Pujaan Hati Ketua Geng Motor

Pujaan Hati Ketua Geng Motor
Mendapat Restu


__ADS_3

"Sayang, aku minta nomor bunda dong! Aku ingin menghubungi bunda, berkenalan. Semoga saja, bunda langsung merestui hubungan kita. Jadi, kita bisa segera menikah, gak pacaran terlalu lama. Takut khilaf," ucap Dirga sambil terkekeh.


Salwa langsung memberikan nomor telepon sang bunda kepada Dirga. Tak ingin buang waktu, Dirga langsung menghubungi bundanya Salwa di kampung. Dia ingin bersikap gentle, menunjukkan keseriusannya kepada Salwa.


"Assalamualaikum," sapa Dirga. Mengawali pembicaraannya dengan Bunda Alifa.


"Waalaikumsalam. Ini siapa ya?" Tanya Bunda Alifa, ibunda Salwa.


"Perkenalkan Bun, aku Dirga. Aku pacarnya Salwa. Pasti Salwa sudah ceritakan?" ucap Dirga dengan percaya diri.


"Iya. Salwa juga kemarin-kemarin sempat bicara, kalau kamu melamarnya," jawab Bunda Alifa.


Sama halnya dengan Dirga, Bunda Alifa pun to the point. Tak banyak basa-basi. Langsung ke inti pembicaraan, dia yakin kalau Dirga akan membahas tentang hubungannya dengan Salwa, dan juga membicarakan masalah pernikahan dengan sang anak.


"Syukurlah, jika memang Salwa sudah sempat bicara. Salam kenal ya, Bun," ucap Dirga sambil cengengesan.


"Iya. Jadi, rencananya kapan kamu mau melamar Salwa?" Tanya Bunda Alifa membuat Dirga melongo. Dia tak menyangka, kalau Bunda Alifa akan langsung menanyakan kapan dia akan melamar Salwa. Dia kira, Bunda Alifa akan marah kepadanya.


"Jadi, bunda restui hubungan aku dengan Salwa?" Tanya Dirga untuk memastikan.

__ADS_1


"Jika niat kamu serius dengan Salwa, bunda akan izinkan kamu menikah dengan Salwa! Asalkan, kamu siap bertanggung jawab, untuk menjadi suami yang baik untuk Salwa. Jika kamu hanya berniat main-main dengannya, lebih baik urungkan niat kamu untuk menikahi Salwa! Sebenarnya, Bunda serahkan permasalahan ini kepada kamu dan Salwa! Kelak, kalian yang akan menjalaninya!" ucap Bunda Alifa.


Bunda Alifa juga menjelaskan kepada Dirga, kalau orang menikah itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh toleransi di antara keduanya, harus saling memahami dan mengerti. Terlebih, mereka menikah muda. Pasti keduanya, masih memiliki ego. Mereka harus bisa menahan egonya, agar pernikahan mereka bisa langgeng.


Semua butuh proses, dan adaptasi untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Bunda Alifa juga mengingatkan tugas seorang suami yang harus memberikan nafkah. Bukan hanya menggantungkan hidup kepada orang tuanya, meskipun orang tuanya seorang yang kaya raya.


"Iya, bun. Dirga gak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dirga pun berniat serius sama Salwa. Dirga janji tak akan menyakiti Salwa. Dirga akan berusaha keras, untuk menjadi suami yang baik untuk Salwa. Sebentar lagi insya Allah Dirga lulus kuliah, Dirga akan langsung bekerja untuk bisa menafkahi Salwa. Dirga pun akan berusaha mencari tambahan penghasilan, dengan menjual hasil lukisan. Selama ini Dirga sering melukis, kata Dira lukisan aku bagus. Semoga saja, bisa menjadi rezeki untuk kami. Hasil karya aku laku di pasaran," jelas Dirga. Dia begitu antusias, meyakinkan calon mertuanya.


"Jadi, kapan kamu mau melamar Salwa?" Tanya Bunda Alifa lagi.


"Secepatnya! Secepatnya aku akan bicara kepada mami dan papi aku, untuk melamar Salwa. Agar pernikahan kami segera dilaksanakan. Makasih ya Bun, sudah mau menerima aku sebagai calon menantu Bunda," ucap Dirga.


"Mi, Pi, sebentar lagi Dirga mau nikah!" Dirga tampak berteriak meluapkan perasaan bahagianya. Salwa hanya tersenyum melihat tingkah konyol calon suaminya. Dirga selalu bisa membuat dia tertawa bahagia. Dia juga mampu meyakinkan Salwa untuk menikah dengannya.


Dirga tak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Dia ingin segera mengungkap keinginannya untuk melamar Salwa sebagai istrinya. Pagi ini, dia sengaja bangun lebih awal, dan tak tidur lagi setelah sholat subuh. Dirga sudah menunggu kedua orang tuanya keluar dari kamarnya. Pagi hari adalah waktunya, untuk dia bisa berbicara dengan kedua orang tuanya.


"Udah bangun kamu?" Tanya sang mami yang baru saja keluar dari kamarnya. Diikuti sang papi, yang ikut keluar juga dari kamar mereka.


Mereka sudah terlihat rapi, bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Namun sebelumnya, mereka ingin sarapan terlebih dahulu. Bi Yati sudah menyiapkan sarapan untuk kedua majikannya. Sejak pukul 03.30 pagi, dia sudah terbangun, dan langsung menyiapkan sarapan untuk majikannya.

__ADS_1


"Begini Pi, Mi. Ada hal penting yang ingin Dirga ucapkan kepada Papi dan Mami. Makanya, Dirga bangun lebih awal. Agar bisa bertemu dengan mami dan papi," ungkap Dirga kepada kedua orang tuanya.


"Oh, gitu? Memangnya, kamu mau bicara apa sama mami dan papi?" Tanya Mami Poppy. Sedangkan Papi Adrian, hanya diam menyimak percakapan anak dengan istrinya.


Dirga langsung mengungkapkan kepada kedua orang tuanya, tentang keinginannya untuk menikah dengan Salwa. Dia juga mengatakan kepada mereka, kalau hubungan mereka sudah mendapatkan lampu hijau dari bundanya Salwa. Bunda Salwa menanyakan kepadanya, kapan akan datang melamar Salwa.


"Kamu serius Dir, ingin menikah cepat? Kamu sudah pikiran hal ini? Kamu sudah merasa siap, menjalani hidup berumah tangga? Menikah itu tak seperti orang pacaran! Harus berpikir panjang!" Tanya Mami Poppy kepada sang anak.


"Iya, Dirga sudah merasa siap dan yakin untuk menikah dengan Salwa. Dirga takut khilaf! Jadi, Dirga gak mau pacaran terlalu lama sama Salwa. Agar Dirga tak kesepian, saat mami dan papi tak di rumah. Dirga jadi tak sendiri lagi," jelas Dirga dengan penuh keyakinan.


"Ya sudah, kalau memang kamu sudah merasa yakin seperti itu! Mami dan papi hanya bisa bantu doa, semoga semuanya dilancarkan! Mami dan Papi akan coba atur waktu secepatnya, untuk bisa menemui bundanya Salwa," ucap sang mami.


"Makasih ya Mi, Pi. Sudah mau merestui hubungan kami. Dirga bahagia banget," ungkap Dirga dan maminya mengiyakan.


Setelah selesai berbincang. Mami Poppy dan Papi Adrian Adrian langsung sarapan pagi. Saat itu, makanan sudah tersusun rapi di meja makan. Mereka juga mengajak sang anak, untuk sarapan bersama. Kini mereka sedang menikmati makan bersama.


"Dir, Mami jalan dulu ya Sayang! Secepatnya, Mami dan Papi akan melamar Salwa untuk menjadi istri kamu. Kamu sabar dulu ya! Jangan lupa pesan Mami, jangan rusak Salwa dulu sebelum dia resmi menjadi istri kamu!" Ujar Mami Poppy dan Dirga mengiyakan.


"Papi juga jalan dulu ya! Insya Allah Sabtu ini, kita bisa terbang ke Yogya melamar Salwa. Semangat kuliahnya!" ucap Papi Adrian membuat mata Dirga langsung bersinar-bersinar.

__ADS_1


"Serius, Pi? Makasih ya, Pi! Dirga senang sekali dengarnya," ungkap Dirga. Dirga tak menyangka, kalau secepatnya sang papi mengatakan akan melamar Salwa.


__ADS_2