
Suara adzan di ponsel Salwa maupun Dirga sudah berkumandang. Keduanya tampak membuka matanya. Jika Salwa memilih untuk langsung mengambil air wudhu, dan sholat. Dirga justru terlihat masih bermalas-malasan di ranjang. Dia masih ingin tidur, matanya masih mengantuk.
Sebelum sholat, Salwa mencoba menghubungi Dirga, untuk mengingatkan sholat. Mendengar ponselnya berbunyi. Dirga langsung mengambil ponsel itu, dan menerima panggilan telepon dari kekasihnya. Dia terpaksa membuka matanya kembali. Tadi dia sempat terbangun. Namun akhirnya, dia memilih untuk tidur kembali.
"Halo. Assalamualaikum," ucap Dirga. Suaranya masih terdengar serak, suara khas orang bangun tidur.
"Waalaikumsalam. Ayo sholat dulu yuk! Nanti, kalau mau tidur lagi enggak apa-apa!" Salwa mengingatkan.
"Iya, Sayang. Makasih ya, udah bangunin aku!" ucap Dirga dan Salwa mengiyakan.
Mereka kini sholat masing-masing di tempat berbeda. Setelah sholat, Dirga keluar dari kamarnya, dan mengetuk pintu kamar Salwa. Mendengar suara pintu kamarnya di ketuk. Salwa langsung membuka pintu kamar itu.
__ADS_1
"Kenapa? Aku mau siap-siap, terus pulang," ungkap Salwa.
"Sarapan dulu dong, Sayang! Setelah itu, kita berangkat! Aku antar kamu pulang ya! Aku enggak membiarkan calon istri aku, pulang sendiri naik kendaraan umum," ucap Dirga.
Tentu saja Salwa merasa tersanjung, karena Dirga begitu perhatian kepadanya. Terlihat sekali, kalau Dirga begitu mencintainya. Dirga mengajak Salwa berjalan-jalan keluar, sekalian sarapan pagi. Kini keduanya berjalan keluar hotel, menikmati suasana Yogyakarta di kala pagi hari.
"Besok, setelah acara aku nginep dulu ya di rumah? Aku ingin melepas rindu dulu sama bunda dan adik aku. Mumpung aku di Yogyakarta. Besoknya, aku baru kembali ke sini," ungkap Salwa. Sebenarnya, Dirga merasa berat. Sehari tak bertemu, seakan tak bertemu berabad-abad. Namun, akhirnya. Dirga mengiyakan pertanyaan Salwa. Dia tak boleh bersikap egois, kepada Salwa.
"Nanti saja dibahasnya! Menikah saja belum, udah bahas begituan," protes Salwa.
Dirga justru tertawa terbahak-bahak, karena benar apa yang dikatakan Salwa. Pikiran dia terlalu jauh. Menikah saja belum, ini sudah bahas masalah bulan madu. Hidupnya begitu sempurna, dengan hadirnya Salwa di hidupnya. Dirga terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Mereka memutuskan ke pasar, untuk membeli makanan tradisional di sana. Setelah puasa berjalan-jalan, mereka memutuskan kembali ke hotel untuk sarapan pagi. Aneka macam menu sarapan pagi tersedia di hotel itu. Mereka kini menikmati sarapan pagi bersama.
"Sebentar, aku terima telepon dari mami dulu ya!" Ucap Dirga dan Salwa menganggukkan kepalanya, karena mulutnya sibuk menguyah makanan.
Saat sarapan, ponsel Dirga berbunyi. Dirga langsung menerima panggilan telepon dari sang mami, yang menanyakan keberadaan mereka berdua. Sang mami dan papi, ikut menyusul mereka untuk sarapan bersama.
Mereka terlihat harmonis. Keluarga Dirga menerima Salwa dengan baik. Meskipun Salwa bukan terlahir dari keluarga berada. Mereka tak bersikap sombong, kepada Salwa. Salwa terlihat dekat dengan keluarga Dirga.
"Mi, Pi, setelah sarapan. Aku langsung siap-siap untuk berangkat mengantarkan Salwa ya! Oh iya, Pi. Salwa sekalian mau check out. Soalnya dia mau menginap dulu di rumah orang tuanya," jelas Dirga dan sang papi mengiyakan.
Maaf ya, author baru up lagi🙏
__ADS_1