
....
Malam pekat di bungkus awan hitam menjulang ke langit, cahaya berubah menjadi lidah api yang memekik parau. Badai gemuruh dan petir memecah keheningan sejak tadi sore memberikan suasana kengerian, butiran hujan lebat menghujam daratan tanpa ampun.
Tanaman seolah menghijau semakin pekat terlihat saat buaian terang kilat membelai wajah gunung yang nampak seperti saudara kembar itu, Pepohonan memberikan tanda bahwa angin berhembus kencang ke satu arah dimana terdapat papan nama yang cukup besar tertulis SEKTE GUNUNG KEMBAR.
Daun kering kerontang berirama saat bergulir di tanah kesana kemari terhuyung tak tentu arah, ditambah pilu nya jeritan seorang wanita yang melawan kematian untuk lahirnya sebuah kehidupan.
Teriakan yang tidak kalah dengan dahsyatnya cuaca diluar sana menandakan penderitaan dan kesakitan yang amat sangat.
3 hari setelah kematian Li Ming, seorang pendekar yang telah menyelamatkan Kerajaan Bulan Besar dari kehancuran, anak ke-2 nya bernama Li Biyu yang tengah mengandung kini akan segera melahirkan.
"Aghhh akkkhh, huff huff huff"
"Ayo tarik nafas kemudian hembuskan, ikuti saya dan ulangi.."
"Ahh sakit sekali...Akhhh"
Meskipun menderita karena sakit yang luar biasa, di sela-sela teriakannya, jika di perhatikan lamat-lamat Li Biyu sangatlah anggun dan cantik.
Matanya indah bercahaya dengan kelopak mata yang dihiasi bulu mata lentik, sesekali di sela hembusan nafas yang memburu itu tertanam lesung pipi di kedua helai pipinya, bibir nya tipis dengan gigi putih berkilau pastilah manis apabila sedang tersenyum.
Li Hong hanya mematung sambil memegang tangan Li Biyu dengan perasaan iba, baru ia tau bahwa untuk lahirnya sebuah kehidupan maka haruslah melawan kematian terlebih dahulu, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
Li Hong berfikir sejenak, dalam fikirannya ia bertekad agar kelak akan menjaga dan menyayangi wanita yang akan di nikahinya dengan sepenuh hati.
"Akhirnya... selamat Biyu selamat Tuan Hong..." Sang dukun beranak tersenyum sambil mengusap keringat dengan lengan bajunya.
Suasana lengang sejenak setelah kelahiran itu, setelah di tunggu-tunggu nyatanya tidak ada suara tangisan bayi di sana, kejadian yang tidak seperti biasanya.
Semua orang menahan perasaannya masing-masing setelah saling menoleh satu sama lain untuk mencari jawaban atas kejadian ini.
Li Hong lah yang terlihat sangat kebingungan, bukan karena ia tau kejadian ini begitu aneh, namun sikap semua orang yang ada di sana menunjukkan ada sesuatu yang salah.
"Kenapa?? apa yang terjadi?" Li Hong memecah kesunyian di dalam ruangan, tidak mengerti situasi yang terjadi.
Li Hong benar benar tidak tau jika seorang bayi lahir biasanya akan menangis karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru, terlepas dari ruangan di dalam rahim ibunya.
Namun bayi itu terlihat sangat tenang seperti air, nafasnya sangat teratur, matanya terbuka dengan tatapan mata yang menyejukkan dan aura keemasan terpancar dari tubuhnya seakan menyambut dunia seperti seorang raja. Li Hong menatap dukun beranak itu seperti meminta jawaban segera.
"Tuan Hong maafkan saya, sebenarnya ini juga kali pertama kejadian seperti ini saya alami sejak lama saya membantu setiap proses kelahiran. Jadi saya tidak tau ini pertanda baik atau pertanda buruk." Sang dukun berkata dengan terbata sambil kembali menyeka keringat di pelipisnya.
Li Hong terdiam cukup lama, terlihat seperti memikirkan sesuatu yang belum lama ini ia ingat, yaitu perkataan dari ayahnya Li Ming.
**
Hari itu, tepatnya sebulan yang lalu sekembali Li Hong dari misinya. Misi yang mengharuskannya menjalani perjalanan panjang selama hampir 3 tahun di luar kerajaan.
__ADS_1
Saat hendak memasuki gerbang Sekte, Li Hong tidak menemukan para penjaga gerbang yang bertugas seperti biasanya. Justru yang ia lihat hanya ada seorang pria paruh baya memegang sebuah pedang menatapnya garang.
Setelah cukup dekat dengan pria paruh baya itu Li Hong tertegun cukup lama. 'Apa yang dia lakukan dengan senjata kebanggaannya itu...'
Air muka Li Hong segera berubah tak temang, guratan pada wajahnya yang sebelumnya terlihat senang dan lega seketika menjadi buruk. Firasatnya mengatakan jika itu tidak akan menjadi sambutan yang hangat.
Pria paruh baya itu melotot menusuk mata Li Hong yang masih tertegun di posisinya. "Dasar anak bodoh, bukannya berlari cepat malah merangkak..." Aura pria paruh baya itu seketika berubah, tekanan yang besar disekelilingnya membuat siapa saja dapat menebak jika ia memiliki tenaga dalam yang hebat.
"A..apa yang terjadi, tolong jelaskan dulu sebenarnya ada apa ini."
"Sebaiknya kau bersiap atau kau akan mati...!" Aura pria paruh baya itu semakin pekat, tekanan disekitarnya semakin meningkat.
Li Hong diam seribu bahasa, keringat dingin seolah tidak mau berhenti keluar dari sekujur tubuhnya, hanya ada satu hal yang harus dilakukannya di saat seperti ini, yaitu bersiap untuk sebuah pertarungan.
Li Hong segera menarik pedangnya yang tersarung di pinggang, gagang pedangnya berwarna putih bersih seperti giok dengan batang pedang yang memiliki ukiran kaligrafi indah.
Pedang itu adalah pedang terbaik miliknya yang merupakan senjata kelas 2 tingkat atas, pedang yang tidak ada duanya di Kerajaan Bulan Besar ini.
Pria paruh baya itu sempat tertegun sebelum kembali pada keadaannya, genggaman pada pedangnya semakin dieratkan karena ia tau ini tidak akan mudah.
Saat menarik pedangnya Li Hong menunjukkan peningkatan kualitas pada kemampuan berpedangnya dari sejak terakhir yang ia ingat, walau hanya dilihat dari potongan udara yang dihasilkan dari sabetan pedangnya itu, sudah cukup untuk membuktikan bahwa Li Hong sudah berkembang cukup banyak.
"Menarik, mari kita coba kemampuanmu...!" Pria paruh baya itu segera menerjang kedepan, gerakannya sangat gesit sehingga dalam satu tarikan nafas saja ujung pedangnya sudah berada satu jengkal di depan mata Li Hong.
Li Hong bergerak cepat kesamping dengan tepat waktu, ekspresinya juga memperlihatkan keterkejutan karena bukan hanya dia yang mengalami kemajuan dalam kemampuan berpedang.
Serangan demi serangan terus dilancarkan pria paruh baya itu, namun Li Hong dapat menghindar dan menangkis setiap serangan itu dengan cukup mudah.
Pria paruh baya mundur beberapa langkah setelah 20 serangan, usia memang sangat berpengaruh pada pertarungan, energinya cukup terkuras meskipun hanya memberikan serangan yang ringan pada Li Hong.
"Cukup, mari kita berhenti disini." Kata Pria Paruh Baya itu dengan nafas tesengal, sementara mulut Li Hong terbuka lebar sejenak menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Aku tidak mau lagi membuang energiku untuk anak muda bodoh sepertimu, lagi pula dalam waktu dekat ini pasti akan terjadi serangan di kerajaan, aku harus menghemat energiku untuk saat itu." Pria paruh baya itu memberikan alasan yang tidak Li Hong pahami. Lagi lagi mulut Li Hong terbuka lebar, kali ini dalam waktu yang cukup lama.
Pria paruh baya itu menyarungkan pedangnya dan berlalu pergi tanpa berkata apapun pada Li Hong.
Li Hong juga menyarungkan pedangnya dan segera beranjak menyusul pria paruh baya yang berjalan tergesa di depannya.
"Ayah tunggu aku..." Li Hong segera menyebelahi posisi pria paruh baya itu yang tak lain adalah ayahnya sendiri yang bernama Li Ming.
"Jangan panggil aku ayahmu, aku tidak ingat mempunyai anak bodoh sepertimu." Li Ming mendengus kesal namun terus berjalan tanpa menoleh pada Li Hong.
"Ayah tolong jangan begini, apa karena aku terlihat tidak membawa oleh-oleh? aihh tenanglah aku tidak akan lupa pada ayah." Li Hong merogoh saku bajunya dan terlihat memegang sesuatu.
Li Ming menghentikan langkahnya, sementara Li Hong tersenyum lebar tak bersalah. "Ahh rupanya begitu, percayalah aku tidak akan lupa membawa ha..."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya Li Ming menyela "Apa aku pernah minta oleh-oleh darimu sebelum ini? aku yakin ibumu menyesal melahirkanmu." Li Ming berlalu meninggalkan Li Hong, kali ini langkahnya semakin cepat.
__ADS_1
Li Hong kembali tertegun, tidak mengerti apa masalah yang sebenarnya. "sepertinya masalah ini tidak sederhana." Li Hong berlari menyusul Li Ming yang sudah berada cukup jauh setelah yakin apa alasan di balik sikap ayahnya itu.
"Ayah aku sudah mengerti..." Li Hong berhenti dalam posisi berlutut, sementara Li Ming juga menghentikan langkahnya. "Maaf atas keterlambatanku, aku tau misi itu harusnya sudah aku selesaikan 1 tahun lebih cepat, tapi keadaan memaksaku untuk melakukannya."
Li Hong menjelaskan situasinya saat berada dalam misi. Misi Li Hong adalah melakukan spionase sebuah kelompok penjahat yang diketahui akan melahirkan kembali sebuah organisasi yang dulu sempat mengancam keamanan kerajaan Bulan Besar.
Sebenarnya Li Hong hanya diperintahkan untuk memantau aktifitas kelompok tersebut dan melaporkan setiap pergerakannya pada kerajaan tanpa melakukan penyerangan secara langsung.
Sehingga kurang dari 2 tahun saja Li Hong sebenarnya sudah dapat menyelesaikan misinya dan bisa kembali ke sekte tanpa ikut berpartisipasi dalam penyerangan.
Namun pada saat penyerangan akan dilakukan, kelompok itu tidak melakukan pergerakan seperti yang Li Hong laporkan bahkan kelompok itu sudah meninggalkan lokasi tepat sebelum hari penyerangan sehingga misi Li Hong hampir dinyatakan gagal.
Maka demi membayar kesalahan itu, Li Hong merasa bertanggung jawab dan kembali melakukan pencarian selama 1 tahun namun tidak ada hasil sehingga dia terpaksa kembali.
"Dasar bodoh, 2 tahun saja sudah waktu yang lama untuk misi itu tapi kau menghabiskan 3 tahun dan gagal, aku akan malu bertemu kakekmu jika aku mati."
"Ayah..." Li Hong tertunduk malu.
Li Ming menghela nafas. "Nah apa kau tau kalau adikmu sedang mengandung? siapa yang akan menjaganya kalau aku tidak ada?"
Li Hong nyatanya tidak terkejut, tapi demi membayar rasa bersalahnya Li Hong segera menanyakan tentang kabar Li Biyu.
Li Ming menjelaskan jika selama 5 bulan terakhir ini Li Biyu menghadapi cukup banyak kesulitan, saat usia kandungannya menginjak 3 bulan kandungannya sering memancarkan aura yang tidak biasa dan saat itu terjadi Li Biyu akan merasakan sakit yang amat sangat.
Pernah beberapa kali Li Biyu pingsan karena tidak tahan dengan rasa sakitnya namun dengan pertolongan Li Ming dengan mengalirkan tenaga dalamnya, penderitaan sakit itu cukup berkurang.
Kemudian senyum Li Ming terkembang dan ia tertawa membuat Li Hong berfikir jika ayahnya sudah tak waras.
"Hahaha tapi tidak usah khawatir, ini adalah berkah yang besar dari sang pencipta yang terjadi 400 tahun sekali menurut legenda dunia. Ketahuilah anak yang dikandung adikmu akan menjadi pendekar besar bahkan dapat melampaui apa yang tidak akan pernah kita capai."
Li Hong kembali tertegun mendengarnya, bukan hanya oleh penjelasan ayahnya barusan, tapi juga karena suasana hati ayahnya yang cepat sekali berubah-ubah.
Kemudian Li Ming berpesan jika anak itu lahir dan terjadi sesuatu yang tidak biasa terjadi pada kelahiran anak yang pernah ada, maka Li Hong tidak perlu merasakan khawatir.
**
"Sepertinya ayah benar." Li Hong kembali pada kesadarannya, senyumnya kemudian terkembang memecah suasana yang senyap itu.
Li Hong menatap wajah semua orang dan mengatakan jika itu sesuatu yang sangat baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kemudian barulah suasana haru dan bahagia pecah di ruangan itu, bahkan Li Biyu pun tersenyum dalam kelemahannya.
"Hong gege, tolong berikanlah nama untuk anak ku." Kata Li Biyu dengan suaranya yang lemah.
Li Hong menggendong anak itu dengan sangat hati-hati karena ini untuk pertamakalinya ia melakukannya "Aihhh dia sangat tampan seperti ayahnya. Akan ku beri nama Xiao Wu Jie, semoga kelak ia akan menjadi orang besar".
**Coretan Penulis :
__ADS_1
Jangan lupa share dan like setiap chapter ya**.