
"Aku mau jalan sama kamu, kalau kamu berpakaian rapi gak urakan seperti itu! Malu aku jalan sama kamu! Masa iya aku pakai jilbab, jalan sama cowok celana robek gitu. Anggap aja kita gak kenal dekat, saat di kampus! Nanti kita bertemu lagi di parkiran, saat selesai kuliah!" ucap Salwa tegas.
Dirga langsung menarik tangan Salwa dengan keras, membuat dada mereka terbentur. Salwa semakin tak suka dengan sikap Dirga kepadanya, yang baginya kasar. Salwa langsung menatap Dirga tajam.
"Lepas!" Salwa langsung menghempaskan tangan Dirga dengan kasar.
"Dengar ya! Kita ini tak ada hubungan apa-apa! Kamu tak berhak untuk mengatur hidup aku! Aku bisa saja membatalkan rencana kita! Jangan mentang-mentang kamu membayar aku sebagai guru privat kamu, kamu bisa seenaknya saja! Aku paling tak suka dengan cowok kasar! Semakin minus saja kamu di mata aku! Jangan pernah berharap, aku akan bersikap manis kepada kamu ya!" ucap Salwa tegas. Salwa langsung meninggalkan Dirga begitu saja.
"Wa, Salwa! Iya, aku minta maaf! Aku salah," teriak Dirga. Tetapi Salwa tak mempedulikan ucapan Dirga. Dia tetap melangkahkan kakinya untuk masuk duluan ke dalam.
"Aaahhh ... kenapa lo seperti itu sih, Dir? Lo lihat sendiri 'kan? Salwa marah banget sama lo. Semakin sulit aja lo, mengambil hatinya. Pokoknya, lo harus bisa buat dia memaafkan lo!" Dirga bermonolog dalam hati.
Baru saja dirinya memasuki area kampus, kaum hawa udah pada SKSD. Salwa tak merasa aneh, melihat pemandangan itu. Dia tak peduli, meskipun Dirga menjadi idola di kampus. Dirga tak masuk kriteria laki-laki impiannya. Dia menginginkan pendamping yang sholeh, cerdas, dewasa, dan pastinya tak berpenampilan urakan seperti Dirga.
__ADS_1
"Dirga, lo di panggil ketua jurusan," ucap Vio dan dengan santainya Dirga hanya menjawab iya. Tak ada rasa takut di hatinya. Dirga langsung berjalan menuju ruangan ketua jurusannya.
Dirga kini sudah berada di depan pintu ruangan ketua jurusan, dia langsung mengetuk pintu ruangan itu. Pak Ali, selaku ketua jurusan menyuruh dirinya masuk dari dalam ruangan. Dirga pun langsung membuka ruangan itu. Pak Ali langsung memperhatikan penampilan Dirga dari atas sampai bawah, membuat dia geleng-geleng kepalanya.
"Permisi, Pak! Apa benar Bapak memanggil Saya? Saya dapat info dari teman saya," ucap Dirga sopan.
"Ya, benar. Silahkan kamu duduk! Ada hal yang ingin Saya bicarakan sama kamu!" ucap Pak Ali.
Dirga langsung berjalan mendekati Pak Ali, dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Pak Ali. Dirga terlihat tenang, tak merasa gugup sama sekali. Seakan dirinya tak memiliki salah.
"Baiklah, jika kamu tak tahu. Saya akan jelaskan semuanya. Selama ini, saya mendapatkan laporan dari beberapa dosen mata kuliah yang sedang kamu jalani saat ini. Mereka bilang, kalau kamu sering kali bolos tak masuk kuliah. Kata mereka, kamu juga sering kali tak mengumpulkan tugas, dan juga ikut ujian. Kamu tahu 'kan? Kalau kampus ini, memiliki aturan yang harus di patuhi untuk seluruh mahasiswa atau mahasiswa di kampus ini. Pihak kampus bisa saja melakukan skorsing atau DO, jika mahasiswa atau mahasiswi tak mau menjalankan aturan yang berlaku di kampus ini! Meskipun, mereka bisa membayar uang kuliah. Kami pihak akademis, tetap akan memperhatikan kualitas untuk mahasiswa dan mahasiswi. Agar kelak kalian bisa bersaing di dunia kerja atau lainnya. Jika kalian tak bisa bekerja sama dengan kami, dengan sangat menyesal kami akan memutuskan kontrak kerja sama kalian dengan pihak kampus secara sepihak. Pihak kampus tak ingin, nama baik kampus ini menjadi rusak, karena ulah orang-orang seperti kamu!" ucap Pak Ali tegas.
Nyali Dirga menjadi ciut, karena dia kini sudah memiliki wanita pujaan di kampus itu. Jika dirinya sampai di DO, semakin sulit saja dia untuk mendekati Salwa. Rencana dirinya untuk bisa belajar bersama Salwa, musnah sudah. Hidupnya. menjadi tak karuan. Selama dia dekat dengan Salwa, Dirga mulai terbuka, dan ingin membuka lembaran baru. Dia akan mulai belajar dengan sungguh-sungguh dan rajin kuliah. Tetapi kini, dirinya justru menghadapi situasi yang begitu sulit.
__ADS_1
Mungkin, ceritanya akan berbeda. Jika, dia tak jatuh hati kepada Salwa. Dia justru merasa senang, kalau dia di Do. Dia tak menyukai jurusan ini. Terlebih sekarang, Mami dan Papinya sudah memperbolehkan dirinya untuk menyalurkan hobinya sebagai seorang pelukis. Kalau dia bisa membuktikan, menjadi anak yang baik. Bukan hanya mendapatkan impiannya, dia juga bisa menaklukkan hati Salwa. Wanita pujaan hatinya.
Demi mendapatkan hati Salwa, Dirga akan berhenti menjadi ketua geng motor. Dia akan fokus dengan kuliahnya. Dia akan mulai, memikirkan masa depannya yang indah. Dia akan menunjukkan keseriusannya kepada Salwa.
"Saya mohon, Pak! Jangan pecat saya! Kasihanilah Saya, Pak! Iya, Saya akui saya salah Pak. Selama ini Saya kerap melakukan yang seperti Bapak bilang tadi. Tetapi, Saya janji! Saya janji tak akan mengulanginya lagi! Saya janji akan belajar sungguh-sungguh, tidak bolos lagi, Saya juga akan mengikuti aturan kampus. Jika saya melanggar, saya siap untuk mendapatkan hukuman dari pihak kampus. Tapi kali ini, Saya mohon berikan kesempatan kedua!" Dirga terlihat memohon, agar pihak kampus masih memberikan kesempatan kedua kepadanya. Dia tak akan mengabaikan kesempatan ini, jika di kabulkan.
Wajah Dirga terlihat memelas, dia begitu menyesali perbuatannya dulu. Masa depannya kini terancam hancur, karena ulahnya dulu. Pak Ali tampak memperhatikan Dirga dengan seksama, melihat keseriusan Dirga. Dia takut, kalau Dirga hanya berpura-pura. Tetapi nantinya, akan mengulanginya lagi.
"Kamu yakin akan berubah? Apa hanya berpura-pura saja?" sindir Pak Ali.
"Iya, Pak. Saya yakin, dan Saya janji! Saya janji akan menjadi mahasiswa yang baik dan bertanggung jawab pada kuliah Saya!" Sahut Dirga.
"Saya akan coba bicarakan dengan pihak kampus dan juga dosen-dosen yang telah melaporkan kamu! Berdoa saja, semoga pihak kampus atau pihak dosen yang melapor masih mau memberikan kesempatan kepada kamu untuk bisa terus kuliah di sini! Pesan Saya, tolong kamu rubah juga penampilan kamu! Tak pantas ke kampus, berpenampilan seperti itu! Seperti anak brandal saja. Tak seperti anak kuliah," ucap Pak Ali.
__ADS_1
"Tugas kamu sekarang, tunjukkan sikap baik kamu! Jadilah mahasiswa yang memiliki sopan santun, dan bertanggung jawab! Agar nantinya, menjadi pertimbangan untuk para dosen yang melaporkan kamu," ucap Pak Ali dan Dirga mengiyakan. Dia akan menjalankan, perintah Pak Ali.