
Baik Dirga maupun Salwa sudah bersiap-siap untuk berangkat. Salwa sudah merapikan tas pakaian yang dia bawa. Kemudian keluar dari kamarnya. Dirga sudah menunggu di pintu kamarnya.
"Yang ...," panggil Dirga. Dia ragu melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Jangan bilang, kamu enggak mengizinkan aku menginap! Aku sudah jelaskan tadi sama kamu, aku harap kamu mengerti!" ucap Salwa tegas.
"Iya. Maaf deh ...! Ayo kita jalan sekarang! Takut terlalu siang," ucap Dirga dan Salwa mengiyakan.
Dirga mengetuk pintu kamar orang tuanya, untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya. Mendengar suara pintu kamarnya di ketuk, Mami Poppy langsung bergegas membuka pintu kamarnya. Ternyata, sang anak yang mengetuk pintu kamarnya.
"Mau berangkat sekarang, kalian?" Tanya Mami Poppy kepada sang anak.
"Iya. Biar Dirga cepat sampai lagi. Kita 'kan mau ke sana juga," ucap Dirga kepada sang mami.
Dirga dan Salwa pamit kepada Mami Poppy dan Papi Adrian, mereka mencium tangan keduanya secara bergantian. Dirga yang membawa tas pakaian Salwa ke lobby hotel, dia tak membiarkan Salwa yang membawanya. Mereka pergi dengan di antar supir. Perjalanan ke rumah Salwa membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dari Kota Yogyakarta. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Salwa.
"Aku kok degdegan ya. Jantung aku berpacu cepat. Semoga saja, Bunda tak menolak lamaran aku nanti. Dia menerima aku sebagai calon suami anaknya, dan diperbolehkan menikah cepat dengan kamu," ungkap Dirga dan diaminkan oleh Salwa. Salwa pun berharap, kalau sang bunda tak menolak Dirga. Salwa sudah mulai menyayangi Dirga.
__ADS_1
Salwa berharap, sikap Dirga tak akan berubah hingga nanti. Dirga tetap menjadi laki-laki yang baik untuknya. Laki-laki yang selalu menyayangi dia, sebagai pengganti ayahnya yang sudah tiada.
"Nanti kamu datang jam berapa ke rumah akunya?" Tanya Salwa.
"Setelah aku sampai hotel. Aku langsung siap-siap berangkat lagi. Biar pulangnya enggak terlalu malam, kembali ke hotel," jelas Dirga.
Mereka sudah sampai di depan rumah orang tua Salwa. Rumah yang sangat sederhana, sangat berbanding terbalik dengan rumah Dirga. Rumah itu berukuran kecil. Namun, sangat asri.
"Kamu turun dulu enggak, ketemu bunda? Maaf ya! Rumah aku tak semewah, rumah kamu! Aku bukan orang kaya seperti kamu," ucap Salwa.
"Aku tak akan mempermasalahkan hal ini. Aku cinta sama kamu. Aku sudah menerima kamu apa adanya, seperti kamu menerima aku apa adanya. Iya dong, aku mau turun. Aku ingin bertemu sama bunda kamu," ucap Dirga.
"Assalamualaikum, Bun. Perkenalkan aku Dirga," ungkap Dirga. Bundanya Salwa langsung memperhatikan Dirga secara keseluruhan. Kesan pertama yang sang bunda lihat, Dirga anak yang baik. Dia bersikap sopan. Penampilan Dirga yang sekarang pun sudah rapi, tak urakan seperti dulu. Semua Dirga lakukan, demi mewujudkan keinginan Salwa untuk berubah.
"Ayo masuk, Dir! Maaf ya, rumahnya Salwa sederhana," ucap bundanya Salwa.
"Iya, Bun. Enggak apa-apa kok! Bunda tenang saja. Aku ini bukan mencari harta kekayaan. Aku pun mencintai Salwa apa adanya," ucap Dirga dengan percaya diri.
__ADS_1
"Memangnya, kamu sudah yakin ingin menikah dengan Salwa? Kamu sudah siap untuk menjadi kepala keluarga? Tanggung jawab sebagai seorang suami itu tak mudah. Apalagi, kalian berdua masih sangat muda," ucap bundanya Salwa.
Dengan mantap, Dirga mengucap dirinya sudah siap lahir batin. Sebentar lagi mereka akan lulus kuliah. Dirga akan langsung bekerja di perusahaan sang papi, agar dia bisa memberi nafkah kepada Salwa. Dia mencoba menyakinkan bundanya Salwa.
"Ya sudah, nanti Bunda coba bicarakan dulu sama Salwa ya! Keputusannya nanti ya! Orang tua kamu mau datang kapan rencananya?"
"Setelah aku sampai di hotel. Aku langsung ke sini lagi, Bun. Makanya, aku mau langsung pamit pulang ya Bun. Biar cepat sampai ke sini lagi!" ucap Dirga.
Dirga pamit pulang, tak lupa mencium tangan bundanya Salwa. Salwa dan sang bunda mengantarkan Dirga sampai masuk ke mobilnya. Mobil Dirga akhirnya pergi meninggalkan rumah Salwa.
Setelah Dirga pergi, sang bunda langsung menanyakan kepada Salwa tentang perasaan yang Salwa rasakan saat ini. Pada dasarnya, sang bunda menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dia menyerahkan semuanya kepada sang anak, karena kelak nantinya sang anak yang akan menjalankan rumah tangga bersama Dirga.
"Sebenarnya, Salwa ingin kerja dulu Bun. Salwa belum mau nikah cepat-cepat. Tapi Dirga, sepertinya sudah enggak sabar ingin segera menikah. Dia ingin cepat-cepat sah. Dia bilang, dia enggak akan menghalangi Salwa. Jika Salwa ingin bekerja. Meskipun nantinya sudah menikah, dia tak akan mengekangnya," ungkap Salwa.
"Terus, kamu yakinnya gimana? Sudah merasa yakin, ingin menikah sama dia? Kalau kamu yakin, Dirga laki-laki yang baik, dan bertanggung jawab. Ya sudah, jangan di tunda-tunda lagi niat baik kalian! Disegerakan saja menikahnya! Insya Allah lebih baik, daripada kalian berpacaran. Tapi, kalian harus saling mengerti satu sama lain, karena kalian masih sama-sama muda. Masih sama-sama egois!" sang bunda mencoba mengingatkan sang anak.
Selama menjalani hubungan dengan Dirga. Salwa merasa nyaman. Dia sudah merasa yakin, kalau Dirga akan menjadi imam yang baik untuknya. Laki-laki yang akan akan selalu mencintai dan menyayangi dirinya. Salwa bisa melihat ketulusan cintanya Dirga kepadanya.
__ADS_1
"Kamu masih ada waktu beberapa jam lagi untuk memutuskan! Pikirkan secara baik-baik, agar kamu tak menyesal di kemudian hari! Keputusan yang kamu ambil, adalah keputusan terbaik kamu. Bunda lihat, dia anak yang baik. Semoga saja memang dia seperti itu, bukan niat mempermainkan hati kamu!" ucap sang bunda, dan diaminkan oleh Salwa.