
Pagi ini, Dirga bangun lebih dulu. Dia justru yang membangunkan Salwa untuk sahur. Dia pun menjadi semangat untuk puasa. Dia ingin menjadi imam yang baik untuk Salwa. Pagi ini dia ingin membicarakan tentang keinginannya untuk menikah dengan Salwa.
"Ya udah, met sahur ya Sayangku Cintaku! Abang Dirga mau sahur juga," ucap Dirga mesra. Dirga tertawa geli mendengar ucapannya sendiri. Ternyata cinta mampu mengubah sifat seseorang. Dia pun tak habis pikir, mengapa dia jadi bucin seperti saat ini.
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Salwa. Dirga langsung turun ke lantai bawah. Untungnya Bi Yati menemani dirinya sahur, Bi Yati memang paling the best bagi Dirga. Dia selalu ada untuknya.
"Bibi senang banget melihat perubahan Den Dirga. Semenjak dekat sama Non Salwa, Den Dirga jadi rajin sholat dan puasa. Berarti, Non Salwa bisa mengajak Den Dirga ke jalan yang lurus. Den Dirga juga, jadi rajin belajar, rajin kuliah, dan gak pernah keluar malam lagi," ucap Bi Yati. ART yang selalu setia kepadanya.
"Alhamdulillah, Bi. Doakan aku ya, Bi! Semoga saja dia mau menikah sama aku. Mami dan Papi juga merestui hubungan kami, dan memperbolehkan kami menikah muda," sahut Dirga.
"Den Dirga mau nikah muda? Apa Bibi gak salah dengar? Serius Den? Bukannya Den Dirga dulu pernah bilang gak mau nikah cepat, bahkan pernah bilang malas untuk nikah. Kalau memang benar seperti itu, ya Bibi dukung banget ini. Apalagi sama Non Salwa. Bibi yakin dia wanita yang baik untuk Aden. Semoga Allah melancarkan niat baik Aden ya! Semangat ya, Den! Kalau Den Dirga berjodoh dengan Non Salwa, pasti Allah memudahkannya," ucap Bi Yati dan diaminkan oleh Dirga.
Dirga sengaja tak tidur lagi setelah sahur. Setelah sholat subuh, dia menunggu kedua orang tuanya keluar dari kamar, dan bersiap untuk berangkat. Dia sudah tak sabar, ingin membicarakan hal ini kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Mami Poppy sudah terlihat rapi, dia bersiap-siap untuk berangkat kerja. Namun, dia berniat ingin sarapan dulu karena dia tak berpuasa. Dia melihat sang anak yang sedang tadarus Al-Quran. Ada perasaan senang, dan seperti tertampar. Mami Poppy merasa malu sebagai orang tua.
Tak lama kemudian, Papi Andrian pun keluar dari kamar. Dia pun sudah terlihat rapi, sudah berpakaian untuk berangkat kerja. Dia langsung menghampiri sang anak dan sang istri yang sedang duduk bersama.
"Tumben kamu udah bangun," sindir Papi Adrian kepada sang anak.
"Anak kita sekarang sudah menjadi anak yang sholeh Pi. Dia sekarang sudah rajin sholat, mengaji, puasa. Kuliahnya juga sekarang rajin," ungkap Mami Poppy.
"Syukurlah, kalau kamu memang seperti itu Dir. Papi senang dengarnya. Ya sudah, Papi mau sarapan dulu. Papi harus berangkat pagi-pagi," ucap Papi Adrian.
"Ya sudah! Katakan saja sekarang! Waktu Papi tak banyak," ucap Papi Adrian. Mami Poppy pun mengatakan yang sama.
Mereka kini sudah duduk bersama, Dirga mulai mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan Salwa kepada kedua orang tuanya. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tuanya merasa terkejut, mendengar pernyataan sang anak yang ingin menikah dengan Salwa.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh kamu! Lulus saja belum, sudah ingin menikah. Buktikan saja dulu, rasa tanggung jawab kamu sebagai seorang laki-laki! Menikah itu tak gampang, kamu memiliki tanggung jawab kepada anak orang. Ok, dalam urusan materi kamu masih bisa Mami dan Papi bantu. Tapi, dalam hal hubungan kamu harus dewasa! Jika tidak, rumah tangga kalian bisa berakhir di meja pengadilan. Coba kamu pikirkan dulu baik-baik! Jangan mentang-mentang, karena kamu lagi dekat dengannya. Lagi jatuh cinta sama dia, jadi menggebu seperti ini," ucap Papi Adrian.
"Dirga sudah merasa yakin, kalau Salwa adalah wanita yang tepat untuk Dirga. Dia adalah wanita yang bisa mengubah Dirga menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Banyak perubahan yang aku rasakan, semenjak aku dekat dengannya. Selama ini aku merasa kesepian, karena Mami dan Papi selalu sibuk. Sampai aku pernah berpikir, kalau aku tak ada artinya untuk Mami dan Papi. Jika memang bisa memilih, aku lebih memilih kehilangan semua fasilitas dari kalian. Daripada tak mendapatkan kasih sayang kalian. Hingga akhirnya, aku mencari kebahagiaanku sendiri di jalan. Namun sekarang, semuanya berbeda. Saat Salwa hadir di hidup aku. Aku menjadi bersemangat lagi. Aku seperti orang yang baru terbangun dari tidur panjang. Dialah yang selalu mengingatkan aku, kalau di luar sana masih banyak orang yang lebih tak beruntung dariku. Salah satunya Salwa, demi mewujudkan cita-citanya. Dia rela meninggalkan kampung halamannya, dan berpisah dari keluarganya. Dia berusaha untuk mengatasinya sendiri, saat menghadapi masalah. Dia adalah wanita yang selalu mendukung aku. Wanita yang membuat aku tak membenci akuntansi lagi. Asal Mami dan Papi tahu, sekarang ini aku justru sangat menyukai pelajaran Akuntansi," ungkap Dirga. Dia terlihat begitu bersemangat.
Kedua orang tua Dirga tampak menyimak semua ucapan sang anak. Semua yang diucapkan Dirga, memang benar. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya, padahal dia tahu. Harta yang paling berharga, adalah keluarga. Anaknya justru sangat berarti. Tapi mengapa, mereka seakan mengabaikannya.
Papi Adrian tampak diam, tak mampu berkata-kata. Dia merasa tertampar dengan ucapan sang anak. Ada perasaan menyesal di benaknya, betapa dirinya selalu mengabaikan sang anak.
"Memang benar, apa yang dikatakan kamu. Kamu tak merasa kesepian lagi, jika kami sedang sibuk. Semua itu muncul Sudah ada Salwa yang menemani kamu. Mami setuju, kalau kamu memang ingin menikah muda. Mami akan mendukung kamu," ucap sang mami.
"Makasih ya Mi, Mami sudah menyetujui rencana pernikahan aku dengan Salwa. Semoga saja, bisa berjalan lancar, dan Salwa mulai membuka hatinya untukku," ucap Dirga dan diaminkan oleh Dirga
Papi Adrian masih diam, dia bingung harus bagaimana. Di satu sisi, dia ingin sang anak lulus kuliah dulu, dan berkarier. Dia tak setuju sang anak menikah cepat. Tetapi, di satu sisi lain. Memang, ada manfaatnya sang anak dekat dengan Salwa. Dia pun merasakan perbedaan sang anak, semenjak dekat dengan Salwa.
__ADS_1
"Gimana, Pi? Aku mohon kepada Papi! Aku janji, akan semakin bersemangat untuk menyelesaikan kuliahku, agar aku bisa segera bekerja untuk mencari nafkah demi keluarga kecilku," ucap Dirga.