bernama Jae. Raja dan Ratu memiliki satu pangeran yang tampan. Di kenal ramah dan baik hati seperti penduduk Negeri Jungle. Negeri ini dihuni oleh dua bangsa mayoritas. Bangsa Hou dan Bangsa Ord.


"Bangsa Hou?" tanya Boby sembari menautkan alis. Aland dan Grace serta Alice mendengarkan dengan seksama.


"Ya, Bangsa Hou adalah penduduk asli Negeri ini. Seperti Lee. Sedangkan kami bangsa Ord adalah pendatang. Tapi itu sudah ribuan tahun yang lalu. Kami berdampingan hidup dengan damai." Grace melirik Aland dengan senyuman jenaka.


"Sepertinya kita harus menyarankan pada penduduk bumi untuk hidup bersama Alien," bisiknya pada Aland. Seperti biasa, lelaki itu diam mengacuhkan. Membuat Grace mendengus kesal.


Sesaat hening menyelimuti. Hanya suara-suara alam yang tak jelas terdengar di sekitar mereka.


"Nah, kita sudah sampai." suara Ji menyadarkan mereka yang larut dalam pikiran masing-masing. Ji berdiri di hadapan sebuah pembatas antara jalan ini dan Kota Our. Seperti akar beringin berwarna hijau bergantungan. Saat Ji menyingkap pembatas yang lebih seperti tirai itu. Mereka langsung melewati begitu saja.


"Selamat datang di Kota Our!" ucap Ji dengan girang. Ia menatap satu persatu manusia di hadapannya.


Alice mengerjapkan matanya. Baru menyadari bahwa sejak tadi tak berkedip sama sekali. Menatap begitu banyak makhluk yang ia yakini adalah Bangsa Hou. Ya, manusia seperti Lee dan juga mereka, tapi masih berbeda. Mata, rambut dan kulit mereka yang hitam legam sangat kontras dengan pakaian berwarna hijau yang mereka kenakan. Dan buah dada para wanita di sana membuat Grace mendengus kesal.


Mata tajam hitam legam, bahkan warna putih pada mata mereka hampir tak kelihatan. Hewan di sekitar mereka juga sangat mengagumkan. Berbagai macam hewan dengan ukuran tak biasa nampak ada di sana. Anak-anak kecil berlarian. Bermain dengan beberapa hewan seperti beruang. Ya, beruang. Entah spesies yang sama seperti bumi atau bukan, Alice tak bisa memastikan.


"Kami hidup berdampingan dengan hewan dan tumbuhan," ucap Ji seolah tau apa yang ada di pikiran Alice.


"Ini tak adil sekali. Aku tak percaya diri," ucap Grace dengan nada dramatis. Menatap buah dadanya sendiri lalu para wanita yang sedang duduk tertawa di sana. Gaun hijau yang mereka kenakan memang memiliki panjang hingga mata kaki. Tapi bagian dada begitu terbuka. Mengekspos sebagian besar dua gunung kembar itu.

__ADS_1


Sementara itu, Boby masih berdecak kagum. Ia melirik sekilas pada Alice lalu berbisik. "Jika ini adalah mimpi, maka tolong jangan bangunkan Boby."


Alice memutar bola mata jengah, Ia tau Boby salah satu lelaki yang normal dan kadang mesum. pandangan Alice teralihkan pada segerombolan kuda yang lalu begitu saja di hadapan mereka. Kuda bertanduk seperti Unicorn. Tapi tanduk kuda ini berwarna hitam dengan surai hijau.


"Ayo! kita perlu mereka untuk ke Istana!" Ji berucap sembari melangkah mendekat pada gerombolan kuda tadi. Diikuti Alice dan yang lainnya. Ji mendekat secara perlahan dan menyentuh tanduk di atas kepalanya. Matanya terpejam lama. Lalu ia membuka mata dan tersenyum menatap mata kuda itu. Menaikinya dengan cara elegan seperti seorang putri kerajaan.


"Ayo, pilih tunggangan kalian. Istana masih cukup jauh," ucap Ji lalu menatap ujung sebuah puncak istana yang hanya kelihatan itu saja di tempat mereka berdiri sekarang.


"Bagaimana caranya?" tanya Grace ketus. Ia menatap kuda-kuda yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Konsentrasi. Ajak mereka berkomunikasi. Gunakan telapak yang menunjukkan simbol Negeri Jungle. Rayu mereka agar mau berkerja sama." Grace menelan saliva. Menatap bergantian Alice, Boby dan Aland.


"Kau duluan Alice!" ucap Ji dengan senyuman. "Jangan takut, sama seperti kucing itu. Sentuh mereka dan ajak berkomunikasi." Alice menatap kucing dengan mata zamrud yang ada di sebelahnya. Ia saja tak pernah tau bahwa sebelumnya sedang menyatukan pikiran dengan Gre. Nama kucingnya.


"Ayo!" seru Ji lagi, bermaksud menyemangati. Tapi ditanggapi berbeda oleh sang gadis dengan nama Grace. Ia merasa tertantang dan lebih dulu maju. Menatap kuda yang menurutnya kuat tapi memiliki ukuran yang sedang. Perlahan ia mendekat. Semua orang di sana melihatnya. Termasuk beberapa penduduk. Gerombolan mereka memang mencolok karena memiliki kulit putih dan warna mata yang berbeda. Itu lah yang di maksud Lee tadi rupanya.


Grace menyentuh tanduk kuda itu dengan tangannya. Memejamkan mata dan berkonsentrasi penuh. Tapi sesaat kemudian kuda itu bergerak mundur dan lari. Grace mengerjap heran.


"Dia menolakmu," ucap Ji sembari tersenyum. Grace menatap tajam. Melihat senyuman indah itu seperti ledekan. Ia diam menunggu penjelasan.


"Kau harus memposisikan mereka sebagai teman bukan hanya sebuah tunggangan," nasehat Ji lagi. Ia berucap serius kali ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2