
"Aku yakin, kalau kamu tak akan melakukannya! Lagi pula, aku gak mau punya suami model kamu. Udah ah, aku malas berdebat sama kamu! Jangan ganggu aku! Satu lagi, aku juga gak suka sama cowok yang gak berpuasa. Sama Allah aja sudah berani melanggar, apalagi sama aku. Mulai besok pagi, aku gak akan bangunin kamu sahur," ucap Salwa ketus. Semakin Salwa menolaknya, semakin Dirga bersemangat kepadanya. Dia akan menunjukkan kepada Salwa, kalau dia mampu menuruti permintaan Salwa.
Mata kuliah jam kedua pun sudah selesai. Saatnya mereka pulang. Salwa masih berpuasa, dia hanya menemani sahabatnya yang sedang tak berpuasa. Dirga langsung merapikan alat tulisnya, dan membawa tasnya. Dia takut, kalau Salwa akan meninggalkan dirinya pulang.
Benar saja, Salwa sudah berjalan ke arah luar. Dia ingin langsung pulang, hatinya terasa kesal. Dirga berlari mengejarnya, dia juga berteriak memanggil Salwa. Tetapi, Salwa terus saja melangkahkan kakinya. Tak mempedulikan Dirga. Hingga akhirnya, Dirga berlari mendahului Salwa. Kini dirinya berdiri di hadapan Salwa.
"Kita les privatnya mulai besok aja! Aku lagi gak mood," ucap Salwa tegas.
"Oh, lo guru privatnya Dirga, Wa? Sejak kapan, Wa?" Tanya Kanaya.
"Baru akan jadi guru privat dia. Tapi, gak tahu juga deh. Belum mulai aja, gue udah pusing duluan urusan sama dia," jelas Salwa.
Ternyata, Dirga tidak patah semangat. Dia tetap meminta Salwa untuk bisa mengajarkan dia hari ini. Dia ingin Salwa mengajarkan dia dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan Pak Susilo. Dirga memohon kepada Salwa. Dia juga mengungkapkan kepada Salwa, kalau dirinya terancam di DO.
"Aku mohon sama kamu, Wa! Pak Ali memberikan waktu untukku untuk berubah. Aku benar-benar ingin berubah. Aku mohon dukungan kamu! Hanya kamu yang bisa menyelamatkan aku," ungkap Dirga. Membuat Salwa menjadi tak tega. Akhirnya, dia mau di ajak Dirga ke rumahnya. Untuk mengajarkan Dirga.
"Yes! Dirga gitu loh!" ucap Dirga dalam hati. Untungnya dia tertawa bahagia dalam hati, jika Salwa tahu. Pasti Salwa langsung membatalkannya.
Kini keduanya sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah Dirga. Perjalanan ke rumah Dirga cukup lama memakan waktu sekitar 1 jam. Selama perjalanan, tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir keduanya. Dirga fokus mengendarai motor sportnya, sedangkan Salwa memilih memandang ke arah jalanan selama perjalanan.
Mereka sudah sampai di rumah Dirga. Dirga langsung memarkirkan motornya diparkiran rumahnya. Kemudian mengajak Salwa masuk ke dalam rumah. Awalnya tadi, Dirga ingin minum di kantin. Dia lupa kalau lagi puasa. Berhubung Salwa tadi bicara seperti itu, Dirga memutuskan untuk menahan rasa hausnya, dan melanjutkan puasanya.
"Tunggu sebentar ya! Aku ke kamar dulu, mau ganti baju. Kalau kamu mau sholat, sholat aja dulu! Bawa mukenanya 'kan?" Ujar Dirga dan Salwa mengiyakan. Rumah Dirga sangat mewah, berbanding terbalik dengan rumahnya di kampung.
Dirga langsung naik ke kamarnya. Dia langsung berganti pakaian yang santai, hanya menggunakan celana pendek rumahan, dan juga kaos tanpa kerah. Setelah itu, dia langsung menuruni anak tangga. Turun lagi ke bawah. Dia berencana sholat di lantai bawah. Salwa memandang wajah Dirga yang terlibat tampan.
"Ganteng sih sebenernya kamu. Tapi, gaya kamu urakan banget Dir. Semoga saja kamu bisa berubah, menjadi lebih baik lagi," ucap Dirga.
"Kenapa lihatin aku? Ganteng ya aku?" goda Dirga sambil memainkan alisnya.
"Geer!" sahut Salwa ketus. Menutupi rasa malunya. Wajahnya berubah memerah.
__ADS_1
"Kalau mau sholat, wudhu di sini! Aku juga mau sholat. Tapi, kita sholat masing-masing dulu aja ya! Kamu belum jadi istri aku. Lagi pula, sudah lama juga aku gak sholat. Masih harus banyak belajar," ucap Dirga jujur. Antara kaget dan salut yang dirasakan Salwa saat itu, karena Dirga berani berkata jujur.
"Aku itu, sangat minim agama. Padahal dulu, aku pernah sekolah di sekolah islam. Tapi, kamu tenang aja! Demi kamu, aku akan belajar lagi. Aku ingin menjadi imam yang kamu impikan. Semoga kami sabar melewati semua prosesnya," ungkap Dirga.
"Kamu itu percaya diri banget ya? Siapa juga yang mau nikah sama kamu. Aku gak mau nikah muda, masih banyak yang ingin lakukan. Aku ingin membahagiakan Ibu dan adik aku dulu, sebelum aku menikah," sahut Salwa.
"Menikah, tak akan menghambat untuk melakukan hal itu. Aku tak akan melarang kamu, untuk mewujudkan keinginan kamu. Justru aku akan mendukung kamu. Kamu juga ya dukung aku! Bantu aku pasarkan lukisan hasil karya aku ya! Mami bilang, kalau aku bisa lulus dengan nilai yang baik. Papi akan membuatkan aku galeri lukisan. Mami juga rencananya akan membuatkan tempat untuk aku bisa melukis, di rooftop. Dia juga akan membelikan aku perlengkapan untuk melukis yang lebih bagus lagi. Makanya, tolong bantu aku untuk mewujudkannya ya!" ucap Dirga.
"Memangnya, kamu bisa melukis? Aku lihat dong! Ini lihat buktinya. Aku gak percaya kamu bisa melukis," Salwa berkata kepada Dirga.
Setelah sholat, Dirga akan menunjukkan lukisan hasil karyanya. Dia juga berniat melukis Salwa, wanita pujaan hatinya. Kini mereka sedang sholat masing-masing. Sesuai janjinya Dirga tadi. Setelah selesai sholat, Dirga langsung naik ke kamarnya lagi. Untuk mengambil lukisan-lukisan yang sudah dia buat.
Salwa dibuat terpanah, melihat lukisan-lukisan yang dibuat Dirga. Dibalik sikap urakan dia, tersimpan jiwa seni di darahnya. Lukisan yang dibuat Dirga sangat bagus. Salwa benar-benar tak menyangka. Ternyata, Dirga memiliki kelebihan yang tak miliki Salwa.
"Gimana menurut kamu? Kurang apa Wa lukisan-lukisan aku? Jujur aja, gak apa-apa. Aku butuh masukan dari kamu," tanya Dirga.
"Perfect banget, Dir! Kamu memang berbakat. Aku salut sama kamu. Padahal, penampilan kamu urakan. Kamu juga terkesan cuek sama orang yang belum dikenal. Tapi, ternyata kamu memiliki kelebihan yang tak aku miliki. Meskipun, aku wanita. Aku gak bisa loh membuat lukisan. Lanjutkan Dir! Aku yakin kamu bisa jadi pelukis handal, jika ditekuni!" puji Salwa.
"Makasih, ya! Aku senang, karena kamu menyukai lukisan-lukisan yang aku buat. Sebagai hadiah, aku ingin melukis kamu sekarang. Kamu mau ya jadi model aku," ucap Dirga sambil terkekeh. Dirga tampak menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
Salwa akhirnya mau dijadikan model untuk Dirga. Dirga begitu bersemangat, untuk membuat sebagus mungkin. Tangan Dirga begitu lihai, melukis wanita pujaan hatinya.
"Udah belum? Pegel aku Dir," ucap Salwa.
"Iya, udah. Udah jadi sketsanya. Aku tinggal kasih warna aja," ucap Dirga. Salwa merasa penasaran. Dia berjalan mendekati Dirga. Dia memuji hasil karya yang Dirga buat. Dirga seperti seorang pelukis berpengalaman. Sketsa yang Dirga buat, sangat mirip dengan aslinya.
"Ya Allah Dir, aku salut banget sama kamu. Bagus banget, Dir. Kamu memang berbakat. Aku akan dukung kamu, aku yakin kalau kamu bisa jadi pelukis yang hebat," puji Salwa.
Dirga memberanikan diri menggenggam tangan Salwa. Tapi kali ini, Salwa tak marah padanya. Seakan dirinya terhipnotis, dengan pesona Dirga. Posisi mereka sangat dekat, netra mereka saling bertemu.
"Please, jangan tinggalkan aku! Aku yakin, kalau kamu adalah wanita yang tepat untuk aku. Entah kenapa, saat aku bertemu kamu. Aku merasakan yang berbeda, berada di dekat kamu. Jika kamu berada di sampingku, mendukung aku di setiap langkahku. Aku yakin, pasti aku bisa sukses. Aku ingin berubah, Wa! Aku rasa, aku sudah cukup main-mainnya. Saatnya aku kembali ke jalan yang lurus. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua kalinya untukku. Aku ingin menjadi anak yang berguna, dan juga laki-laki yang berguna untuk istriku dan Anak-anakku nanti. Kamu mau gak kasih kesempatan kepada aku, untuk membuktikannya? Hidup aku sudah berada di ujung tanduk. Aku sudah terancam akan di DO. Kalau aku gak berubah. Masa depan aku akan hancur. Dulu, aku memang tak peduli dengan semua ini. Justru itu yang aku inginkan, sebagai bentuk protes aku kepada kedua orang tuaku. Tapi sekarang, semuanya berubah. Semenjak hadirnya kamu di hidupku, aku jadi memiliki semangat baru. Membuktikan, kalau aku mampu," ungkap Dirga. Membuat Salwa tak mampu berkata-kata lagi. Dia bingung, harus seperti apa.
__ADS_1
"Aku ingin lihat dulu perubahan kamu! Tugas kamu yaitu meyakinkan aku! Aku gak suka kamu pakai celana robek, aku ingin kamu berhenti dari geng motor kamu, aku ingin kamu belajar sungguh-sungguh. Sholat dan puasanya juga jangan di tinggal! Usahakan sholat tarawih di mesjid. Intinya, berubah menjadi orang yang berguna, dan lebih baik lagi. Jangan merasa jadi orang yang paling tak beruntung di dunia ini, karena di luaran sana masih banyak orang yang lebih tak beruntung dari kamu. Tapi balik lagi, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya! Jika kamu merasa, orang tua kamu selalu sibuk. Biarkan saja! Urus hidup kamu sendiri, cari kebahagiaan kamu sendiri dengan hal yang positif! Kamu harusnya beruntung, bisa memiliki segalanya. Kamu hanya perlu berpikir, hal positif apa yang ingin kamu lakukan untuk memanfaatkan semuanya. Jangan terbuang sia-sia!"
Dirga tampak menyimak semua yang Salwa ucapkan. Dia akan berusaha mewujudkan permintaan Salwa. Apa yang dikatakan Salwa memang benar. Jangan pernah merasa, hidupnya yang paling menderita atau malang. Di luar sana banyak yang lebih darinya. Dia akan mencari kebahagiaan sendiri, terlebih saat ini sudah ada Salwa.
Setelah menyelesaikan lukisannya, Dirga mulai belajar dengan Salwa. Mulai membahas soal dari Pak Susilo satu persatu. Salwa sengaja tak langsung menjawab semua soal-soal itu sendiri. Dia lebih memilih mengajarkan Dirga, agar suatu hari nanti Dirga bisa menjawab pertanyaan tanpa bantuan dirinya lagi.
Salwa senang, karena Dirga begitu bersemangat untuk cepat bisa. Tak butuh waktu lama, Dirga mulai mengerti, dan bisa mengerjakan sendiri. Aslinya, Dirga anak yang cerdas. Sayangnya, dia pemalas. Ditambah lagi, dia tak menyukai pelajaran itu. Membuat dirinya menjadi masa bodo.
"Tuh 'kan kamu bisa! Kamu itu aslinya pintar, aku terangkan seperti itu saja. Bisa langsung mengerti. Hanya saja kamu pemalas, masa bodo. Sekarang berarti, gak akan ada drama gak mengumpulkan tugas dan gak ikut ujian lagi ya! Jangan malu-maluin aku! Kamu itu les biar ada perubahan. Kalau ada yang gak paham, lebih baik kamu tanya ke aku! Jangan justru malah gak di kerjakan," ucap Salwa.
"Iya, dong! Sekarang 'kan udah ada kamu. Kalau aku gak bisa, aku tinggal tanya kamu. Makanya, aku tuh sudah yakin banget sama kamu. Kamu itu calon ibu yang baik, untuk Anak-anak kita nanti," ucap Dirga dengan penuh keyakinan.
"Gak, ah! Harus bisa mengerjakan sendiri nanti. Udah, jangan mikir terlalu jauh! Aku juga masih belum mau nikah muda. Jalani aja dulu! Aku ingin lulus kuliah dulu," ucap Salwa.
"Aku justru, jadi pingin cepat-cepat nikah. Sepertinya seru punya istri, gak merasa kesepian lagi. Ada yang nemani tidur, ada yang masakin, ada yang bisa di ajak ngobrol. Mau ya, Wa? Aku mau ngomong sama Mami dan Papi Ah. Biar mereka lamarkan aku ke ibu kamu. Ingat, kalau di lamar, gak boleh nolak! Nanti kamu jodohnya jadi jauh loh," ujar Dirga.
"Jangan macem-macem deh! Aku belum mau nikah, jangan paksa aku! Kita itu baru kenal Dir, aku itu orangnya judes, nyebelin, dan keras kepala. Kamu bakal kena serangan jantung, nikah sama aku," sahut Salwa.
"Biarin, aku gak takut! Aku 'kan pejuang tangguh. Gak apa-apa nanti kena serangan jantung, yang penting kamu udah jadi milik aku," ungkap Dirga
Salwa tampak kesal. Dulu, sebelum mengenal Salwa. Tak pernah terpikir olehnya, untuk menjalin hubungan dengan kaum hawa. Meskipun, banyak wanita yang mengejarnya.
Tak terasa, saat itu jam menunjukkan pukul 16.00. Salwa sudah terlihat lelah. Sejak tadi dia sibuk mengajarkan Dirga. Salwa pamit ingin pulang.
"Pulangnya, habis sholat magrib aja! Please temani aku buka puasa. Kita buka puasa bersama. Pulangnya nanti aja ya!" Dirga tampak merayu Salwa.
"Ya udah, iya. Belajarnya udah dulu ya! Aku capek. Aku sholat ashar dulu deh, ngantuk aku soalnya," ucap Salwa.
"Ya udah, tiduran aja dulu di sofa! Nanti, kalau udah saatnya buka puasa. Nanti aku bangunin kamu! Apa kamu mau tidur di kamar aku? Jilbabnya buka aja Wa, takutnya kamu kepanasan," ucap Dirga.
"Ngaco kamu! Aku ini bukan istri kamu, tak baik tidur di kamar cowok. Aku lebih memilih menahan rasa kantuk aku. Ya udah, aku mau sholat dulu aja," jelas Salwa. Salwa pun tak ingin membuka jilbabnya. Dia hanya membaringkan tubuhnya di sofa, setelah dia sholat ashar.
__ADS_1
Namun perlahan, dirinya justru malah tertidur. Saat Dirga ke kamarnya. Saat dirinya turun, Dirga melihat Salwa sedang tidur. Dia pun memilih mendiamkannya, memberi kesempatan kepada Salwa untuk tidur.
Dirga sudah menyuruh sang ART, untuk menyiapkan makanan untuk mereka berbuka puasa nanti. Dia juga minta dibelikan dua porsi es campur untuk dirinya dan juga Salwa.