
Kali ini, Dirga memilih untuk tidak mabuk dan memakai barang haram. Dia hanya minum minuman dingin saja, dia menolak merayakan kemenangan dia dengan party. Sebenarnya, sudah cukup lama dia ingin meninggalkan semua itu. Tetapi, keadaan yang membuat dia selalu seperti itu. Paling tidak, dia bisa menghilangkan sejenak rasa kecewanya dengan hidupnya.
"Dir, mau gak?" Teman-temannya menawarkan minuman kepadanya.
"Sorry, gue lagi gak mau! Kalian aja!" Sahut Dirga.
Semua teman-temannya asyik minum, sedangkan Dirga justru duduk termenung. Dia tampak meremas kaleng minuman yang dia pegang saat ini. Dia teringat ucapan maminya tadi, yang meminta dia untuk berubah.
"Mami pikir, aku mau seperti ini? Aku juga gak mau, Mi! Kalian yang membuat aku seperti ini, kalian yang membuat aku menghabiskan waktuku di jalan. Masa depanku sudah hancur, karena keegoisan kalian. Kenapa kalian gak pernah mengerti perasaanku?"
Dirga melempar kaleng minuman itu, membuat teman-teman mereka kaget, dan menengok ke arahnya.
"Dir, lo kenapa?" Tanya Arman.
"Gue baik-baik aja! Sorry, kalau gue udah membuat kalian kaget! Gue hanya asal melempar. Ya udah, lanjut lagi sana! Puas-puasin! Gue balik ya! Nyokap gue tadi nyuruh gue pulang cepat," ucap Dirga. Dirga langsung memakai jacket kulitnya, dan memakai helmnya.
"Tumben banget lo, pulang cepat dan ingat pesan nyokap lo," sahut Randy. Dirga tak menjawab, dia hanya membalas dengan senyuman.
__ADS_1
Dirga langsung menunggangi motor, dan melajukan motornya membelah jalanan kota Jakarta yang sangat lenggang. Dia lebih memilih melampiaskan seperti ini, dari pada dia harus menginjakkan kakinya ke club malam atau se*s bebas. Dia justru sangat menjauhi wanita, dia selalu menjaganya untuk istrinya nanti. Meskipun, dia gak pernah tahu kapan akan menikah.
Seperti biasa, dia mendatangi tempat itu. Tempat dia kemarin tergeletak di jalan, dan Salwa menolongnya. Dirga sudah sampai, dia langsung memarkirkan motornya. Kemudian duduk di trotoar jalan.
"Sorry bro, lo bukan mimpi gue! Makanya, gue malas untuk kuliah di lo!" ucap Dirga, seakan dia bicara dengan seseorang.
Matanya kini menatap ke arah gedung bertingkat tinggi, tempat dia terdaftar menjadi seorang mahasiswa. Dia sengaja tak pernah datang kuliah. Jika papinya tak kuat membayar agar anaknya tetap bisa kuliah di situ, mungkin sudah cukup lama dia di DO dari kampus itu. Padahal, hal ini yang dia tunggu sejak dulu. Dia ingin secepatnya terbebas dari tempat itu, dan berharap akhirnya sang papi menuruti keinginannya untuk berkuliah di kampus seni di Jakarta.
Saat itu jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Masih ada satu jam untuk dia pulang. Dia pantang untuk pulang, sebelum jam 03.00 pagi.
"Dir ... Dir! Kenapa sih hidup lo malang banget?"
"Ya udah, berubah lo! Kali aja mami benar-benar berubah. Mau sampai kapanpun lo seperti ini! Umur lo semakin tua, emangnya lo gak mau nikah, dan hidup bahagia!"
"Ya, gue sih ingin lihat dulu! Apakah mami benar-benar berubah, ataukah hanya sekadar omong kosong saja seperti dulu. Dulu, waktu gue SMP. Mami juga pernah kok bicara seperti itu, tapi akhirnya apa? Dia tetap gak berubah. Gue masih saja merasa hidup sendiri. Gue udah capek dengan janji-janji mereka, yang akhirnya mereka juga yang ingkari. Lebih baik gue cari kebahagiaan gue sendiri. Gue gak mau percaya lagi sama janji manusia."
Perut Dirga berbunyi. Tanda kalau dia saat ini, dia merasa lapar. Dia baru ingat, kalau dia belum makan sebelum dia berangkat tadi. Pola makan dia pun tak teratur. Hidupnya tak karuan. Tak terpikir olehnya sedikitpun, kalau kemarin dia belum mengumpulkan tugas akuntansi.
__ADS_1
"Senin gue kuliah deh. Setor wajah aja. Masih dianggap syukur, enggak juga gak apa-apa. Justru lebih bagus, kalau di DO," ucap Dirga dalam hati.
Sebelum pulang, dia memutuskan untuk makan dulu di tempat pecel lele yang berada di ujung jalan. Agar nanti sampai rumah, dia tinggal tidur nyenyak. Padahal, saat ini bulan Ramadhan. Dirga tak puasa, dia pun juga tak pernah sholat. Orang tuanya tak pernah mengajarkan ini padanya. Dulu, dia sempat sekolah di SDIT dan SMPIT. Namun, semenjak SMA. Dirga mulai berubah, terlebih sekarang ini. Dia semakin hancur.
Dirga memarkirkan motornya di warung pecel lele, setelah itu dia langsung memesan nasi uduk di tambah ayam pecel dan juga ati ayam. Untuk minumnya dia memesan es teh manis. Untuk urusan uang, Dirga tak pernah kekurangan. Meskipun demikian, dia tak pernah menghambur-hamburkan uangnya. Uang dari orang tuanya, hanya dia belikan sesekali untuk minuman alkohol, dan juga barang haram. Tetapi, sebagian selalu dia tabung. Tabungan dia saat ini sudah cukup banyak, untuk standar anak kuliah yang tak memiliki penghasilan.
Dirga bercita-cita ingin membuat galeri lukisan, dan di sana akan terpajang aneka macam lukisan hasil karyanya. Dia selalu menggunakan uang untuk membeli bahan-bahan untuk melukis. Dirga memiliki bakat melukis. Sejak dia duduk di bangku SD, Dirga sudah mulai terlihat memiliki bakat melukis.
Makanan datang, Dirga langsung mencuci tangannya. Kemudian langsung melahapnya. Selama ini dia tak pernah bersikap sombong, meskipun dia memakai motor bagus dia tak malu untuk makan di pinggir jalan.
Memang, gayanya sangat menyebalkan. Orang pasti mengira dirinya sombong. Dia selalu bersikap dingin dengan orang yang dia tak kenal. Dia paling tak suka dengan seorang penjilat, dan berusaha mendekati dia karena dia anak orang kaya. Terlebih pada seorang wanita. Dia begitu selektif mencari wanita yang tulus mencintainya. Untuk saat ini, dia masih belum menemukan tambatan hatinya.
"Bang, udah! Jadi berapa semuanya?" Tanya Dirga. Dirga langsung mengeluarkan uang 50 ribu untuk membayar. Dia juga tak pernah menyimpan uang banyak di dompetnya, hanya membawa uang seperlunya aja.
Setelah membayar, Dirga langsung melajukan kembali motornya menuju rumah. Dia ingin langsung pulang. Matanya sudah mulai mengantuk, karena perutnya sudah merah kenyang.
Tak butuh waktu lama, dia pun sampai di rumah. Dirga langsung menggerung-gerung motornya. Mendengar suara motor anak majikannya, sang penjaga pun bergegas untuk membuka pintu gerbang. Dirga pun langsung masuk, dan memarkirkan motornya. Setelah itu, barulah dia masuk ke dalam ke dalam rumah. Sang ART langsung membukakan pintu rumah.
__ADS_1
Tanpa dia duga, sang papi keluar dari kamarnya. Dia langsung menghampiri Dirga, dan menampar wajah Dirga sangat keras. Papinya terlihat begitu marah sama Dirga.