Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 21. Suasana hati Xiao Wu Jie


__ADS_3

Satu bulan telah dilewati para calon murid dengan latihan yang cukup ketat. Waktu istirahat semakin di persempit karena setiap bulan mereka harus melewati tes berdasarkan apa yang telah mereka pelajari.


Memang tidak salah jika Akademi Sekte Gunung Kembar adalah akademi terbaik di dunia persilatan saat ini yang mencetak banyak sekali lulusan dengan bakat yang luar biasa. Karena dari mulai menjadi calon murid saja, latihan yang mereka jalani sudah sangat keras.


Hal ini tidak lain adalah demi mencari calon bibit unggul yang akan memberikan kontribusi dan membuat perkembangan kerajaan maupun sekte lebih signifikan di masa yang akan datang.


Semua calon murid menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Namun, hanya ada beberapa calon murid saja yang terlihat mempunyai kemampuan yang lebih menonjol dari pada yang lain.


Terutama Xiao Wu Jie dan Zhang Ma yang mendapatkan apresiasi lebih dari para tetua atas prestasinya dalam tes tahap pertama kemarin.


Keduanya sama-sama diyakini memiliki kegeniusan yang luarbiasa setelah menujukkan kemampuannya saat tes berlangsung.


Saat ini di ruangan ketua akademi, sedang berkumpul beberapa tetua yang terlihat sedang mendiskusikan sesuatu.


"Apakah tidak telalu cepat untuk merekomendasikan mereka menjadi murid inti sekarang? Kita bahkan belum tau kemampuan mereka dalam menyerap energi Qi, bagaimana bisa kau bisa berfikir untuk melanggar peraturan akademi?!" Wakil Ketua Bou nampak tidak senang dengan usulan Yang San.


Yang San sebelumnya telah mengambil kesempatan untuk merekomendasikan Xiao Wu Jie dan Zhang Ma agar di pastikan menjadi murid inti, karena ia menilai kegeniusan keduanya sangat layak untuk itu.


"Sebenarnya aku setuju atas usulan tetua Yang. Keduanya menunjukkan kecerdasan luarbiasa yang telah kita saksikan sendiri pada saat tes tahap pertama dan aku sangat bangga sekaligus gembira akan hal itu. Aku sendiri tidak menyangka setelah Xiao Shan ternyata kedua cucuku juga memiliki kegeniusan seperti itu" kata Ketua Akademi


Raut wajah Wakil Ketua Bou semakin buruk, namun segera ia tutupi karena tidak ingin menyinggung Ketua Akademi. Tetap saja ia tidak setuju "Ketua, apakah tidak bisa menunda keputusan ini sebelum tes terakhir berakhir? Kita juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan yang lain."


"Hmm baiklah, tapi nampaknya aku tidak perlu terlalu khawatir tentang tes itu, bagaimanapun aku yakin dengan kemampuan kedua cucuku itu hahaha." tawa Ketua Akademi menggema.

__ADS_1


Diskusi ditutup, tidak ada lagi masalah yang akan di bahas karena keadaan akademi belakangan ini, semua berjalan seperti biasa.


Di sisi lain di asrama, suasana tes sebelumnya masih terasa sangat berkesan karena dua calon murid yang terlihat memukau pada saat tes itu. Keduanya kini menjadi buah bibir di kalangan para calon murid.


"Saudara Wu, kenapa kau selalu menghindari para gadis yang memberikan perhatian padamu? bukankah itu menyenangkan??" Zhang Qi nampak sedang merapikan almarinya sambil mengoceh sejak tadi, sementara Xiao Wu Jie fokus menatap keluar jendela seolah tak peduli dengan perkataannya.


"Beruntung sekali, saat ini kau sedang menjadi pembicaraan hangat para gadis yang mengidolakanmu, kau tampan dan cerdas, kau sangat hebat, dimana lagi kesempatan untukku hahaha."


Xiao Wu Jie masih pada posisinya, tidak merespon sedikitpun perkataan Zhang Qi apalagi menatapnya. Sebenarnya saat ini ia sedang dalam suasana hati yang kurang baik karena kembali gagal mencoba membuka saraf Qi pertamanya.


Sejak hari pertama di akademi, keinginannya untuk membuka saraf pertama semakin kuat namun kekhawatiran menyelimuti fikiran ketika selalu gagal mencoba.


Kali ini Zhang Qi sudah tidak lagi bersemangat mengobrol karena sejak tadi berbicara namun tak satupun respon yang ia terima. Ia malah lebih fokus pada almarinya sembari bersenandung ria "Ohh Cinta... Ohh Sayang...Na na na..."


Ketakutan akan kegagalan membuat semangatnya pudar, karena tidak sampai 2 bulan lagi ia akan menghadapi tes penting yang mengharuskannya untuk membuka saraf Qi kedua agar bisa menjadi murid inti di akademi.


'Bagaimana jika aku gagal???' Pertanyaan itu terus bersamanya dari waktu ke waktu.


Zhang Ma baru sampai di asrama setelah sejak tadi berada di ruang perpustakaan. Saat memasuki asrama, matanya langsung menyapu ruangan dan menemukan Xiao Wu Jie tengah berada di belakang jendela seperti tidak terganggu dengan suara senandung Zhang Qi yang membuktikan sedang ada yang ia fikirkan.


"Hey saudara Wu, apa yang sedang kau lamunkan? dan kau gendut berhentilah bernyanyi, tidakkah kau merasa berdosa telah menyakiti telinga saudara Wu?!"


"Enak saja... lihatlah saudara Wu bahkan tidak bersuara. Itu berarti satu, bahwa ia sangat menikmati suaraku yang indah na..na..na" Zhang Qi kembali bersenandung, namun tetap saja Xiao Wu Jie tak bergeming.

__ADS_1


Zhang Ma mendekat ke jendela sehingga tampaklah wajah Xiao Wu Jie dari samping. Tatapan matanya benar-benar kosong. Dengan sigap tangannya merangkul bahunya "Saudaraku, apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"


"Sttt percuma, dari tadi aku bicara tapi tidak di respon" Zhang Qi berbicara setengah berbisik.


"Tidak ada masalah, aku hanya rindu ibu dan pamanku itu saja" Xiao Wu Jie tersenyum namun Zhang Ma tau jika itu terlalu dipaksakan.


Zhang Ma berfikir jika bukan itu alasan yang sebenarnya, namun tidak berniat untuk bertanya alasan tersebut.


"Ayolah saudaraku, bukankah aku dan si gendut berisik itu adalah saudaramu? mari kita lewati ini bersama-sama, bukankah kita seharusnya fokus menempa diri selama disini?"


Zhang Qi menghentikan senandungnya "Hey apanya yang berisik! itu namanya mencairkan suasana, kau saja yang tidak mempunyai selera humor huh"


"Diam kau gendut...! tidak bisakah kau membantuku sedikit?!" setelah kembali menatap Xiao Wu Jie, Zhang Ma melihat senyumnya begitu tulus tanda kesedihannya sudah sedikit berkurang. "Kita diberi waktu istirahat satu hari ini, kenapa kita tidak berkeliling akademi saja, bagaimana menurutmu saudara Wu?"


"Hmm baiklah..."


"Dan kau gendut, kami titip asrama padamu sampai kami kembali, ingatlah untuk tidak mengotorinya"


Ekspresi Zhang Qi nampak buruk namun tak dapat mengatakan apapun selain mengangguk setuju.


Belum lama mereka berkeliling akademi, awan gelap menutupi langit tanda akan segera turun hujan.


"Saudara Wu bagaimana kalau sekarang kita kembali ke asrama?" Zhang Ma takut jika hujan turun sebentar lagi mereka akan kebasahan sebelum sempat sampai ke asrama.

__ADS_1


__ADS_2