Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 18. Kekhawatiran Seorang Ibu


__ADS_3

Dari semua perabotan itu, Xiao Shan juga bisa menilai bahwa tidak ada orang lain yang tinggal disini. Pendekar senior itu hanya tinggal seorang diri dan bisa diperkirakan sudah sangat lama ia menetap.


"Ahh apakah kau menilai jika aku hanya tinggal sendiri disini?"


"Hmmm" Xiao Shan merasa sedikit tidak enak, mungkin ekspresinya jelas menunjukkan jika ia masih penasaran dan menebak-nebak mengenai kehidupan pribadi pendekar senior itu.


Pendekar senior hanya maklum, untuk seorang yang baru dikenal, sudah semestinya jika Xiao Shan bersikap demikian, hal itu juga merupakan satu langkah pertahanan baginya. Berbeda dengan pendekar senior itu yang sama sekali tidak peduli dan tidak merasa terancam.


Akantetapi selang berapa waktu, ekspresi mengejutkan tiba-tiba tergambar pada raut wajah pendekar senior itu, adalah kesedihan dan penyesalan yang mendalam membuat Xiao Shan mengerutkan dahinya.


"Ah sayang sekali dulu aku terlalu memfokuskan diriku pada pertahanan dan perdamaian dunia, andai saja aku memiliki seorang isteri pastilah aku tak akan kesepian seperti sekarang" Suasana hening sejenak, kemudian dengan santai pendekar senior menuangkan teh yang sudah tersedia di meja.


"Lai lai lai lai mari lupakan hal itu dulu, lagi pula aku yakin kau punya banyak waktu untukku bukan? mungkin saja aku ada mood baik dan mau bercerita tentang kehidupanku hahaha" tawa pendekar senior itu membuat Xiao Shan juga ikut tertawa meskipun sedikit dipaksakan. Xiao Shan pun ikut menuangkan tehnya.


* * *


Sekte Gunung Kembar sesuai namanya adalah sebuah sekte yang berada di daerah pegunungan, dimana antara satu gunung dengan gunung yang lain memiliki kesamaan fisik baik dari bentuk maupun ukuran.


Sekte ini berada di wilayah Kerajaan Bulan Besar yang terletak di perbatasan Kekaisaran Fang, salah satu dari 4 Kekaisaran yang ada di benua ini. 3 Kekaisaran lain diantaranya Kekaisaran Mu, Kekaisaran Tang, dan Kekaisaran To yang membagi seluruh wilayah di Benua Bulan Barat.


Tak terasa sudah 1 bulan sejak Xiao Wu Jie masuk ke akademi, Hari ini Sekte Gunung Kembar tampak damai, tidak ada peristiwa penting yang terjadi.


Namun tidak dengan satu tempat, tepatnya di rumah kediaman Li Biyu dan Li Hong suasananya terasa sunyi tidak seperti biasanya. Tak ada canda dan tawa yang biasa ibu dan paman Xiao Wu Jie itu lakukan.


Sejak dua minggu lalu tepat seminggu setelah keberangkatan Xiao Wu Jie ke akademi, Li Biyu lebih banyak berdiam diri menghabiskan waktu di ruang latihan Xiao Wu Jie sambil merajut dan melakukan aktivitas ringan lain.


Jika saja tidak ada peraturan khusus akademi melarang keluarga bertemu dengan calon murid, mungkin setiap hari Li Biyu akan naik turun gunung.


Kegiatan yang biasanya ia lakukan tidak lagi sering dilakukannya. Rasa kesepian mulai merasuki dirinya padahal baru sebentar berpisah dengan buah hatinya itu.

__ADS_1


Ditambah Li Hong juga jarang ada di rumah karena ada urusan di kerajaan karena setiap tahun setelah perayaan, ia biasa menerima tugas dari kerajaan untuk melatih para lulusan akademi yang akan menjadi prajurit pasukan Kerajaan Bulan Besar.


Di sore hari itu Li Hong baru pulang, Li Biyu seperti biasa menyiapkan hidangan untuk menyambut kepulangan Li Hong yang kelelahan setelah seharian melatih para prajurit.


Namun hari itu ada sesuatu yang berbeda dari Li Biyu, ia kembali seperti biasanya, lebih bersemangat dan kelihatan cantik. Tentu saja hal ini membuat Li Hong merasa senang sekaligus penasaran.


"Aihh adik ku yang cantik ternyata sudah pulang, apakah ada sesuatu yang menarik lagi dirumah ini?" Li Hong menggoda Li Biyu seolah sebelumnya ia kabur dari rumah.


"Hong gege bisakah kau jangan merusak mood ku :( aku baru saja mendapat kabar dari anak tampanku"


"Oh ya?! Nah apa katanya?? apakah ia rindu dengan pamannya yang tampan ini? hahaha" Li Hong menyumpit makanannya setelah asik menggoda Li Biyu.


Li Biyu berkerut kening sebelum menjelaskan bahwa tadi pagi seorang mengantarkan surat dari akademi. Setelah dibuka ternyata itu surat dari Xiao Wu Jie.


Dalam surat itu Xiao Wu Jie mengatakan bahwa dirinya sangat baik di akademi, ia menceritakan semua pengalamannya selama sebulan disana.


Xiao Wu Jie juga menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan pencapaian yang memuaskan dalam seleksi tahap pertama.


Tentu saja merupakan kabar gembira bagi Li Biyu mengetahui kabar baik dari anaknya, kekhawatirannya tentang kesehatan Xiao Wu Jie lah yang membuat ia merasa sedih.


"Bukankah sudah kukatakan Biyu meimei, Wu Jie itu anak yang cerdas dan kuat, tidak ada yang perlu kita khawatirkan"


"Hmm aku teringat dulu Wu Jie sering pingsan tanpa tau penyebabnya, itulah yang benar-benar aku khawatirkan" Li Biyu meremas jarinya, lagi-lagi perasaannya tidak tenang.


"Bukankah sudah lama sejak terakhir kali Wu Jie begitu? Wu Jie itu berbeda dari anak yang lain, keinginan belajarnya begitu kuat, kalau tidak selesai mana mau istirahat. Mungkin itu sebabnya Wu Jie pingsan karena kelelahan"


"Huhh tetap saja aku khawatir! kau tidak akan mengerti" Li Biyu memuncungkan bibirnya sambil membuang muka, tidak mau melanjutkan pembicaraan.


Sebaliknya Li Hong terus menggoda Li Biyu. Terasa seperti sudah lama sejak terakhir kali kehangatan seperti ini Li Hong rasakan semenjak Li Biyu menjadi murung dan berdiam diri setelah keberangkatan Xiao Wu Jie baru-baru kemarin.

__ADS_1


Keadaan seperti itu juga pernah dirasakan Li Hong selama kurang lebih 3 tahun sejak kematian Li Ming ayahnya. Li Biyu sangat terpukul dan berduka hingga berlarut-larut.


Waktu yang akan menyembuhkan setiap luka, penyesalan akan dilupakan dan penderitaan akan dihapuskan. Maka janganlah berputus asa, tidak ada alasan untuk ragu melangkah selama kebenaran menjadi pedoman.


**Catatan Penulis :


Ayah: Banyak-banyak baca mangkanya biar updatenya cepet...


Aku: Iyaaa sudah beberapa novel online kok yang di baca, cuma baca online juga butuh kuota, beliin dong yah biar makin banyak updatenya hhe.


Ayah : Bukannya kamu sudah kerja, beli sendirilah.


Aku : Itu uangnya aku tabung buat modal aku nikah sama naikin ayah ibu haji loh. Emang gamau apa ayah sama ibu naik haji?


Ayah : Gausah, ayah nanti mau jual bubur aja biar bisa naik haji kayak sinetron bajaj bajuri itu loh.


Aku : Itu pemainnya yang dari bajaj bajuri ayahhh, judul sinetronnya itu "Kang Bubur Naik Haji".


Ayah : Oh iya ya hahaha, maklum nak ayah ini sudah tua suka lupa..


Aku : Selalu... :/ giliran begini aja alasannya karena sudah tua.


Ayah : Tunggu aja kamu nanti juga tua.


Aku : Udah ah mau lanjut nulis dulu hhe, takut cepet tua kayak ayah.


Ayah : Elahh anak ini dibilangin.


Hay guys, nah untuk next next day, update nya diusahain 1 hari 1 chapter ya, nyantai aja... ntar kalau lagi moodnya bagus banget bisa crazy update kok. Moodbooster nya itu banyak faktor, tapi kebanyakan dari komentar kalian loh. Jadi komentarnya yang bagus ya pembaca yang budiman, di kritik juga gak masalah asal yang membangun okee...

__ADS_1


Jadi mohon dukungan dan do'anya biar lancar. Semoga suka dengan karya saya... terimakasih.


yousaprata**-


__ADS_2