Pujaan Hati Ketua Geng Motor

Pujaan Hati Ketua Geng Motor
Doa dan Restu dari Kedua Orang Tua


__ADS_3

Dirga beserta keluarganya baru saja sampai di rumah. Dirga langsung memarkirkan mobilnya. Mami Poppy dan Papi Adrian turun lebih dulu dari mobil, mereka masuk ke dalam lebih dulu. Mereka langsung menuju kamarnya.


Dirga tampak tersenyum bahagia, saat melihat boneka beruang yang masih berada di dalam mobil. Dia pun mengambil bungkusan berisi coklat dan kotak cincin berwarna merah, yang nanti akan dia berikan kepada Salwa.


Kini Dirga sudah berada di kamarnya, dia langsung meletakkan barang-barang yang tadi dia beli. Dirga langsung mengambil ponselnya, dan segera menghubungi Salwa. Untuk mengajaknya dinner malam ini.


Saat itu Salwa sedang tidur, mendengar ponselnya berdering berkali-kali. Akhirnya, dia pun terbangun dari tidurnya. Dengan perasaan malas, dia pun mengambil ponselnya.


"Dirga? Ganggu saja sih, orang lagi tidur," gerutu Salwa. Padahal, dia lagi enak-enaknya tidur siang.


"Assalamualaikum," ucap Salwa saat menerima panggilan telepon dari Dirga.


"Waalaikumsalam. Lagi tidur ya, Sayangku?" ucap Dirga mesra.


"Sayang—Sayang! Emangnya aku Sayangnya kamu! Udah cepat bilang, mau ngapain telepon aku! Ganggu saja! Orang lagi enak tidur, jadi kebangun deh," ucap Salwa ketus.


"Jangan galak-galak, dong! Abang Dirga 'kan kangen sama Neng Salwa. Maaf deh, kalau Abang ganggu Eneng," goda Dirga sambil terkekeh.

__ADS_1


"Udah deh, cepetan mau ngomong apa! Jangan kebanyakan basa-basi!" Kalau gak ada yang penting, aku tutup ya teleponnya," protes Salwa.


Hingga akhirnya Dirga mengatakan keinginan untuk mengajak Salwa dinner malam ini. Dirga mengatakan, kalau jam 19.00 dia akan menjemput Salwa di kosan. Salwa langsung menolaknya. Baginya, apa yang dilakukan Dirga sudah sangat jauh, karena mereka tak ada hubungan apapun. Salwa pun merasa terganggu dengan panggilan Sayang yang diucapkan Dirga kepadanya. Dia takut, kalau nantinya orang akan salah paham dengan statusnya.


"Ayolah, Wa! Please, jangan tolak niat baik aku! Aku hanya ingin menunjukkan keseriusan aku kepada kamu. Aku hanya ingin mengajak kamu makan malam aja kok. Mau ya temani aku! Mau ya, nanti jam 19.00 aku jemput di kosan! Nanti kalau sudah selesai makan, kita langsung pulang deh! Aku antarkan lagi! Aku sudah reservasi tempat itu," ucap Dirga dengan memelas. Berharap, Salwa mengubah keputusannya. Menolak ajakan dia.


"Kamu itu keras kepala banget ya, jadi orang! Aku bilang enggak, ya enggak! Makanya, lain kali itu tanya aku dulu. Aku mau apa tidak! Jangan dadakan seperti ini. Ya sudah, sekarang aku maklumi. Tapi, lain kali aku gak ada toleransi ya! Hanya sekadar makan berdua aja 'kan? Bukan acara sama yang lain? Aku soalnya lagi malas banget. Pakai baju biasa aja, gak apa-apa 'kan?" Sahut Salwa.


"Yes, akhirnya Salwa mau!" Dirga begitu senang, karena akhirnya Salwa menerima tawaran dia untuk dinner.


"Ok deh, Sayang! Makasih ya, sudah menerima tawaran aku. I love you, Baby. Kamu memang terlove. Iya, kita hanya makan berdua Sayangku. 'Kan biar romantis. Terserah, kamu mau pakai baju apa juga boleh. Mau pakai baju renang atau gak pakai baju sekalian juga gak apa-apa. Tapi, kita gak dinner di restoran. Dinnernya di kamar hotel aja," goda Dirga. Dia begitu puas menggoda Salwa. Dia terlihat cekikikan, merasa senang.


"Jangan dong Neng, nanti Abang Dirga jadi gak punya burung!" Ternyata, Dirga masih belum puas menggoda Salwa. Membuat Salwa merasa kesal.


"Udah ah, malas bicara sama kamu. Lama kelamaan jadi gak jelas. Ya udah, nanti jemput habis magrib aja ya! Aku mau sholat di kosan dulu," ucap Salwa. Dirga belum menjawabnya, Salwa langsung mengucap Assalamu'alaikum dan mengakhiri panggilan telepon dengannya.


"Neng Salwa memang pujaan hati Abang Dirga. Membuat Abang Dirga semakin cinta sama Eneng ...," ucap Dirga.

__ADS_1


Hati Dirga begitu berbunga-bunga. Dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Dirga sudah tak sabar ingin segera malam, dia ingin melihat ekspresi wajah Salwa. Saat dirinya melamar Salwa nanti, dan mengajak Salwa bertunangan dulu.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, Dirga sengaja berangkat lebih awal. Agar saat magrib tiba, Dirga sudah sampai di kosan Salwa. Rencananya, dia ingin sholat magrib di kosan Salwa. Dia tak ingin datang terlambat, karena dia akan pergi dengan menggunakan mobil. Tak seperti biasanya, pergi menggunakan motor sport.


"Mi, Pi, Dirga berangkat dulu ya! Takut macet, soalnya aku bawa mobil. Do'ain Dirga ya, semoga lancar! Salwa mau menerima Dirga, untuk bertunangan dengan Dirga. Nanti Mami dan Papi langsung aja ya ke tempat itu. Jangan ganggu Dirga sama Salwa! Dirga juga gak ngomong ke Salwa, kalau Mami dan Papi juga datang ke tempat itu," ucap Dirga.


"Iya, Mami dan Papi doakan semoga semuanya lancar. Salwa mau menerima kamu. Mami dan Papi senang melihat kamu bahagia bersama Salwa. Iya, deh Mami dan Papi gak akan ganggu kalian," sahut sang Mami.


"Amin. Semoga doa aku dan kalian di kabulkan Allah. Aku sudah merasa yakin, kalau Salwa adalah wanita yang baik untukku. Dirga berangkat dulu ya. Assalamualaikum," ucap Dirga. Dirga langsung mencium tangan Mami dan Papinya secara bergantian.


Dirga langsung melajukan mobilnya menuju kosan Salwa. Dia begitu bersemangat. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Sepanjang perjalanan menuju kosan Salwa. Namun, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dirga langsung mengecilkan volume audionya, karena dia ingin menerima panggilan telepon dari sahabat terdekatnya. Semenjak hadirnya Salwa di hidupnya, dia sampai melupakan Arman.


"Sombong banget sekarang lo Dir sama gue, dan anak-anak The Winner. Mentang-mentang udah punya cewek. Sekarang sibuk pacaran terus. Sekali-kali mainlah ke basecamp. Anak-anak kangen sama lo. Kangen sama pahlawan kita. Gak ada lo, The Winner jadi meredup. Kalah terus," ucap Arman.


Jujur, di lubuk hati Dirga yang terdalam, dia merasa prihatin mendengarnya. Padahal dulu, dia begitu susah untuk mengharumkan nama The Winner. Tapi hidup adalah pilihan, dia pun harus memilih kebahagiaannya. Tak mungkin terus menerus dia menjadi anak berandalan. Dia ingin memiliki masa depan yang cerah, dan dia sudah menemukan tambatan hati. Dia tak ingin menyia-nyiakan.


"Iya, Bro. Sorry ya! Gue ikut prihatin dengarnya. Sedih juga gue dengarnya. Tapi, gue udah janji sama calon istri gue untuk meninggalkan masa lalu gue yang buruk. Gue ingin menjadi anak yang baik untuk kedua orang tua gue, dan juga menjadi laki-laki yang bertanggung jawab untuk keluarga gue nanti. Gue do'ain, semoga lo juga akan mengikuti jejak gue! Kita tobat bareng! Udahlah, tinggalin dunia malam. Gak ada untungnya untuk kita! Yang ada badan kita malah rusak, masa muda kita hancur! Kalau gue gak ketemu Salwa, hidup gue hancur. Gue hampir di DO dari kampus, untung dia support gue. Dengan sabar dia ngajarin gue belajar, dia juga selalu mengingatkan gue untuk rajin kuliah, rajin sholat, puasa. Dia benar-benar mengubah kehidupan gue. Bahkan kedua orang tua gue pun udah berubah, gue gak kehilangan kasih sayang orang tua gue lagi," ungkap Dirga.

__ADS_1



__ADS_2