Pujaan Hati Ketua Geng Motor

Pujaan Hati Ketua Geng Motor
Tantangan Untuk Dirga


__ADS_3

"Ya sudah, sana kembali ke kelas! Jangan lupa pesan saya, jika kamu masih ingin kuliah di kampus ini! Nanti, akan Saya kabari lebih lanjut!" ucap Pak Ali lagi.


"Saya mohon bantuannya dari Bapak! Saya tak ingin mengecewakan kedua orang tua Saya, Pak. Saya pamit ya Pak, soalnya ada kelas Pak. Saya sudah telat 20 menit," pamit Dirga dan Pak Ali mengiyakan. Dirga langsung mencium tangan Pak Ali. Sebagai rasa hormatnya kepada Pak Ali, selaku dosen, dan ketua jurusannya.


Dirga pergi meninggalkan ruangan ketua jurusannya, dan kembali ke kelas. Dia langsung mengetuk pintu ruang kelas, dan membuka pintu ruangan itu secara perlahan. Saat itu, sang dosen sudah berada di dalam kelas, dan menerangkan mata kuliah Akuntansi Pajak.


"Kamu itu, selalu saja datang terlambat kalau masuk kelas. Sekarang lebih baik kamu pergi dari ruang kelas ini! Saya tidak butuh mahasiswa yang tidak niat belajar mata kuliah Saya! Sudah sering bolos, tak mau mengerjakan tugas dari Saya, dan paling fatal tak ikuti ujian kemarin. Kamu pikir, kampus ini punya nenek moyang kamu? Mentang-mentang sudah bayar mahal, memangnya kamu bisa seenaknya saja mengikuti mata kuliah Saya? Percuma kamu berstatus sebagai mahasiswa, kalau sikap kamu seperti anak brandal di jalan. Penampilan model gembel!" ucap Pak Susilo tegas, dosen Akuntansi pajak.


Dirga merasa malu diperlakukan seperti itu, tetapi dia berusaha menguatkan diri demi Salwa. Jika dia sudah nurutin emosi, pasti dia akan langsung pergi meninggalkan ruang kelas itu dengan senang hati. Terlebih, Salwa melihat dirinya di permalukan seperti itu. Demi Salwa, dia akan menahan rasa emosi di hatinya.


"Iya, Pak. Saya minta maaf, selama ini Saya salah! Saya tidak menjalankan aturan Bapak. Saya sekarang, sudah menyadari letak kesalahan Saya selama ini. Saya janji, tak akan pernah mengulangi lagi! Tolong maafkan kesalahan Saya Pak, Saya akan berusaha mengikuti mata kuliah Bapak dengan baik. Tolong, berikan Saya kesempatan kedua!" Saya siap, mendapatkan tugas dari Bapak untuk mengisi nilai Saya yang selama ini tertinggal!" ucap Dirga.


Ada perasaan salut, yang Salwa rasakan kepada Dirga. Dia melihat Dirga banyak mengalami perubahan. Dia bersikap gentle, mengakui kesalahan yang dia perbuat selama ini, dan berjanji untuk berubah. Menjadi orang yang lebih baik lagi.


Salwa merasa iba, melihat Dirga diperlakukan seperti itu. Dia berniat membantu Dirga, agar bisa mengikuti mata kuliah Accounting Pajak dengan baik. Dia akan menjadi guru privat untuk Dirga. Padahal tadi, dia sangat marah dengan Dirga.


Melihat kesungguhan Dirga, Pak Susilo akhirnya memberikan kesempatan kepada Dirga untuk mengikuti mata kuliah dia. Tetapi, dia meminta untuk selanjutnya tidak boleh datang terlambat, Dirga juga tak diperbolehkan memakai celana robek. Diminta memakai pakaian yang sopan. Dia juga harus bisa mengikuti mata kuliah dia dengan baik. Sebagai ganti ujian dan tugas yang tertinggal, Pak Susilo akan memberikan tugas kepada Dirga. Jika Dirga mampu mengerjakan tugas itu dengan baik, maka dia diperbolehkan untuk mengikuti mata kuliah dia sampai selesai.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya akan jalankan semua perintah dari Bapak dengan baik," ucap Dirga.


"Ya sudah, sekarang kamu duduk! Saya masih harus melanjutkan pelajaran hari ini," ucap Pak Susilo.


"Terima kasih, Pak," ucap Dirga. Pak Susilo dan teman-teman di kelasnya merasa terkejut, saat melihat Dirga mencium tangan Pak Susilo. Setelah itu, dia langsung mencari tempat duduk. Sebelum duduk, dia sempat melirik ke arah sang pujaan hati. Tetapi, Salwa berpura-pura membuang muka. Padahal, Dirga sempat melihat kalau Salwa memperhatikan dia. Alhasil, Dirga senangnya setengah mati. Langsung senyum-senyum.


Dirga menunjukkan menjadi anak yang baik, selama pembelajaran dia terlihat serius mengikuti pelajaran dengan baik. Tak seperti dulu, selalu cuek saat dosen menerangkan. Sekarang, Dirga justru berusaha ingin tahu. Jam mata kuliah pertama sudah selesai, hanya tinggal menunggu mata kuliah kedua.


Dengan percaya diri, Dirga menghampiri Salwa, dan mengajak Salwa ke kantin. Sebelum mata kuliah kedua di mulai. Membuat Salwa menjadi bahan ledekan teman-teman di kelasnya.


"Lo sama Salwa, Dir sekarang? Bukannya kalian dulu, musuh bebuyutan?" sindir Andre.


"Mimpi!" ucap Salwa. Dia langsung pergi meninggalkan Dirga, mengajak teman dekatnya keluar. Semua teman dekat Dirga, langsung ke menertawakan Dirga.


"Slow, Men! Gue paling suka model cewek begini. Gemes-gemes gimana gitu loh. Justru, membuat gue semakin penasaran untuk menaklukkan hati dia. Ya udah, cabut yuk ke kantin. Haus banget gue, pingin minum," ujar Dirga.


Dirga dan ketiga teman dekatnya, langsung ke kantin menyusul Salwa dan kedua temannya. Sejak Dirga datang, Salwa sudah menunjukkan wajah tak suka. Padahal, Salwa sudah bilang padanya. Jika di kampus, anggap saja mereka tak dekat, dan kini justru Dirga sengaja mempublikasikan kedekatan mereka. Bahkan Dirga mengatakan, kalau dirinya calon istrinya.

__ADS_1


Dirga duduk di sebelah Salwa. Dia tak merasa kapok, meskipun Salwa memperlakukan dia jutek. Justru, tipe wanita yang seperti ini yang dia suka. Jinak-jinak seperti merpati. Membuat dia tergila-gila.


"Bisa gak lo jangan duduk di sini?" ucap Salwa ketus. Saat di kampus di hadapan teman-temannya, Salwa berkata lo gue dengan Dirga. Terlebih, saat ini dia sedang merasa kesal dengan Dirga.


"Loh, memangnya kenapa? Ini 'kan tempat umum. Aku bebas dong, mau duduk di manapun. Jangan galak-galak, Wa! Ingat, benci itu sama cinta beda tipis. Setipis kulit ari. Benci itu benar-benar cinta," ucap Dirga.


Salwa tak menjawab ucapan Dirga kepadanya. Dia memilih pergi meninggalkan tempat itu. Melihat Salwa pergi, tentu saja Dirga tak akan tinggal diam. Dia langsung mengejar Salwa, dan menarik tangan Salwa. Membuat mereka kini menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya.


"Kamu ini maunya apa sih? Lepasin aku gak? Jangan buat aku akan semakin marah sama kamu ya! Aku bisa aja membatalkan perjanjian kita, kalau kamu selalu mengusik kehidupan pribadi aku! Aku tegaskan sama kamu, dan tolong kamu dengar baik-baik! Hubungan kita ini hanya sebatas murid dengan guru les! Gak lebih! Jangan mimpi, kamu bisa menjadi pacar aku! Kamu itu bukan kriteria aku!" ucap Salwa tegas.


"Ok, aku akan berusaha untuk mewujudkan menjadi laki-laki yang menjadi kriteria kamu," sahut Dirga.


"Oh, ya? Yakin bisa? Aku yakin, kamu gak akan pernah mampu!" ucap Salwa ketus.


"Kalau aku bisa, gimana?" tantang Dirga sambil memainkan alisnya.


"Aku ini bukan hanya mencari pacar, tetapi aku sedang mencari calon imam untuk pendamping hidup aku. Jika kamu ingin aku terima menjadi calon imamku, lakukan semua permintaanku!" tantang Salwa.

__ADS_1


"Siapa takut? Dengar ya! Aku bukan hanya menuruti permintaan kamu saja, aku pun akan mendatangi orang tuamu untuk melamarmu!" sahut Dirga. Membuat Salwa melongo, dia tak percaya kalau Dirga akan senekat itu. Berkata demikian kepadanya.


__ADS_2