Pujaan Hati Ketua Geng Motor

Pujaan Hati Ketua Geng Motor
Resmi Pacaran


__ADS_3

"Gimana Wa? Mau ya terima aku? Aku janji, insya Allah akan menjadi imam seperti yang kamu inginkan, dan aku akan menunjukkan keseriusan aku dengan melamar kamu ke Bunda kamu. Jika Bunda kamu merestui hubungan kita, kita langsung nikah aja ya Wa! Pacarannya nanti setelah nikah aja, gimana? Sebentar lagi 'kan udah mau skripsi, setelah lulus aku langsung kerja. Sekarang, aku masih punya tabungan kok. Cukup bisa membiayai kehidupan kita, dan kuliah kamu," ucap Dirga dengan percaya diri.


"Kamu yakin gak ada perasaan gitu sama aku Wa? Masa sih aku gak menarik bagi kamu? Setelah beberapa bulan kita bersama, masa iya kamu gak ada perasaan sama aku Wa?" Desak Dirga. Wajahnya terlihat memelas, membuat Salwa merasa bingung.


"Gimana ya Dir, aku juga bingung. Kalau sekadar pacaran sih oke aja, gak masalah. Tapi, kalau urusan nikah atau tunangan, itu 'kan harus dibicarakan dulu sama bunda aku di kampung. Aku gak bisa langsung memutuskan begitu saja. Kalau bunda aku setuju, aku jadi tenang. Soalnya, aku tuh gak ada rencana mau nikah cepat. Aku ingin membahagiakan bunda dan adik aku dulu. Tak terpikir olehku untuk nikah muda," jelas Salwa.


"Ya udah, iya! Aku ngerti. Nanti aku coba bicarakan sama orang tua aku dulu, biar dia bisa atur waktu untuk bisa mendatangi bunda kamu. Kamu juga tolong bicarakan dulu sama bunda kamu lewat telepon! Atau mungkin aku sendiri yang bicara sama bunda kamu, kalau aku ingin melamar kamu jadi istri aku?" Tanya Dirga.


"Biar aku saja dulu yang bicara sama bunda, takutnya dia nanti salah paham. Dia nanti malah mengira aku hamil duluan, makanya ingin cepat-cepat nikah. Emang kenapa sih Dir, gak nunggu kita lulus, dan kerja dulu? Kamu gak sabaran banget sih," protes Salwa. Dia menjadi kesal dengan sikap Dirga yang terkesan memaksa dia.


"Kamu tahu, kenapa aku sampai seperti ini?" Tanya Dirga, dan Salwa menggelengkan kepalanya.


"Aku kasih tahu ya sama kamu! Semua ini, aku lakukan karena aku gak ingin kehilangan. Aku tak rela, jika kamu dimiliki laki-laki lain! Makanya, aku ingin segera menghalalkan kamu," ungkap Dirga. Salwa salut dengan perjuangan Dirga, yang terus meyakinkan hatinya untuk menerima dia di hidupnya.


Dirga mengajak Salwa untuk mengobrol sambil makan. Selain perutnya sudah terasa lapar, dia juga tak ingin makanan menjadi dingin karena mereka asyik mengobrol. Hingga akhirnya mereka mengobrol sambil makan.

__ADS_1


"Dir, aku sudah memutuskan. Sepertinya, aku masih butuh waktu. Gimana kalau kita coba jalanin dulu? Kita saling kenal satu sama lain dulu? Rasanya, terlalu singkat kalau kita langsung bertunangan apalagi menikah," ucap Salwa di sela-sela waktunya dia makan.


"Iya. Tapi ... boleh ya, aku secepatnya menemui Bunda kamu? Aku ingin segera melamar kamu. Paling tidak, kita ada ikatan dulu. Semoga saja, Bunda kamu mau menerima aku," ucap Dirga. Dirga masih saja terus mendesak Salwa.


"Kamu keras kepala banget ya jadi orang? Dari tadi aku jelasin, masih aja ingin dituruti keinginan kamu. Ya udah, terserah kamu aja 'lah! Kalau kamu bisa menyakinkan Bunda aku, aku siap menikah dengan kamu," ucap Salwa. Membuat mata Dirga berbinar-binar. Dia langsung menghentikan makannya. Inilah saat yang dia nanti-nantikan sejak tadi.


"Beneran, Serius kamu? Jadi, kamu menerima aku? Jika bunda kamu merestui hubungan kita, kamu mau menikah dengan aku secepatnya?" Tanya Dirga untuk memastikan. Salwa pun akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya, Sayang. Aku sangat bahagia. Mulai hari ini, aku akan memanggil kamu dengan panggilan Sayang. Kamu pun, harus memanggil aku Sayang! Agar satu kampus tahu, kalau aku sudah memiliki pujaan hati yaitu kamu.


Dinner malam ini begitu berkesan, karena akhirnya keduanya sepakat menjalin hubungan. Kerja keras Dirga untuk berubah, tak sia-sia. Pada akhirnya, dia menemukan wanita yang tepat untuknya.


"Mami, Papi, kok tahu sih aku ada di sini sama Salwa? Kalian lagi di sini juga?" ucap Dirga berpura-pura. Seolah-olah dirinya tak tahu, kalau kedua orang tuanya datang.


"Tadi Mami sama Papi lagi jalan-jalan. Terus melihat Kafe ini, dari luar tempatnya udah terlihat romantis. Tadi Papi lihat mobil kamu di parkiran, makanya kami memutuskan untuk mencari kamu di dalam. Ternyata, kalian di sini," ucap Mami Poppy.

__ADS_1


"Oh iya, Mi. Kami berdua sudah resmi pacaran. Salwa sudah menerima aku sebagai pacarnya. Sebenarnya, aku ingin mengajak dia langsung menikah atau tunangan dulu. Tapi, kata dia Mami dan Papi harus menemui bundanya dulu di kampung. Kalau Bundanya setuju, Salwa juga setuju menikah sama aku. Aku minta waktunya kalian ya, untuk mendampingi aku melamar Salwa!" ungkap Dirga.


"Selamat ya, Sayang! Semoga hubungan kalian dilancarkan, sampai ke jenjang pernikahan! Rasa cinta kalian semakin besar, seiringnya waktu," ucap Mami Poppy, dan diaminkan oleh Dirga. Salwa pun mengaminkan dalam hati.


Kedua orang tua Dirga akan mencoba mengatur waktu, untuk bisa menyenangkan hati sang anak. Dia akan menuruti permintaan sang anak, untuk melamar Salwa sebagai pendamping hidup sang anak.


"Mami dan Papi akan usahakan secepatnya mengatur jadwal, agar kalian bisa segera bertunangan. Bahkan menikah," ucap Mami Poppy. Membuat Salwa menelan salivanya. Ibu dan anak sama-sama bersemangat.


"Ya sudah, lanjut lagi deh kalian! Mami sama Papi juga masih ingin berduaan. Masih ingin kencan. Memangnya, kalian berdua saja yang bisa mesra-mesraan," ucap Mami Poppy.


"Sip! Met senang-senang deh. Setelah selesai makan, kami juga pulang kok," ucap Dirga dan diiyakan sang mami.


Kedua orang tua Dirga sudah pergi. Mereka pun sudah selesai makan. Dirga langsung meraih tangan Salwa, dan memakaikan cincin yang dia beli ke jari tangan Salwa. Salwa tak menolaknya lagi. Perlahan, Salwa pun merasa yakin kalau Dirga adalah laki-laki yang baik untuknya. Terlebih, kedua orang tua Dirga pun sangat welcome kepadanya. Menerima dia apa adanya, meskipun dia tak berasal dari orang berada.


"Mulai sekarang, kita harus selalu bersama di kampus!" ucap Dirga.

__ADS_1


"Ya gak gitu juga kali. Aku juga 'kan punya teman, kamu pun punya teman. Saat di kampus, tak harus selalu bersama," protes Salwa.


Baru berpacaran saja, Dirga sudah mulai terlihat posesif. Dia selalu ingin bersama Salwa. Salwa merasa keberatan, dia ingin Dirga seperti biasa saja. Saat di kampus.


__ADS_2