Pujaan Hati Ketua Geng Motor

Pujaan Hati Ketua Geng Motor
Pertengkaran


__ADS_3

"Tampar Pi, tampar aku! Biar papi puas! Kalau perlu, papi bunuh saja aku! Anak yang tak berguna ini!" Teriak Dirga. Dirga mengangkat wajahnya, sambil memegang wajahnya yang masih terasa panas. Kini matanya menatap tajam ke arah sang papi, tatapan penuh kebencian.


Mendengar keributan, suami dan anaknya. Mami Poppy pun akhirnya ikut terbangun. Dia langsung bangkit dari ranjang, dan bergegas keluar untuk menghentikan pertengkaran suami dan anaknya.


"Sudah, sudah! Kalian ini apa-apaan sih? Malam-malam begini, bertengkar!" ucap Mami Poppy yang kini sudah berdiri di hadapan keduanya.


"Urusin anakmu ini! Aku sudah gak simpatik sama dia! Terserah mau jadi apa, aku sudah gak peduli!" sahut Papi Adrian. Dia langsung pergi meninggalkan anak dan istrinya.


"Mas, kamu jangan seperti itu! Dirga itu, bukan anak aku saja. Dia anak kamu juga! Buah cinta kita. Kamu gak bisa masa bodo gitu! Kasihan dia, selama ini dia sudah banyak mengalah. Kita sebagai orang tua terlalu egois, selalu sibuk dengan urusan pribadi kita," protes Mami Poppy.


Sama halnya dengan Papi Adrian, Dirga pun memilih untuk pergi meninggalkan sang Mami. Dia tak peduli dengan ucapan maminya. Dirga lebih memilih untuk ke kamarnya untuk tidur. Dia sudah seperti mati rasa, tak peduli dengan apa yang terjadi dengan hidupnya.


Dirga langsung membaringkan tubuhnya, dan menutup telinganya dengan bantal. Selalu saja orang tuanya seperti itu. Tak pernah ada kecocokan. Bertengkar dan bertengkar, jika sedang bersama.

__ADS_1


Mami Poppy langsung masuk kembali ke kamar, dan menghampiri sang suami yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang kembali. Lagi-lagi dia harus mengalah dengan sikap keras suaminya. Dia mencoba untuk bicara baik-baik dengan sang suami.


"Mas ...," panggil Mami Poppy.


"Kenapa?" sahut Papi Adrian.


Dia menjawab, tanpa membuka matanya. Begitu sombongnya dia, bahkan dengan istrinya. Padahal dulu, dia tak pernah seperti ini. Dia selalu lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap sang istri. Dia begitu tergila-gila dengan sang istri. Tetapi, sekarang dia berubah menjadi sosok yang dingin dan tempramen kepada sang istri.


"Kemarin, aku bicara dari hati ke hati sama Dirga. Dia mengungkapkan rasa kecewanya kepada kita, karena kita selalu sibuk dengan urusan kita masing-masing. Sampai-sampai kita melupakan dia. Padahal dulu, dia begitu kita harapkan kehadirannya. Mas tahu tidak, sampai dia bicara kenapa mami dan papi lahirkan aku. Jika kalian tak siap menerima kehadiran aku di dunia. Apa yang dia lakukan selama ini adalah sebagai bentuk rasa kecewanya kepada kita, hingga akhirnya dia menjadi anak yang broken home," jelas Mami Poppy.


Mami Poppy tampak terdiam. Sebenarnya, memang benar apa yang di ucapkan suaminya itu. Dasarnya, Papi Adrian adalah laki-laki yang baik. Sama halnya dengan Dirga, Papi Adrian pun memendam rasa kecewanya kepada sang istri. Dia merasa tak di hargai sebagai seorang suami, hingga akhirnya sang anak yang menjadi korban.


Suami mana yang tak terima, saat dirinya di rumah atau dia pulang ke rumah tak pernah melihat sang istri berada di rumah. Mami Poppy selalu saja pulang hingga larut malam, saat hari libur pun dia selalu sibuk dengan dunianya. Meskipun dia lelah bekerja, jika bisa melihat sang istri di rumah bersama sang anak. Pasti rasa lelah itu akan hilang, dan berganti dengan rasa bahagia.

__ADS_1


Mami Poppy justru melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu. Seakan dia tak menerima kehadiran Dirga di dunia. Sejak Dirga berusia dua bulan, Mami Poppy sudah meninggalkan Dirga bekerja.


"Kenapa, bingung? Masih ingin bersikeras dengan dunia kamu? Sampai akhirnya Dirga benar-benar hancur? Jika sudah seperti ini, jangan hanya bisa menyalahkan Aku saja. Aku seperti ini, karena ingin dia menjadi anak yang kuat, dan bertanggung jawab. Terlebih dia adalah anak laki-laki, penerus perusahaan aku nantinya. Dia juga harus tahu, kalau di luar sana kehidupan sangat keras. Makanya aku ingin dia tetap kuliah, agar dia bisa bersaing dengan orang cerdas di luar sana. Tapi, dia justru mengabaikan kesempatan ini. Di luar sana, banyak orang yang ingin kuliah. Tetapi, keadaan ekonomi mereka tak memungkinkan. Hingga akhirnya, dia harus menghapus keinginannya untuk bisa kuliah. Harusnya, dia itu bersyukur untuk bisa kuliah. Bukan justru menjadi anak yang pemberontak, dan tak menghargai orang tua. Dia harusnya mikir, orang tuanya seperti ini karena apa? Orang tuanya sibuk kerja, karena ingin memberikan dia kehidupan yang layak. Tak kekurangan," ucap Papi Adrian.


"Iya, maksud aku. Mulai sekarang kamu coba bersikap lebih lembut sama anak! Lakukan pendekatan sama anak, bukan dengan kekerasan. Hal itu justru akan membuat anak semakin memberontak, jika di kerasi seperti sekarang ini! Terlebih, Dirga itu anak yang keras. Dia juga sudah sangat kecewa sama kita, mas," jelas Mami Poppy.


"Taulah! Aku melihat gayanya yang seperti itu saja, sudah malas banget. Aku kalau melihat Dirga, bawaannya emosi. Aku gak sabaran! Kamu saja lah yang melakukan pendekatan dan bicara padanya!" sahut Papi Adrian. Dia langsung memejamkan matanya. Berhubung sekarang sedang puasa, Papi Adrian memilih untuk libur golf. Weekend ini, dia ingin menghabiskan waktunya di rumah.


"Ya sudah, kita coba nanti! Aku mau tidur dulu. Aku ingin bermalas-malasan di rumah. Tubuhku rasanya begitu lelah. Biarkan Dirga tidur juga. Kita bicara lagi nanti," ucap Papi Adrian lagi, dan akhirnya sang istri mengerti. Dia pun ingin melanjutkan tidurnya kembali, matanya masih merasa mengantuk.


Benar saja, saat ini Dirga sudah tertidur nyenyak. Mami Poppy dan Papi Adrian pun sudah tertidur nyenyak kembali. Mereka tak ada yang berpuasa. Berbeda halnya dengan Salwa yang justru saat ini dengan sahur. Dia bersyukur, karena hari ini dia bisa sahur. Salwa dan Dirga memiliki kehidupan yang sangat berbeda.


"Alhamdulillah. Semoga puasa hari ini berjalan lancar. Amin," ucap Salwa. Dia baru saja selesai sahur, hanya tinggal menunggu waktunya sholat subuh. Sambil menunggu waktu sholat, Salwa memutuskan untuk tadarus Al-quran.

__ADS_1


Salwa selalu menggunakan waktunya, sebaik mungkin. Dia tumbuh menjadi anak yang sholehah. Dia berasal dari keluarga sederhana, sehingga dia berusaha keras untuk mengangkat derajat sang ibu.



__ADS_2