
"Mi, Mami sibuk gak?" Tanya Dirga kepada sang mami.
Dia kini berada di kamar orang tuanya, ada hal yang ingin dia bicarakan dengan sang mami. Kedua orang tuanya kini berada di dalam kamar. Dirga berniat mengajak maminya untuk membeli cincin untuk Salwa.
"Enggak, kok. Lagi ingin istirahat di rumah saja. Kamu 'kan tahu, sekarang Mami lebih senang menghabiskan waktu libur Mami di rumah bersama kamu dan Papi. Memangnya ada apa?" Sahut sang Mami. Papi Adrian hanya menyimak percakapan istri dengan sang anak.
"Jadi begini, Mi. Kemarin 'kan Dirga sudah bicara sama Mami dan Papi, tentang rencana Dirga ingin memberikan surprise untuk Salwa. Dirga ingin membeli sebuah cincin untuk dinner malam ini. Mami bisa gak temani Dirga ke toko perhiasan, soalnya Dirga gak tahu ukuran jari tangan Salwa. Mami 'kan sama-sama cewek, pasti bisa dong mengira-ngira ukurannya," ungkap Dirga.
"Oh, gitu. Ok, mau jam berapa kita berangkatnya? Papi mau ikut gak ke Mall? Jarang-jarang loh, kita jalan bertiga. Mumpung Papi lagi santai, gak ke mana-mana," ucap Mami Poppy. Hingga akhirnya, Papi Adrian mau pergi bersama anak dan istrinya ke Mall.
"Untuk tempat acara nanti malam, kamu sudah reservasi? Di mana Dir, tempatnya? Enak gak Dir, tempatnya?" Tanya Mami Poppy kepada sang anak.
"Sudah! Aku sudah reservasi tempatnya. Tempatnya enak Mi, romantis juga suasananya. Murah lagi makanannya," sahut Dirga sambil nyengir.
"Mas, kita ikutan dinner yuk nanti malam! Masa iya, kita kalah sama anak muda. Boleh 'lah, sekali-kali kita mengenang masa muda. Papi sekarang udah gak pernah ngajak Mami pergi makan di luar berduaan," ungkap Mami Poppy dan Papi Adrian menganggukkan kepalanya.
"Gitu dong! Kalau mesra gitu, Dirga 'kan senang lihatnya. Asal jangan punya adik lagi aja setelah ini! Masa iya, nanti saingan sama cucu," goda Dirga.
__ADS_1
"Enggaklah! Mami udah tua, udah malas urus anak kecil lagi. Lagi pula, Mami sibuk kerja. Kasihan nanti adil kamu gak ke urus. Bisa-bisa adik kamu nasibnya seperti kamu. Nanti Mami tunggu cucu dari kamu sama Salwa saja. Kalau Mami nanti pensiun, Mami urus anak kamu saja. Biar ada hiburan," ujar Mami Poppy dan Dirga mengiyakan. Sedangkan Papi Adrian, seperti biasa hanya menyimak percakapan istri dengan anaknya.
"Ya udah, kita siap-siap sekarang aja yuk Mi, Pi! Biar kita berangkat sekarang aja! Jadi ada waktu buat acara nanti malam," ucap Dirga dan di iyakan oleh Mami dan Papinya.
Kini mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat, mereka akan pergi dengan menggunakan naik mobil Papi Adrian. Dirga yang menyetirnya, dia menyuruh orang tuanya bisa berduaan. Dirga senang melihat kemesraan orang tuanya lagi.
"Makasih ya Allah, atas karunia yang engkau berikan kepadaku. Aku bahagia sekali. Setelah kesedihan yang aku rasakan selama ini, kini aku bisa merasakan indahnya memiliki keluarga. Ditambah lagi, hadirnya Salwa di hidupku. Membuat hidupku menjadi berarti. Hidupku tak malang lagi, hidupku kini terasa lengkap," ucap Dirga dalam hati.
Mobil mereka sudah sampai di Mall. Dirga langsung memarkirkan mobilnya, setelah itu memasuki Mall bersama kedua orang tuanya. Mami Poppy dan Papi Adrian tampak bergandengan tangan dengan mesra. Rumah tangga mereka kini harmonis, seperti dulu lagi.
"Kita langsung ke toko perhiasan saja ya! Beli yang berlian saja sekalian! Biar Mami yang beliin, gak usah pakai uang tabungan kamu," ucap Mami Poppy.
Kini mereka menuju toko perhiasan, sesampainya di sana. Dirga langsung memilih cincin yang akan diberikan untuk Salwa. Sang Mami membantu dia memilihkannya. Dirga meminta cincin itu di beri nama dia. Sambil menunggu pesanan dia selesai, mereka memutuskan untuk makan dulu.
Pilihan mereka jatuh pada restoran makanan Jepang. Dirga senang, karena bisa merasakan makan bersama. Selama ini, tak pernah sekalipun dia seperti ini. Dirga pun memang tak suka main ke Mall, sudah cukup lama dia tak mengunjungi Mall. Dia lebih suka nongkrong di jalanan.
"Nanti, aku jemput Salwa dulu ke kosan dia. Aku juga belum mengabari dia. Aku baru mau chat dia ngajak dinner nanti malam, semoga aja tak ada drama penolakan dari dia," ucap Dirga dan diaminkan sang mami.
__ADS_1
"Pokoknya, Mami dan Papi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Kami ingin melihat kamu bahagia," ucap Mami Poppy dan di iyakan oleh Dirga.
Setelah selesai makan, Dirga terpisah dengan kedua orang tuanya. Sang Mami ingin berbelanja. Sedangkan Dirga malas untuk mengikutinya. Dia juga ingin membelikan Salwa boneka dan juga coklat.
"Semoga saja, kamu suka Wa, dan tak menolak cinta aku! Aku berharap banget, kamu mau menerima aku," ucap Dirga dalam hati.
Dirga sudah selesai membeli boneka dan juga coklat, dia langsung menanyakan keberadaan sang Mami dan juga sang Papi. Setelah bertemu, Dirga langsung mengajak sang Mami untuk pulang. Agar mereka ada waktu untuk beristirahat. Dia juga ingin menghubungi Salwa.
"Ayo kita pulang sekarang! Dirga itu paling malas berlama-lama di Mall. Belanjanya Mami nanti lagi deh! Kita pulang sekarang aja! Dirga ngantuk, Mi!" Ujar Dirga. Hingga akhirnya, sang Mami mengerti.
Mereka kini sudah dalam perjalanan pulang. "Itu segar, katanya ngantuk. Mami 'kan belum puas belanjanya," protes Mami Poppy.
"Ya ampun, Mi. Udah berjam-jam di Mall, Mami bilang belum puas? Ya udah nanti aja, kalau gak sama aku. Aku tuh paling malas ke Mall, untungnya Salwa bukan wanita sosialita seperti Mami. Dirga beruntung bisa dapatkan istri yang baik. Sholeha, cerdas, keibuan, pokoknya paket lengkap," cerocos Dirga.
"Maksud kamu, Mami bukan Ibu yang baik? Kamu nyindir Mami," protes Mami Poppy.
"Bukan nyindir, tapi kenyataan. Tapi, itu dulu sih. Sekarang 'kan Mami jadi istri yang sholeha. Sayang sama anak dan istri. Tinggal sholat sama puasanya aja yang harus rajin. Terus, sama umroh atau naik haji deh sama Papi! Kalian 'kan secara harta mampu, sudah waktunya untuk menjalankan rukun islam kelima," ucap Dirga membuat kedua orang tuanya merasa tertampar dengan ucapan sang anak. Mereka merasa malu.
__ADS_1
"Iya, doakan Mami dan Papi ya! Insya Allah, Mami sama Papi mau berubah secara perlahan. Semoga saja tetap bisa istiqomah di jalan Allah SWT," ucap Mami Poppy dan di aminkan oleh Dirga dan Papi Adrian.