
"Papi sudah menyewa tiga buah kamar untuk kamu, Salwa, dan juga untuk Mami dan Papi," ucap Papi Adrian. Dia memesan melalui aplikasi online.
"Kenapa aku gak satu kamar saja sih, Pi? 'Kan jadi gak pemborosan," ucap Dirga sambil nyengir.
"Itu mah maunya kamu satu kamar sama Salwa. Kalian itu belum menikah, gak baik tidur satu kamar. Bisa-bisa kamu gak tahan sama si Salwa," sahut sang mami ikut bicara.
"Ya enggaklah! Dirga juga tahu aturan. Tanya aja sama Salwa, selama kita menjalani hubungan. Kita gak pernah macam-macam. Benar 'kan, Sayang?" Tanya Dirga mesra. Dia selalu membuat Salwa merasa malu, lantaran bersikap mesra di depan Mami Poppy dan juga Papi Adrian.
Mereka baru saja sampai di Yogyakarta, dan langsung menuju hotel tempat mereka akan menginap. Besok pagi, barulah Salwa pulang lebih dulu ke rumah orang tuanya. Keesokan harinya lagi, barulah Dirga dan beserta kedua orang tuanya akan datang menemui bunda dari Salwa.
"Kamu berani 'kan Sayang tidur sendiri? Sebenarnya, aku inginnya kita tidur satu kamar. Enggak apa deh aku tidur di sofa, kamu tidur di ranjang. Tapi, papi justru memesan kamar beda-beda," ucap Dirga. Mereka kini berjalan menuju kamar mereka masing-masing. Kamar mereka letaknya bersebelahan.
Tentu saja Salwa berani, karena dia sudah terbiasa tidur di kosan sendiri. Mereka harus terpisah, karena kini mereka sudah berada di depan pintu kamar Salwa.
"Awas ya, jangan masuk kamar Salwa nanti!" pesan sang Mami.
"Siap, bos!" ucap Dirga sambil memberikan hormat kepada sang mami.
Salwa tersenyum melihat keakraban Dirga dengan kedua orang tuanya lagi. Dirga pun menjadi sosok yang ceria, tak dingin seperti dulu. Dirga mengusir sang Mami untuk masuk ke kamar, karena dia ingin mengobrol dengan Salwa agar tak terganggu.
__ADS_1
"Udah sana, kamu juga masuk! Aku udah gak betah, ingin mandi terus sholat isya. Habis itu tidur, aku lelah banget. Kamu juga pasti lelah," ucap Salwa kepada Dirga.
"Ok deh! Met bobo ya, Sayangku! Semoga mimpikan aku. I love you. Aku juga mau tidur cepat, biar besok fresh," ucap Dirga, dan diiyakan oleh Salwa.
Salwa dan Dirga masuk ke kamarnya masing-masing. Salwa menatap sekeliling kamar yang dia tempati saat ini. Baru kali ini dia bisa merasakan menikmati tidur di hotel yang mewah. Mungkin, jika dia tak pernah mengenal, dan menjalani hubungan dengan Dirga. Dia tak akan pernah merasakannya.
Takdir yang menyatukan mereka. Keduanya sama-sama saling melengkapi di hidup mereka. Hidup Salwa perlahan berubah, dengan hadirnya Dirga di hidupnya, begitu pula yang terjadi dengan Dirga.
Salwa berniat menghubungi sang bunda, untuk memberitahu kalau dia saat ini sudah sampai di Yogyakarta. Namun, malam ini dia menginap di hotel, dan baru besok pagi dia akan pulang ke sana.
"Kok sibuk sih teleponnya? Telepon sama siapa ya Salwa?" Dirga bermonolog. Dia tampak gelisah, cemburu tak beralasan.
"Assalamualaikum." Salwa mengucap salam, mengawali pembicaraan dengan Dirga.
"Waalaikumsalam. Kamu bicara sama siapa sih, Yang? Dari tadi aku telepon kamu, kok sibuk terus sih?" tegur Dirga.
"Oh, itu? Aku habis menghubungi bunda, untuk memberitahu kalau aku sudah sampai di Yogyakarta. Namun, baru besok pagi aku ke sananya," ungkap Salwa, karena memang seperti itu. Salwa tak berselingkuh dengan laki-laki manapun.
"Kamu gak lagi bohongi aku 'kan?" Tanya Dirga. Dia ingin mendengar penjelasan Salwa.
__ADS_1
"Ya enggaklah! Untuk apa aku bohongi kamu. Kamu kenapa? Kenapa kamu bicaranya seperti itu? Kamu curiga sama aku? Kalau kita tak saling percaya satu sama lain saat kita menikah nanti, yang ada rumah tangga kita selalu dihiasi pertengkaran," sahut Salwa.
"Mumpung kita belum menikah, kita butuh saling mengenal satu sama lain! Selama ini, kita 'kan sering bersama. Bagaimana aku bisa selingkuh di belakang kamu?" ucap Salwa lagi.
Dia merasa kesal dengan sikap Dirga yang baginya cemburu tak beralasan, karena mereka kerap menghabiskan waktu berdua. Tak ada kesempatan untuk Salwa dekat dengan laki-laki lainnya. Tapi ternyata, Dirga justru masih curiga kepadanya.
"Iya, deh maaf! Aku salah! Tak sepantasnya aku seperti itu. Mungkin, karena aku takut kehilangan kamu. Jadi seperti ini. Maafin aku ya! Aku janji tak akan seperti itu lagi! Udah ya jangan marah lagi!" ucap Dirga.
"Ini bukan masalah marah atau tidaknya. Ini untuk bahan renungan kita. Aku pun harus seperti itu. Menikah muda, pasti banyak godaan. Akan banyak kesalahpahaman. Kita harus bisa menjaga perasaan pasangan! Apapun yang kita rasakan, lebih baik di ungkap! Jangan dipendam dalam hati, nanti yang ada akan menjadi penyakit hati!" ucap Salwa dan Dirga mengiyakan.
"Ya udah, kita tidur yuk! Aku udah ngantuk. Besok pagi aku 'kan harus pulang," ucap Salwa.
"Iya, aku juga mau tidur. Besok aku antar ya! Kira-kira berapa jam dari sini?" Ujar Dirga.
Membutuhkan waktu dua jam untuk ke rumah orang tua Salwa. Keduanya kini mencoba memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah memejamkan matanya. Saat ini mereka sudah tertidur nyenyak.
Semenjak bersama Salwa, Dirga tak pernah lagi begadang. Dia selalu tidur cepat. Kehidupannya menjadi teratur. Tak lagi mabuk, memakai narko*ba. Bahkan Dirga kini tak lagi merokok. Semua dia tinggalkan, kebiasaan buruknya dulu.
Sekarang ini, dia juga menjadi rajin sholat. Hubungan Dirga dan kedua orang tuanya pun harmonis. Dia juga menjadi rajin kuliah, dan rajin belajar. Hadirnya Salwa memberi dampak positif untuk Dirga.
__ADS_1