
Dirga tampak bahagia, karena akhirnya keinginannya selama ini satu persatu bisa terwujud. Kini, dia sudah bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Dirga memilih makan terlebih dahulu, sebelum berangkat menjemput Salwa. Setelah selesai makan, barulah Dirga berangkat untuk kuliah.
"Bi, Dirga berangkat dulu ya!" Pamit Dirga kepada Bi Yati yang selalu menyayangi dirinya.
"Iya, Den! Hati-hati di jalan! Semangat ya kuliahnya," ucap Bi Yati dan Dirga mengiyakan.
"Assalamualaikum," Dirga mengucap salam.
"Waalaikumsalam," jawab Bi Yati.
Dirga langsung melajukan mobilnya menuju kosan Salwa. Hari ini Dirga memilih membawa mobil ke kampus, karena setelah pulang kuliah dia ingin mengajak Salwa untuk membeli perlengkapan melukis. Kini Dirga sudah dalam perjalanan menuju kosan Salwa. Dia sudah mengatakan kepada Salwa, kalau dia ingin menjemput Salwa, dan mereka akan pergi bersama ke kampus.
Dirga baru saja sampai di kosan Salwa. Dia memilih untuk tidak turun dari mobil. Dia menghubungi Salwa, dan mengatakan kalau dia sudah berada di depan kosan Salwa. Dirga malas bertemu Mang Acep. Salwa langsung mengambil ponsel dan tasnya, kemudian keluar dari kamarnya. Salwa ingin segera menghampiri Dirga.
"Mang, berangkat dulu ya!" pamit Salwa.
__ADS_1
"Berangkat sama siapa, Wa? Sampai si Dirga?" Tanya Mang Acep ingin tahu.
"Iya, Mang. Dia sudah nunggu di depan. Salwa berangkat dulu ya! Assalamualaikum," ucap Salwa.
"Waalaikumsalam," sahut Mang Acep.
Salwa langsung berjalan keluar menghampiri mobil Dirga. Dia langsung masuk ke dalam mobil. Dirga pun langsung melajukan mobilnya.
"Tumben bawa mobil kuliahnya?" Tanya Salwa. Hubungan mereka sudah semakin dekat. Hanya saja, Dirga masih harus berjuang untuk mendapatkan restu dari bundanya Salwa di kampung.
"Iya, sengaja! Soalnya, nanti pulang kuliah mau beli perlengkapan melukis. Tadi mami kasih aku uang, untuk belanja yang aku butuhkan. Kamu temani aku ya belanja! Tempat aku melukis pun sudah selesai. Aku sudah punya tempat untuk santai, saat melukis. Aku senang ... banget. Akhirnya, keinginan aku satu persatu bisa terwujud. Tinggal dua lagi yang belum terwujud, yaitu lulus kuliah dengan hasil yang baik, dan bisa. menikah dengan kamu. Aku berdoa, semoga keinginan aku yang belum terwujud, bisa segera dikabulkan oleh Allah," ujar Dirga.
Mobil Dirga sudah sampai di parkiran mobil kampus mereka kuliah. Dirga langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, mereka turun dari mobil untuk masuk ke dalam. Mereka sudah terang-terangan di depan orang-orang, kalau mereka memiliki hubungan. Salwa sudah tak malu lagi berjalan dengan Dirga, karena kini Dirga sudah berpenampilan rapi.
Dirga pun sudah tak lagi malas kuliah, dan mengerjakan tugas. Dia mengikuti semua mata kuliah dengan baik. IPK dia sekarang selalu bagus, karena dia sekarang belajar dengan sungguh-sungguh. Salwa terus membantu dia. Mereka selalu belajar bersama. Dirga ingin segera lulus, agar dia bisa segera bekerja, dan menikahi Salwa. Dia menjalani hubungan ini serius, bukan hanya main-main saja. Berharap hubungan mereka bisa sampai ke jenjang pernikahan.
__ADS_1
Jam mata kuliah pertama sudah selesai, Dirga mengajak Salwa ke kantin. Mereka kini sudah tak malu-malu menunjukkan kemesraan. Membuat Dirga lovers merasa cemburu dengan Salwa. Mereka merasa tak terima, mengapa Dirga memilih Salwa yang hanya orang biasa, dan sangat jauh dari kata seksi.
"Hai, Dir. Boleh gabung gak kita-kita di sini? Kita-kita ingin makan bareng sama lo," ucap Tasya. Membuat Salwa merasa cemburu.
"Lo semua pada gak ngelihat apa matanya? Dirga itu lagi makan sama gue! Ganggu aja si lo! Sudah sana, gue gak mau satu meja sama lo semua! Dirga calon suami gue, kami sudah persiapan pernikahan! Lebih baik lo buang jauh-jauh untuk dekati dia lagi! Lagi pula, jadi cewek tuh jangan kegatelan! Laki-lakinya udah gak mau, masih aja di deketin! Malu dong jadi cewek! Harus punya harga diri!" ucap Salwa ketus.
Tentu saja ucapan Salwa, membuat Dirga merasa senang. Ternyata, Salwa sudah mau mengakui dirinya sebagai calon suaminya. Dirga juga tak menyangka, kalau Salwa berbohong dengan mengatakan kalau mereka sedang melakukan persiapan pernikahan.
"What? Kalian mau menikah? Jangan mengada-ngada lo? Seriusan Dir, lo mau nikah sama dia? Gak salah dengar kita-kita?" Tanya Tasya untuk menyakinkan.
"Iya, apa yang dikatakan Salwa memang benar. Kami sedang melakukan persiapan pernikahan. Gue udah memilih Salwa menjadi calon istri gue. So ... lo semua jangan ada yang mengharapkan gue lagi! Semua sudah jelas ya! Gue minta lo semua pergi dari sini! Gue sama Salwa merasa terganggu, dengan kehadiran lo semua di sini!" ucap Dirga tegas.
"Lo bakal menyesal, karena telah menolak di antara kita semua. Apa kita-kita kurang cantik dan seksi? Masa iya sih Dir, lo malah milih si Salwa? Mata lo rabun ya? Apa jangan-jangan di Salwa pelet lo ya? Makanya, lo jadi tergila-gila sama dia? Duluan 'kan kalian musuhan, Dir? Masa iya, tiba-tiba saja sekarang lo jadi jatuh cinta sama dia," protes Tasya dan di iyakan oleh yang lainnya.
"Gue mau di pelet apa gak, itu bukan urusan lo! Justru bagus, kalau Salwa pelet gue. Karena dia, gue jadi berubah menjadi orang yang lebih baik. Hadirnya dia di hidup gue, membawa perubahan dalam hidup gue. Salwa itu bukan hanya sekadar cantik, dia adalah sosok wanita yang sempurna yang gue kenal. Dia cantik, pintar, sholehah, dan calon ibu yang baik untuk Anak-anak gue nanti. Ya udah sana, kenapa lo semua jadi urusin hidup gue sih? Gue mau milih siapa, bukan jadi urusan lo semua! Gue cinta sama Salwa, bukan hanya sekadar nap*su. Gue serius menjalani hubungan sama dia sampai kapanpun!" ucap Dirga.
__ADS_1
Dirga mengusir paksa mereka, karena mereka masih saja berkeras tidak mau pergi. Mereka masih saja berjuang untuk mendapatkan hati Dirga. Tapi sayangnya, hati Dirga sekarang sudah terpatri dengan nama Salwa, dan tak akan terganti. Dirga dan Salwa bisa bernapas lega, karena akhirnya Dirga lovers pergi dari kantin.
"Makasih ya Sayang sudah mau menerima aku di hidup kamu. Asli, aku benar-benar gak menyangka. Kalau kamu akan berbicara seperti itu kepada mereka. Seriusan nih, udah mau nikah sama aku? Aku langsung terbang ni hari ini juga menemui bunda kamu. Aku akan meminta Papi sama Mami untuk melamar kamu menjadi istriku," goda Dirga sambil memainkan alisnya. Membuat wajah Salwa memerah menahan malu.